
Davin tersenyum bahagia saat menggandeng tangan istrinya memasuki sebuah hotel di Osaka Jepang. Mereka melakukan perjalanan udara ke Osaka agar mereka sampai pada saat sore hari sebelum matahari terbenam.
"Mas, besok kita jalan-jalan ke mana?? Aku pengen banget ke kuil tertua di Osaka Mas! " ucap Aulia dengan senyuman yang tak hilang dari wajah cantik nya.
"Iya sayang! Besok kita ke sana! Tapi sebelum itu kita ke Minoo park dulu pagi nya setelah sarapan. " ujar Davin mengiyakan keinginan istrinya.
"Emang nya di sana ada apaan Mas?? " tanya Aulia penasaran.
"Di Minoo park ada panorama air terjun yang indah. Letaknya di sisi utara kota Osaka. Air terjun ini adalah atraksi yang utama dari taman Minoo ini sayang.. Tinggi nya mencapai 33 meter. Kita juga dapat menemukan lebih dari 980 pepohonan yang tumbuh di atas lahan sekitar 963 hektar ini! " jawab Davin panjang lebar.
"Wah.. Seru banget kayak nya Mas! Aku mau ke sana Mas! Jadi gak sabar besok lihat atraksi air terjun itu! " pekik Aulia dengan memekik kegirangan.
"Iya sayang iya.. Besok pagi kita ke sana agar tidak ketinggalan melihat atraksi tersebut! Sekarang ayo kita masuk dulu ke kamar kita! Mas akan pesan makan malam sebelum kita istirahat malam ini! " ucap Davin tersenyum lebar melihat wajah bahagia sang istri.
Aulia mengangguk pelan dengan memeluk erat lengan sang suami tanpa menghilang wajah bahagianya dengan selalu tersenyum manis. Davin mengambil kartu akses menuju kamar yang ia pesan selama beberapa hari di Osaka. Mereka akan pergi lagi ke kota lainnya yang ada di Jepang selama liburan bukan madu mereka.
🌱🌱🌱
__ADS_1
Di tempat yang berbeda jauh dari hiruk pikuk keramaian. Seorang pria paruh baya sedang serius mengikuti istrinya merajut sambil melihat suasana damai di desa mereka.
"Dek, udah dong merajutnya! Mas udah pegal nih tangan nya gak bisa-bisa! Masa Mas di suruh merajut jaket sih Dek! " ucap Pakde Soleh memelas pada sang istri.
"Gak boleh! Pokoknya Mas harus bisa bikin sweater untuk anak kita satu aja! Masa Mas gak mau anak kita pakai sweater hasil rajutan tangan Mas sendiri! " sahut Ibu Tinah dengan nada ketus.
Pakde Soleh menghela napas pasrah dengan keinginan sang istri yang lagi ngidam dirinya merajut sebuah sweater untuk bayi mereka nanti.
Dari balik dinding, Annisa terkikik sendirian melihat wajah nelangsa Abah nya dengan keinginan aneh Ibu nya yang sedang hamil itu. Ia sebenarnya kasihan pada sang Abah yang tidak tau memegang jarum dipaksa merajut memintal benang untuk membuat sebuah baju mungil untuk calon adiknya itu.
"Aduh dek, dek! Masih dalam perut aja kamu udah jahil gitu, gimana kalau udah lahir! Hihihi.. ! " ucap Annisa pelan sembari berjalan pelan kembali ke kamar nya.
🌱🌱🌱
Telah di sepakati oleh mereka semua jika Izam akan melakukan pertemuan dengan pihak PT. Anugerah Cipta di ruang meeting kantor mereka dua hari lagi sebelum makan siang.
"Alhamdulillah.. Bu Amay benar-benar hebat ngasih solusi kayak gini! Kalau gak ada Bu Amay gak tau deh kalau kerjasama ini akan terjadi! " ucap Elya dengan wajah lega.
__ADS_1
"Emang klop deh Bu Amay sama Pak Izam! Sama-sama cantik dan ganteng, sama-sama anak orang kaya, punya harta banyak dan melimpah yang gak akan habis tujuh turunan tujuh tanjakan dan tujuh tikungan tajam sekalipun! Udah gitu ramah dan baik lagi! " puji Sindy salah satu staf sekretaris bawahan Elya.
"Iya Sin.. Kamu benar banget! Mudah-mudahan keluarga mereka bahagia dan perusahaan ini semakin sukses agar kita juga sukses bekerja di perusahaan ini! " tambah Ali mendoakan Izam dan Amay dengan tulus.
"Aamiin.... " ucap mereka semuanya mengaminkan.
Izam yang baru saja menjawab panggilan dari Papa nya menjadi heran melihat anak buahnya masih di ruang meeting dan belum kembali ke lantai atas tempat mereka bekerja.
"Kenapa kalian masih ngumpul disini?? Sebentar lagi waktu istirahat makan siang loh?? Jangan lupa habis makan siang kita akan kedatangan klien yang bulan lalu mengajukan kerjasama dalam proyek rumah sakit kanker! " tegur Izam pada bawahan nya itu.
"Eh iya Pak! Ni juga mau ke atas kok Pak! Ya kan teman-teman?? " ucap Elya gugup sembari meminta persetujuan rekan-rekannya.
"Iya Pak! Kami akan siap setelah makan siang nanti! " jawab Ali membenarkan ucapan Elya.
"Ya sudah kalau gitu! Jangan lupa pesankan makan siang untuk saya seperti biasa! " ucap Izam santai sembari pergi meninggalkan ruang meeting tersebut.
"Selamat-selamat.. ! Dah yuk, mendingan kita langsung ke kantin aja! Sekalian pesan makan siang untuk Pak Izam! " ucap Elya dengan mengusap dadanya yang sedikit ketakutan di marahi bos nya itu.
__ADS_1
"Ayo guys... " ajak Sindy sembari menggandeng lengan Elya.
Bersambung...