
Pagi harinya...
Amay yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali, langsung terbangun sebelum Azan subuh berkumandang. Ia menatap wajah suaminya sesaat dengan tersenyum sebelum ia membangunkan suaminya dari tidur lelap.
"Bang, bangun Bang! Sudah hampir subuh! Abang gak subuhan di masjid? " ucap Amay menggoyang pelan bahu suaminya.
"Sebentar lagi, Mama! Izam masih ngantuk banget nih! " jawab Izam sambil mengeratkan pelukan guling nya.
Amay cekikikan melihat suami belum sadar jika yang membangunkan ia bukan Mama nya.
"Ini Amay, Abang! Ayo bangun! Emang Abang gak malu telat sholat di masjid! " ucap Amay lagi dengan menggoyang bahu suaminya.
Izam langsung terduduk mendengar ucapan Amay. Ia melihat di sekelilingnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Astaghfirullah hal adzim... Abang lupa sayang kalau kita sudah menikah! Abang kira tadi Mama, soalnya dulu Mama selalu bangunin Abang untuk shalat subuh! " ucap Izam sambil menutup mulutnya yang mau menguap.
"Kamu kok cepetan bangun nya, sayang? Kan baru datang bulan, tiduran aja lagi gih! " tanya Izam sambil menepuk bantal yang ada di sampingnya.
"Udah kebiasaan Abang, bangun pagi-pagi walaupun sedang datang bulan! " jawab Amay dengan gelengan kepala.
"MasyaAllah... Kebiasaan yang sangat bagus sekali! Mudah-mudahan nanti anak-anak kita mempunyai kebiasaan yang bagus seperti Mama nya! Aamiin... " ucap Izam sambil mengamini ucapannya.
"Aamiin.... " Amay juga mengamini ucapan suaminya.
"Ya sudah kalau gitu, Abang mau mandi dulu mau siap-siap jamaah di masjid! " kata Izam sambil turun dari tempat tidur.
Ia langsung ke kamar mandi, dan Amay menyiapkan pakaian yanga akan di pakai suaminya sholat subuh di masjid setelah ia merapikan tempat tidur.
Setelah yakin semuanya beres, Amay keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Astaghfirullah hal adzim.... Aku lupa jika tidak ada apa-apa di dalam kulkas! Sepertinya nanti aku akan meminta mbak Lastri untuk berbelanja ke pasar membeli semua bahan makanan yang akan memenuhi kulkas! " ucap Amay menepuk pelan keningnya.
Karena tidak ada yang akan ia lakukan, Amay memutuskan untuk menonton televisi menjelang suaminya pulang dari masjid. Karena Amay menikah, Aulia memutuskan untuk tinggal di asrama Ustadzah. Jadi di rumah itu hanya Amay dan Izam lah yang tinggal.
Amay menonton televisi hingga tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Izam yang baru saja pulang dari masjid hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya tertidur di sofa sambil menonton televisi.
Izam menggendong istrinya membawa masuk kembali ke dalam kamar. Ia meletakkan Amay di atas tempat tidur dengan hati-hati karena takut Amay terbangun kembali.
"Begini rupanya mempunyai istri, tidur ada yang nemenin, pulang ada yang nungguin. Entah kapan perasaan ini tumbuh dalam hatiku, sesaat aku takut untuk kehilanganmu, sayang! Aku berharap jika kita akan terus bersama walau banyak badai yang akan menghampiri rumah tangga kita nantinya! " ucap Izam lirih sambil mencium lembut kening istrinya.
Amay makin mengeratkan pelukan nya pada guling sambil dengkuran halusnya terdengar saking lelap tidurnya. Izam pergi ke dapur dan melihat kulkas isinya kosong tidak ada apa-apa.
"Pantesan istriku tertidur di sofa, karena ia bingung mau ngerjakan apa. Sepertinya nanti aku akan belanja di pasar untuk mengisi isi kulkas dan kami nanti tidak akan bingung jika mau memasak jika isi kulkas penuh. " ucap Izam dengan geleng-geleng kepala.
Ia lalu membuatkan teh untuk dirinya sendiri karena istrinya tidur dan tidak mungkin mau minum teh juga. Setelah selesai membuat teh, ia bersantai duduk di depan televisi menonton sambil meminum teh nya.
Terdengar suara ketukan pintu, dan Izam bangkit untuk membukakan pintu.
"Loh nak Izam, Bulek kira Amay yang bukain pintu! Nih Bulek bawakan goreng pisang, cemilan sebelum sarapan. Bulek lupa kalau kulkas kalian kosong, jadi nanti sarapannya di rumah aja ya? Oh ya ngomong-ngomong Amay nya mana, kok gak keliatan? " tanya Bulek Saroh dengan celingak celinguk.
"Tadi Izam pulang sholat tertidur di sofa Bulek, jadi Izam pindahin aja lagi ke kamar. Biar nyaman tidurnya, dan gak sakit pinggang. " jawab Izam sambil tersenyum ramah.
"Ya ampun itu anak... Pengantin baru malah molor aja kerjaan nya! Ya udah, bangunin aja nanti ya nak Izam ajak sarapan di rumah satu jam lagi. Bulek pulang dulu! " ucap Bulek Saroh dengan berjalan keluar rumah.
Izam duduk menonton televisi sambil memakan pisang goreng pemberian Bulek Saroh. Sesekali ia melihat ke kamar kalau-kalau istrinya sudah bangun tidur, namun tidak ada tanda-tanda akan bangun, malah semakin erat ia memeluk guling nya.
Tidak ingin bosan, Izam kembali ke kamar untuk mengambil ponsel nya yang sempat ia matikan sore hari karena takut mengganggu konsentrasi nya dalam menghapal ijab qabul.
Betapa kaget nya Izam ketika ponsel nya hidup, ia mendapat pesan dari Papa nya kalau kakak iparnya mengalami kecelakaan dan berada di ruangan ICU.
Izam langsung menghubungi Papa nya dan menanyakan kabar tersebut dengan nada khawatir.
"Alhamdulillah ya Allah... Terimakasih sudah membuat kakak ipar ku melewati masa kritis nya. Mudah-mudahan keadaan Bang Salim semakin membaik! " ucap Izam penuh syukur.
__ADS_1
"Siapa yang membaik, Bang? " tanya Amay yang tiba-tiba sudah ada di belakang Izam.
"Astaghfirullah hal adzim, sayang?? Kamu bikin Abang kaget aja! " ucap Izam sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang karena kaget.
"Ihh, Abang belum jawab pertanyaan Amay? " gerutu Amay dengan bibir manyun.
"Sini duduk dulu! Abang baru saja mengaktifkan ponsel Abang yang kemaren sore Abang matikan. Rupanya ada pesan dari Papa Abang yang mengabarkan kalau kakak ipar Abang masuk rumah sakit karena kecelakaan dan keadaannya kritis. Makanya tadi langsung Abang telpon Papa menanyakan bagaimana keadaan Bang Salim sekarang, dan alhamdulillah Papa menjawab kalau Bang Salim sudah melewati masa kritis nya. Lalu Amay datang ngagetin Abang... " jawab Izam panjang lebar begitu Amay duduk di sampingnya.
Amay mangut-mangut mendengar penjelasan suaminya, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu yang tadi malam belum sempat ia tanyakan.
"Bang, Amay boleh nanya gak? " kata Amay dengan hati-hati.
"Ya udah tanya aja selagi Abang masih bisa jawab! " ucap Izam santai.
"Emangnya Abang beneran ya ngasih Amay mahar 10 juta, apa gak kebanyakan Bang? Kan lebih baik uang nya untuk modal usaha Abang nanti di kota! " tanya Amay dengan wajah teduhnya.
"MasyaAllah... Itu memang Abang beri untuk Amay, karena saat ini di tangan Abang hanya ada uang 10 juta saja. Mengenai modal untuk usaha Abang, Amay gak usah mikirin itu, karena semuanya sudah Abang atur sedemikian rupa. Jadi Amay fokus aja uang nya mau di gunakan untuk apa! " ucap Izam dengan lembut.
"Ya Allah... Begitu sederhana sekali istriku ini! Dimana-mana perempuan yang akan menikah pasti meminta mahar yang banyak dan yang mahal-mahal. Tapi bagi istriku, uang 10 juta sudah begitu banyak untuk dirinya.. Bagaimana jika ia tahu kalau aku punya uang yang tidak akan habis meski tujuh turunan tujuh tanjakan dan tujuh kelokan? Tapi tenang saja, mulai hari ini dan sampai kapan pun semua uang ku akan menjadi milik mu wahai istriku! " batin Izam berdecak kagum dengan kesederhanaan istrinya.
"Tapi, Amay gak kepengen apa-apa, Bang! " jawab Amay polos.
"Ya sudah kalau gak mau apa-apa, uangnya di simpan saja. Dan gunakan jika memang ingin Amay gunakan! " ucap Izam sambil mengusap lembut punggung tangan istrinya.
"Oh ya, tadi Bulek bilang kalau sarapan kita di suruh ke rumahnya! " sahut Izam lagi menyampaikan pesan Bulek Saroh.
"Ya udah, ayok Bang kita ke sana! Amay sudah laper banget nih! " ajaknya sambil berdiri dan menarik tangan Izam.
Izam mengikuti langkah istrinya dari samping menuju rumah Bulek Saroh yang hanya lima langkah dari rumah yang mereka tempati.
Sesampainya mereka di sana, semua keluarga Pak lek Rohim sudah berkumpul di meja makan termasuk juga Aulia.
"Baru juga di omongin, nongol juga akhirnya! " celutuk Aulia menggoda pengantin baru.
"Ye.... Siapa yang ghibahin, orang cuma nanya doang! Ya kan Bulek? " balas Aulia meminta pembelaan Bulek Saroh.
"Sudah, sudah.... Berdebat nya nanti saja! Kita sarapan dulu! " lerai Bulek Saroh dengan tegas.
Amay memeletkan lidahnya kepada Aulia, yang di balas dengan pelototan mata Aulia. Izam hanya geleng-geleng kepala melihat dua sahabat yang selalu berdebat ketika bertemu.
Selesai sarapan, Amay bermaksud memanggil Mbak Lastri khadamah yang biasanya mengurus rumah Abah nya Amay.
"Mau kemana sayang pagi-pagi gini? " tanya Izam ketika melihat Amay sudah ber siap-siap hendak pergi.
"Hehe... Lupa kalau sudah punya suami! Amay pamit dulu ya, Bang! Mau ke asrama putri, panggil Mbak Lastri supaya belanja ke pasar! " jawab Amay hendak menyalami tangan suaminya.
"Eh... Jangan sayang! Tidak usah merepotkan orang lain! Biar nanti Abang aja yang ke pasar beli kebutuhan dapur kita! " larang Izam dengan lembut.
"Emangnya Abang gak kerepotan belanja ke pasar? "tanya Amay sedikit tidak yakin.
"Ya gak lah! Orang Abang sudah terbiasa belanja ke pasar tradisional! Kalau kamu mau ikut, ayo kita pergi bersama-sama! " jawab Izam enteng sambil mengajak Amay juga.
"Emang boleh??? " tanya Amay lagi memastikan ucapan suaminya.
"Ya boleh lah, masa istri mau ikut ke pasar gak di bolehin! "jawab Izam lagi dengan gemes.
"Hehehe.... Kirain kayak di cerita-cerita itu yang suaminya malas ngajak istrinya pergi karena gak mau repot! " ucap Amay cengengesan.
"Kamu tuh ya? Korban cerita fiksi yang gak jelas! Mulai besok gak boleh lagi baca-baca cerita yang gak masuk di akal seperti itu, meski kadang kala ada juga yang seperti itu. Tapi kan gak semuanya orang itu kayak gitu sifatnya! " nasihat Izam panjang lebar.
"Assiappp... Komandan! " jawab Amay dengan hormat.
"Diih... Gemesin banget sih istrinya Izam ini! " ucap Izam gemes sambil mencubit gemes pipi tembem Amay.
__ADS_1
Tingkah laku mereka berdua rupanya di amati oleh Bulek Saroh yang hendak pergi ke dapur umum Ponpes. Ia tersenyum bahagia karena pilihan mereka untuk menerima lamaran Izam sangat tepat. Ia bernafas lega sudah memberikan keponakan nya itu suami yang terbaik yang akan menggantikan mereka dalam menjaga Amay.
"Kalau saja Kang Sulaeman dan Mbak Aisyah masih hidup, mereka pasti bahagia anak yang mereka sayang sudah hidup bahagia dengan suaminya yang begitu menyayanginya seperti ini! " gumam nya dengan lirih.
Bulek Saroh pun meninggalkan pasangan pengantin baru itu yang sudah bersiap-siap hendak ke pasar. Mereka berboncengan menggunakan motor Pak lek Rohim yang sudah duluan di pinjam Izam ketika mereka selesai sarapan tadi.
Amay dan Izam akhirnya sampai juga di pasar tradisional di kampung ini. Amay membuntuti suaminya pergi membeli bahan-bahan makanan dan bumbu dapur di satu kios ke kios yang lainnya tanpa mengeluh jalanan yang agak becek.
Amay kagum melihat suaminya yang pintar dan lihai menawar barang yang kira-kira agak mahal dari harga biasanya. Ia bahkan makin kagum ketika ada seorang pedagang yang ingin menipu suaminya, tapi tidak mempan karena suami lihai dalam memutar omongan pedagang tersebut.
"Capek sayang? Kalau capek kita istirahat dulu di sana! "tanya Izam sambil menunjuk bangku yang ada di dekat nenek-nenek yang berjualan pisang.
"Sedikit Bang! " jawab Amay jujur.
Izam pun menarik tangan Amay dengan tangan yang kosong karena yang satunya sedang menenteng barang belanjaan mereka.
"Nek, berapa pisang lilin satu sisir? " tanya Izam ketika mereka sudah duduk di bangku tersebut.
"15.000 nak! " jawab si nenek sambil mengelap peluh yang membasahi wajah tuanya.
"Beli tiga sisir ya, Nek! " ucap Izam sambil menyerahkan uang 50rbu.
"Gak di tawar dulu, Nak? " tanya nenek tersebut dengan wajah tidak enak.
"Astaghfirullah hal adzim, Nek... Masa harga 15ribu pakai di tawar lagi sih! Kebangetan banget itu namanya! " jawab Izam dengan wajah kaget.
"Maaf Nak, soalnya dari tadi mereka selalu menawar karena katanya harga nya mahal untuk satu sisir! " ucap nenek tersebut dengan wajah sedih.
"Ya Allah, Nek! Tega sekali mereka menawar harga yang sudah murah seperti ini! "sahut Izam dengan prihatin.
"Uang pas aja ya, Nak! Soalnya nenek gak punya uang kecil, belum ada yang laku! " ucap nenek tersebut dengan menyerahkan kembali uang 50ribu kepada Izam.
Amay menyambar uang tersebut dan memasukkan nya ke dalam dompet, dan mengambil uang merah 100ribu kepada nenek tersebut.
"Ya ampun Nak! Ini juga gak ada kembalian nya! " sahut nenek tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Amay kan gak minta kembaliannya, Nek! Amay mau bayar pisang yang di beli suami Amay. Dan kembalian nya untuk nenek aja! Mudah-mudahan uang nya bermanfaat untuk nenek! " jawab Amay dengan santainya.
Nenek tersebut menangis tersedu-sedu memegang uang soekarno-hatta tersebut. Izam menatap istrinya dengan tatapan bangga dan kagum dengan kemurahan hati istrinya. Setelah tangisan nya reda, nenek tersebut menyimpan uang tersebut di dalam kantong bajunya.
"Apakah kalian pengantin baru? " tanya nenek tersebut.
"Kok nenek tahu? " Izam balik nanya.
"Soalnya nenek baru melihat pasangan seperti kalian yang tampak begitu menyayangi satu sama lain! Mudah-mudahan pernikahan kalian langgeng sampai tua, dan di jauhkan dari segala macam bala, di karuniai anak-anak yang soleh dan solehah! " ucap nenek tersebut dengan tulus.
"Aamiin ya Rabbal alamiin... " Amay dan Izam mengamini doa nenek tersebut.
"Kalau gitu, kami pamit dulu ya, Nek! Matahari sudah mulai tinggi! " pamit Izam setelah memasukkan tiga sisir pisang ke dalam kantong kresek hitam.
Mereka pun pergi ke tempat parkir motor dan pulang ke pesantren dengan wajah bahagia. Sepanjang jalan Izam senyum-senyum sendiri ketika Amay memeluk erat pinggangnya. Rasanya ia begitu bahagia mempunyai istri yang mempunyai akhlak yang baik seperti istrinya ini.
Ketika hendak memarkirkan motor di parkiran depan rumah Pak lek Rohim, Tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan ucapan kasar dari seseorang yang sangat Amay kenal.
"Oh, jadi laki-laki kere ini yang jadi suami kamu! Kasihan banget Sulaeman mempunyai menantu kere yang hidup susah seperti ini! Asal kamu tahu ya May, suami kamu itu tergila-gila dengan keponakan saya! Karena miskin dia tidak di terima oleh adik saya sebagai menantunya, dan lari ke kampung ini! Menikah dengan kamu yang notabene pemilik pesantren ini! Emangnya kamu mau nanti pesantren ini di rebut oleh laki-laki kere seperti ini! Hidup hanya bergantung dengan istrinya tanpa mau bekerja! Pasti yang belanja tadi pakai uang kamu, May! Laki-laki kere seperti ini mana punya uang untuk beli sebanyak ini! " tuduh Bude Maryam tiba-tiba menghina dan menjelek-jelekkan Izam.
"Apa maksud Bude berkata seperti itu tentang suami Amay! Emangnya Bude kenal dengan suami Amay? Kalau pun kenal, apa Bude berhak menghina dan menjelek-jelekkan suami Amay di depan umum begini? Kalau Bude datang cuma untuk menghina dan membuat keributan, mendingan Bude pergi dari sini sebelum Amay makin emosi mendengar kata-kata kotor yang keluar dari mulut Bude itu! " jawab Amay dengan menahan emosi di dadanya.
"Dasar anak kurang ajar! Dibilangin orang tua tidak mau dengar! Awas kamu! Rasakan lah hidup penuh kekurangan dengan laki-laki miskin itu! " teriak Bude Maryam sambil marah-marah.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...