
Izam langsung panik dan langsung berlari keluar ruangannya mendahului Aulia. Sedangkan Davin ikutan berlari bersama Aulia mengejar Izam. Izam yang sudah di dalam lift menahan pintu lift agar tetap terbuka sampai Aulia dan Davin masuk juga ke dalam lift.
"Astaga... Elo tuh ya, emang ente kadang kadang ente! Elo tau Amay di bawa ke rumah sakit mana? Main kabur aja! " omel Davin dengan napas ngos-ngosan sembari kedua tangan bertumpu di dinding lift.
"Karena gue gak tau makanya gue tahan ini lift biar kalian berdua ikutan masuk! Bawel banget sih loe.. ! Gak tau apa orang lagi panik gini! Ya Allah... Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada istri dan anak-anak ku! " jawab Izam ketus sambil memejamkan matanya seraya berdoa.
"Kata si mbok, Mama udah nelpon ke ponsel Mas Izam tapi gak di jawab. Makanya Mama ke rumah sakit duluan dan menyuruh si mbok untuk nelpon Aulia. " ucap Aulia membuat Izam menautkan alisnya bingung.
"Perasaan gak ada bunyi ponsel tadi.. Kan kalau bunyi pasti kedengaran soal nya sengaja di bikin gede nada dering nya! " sahut Izam heran.
"Coba lu liat ponsel nya, siapa tahu elo silent dan lupa matiin silent nya! " usul Davin dengan kedua tangan dilipat di dada.
Izam merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel yang ia letakkan saat hendak ke kantin tadi.
"Oh... Damn... ! " umpat Izam saat melihat ponselnya yang layarnya hitam alias mati total.
"Kenapa? Lowbat HP lu? Bukan gak di jawab tapi memang gak bisa dihubungi alias mati! " ucap Davin mencibir Izam.
Izam tidak memperdulikan cibiran Davin, ia merutuki lift yang ia rasa berjalan lambat melebihi dari jalannya siput.
"Ya Allah... Kenapa berada di lift ini berasa udah berabad-abad saking lambatnya! " keluh Izam dengan begitu gusar.
Ia sangat khawatir dengan keadaan Amay dan ketiga calon anak-anak nya.
Ia tampak begitu frustasi karena masih terjebak di dalam lift.
Begitu bunyi denting pintu lift, Izam bernapas lega dan langsung berlari meninggalkan Davin dan Aulia menuju parkiran mobil.
Sementara itu di perjalanan ke rumah sakit, Amay tidak henti-hentinya beristighfar agar pikirannya tetap tenang dengan rasa sakit yang mendera perut bagian bawah dan pinggangnya.
"Ya Allah... Nikmat sekali rasa sakit ini! Seperti ini rupanya perjuangan almarhumah Mama Maggie sewaktu melahirkan aku! Sekarang aku mengerti bagaimana sakitnya melahirkan dan terimakasih ya Allah karena aku di lahir kan oleh perempuan hebat seperti almarhumah Mama Maggie! " ucap Amay lirih dengan berurai air mata.
Mama Lia yang duduk di sebelah Amay ikut sedih mendengar perkataan menantunya itu.
"Mama kamu seorang ibu yang hebat sayang.. ! Dan Mama juga yakin kalau kamu juga ibu yang hebat untuk cucu-cucu Mama! Berjuang lah Nak.. ! " ucap Mama Lia menguatkan Amay sembari mengusap lembut perut Amay yang begitu hebat sakit nya.
Amay meringis dengan menggenggam erat tangan Mama Lia sambil terus berdzikir dan menarik oksigen banyak-banyak.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga mereka di rumah sakit tempat Amay kontrol dengan Dokter Nadia. Di depan pintu IGD Dokter Nadia sudah menunggu bersama perawat dan Bidan yang akan membantunya dalam proses lahirannya Amay.
Begitu mobil berhenti, para perawat dengan sigap membuka pintu mobil dan membantu Mama Lia mengeluarkan Amay dari dalam mobil dan di letakkan di kursi roda yang sudah mereka siapkan.
"Dokter.. ! Apakah ini normal? Bukankah masih beberapa hari lagi sebelum waktu operasi di tetapkan? Kandungan Amay kan baru berusia tujuh bulan? " tanya Mama Lia dengan nada khawatir.
"Sebenarnya untuk kasus bayi kembar itu hal yang biasa Bu, karena rata-rata bayi kembar pasti lahir di usia tujuh bulan dalam kandungan dan terlahir prematur! " jawab Dokter Nadia sembari berjalan di samping kursi roda Amay.
"Nah, Mbak Amay! Kita cek dan periksa dulu apakah bisa melahirkan normal apa harus sesar! " ucap Dokter Nadia dengan tersenyum lembut saat mereka sudah tiba di depan ruang persalinan.
"Iya Dokter! " sahut Amay pasrah.
Amay pun di dorong masuk ke ruang persalinan, sedangkan Mama Lia menunggu di luar dengan wajah cemas dan gelisah.
"Ya Allah... ! Selamat kan lah menantu dan ketiga cucu-cucu ku! Lancarkan lah proses lahirannya ya Allah! " ucap Mama Lia dengan lirih sembari berdoa dengan kedua tangan saling menggenggam di dadanya.
Lima menit kemudian Izam datang barengan dengan Papa Idris dan Papa Rahman serta Davin, Aulia dan Om Hardi.
"Mama... ! Dimana Amay?? " tanya Izam dengan wajah panik dan berkeringat.
Papa Rahman tidak bertanya karena pertanyaan nya sudah di wakilkan oleh besan dan menantunya.
"Amay baru saja masuk ke situ! Dokter Nadia mau periksa apakah bisa lahiran normal apa mau sesar! " jawab Mama Lia menunjuk ke ruang bersalin.
Baru saja bicara, pintu ruang bersalin terbuka dan Dokter Nadia keluar dengan sambil melepaskan sarung tangan nya.
"Dokter.. ! Bagaimana keadaan istri dan calon anak-anak saya? " tanya Izam langsung mendekati Dokter Nadia.
"Sepertinya Mbak Amay akan melahirkan secara normal Pak Izam.. ! Beliau sudah pembukaan 3 dan alhamdulillah kondisi nya bagus dan ketiga bayi Anda juga bagus! Silahkan dampingi Mbak Amay nya Pak! Dan bisa di ajak jalan-jalan di sekitar rumah sakit ini agar pembukaan jalan lahirnya semakin cepat! " jawab Dokter Nadia dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih Dokter... ! " sahut Izam dan langsung masuk ke dalam ruangan persalinan.
Semua orang bernafas lega mendengar pernyataan Dokter Nadia. Mereka semuanya ikutan masuk ke ruang bersalin untuk menemui Amay.
Seorang perawat menghampiri Izam meminta untuk mengurus administrasi.
"Permisi Pak.. ! Mohon urus administrasi nya dan ruang perawatan Ibu Amay karena jika berada di ruang perawatan Ibu Amay bisa istirahat sambil menunggu pembukaan nya lengkap! Maaf bukannya mengusir karena ruang persalinan ini untuk Ibu-ibu yang sudah siap untuk melahirkan! " ucap sang perawat dengan sopan dan ramah.
__ADS_1
"Biar Papa saja Zam.. ! Kamu tunggu aja Amay di sini! " sahut Papa Rahman saat memasuki ruang bersalin.
"Baik Pak.. ! Mari ikut saya! Permisi.. ! " ucap perawat itu lagi sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Izam menggenggam tangan Amay saat Amay meringis kesakitan dengan penuh keringat di pelipisnya.
"Istighfar sayang... ! Abang yakin kamu kuat! Sepertinya triple udah gak sabar keluar dan ketemu sama kita berdua! Abang akan selalu ada di samping kamu.. ! " ucap Izam menguatkan Amay sembari mengecup kening Amay berulangkali.
Papa Idris dan Mama Lia ikut menguatkan Amay sembari mengusap lembut perut buncit Amay agar kesakitan nya sedikit berkurang.
Tidak lama kemudian dua orang perawat pria dan wanita memasuki ruang bersalin dengan membawa sebuah bankar atau ranjang pasien.
"Ayo Pak, Bu.. ! Kita pindah ke ruang perawatan! Ruang nya sudah siap! " ucap salah satu perawat pria dengan ramah.
Izam langsung sigap menggendong Amay untuk di pindahkan ke ranjang pasien yang di bawa perawat tadi. Perawat wanita memberikan selimut untuk menutupi kaki Amay hingga ke perutnya. Izam berada di sisi Amay sambil menggenggam erat tangan istrinya. Perawat pria itu mendorong ranjang dari belakang, sedangkan perawat wanita memegang kepala ranjang dan berjalan di depan.
Mereka keluar dari ruang bersalin menuju ruang perawatan yang sudah di pesan Papa Rahman. Aulia dam Davin datang dengan napas ngos-ngosan.
"Untung belum terlambat.. ! Mau dibawa kemana Amay Ma.. ! " tanya Aulia pada Mama Lia sambil berjalan di belakang bankar Amay.
"Ke ruang perawatan Aulia... ! Kalian kenapa baru datang? Gak barengan Izam? " tanya Mama Lia balik.
"Barengan Ma, hanya saja tadi bantuin Aulia dulu yang muntah-muntah di toilet! Baru di bawa mobil ngebut kayak gitu aja udah keok mabuk! " jawab Davin mengejek Aulia.
"Gimana aku gak mabuk dan muntah Ma, wong Mas Davin bawa mobilnya kayak orang kesurupan di kejar setan! " omel Aulia dengan wajah cemberut.
"Yaelah.. Masa udah kesurupan setan di kejar setan juga! " protes Davin lagi.
"Itulah perumpamaan saking ngebutnya Mas bawa mobil! " ujar Aulia kesal.
Davin hanya terkekeh kecil melihat kekesalan Aulia hingga mereka berjalan sampai di ruang perawatan Amay di ruangan VVIP.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
__ADS_1