
Tidak hanya Bulek Saroh yang pingsan tetapi Pak lek Rohim dan Pakde Soleh ikutan mematung dengan wajah sama-sama terkejut melihat kedatangan Davin.
Mama Lia berlari mendekati Bulek Saroh bersama Annisa dan Ara. Amay berjalan bersama Izam mendekat ke arah Bulek Saroh yang masih pingsan.
"Pak lek! Pak lek! " pekik Amay dengan suara kencang memanggil Pak lek Rohim yang masih tertegun dan bengong.
Karena tidak merespon, Haikal pun mendekat ke Abah nya dan memukul kencang tangan Abah nya sehingga Pak lek Rohim mengaduh kesakitan.
"Astaghfirullah hal adzim ya Allah! " ucap Pak lek Rohim tersadar dan kaget melihat istrinya pingsan.
Mendengar suara Pak lek Rohim, Pakde Soleh pun juga tersadar dan ikut berlari ke arah Bulek Saroh.
"Angkat ke sana aja Pak lek! " ucap Ara menunjuk ke arah sofa.
Pak lek Rohim bersama Izam mengangkat tubuh Bulek Saroh yang pingsan ke sofa yang di tunjuk Ara.
"Ya Allah Umi! Bangun Umi! " ucap Pak lek Rohim panik dengan meletakkan kepada Bulek Saroh ke atas pangkuan nya.
"Annisa, cepat ambilkan minyak kayu putih! Cepat! " perintah Pakde Soleh dengan keras.
"I-iya Bi... " jawab Annisa juga dengan terbata-bata.
Ia langsung berlari ke lantai atas, sedangkan Amay duduk di dekat kaki Bulek Saroh sambil memijat lembut kaki Bulek nya yang terasa dingin.
"Kenapa Bulek pingsan ya Bang? Apa Bulek sakit? " tanya Amay kepada Izam yang berdiri di samping nya.
"Mungkin saja sayang! " jawab Izam asal saja.
"Umi.... Bangun Umi... Umi... " teriak Haura sambil menangis mendekat ke tempat Bulek Saroh terbaring pingsan.
"Tolong menyingkirkan dulu ya, biar Ara periksa Bulek! " ucap Ara yang datang dengan tas medis dan stetoskop di lehernya.
__ADS_1
Haikal dan Haura menyingkirkan diri dan berdiri di sebelah Izam. Ara memeriksa Bulek Saroh dengan serius, semua orang melihat dengan wajah khawatir. Davin berdiri di samping Salim suami Ara dengan wajah bingung.
Amay menatap lekat Davin yang sudah membuat Bulek nya pingsan.
Izam melihat arah pandangan mata istrinya ke arah Davin dengan wajah heran.
"Kenapa sayang? Apa ada yang salah dengan Davin? " ucap Izam heran.
"Davin?? " kata Amay mengulang ucapan Izam.
"Iya Davin. Laki-laki yang barusan datang tadi itu Davin, sahabat Abang dari putih biru dulu sampai sekarang! Karena ia sibuk mengurus perusahaan Abang, jadi ia baru sekarang datang ke rumah ini lagi! Kenapa kamu melihat Davin seperti itu? Aku tidak suka! " cetus Izam dengan nada cemburu.
"Ish Abang, cemburu aja yang di gedein! Amay tu lihat sahabat Abang itu karena merasa kayak gak asing loh! Kayak pernah kenal gitu! " jawab Amay dengan merenggut kesal.
"Ah ngaco kamu sayang! Masa baru pertama ketemu bilang seperti pernah kenal! Lagian si Davin itu dari zaman nenek moyang gak pernah keluar dari Jakarta! Apalagi sampai ke kampung kamu, ngawur kamu mah! " sahut Izam tidak percaya omongan istrinya.
"Terserah Abang kalau gak percaya! Amay gak bohong kok, Amay merasa seperti sudah pernah bertemu dengan teman Abang itu! " jawab Amay tetap bersikeras dengan pendapatnya.
"Udah, udah... Kenapa kalian malah berantem sih! Keadaan lagi panik gini kalian malah adu mulut! " omel Mama sambil melotot kan matanya kepada Izam.
"Sama aja itu mah! Sama-sama tegang urat! Udah, gak usah bantah! Pintar banget kalau soal ngeles! " jawab Mama Lia mendelik kesal.
Annisa datang dengan membawa botol minyak kayu putih dan langsung memberikan olesan minyak kayu putih di hidung Bulek Saroh. Tidak lama kemudian, Bulek Saroh sadar dan membuka mata nya secara perlahan.
"Ya Allah Abah.... Kenapa Umi ada di sini? Pakai di pangku segala! " ucap Bulek Saroh dengan wajah bingung.
"Umi pingsan, waktu kita lagi asyik-asyik nya bakar-bakar! " jawab Haura dengan wajah khawatir.
"Astaga Abah! Gimana bakaran kita tadi? " ucap Bulek Saroh dengan panik.
"Gak papa Bulek! Nanti di lanjutkan lagi, yang penting Bulek sekarang sudah sadar! Tensi Bulek normal, dan Bulek pingsan karena shock aja! Gak ada yang perlu di khawatir kan tentang keadaan Bulek! " sahut Ara menjelaskan hasil pemeriksaan nya.
__ADS_1
"Alhamdulillah.... " ucap semua orang di ruangan itu.
Bulek Saroh memindai wajah semua orang yang ada di ruangan itu dan menatap Davin dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia lalu duduk dan melihat ke arah Pak lek Rohim dan Pakde Soleh dan mereka menganggukkan kepala mereka berdua.
Amay yang melihat itu semua semakin heran dan bertanya-tanya dalam hatinya kenapa reaksi Pak lek, Bulek, dan Pakde nya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan lagi acara kita tadi, anak-anak sudah merengek mau makan ayam bakar! Oh ya, Besan semuanya! Kenal kan ini Davin sahabatnya Maliq dari sekolah dulu! " ajak Mama Lia sambil memperkenalkan Davin kepada semua orang yang ada di sana.
Davin dengan sopan menyalami mereka semua dengan tersenyum lebar termasuk menyalami Papa Rahman dan Hardi. Bulek Saroh menerima uluran tangan Davin dengan tangan yang gemetaran dan seperti akan menangis.
Semua itu tidak luput dari pengawasan mata Amay yang begitu jeli memperhatikan reaksi mereka bertiga.
Mereka semua nya lanjut ke taman samping meneruskan acara barbeque mereka dengan berbincang dan bercanda dengan penuh keakraban.
Amay tetap duduk di sofa memperhatikan dari dalam ruangan yang hanya di sekat dinding kaca bersama dengan suaminya. Haura dan Haikal ikut memanggang bersama anak-anak yang heboh juga ingin ikut memanggang juga.
"Sayang, kenapa kamu jadi diam begini? " tanya Izam yang merasa aneh dengan sikap diam istrinya.
"Entahlah Bang! Rasanya terlalu banyak yang Amay pikirkan saat ini sehingga Amay bingung mau mulai dari mana untuk mengungkapkan semuanya! " jawab Amay dengan menghela napas nya dengan kasar.
"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kamu sakit lagi! Kasihan dedek nya kalau Mama nya sakit! Kamu harus rileks dan santai, gak usah tegang gitu! " ucap Izam dengan penuh kelembutan.
"Iya Abang! " jawab Amay mengangguk patuh.
Ia lalu bersandar di dada bidang suaminya dengan pikiran yang melayang entah kemana.
"Aku sangat yakin sekali jika ada sesuatu yang di sembunyikan Pak lek, Bulek dan Pakde! Mereka bertiga begitu kaget dan sampai pingsan ketika teman Abang datang tadi! Bulek juga seperti mau menangis ketika Davin menyalami nya, begitu juga dengan Pak lek dan Pakde, mereka juga seperti bertemu kembali dengan seseorang yang sudah lama tidak mereka temui! Siapa sih Davin itu? Dan apa hubungannya dengan Pak lek, Bulek dan Pakde sehingga mereka bersikap seperti itu! Aku harus menanyakan langsung pada Bulek besok pagi, karena gak mungkin jika aku bertanya malam ini! " ucap Amay dalam hatinya dengan penuh kecurigaan.
"Pokoknya besok semuanya harus jelas! Kenapa aku juga merasa seperti pernah bertemu Davin itu! Padahal ini pertama kalinya aku bertemu orang lain selain keluarga ku! " batin Amay lagi dengan penuh semangat menunggu esok hari.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semua meskipun pagi ini kota Jambi di guyur hujan deras dari tadi subuh hingga saat ini.
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...