
Tidak lama kemudian, perawat yang membantu Amay datang dengan membawa botol susu yang sudah di steril kan.
"Wah, banyak sekali Asi nya Ibu Amay! Itu nya bagaimana? Apakah masih sakit? " ucap perawat tersebut dengan wajah sumringah sambil bertanya.
"Iya Sus Alhamdulilah banyak yang keluar..Sekarang udah ga sakit lagi, tapi masih belum kempes bengkaknya! " jawab Amay dengan tersenyum.
"Ketiak Ibu pasti akan kempes dengan sendirinya nanti, dan kalau payu daranya memang agak sedikit berisi karena ada isi nya yaitu Asi yang menjadi sumber makanan bayi-bayi Ibu, jadi akan tetap bengkak tapi bengkak nya itu karena banyaknya Asi bukan karena sakit. Jadi, Ibu Amay gak usah khawatir lagi! Saya masukkan dulu ke dalam botolnya ya Bu... ! " ucap perawat itu lagi dengan tersenyum ramah.
"Iya Sus, silahkan! " jawab Amay mempersilahkannya.
Karena sudah Subuh, Amay hanya sendiri saja di dalam kamarnya sebelum perawat itu datang. Izam sudah pergi ke mushola yang ada di rumah sakit untuk sholat subuh.
"Nah, sudah selesai! " ucap perawat tersebut dengan wajah puas.
"Ibu, saya permisi dulu ya! Mau ngantar Asi ini untuk si kecil, nanti sekitar jam 8 pagi Ibu silahkan datang ke ruangan bayi untuk menyusui bayi-bayi Ibu secara langsung! " tambah nya lagi seraya membawa botol susu yang sudah penuh di kedua tangannya.
"Iya Sus, Terima kasih banyak! " jawab Amay dengan mengangguk.
"Sama-sama, Bu.. ! " balas perawat itu sembari berjalan keluar dari kamar Amay.
Pagi hari nya tepat jam 7 pagi, Mama Lia datang bersama Papa Idris. Mama Lia datang dengan membawa rantang berisi sarapan untuk Amay dan Izam.
"Ayo sayang sarapan! Kamu harus makan banyak-banyak agar Asi mu juga banyak! " ucap Mama Lia dengan membuka rantang satu persatu.
"Bukan hanya banyak Ma, tapi yang bergizi. Empat sehat lima sempurna. Percuma mau makan banyak kalau gak ada gizinya! " protes Izam santai.
"Kamu kira Mama gak tau apa! Nih lihat, semuanya bergizi untuk Ibu menyusui seperti Amay! Belum di lihat protes aja kerjanya! Mau Mama kutuk jadi berlian kamu! " sahut Mama Lia dengan wajah kesal.
"Izam kan cuma bilang aja, kenapa Mama jadi sewot begitu? Lagian pakai mau ngutuk anak sendiri lagi jadi berlian, emangnya mau diapain berlian segede Maliq gini? " jawab Izam santai.
"Mau Mama jual! Jadi biar si kembar aja yang jadi kesayangan nya Mama! " ucap Mama Lia asal.
"Eh busyet..! Gak jadi berlian pun memang si kembar lah yang jadi kesayangan Mama sekarang ini! Belum mereka lahir aja aku gak pernah di perhatiin, apalagi sekarang! " cibir Izam pura-pura merajuk dan cemburu.
"Bodo... ! " omel Mama Lia ketus sembari mengambilkan makanan untuk Izam.
Amay hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan suami dan Mama mertuanya yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Ayo sayang Mama suapin makan! Makan yang kenyang ya.. ! Nanti sehabis mengAsihi si kembar kamu pasti lapar lagi, jadi Mama sengaja bawa makanan nya banyak. " ucap Mama Lia dengan menyuapkan Amay makan.
Amay mengangguk dan memakan makanan yang di suap kan Mama Lia.
"Enak banget makannya Ma, meskipun gak ada yang pedas! " ucap Amay di sela-sela ia makan.
"Sengaja Mama lihat tutorial makanan untuk Ibu menyusui yang enak dan sehat di YouTube. Jadi biar kamu gak bosan makanan yang itu-itu mulu, soalnya kan ini makanan gak pakai cabe. Nanti setelah 2 minggu kita akan makan pakai cabe sedikit demi sedikit sambil melihat ada pengaruh gak sama si kembar kalau kamu udah makan cabe meskipun sedikit. " jawab Mama Lia sambil terus menyuapkan Amay makan.
Setelah makan, Amay di lepaskan infusnya oleh perawat karena ia tidak memerlukan infus lagi. Ia juga sudah lancar berjalan sendiri meskipun masih pelan-pelan.
__ADS_1
Tepat jam 8 pagi, Amay bersama Izam suaminya pergi ke ruang bayi untuk menyusui langsung si kembar.
Ia sudah tidak sabar lagi untuk melihat anak-anak yang ia lahir kan kemarin.
Begitu sampai di ruangan bayi, mereka berdua di sambut perawat yang berjaga di sana.
Amay di persilahkan duduk di kursi yang sudah mereka sediakan di ruangan tersebut. Sebuah kursi khusus untuk Ibu-ibu yang menyusui anaknya di ruangan itu.
"Ini yang pertama dan kedua Bu! Ibu bisa menyusui nya secara langsung bersamaan seperti ini! Dan Bapak boleh bantu Ibu nya Pak dengan memegang bayi nya karena Ibu masih belum terbiasa. Nanti lama-lama Ibu akan terbiasa menyusui bayi kembar seperti ini. Jika Ibu capek, Ibu bisa bersandar sambil menyusui si kecil.
Mata Amay berkaca-kaca saat melihat dua buah hati nya dan menyentuh mereka berdua. Terlihat begitu lembut dan rapuh saat ia menyentuh kulit mereka.
"Subhanallah sayang nya Mama! Bismillahirrahmanirrahim... Minum yang banyak ya jagoannya Mama! " ucap Amay sebelum anak-anak nya menghisap sumber makanan mereka.
"Awww.... Sakit dan perih! " ucapnya sambil meringis saat kedua payu daranya di hisap kuat si kembar.
"Memang seperti itu Bu, karena ini baru pertama kali Ibu menyusui si kecil. Nanti gak sakit lagi kok! Saya tinggal dulu ya Bu, nanti kalau sudah selesai panggil saya lagi. Saya ada di sebelah sana! " sahut perawat itu dengan tersenyum kecil sembari menunjuk meja tempat ia duduk bersama rekannya yang lain.
Amay mengangguk paham dan kembali menikmati menyusui si kembar dengan posisi silang dengan di bantu sang suami.
"Subhanallah... Pintar banget anak Papa ***** nya! Makan yang kenyang ya sayang biar berat badan nya cepat naik dan kita bisa pulang ke rumah. " ucap Izam dengan mata takjub melihat anak-anak nya.
"Iya Bang, mereka pintar banget! Kuat lagi isapan nya! Rasanya kayak gini rupanya menyusui bayi, sungguh bagus ciptaan Allah untuk mereka. " jawab Amay dengan tersenyum bahagia.
"Lebih kuat mana dengan isapan Abang? " tanya Izam tanpa tedeng aling.
"Hehehehe... Pastinya lebih enak Abang kan kalau yang hisap.. ! " sahut Izam makin menggoda istrinya.
"Abang.... ! " rengek Amay dengan wajah memerah.
"Hahahaha... Iya iya... Abang cuma bercanda! " ucap Izam dengan terkekeh pelan.
Karena sudah kenyang, si kembar melepaskan mulut mereka dari sumber makanan nya. Izam memanggil perawat untuk membawa kembali si kembar di kotak inkubator nya. Dua orang perawat mengambil kembali si kembar dan menaruhnya di kotak inkubator mereka. Kemudian mengambil lagi yang ketiga dan keempat untuk di susui Amay lagi.
"Oek.... Oek.... Oek... ! " si bungsu menangis dengan keras saat di keluarkan dari kotak inkubator nya.
"Sepertinya si cantik tau Mama nya datang, tuh langsung nangis waktu di angkat! " ucap perawat yang menggendong si bungsu.
Amay tersenyum senang menyambut dua anaknya lagi untuk di susui. Ia kembali menyusui si kembar dengan posisi yang sama dengan kakak-kakaknya.
"MasyaAllah Tabarakallah... Cantik banget anaknya Mama! Lihat Bang! Si cantik membuka matanya! " ucap Amay berseru senang saat si bungsu membuka matanya saat menghisap sumber makanan.
"Subhanallah sayangnya Papa! Matanya biru kayak kamu sayang! Tapi kok muka nya Bule banget ya? " sahut Izam dengan memperhatikan wajah si cantik dengan teliti.
"Iya ya Bang! Beda banget dengan kakak-kakaknya! Walaupun belum tahu warna matanya biru atau coklat kayak Abang, tapi wajah mereka persis kayak wajah Abang. Alisnya yang tebal, hidung mancung dan rahangnya persis kayak Abang. " jawab Amay membenarkan ucapan suaminya.
"Tapi kan kata orang wajah bayi baru lahir itu sama dan nantinya akan berubah dengan sendiri nya. " sahut Izam lagi sembari memainkan jari jemari di kembar.
__ADS_1
"Iya sih, benar yang Abang katakan! Tapi menurut pengamatan Amay sendiri tadi itu, ketiga jagoan kita postur wajahnya mirip banget sama Abang! Beda dengan si cantik ini yang wajah nya persis Bule banget! Gak kayak Amay, mata dan rambutnya aja yang beda, tapi mukanya persis kayak Papa! Itu kata orang juga! " ucap Amay lagi sembari menatap mata si cantik dengan lekat-lekat.
"Jelas aja mirip Abang! Kan Abang yang bikin mereka siang malam, masa iya kerja keras Abang mirip ama tetangga sebelah! " sahut Izam sekenanya.
"Abang ih, orang lagi serius di ajak bercanda! " omel Amay dengan wajah cemberut.
"Hahaha... Mereka kan anak-anak kita, jadi pasti mirip dengan kita juga lah. " sahut Izam dengan terkekeh kecil.
Tidak lama si cantik kembali tertidur sambil mulutnya terus menghisap sumber makanan nya tanpa melepaskan.
"Bang, bantuin sandaran dulu! Pegel pinggang Amay! " ucap Amay pada suaminya.
"Iya sayang... ! " sahut Izam dengan langsung membantu Amay bersandar di dinding kursi.
"Ah nyamannya... ! Enak banget ya Bang fasilitas menyusui bayi di ruangan bayi ini! Tempat nya luas dan nyaman. Kursi nya yang khusus dengan bantalan yang empuk di tambah lagi dekorasi ruangan yang nyaman mata memandangnya. " ucap Amay dengan melihat di sekeliling nya.
"Jelaslah sayang! Namanya juga rumah sakit swasta yang bayaran nya mahal, jadi fasilitas nya juga harus baguslah sesuai dengan budget nya! " jawab Izam lagi pada istri nya.
"Iya juga ya Bang! " sahut Amay mengangguk paham.
"Bang, ambil si kakak! Seperti nya kakak sudah kenyang! " ucap Amay pada Izam.
Izam segera mengambil si kakak dan menggendong nya dengan menimang-nimang nya penuh kasih sayang.
"Si cantiknya Papa masih belum selesai ya? Lapar banget kayak nya itu! " ucap Izam dengan menoel-noel pipi si cantik.
"Sepertinya gak mau di lepas Bang! Padahal isapan nya gak kuat lagi kok, tampaknya si cantik ini gak mau lepas dari Mama nya. " sahut Amay dengan menepuk-nepuk pelan pantatnya si cantik.
"Manja tuh princess nya Papa, kelihatan dari sekarang! " ucap Izam terkekeh kecil.
Izam lalu menyerahkan si kakak pada perawat untuk di masukkan ke kotak inkubator nya. Sedangkan si bungsu masih betah menempelkan mulutnya di dada sang Mama tanpa mau melepaskan nya.
Sementara itu, Mama Lia sedang menunggu kedatangan Bulek Saroh dan keluarga nya yang sebentar lagi akan tiba di rumah sakit.
Tak lama kemudian, Mobil yang membawa Bulek Saroh pun tiba di parkiran rumah sakit.
"Assalamualaikum Jeng Besan... ! Gimana keadaan nya Amay? Ya Allah, saya masih belum percaya kalau cucu kita bukan tiga tapi empat! " ucap Bulek Saroh begitu bertemu Mama Lia dengan penuh semangat.
"Hehehehe... Iya Jeng! Saya aja masih belum percaya jika cucu kita empat! Memang kejutan terindah yang Allah berikan untuk kita semua! " jawab Mama Lia dengan terkekeh kecil.
"Ayo kita masuk! Amay lagi menyusui bayi nya di ruangan bayi! Barang-barangnya di antar ke rumah aja ya Jeng! Nanti kita pulang sama-sama aja! " ucap Mama Lia lagi sambil menggandeng lengan Bulek Saroh.
"Iya Jeng, Ayo... ! " jawab Bulek Saroh dengan penuh semangat.
Bersambung...
Maaf reader semuanya othor baru bisa Up karena selama dua hari kemarin othor tumbang sakit kepala hebat sampai tidak bisa berdiri saking sakitnya🤢🤢🥴🥴
__ADS_1
Alhamdulillah hari ini othor bisa Up kembali dan mohon doa nya agar othor akan selalu sehat sehingga bisa Up seperti biasanya.