Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Pendarahan...


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu semenjak acara lamaran Davin dan Aulia. Orang tua Aulia memutuskan tinggal sementara di rumah yang mereka belikan untuk Aulia saat masih kuliah dan bekerja di Tk.


Mereka melakukan itu agar leluasa menyiapkan pesta pernikahan anak perempuan satu-satunya mereka di bantu oleh Mama Lia. Bulek Saroh juga baru pulang dari kota beberapa hari yang lalu. Ia bolak balik kampung ke kota selama dua minggu sekali untuk membantu orang tua Aulia dan Mama Lia dalam mempersiapkan pernikahan Davin.


Davin memperkerjakan sopir yang bisa antar jemput Bulek Saroh kemanapun ia pergi. Ia juga memberikan sopir pada Ibu Tinah supaya leluasa jika akan mengunjungi nya ke kota.


Pagi ini Ibu minta di antar Pakde Soleh untuk ke Pondok Pesantren. Ibu selalu rutin ikut pengajian Ibu-ibu di aula Pondok bersama Ibu-ibu di lingkungan sekitar pesantren.


"Dek, kamu yakin kita ke sana naek motor? " tanya Pakde Soleh agak keberatan mengantar istrinya dengan motor.


"Yakin lah Mas! Aku pengen banget naik motor hari ini! " jawab Ibu Tinah dengan penuh semangat.


"Tapi Dek, jalanan nya agak jelek dan Mas takut kamu nanti sakit perut karena goncang-goncang! Apalagi sudah hampir dua minggu ini muka kamu pucat banget! " ucap Pakde Soleh masih tidak rela.


"Justru enak naik motor lah Mas, kita bisa ambil jalan tikus yang tidak bisa di lalui mobil! Lagian kan aku ndak sakit Mas, perasaan kamu aja aku pucat gini! Nih pegang, gak panas kan! " jawab Ibu Tinah keukeh dengan meraih tangan suaminya dan meletakkan nya menempel di kening.


Pakde Soleh mengangguk karena memang suhu badan istrinya tidak panas seperti orang demam, hanya saja ia tetap khawatir dengan wajah pucat istrinya itu.


"Ya sudah lah kalau itu mau mu Dek! Tapi kita pelan-pelan saja ya! Mas mau suruh Ujang untuk tetep ikut di belakang kita! " ucap Pakde Soleh pasrah dan menuruti keinginan istrinya.


"Asyik... Naik motor! Terserah Mas aja lah! " jawab Ibu Tinah kegirangan seperti anak kecil.


Mereka pun pergi ke Pondok Pesantren di kampung sebelah dengan menggunakan motor matic nya. Selama perjalanan Ibu Tinah tidak henti-hentinya berceloteh mengomentari apa yang ia lihat sepanjang perjalanan. Ia begitu bahagia dengan pernikahan nya yang kedua ini, meskipun baru beberapa bulan mereka menikah, ia sangat bahagia.


Mereka berdua sampai di Pondok saat Annisa ke luar dari ruang guru menuju tempat ia mengajar.


"Loh, Ibu, Abah! Kenapa ke sini naek motor? Kan lumayan jauh! Kenapa gak naek mobil kayak biasanya! Ntar di marahin Kang Davin baru tau rasa! " ucap Annisa geleng-geleng kepala lihat orang tuanya.


"Ibu kamu yang ngotot! Maunya pakai motor, gak mau pakai mobil! Abah ya bisa apa! " jawab Pakde Soleh menghela napasnya.


"Ibu bosan naik mobil! Kamu mau ngajar ya? " sahut Ibu Tinah memberikan alasannya.


"Iya Bu.. Ibu kok pucat muka nya! Ibu sakit?? Tapi gak panas kok! " ucap Annisa dengan memegang kening Ibu nya.


"Ibu gak sakit! Wong gak panas kok! Kamu sama aja kayak Abah mu bilang Ibu pucat! Padahal Ibu biasa aja tuh! " jawab Ibu Tinah santai.


"Ya udah.. ! Nisa mau ngajar dulu Bu, Bah! Ibu tunggu di aula aja bareng Ibu-ibu yang lainnya! Bentar lagi Ustadzah Fatimah akan datang kok memberikan Tausiyahnya! Nisa pamit ya Bu, Bah! " ucap Annisa sembari menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.


Setelah Nisa menghilang dari pandangan, Ibu Tinah berjalan menuju Aula tempat berlangsungnya pengajian rutin yang ia datangi. Sedangkan Pakde Soleh memutuskan untuk melihat kegiatan santri yang berkebun di kebun belakang.


Beberapa menit kemudian, Pak lek Rohim yang sedang berbincang dengan para Ustadz di kantor nya mendadak di panggil salah satu Khadam dengan wajah pucat.


"Assalamualaikum Pak Kyai.. ! Pak Kyai.. ! " panggil salah satu Khadam yang membantu nya selama ini.


"Ada apa Fahrul? Kenapa wajah mu pucat begitu? Apa kamu sedang sakit?? " tanya Pak lek Rohim menghentikan bicara nya.


"I-itu di rumah Pak Kyai ada Bu-Bude Maryam datang dengan polisi dan beberapa orang lainnya Pak Kyai! " jawab Fahrul dengan terbata-bata.


"Mbak Maryam! Mau ngapain dia kesini bawa polisi segala? " ucap Pak lek Rohim dengan menautkan alisnya.

__ADS_1


"Lebih baik temui saja dulu Pak Kyai! Siapa tahu ada kepentingan penting dengan Pak Kyai! Ayo saya temani! " sahut Ustadz Farhan memberikan saran nya.


"Terimakasih Pak Ustadz, ayo kita temui orang itu! Mudah-mudahan bukan mau bikin onar! " ucap Pak lek Rohim bangkit dari duduk nya.


Bersama Ustadz Farhan, ia keluar dari kantor Ponpes berjalan menuju kediamannya.


"Heh Saroh! Cepat kamu panggil suami mu itu ke sini ! Suruh ia tanda tangan di sini sebelum Pondok ini aku rubuh kan dengan alat berat! " hardik Bude Maryam dengan melemparkan sebuah map di hadapan Bulek Saroh.


Bulek Saroh mengambil map tersebut dan membuka nya. Mata nya terbelalak kaget saat di kertas itu tertulis jika Pak lek Rohim selaku penanggungjawab akan menyerahkan kepengurusan Pondok Pesantren Al-Mutmainnah ke tangan Bude Maryam secara suka rela.


"Kami gila ya Mbak! Siapa kamu sampai suamiku harus menyerahkan Ponpes ini ke tangan perempuan culas seperti kamu! Jangan mimpi kamu Mbak! " tuding Bulek Saroh dengan wajah merah padam.


"Lancang kamu Saroh! Kamu itu orang luar di sini! Jadi jangan ikut campur terlalu jauh! Saya berhak atas Ponpes ini karena suami saya masih kakak dari Sulaeman! Kamu jangan lupa itu! " teriak Bude Maryam tidak kalah keras.


"Aku gak bakalan lupa kok Mbak, kalau aku memang orang luar! Tapi, aku ini istri dari adik ipar pemilik Pesantren ini! Jadi aku bukan sepenuhnya orang luar, justru Mbak lah yang orang luar sesungguhnya! Sadar diri Mbak, Mbak itu cuma Kakak ipar tiri Kang Sulaeman! Kakak ipar tiri! Dan satu lagi ya Mbak, sedikit pun tidak ada hak suami Mbak pada Pesantren ini! Karena apa, karena Kang Sulaeman membangun Pesantren ini bersama istrinya Mbak Izah dari nol! Gak ada tuh sepersen uang dari orang tua nya masuk ke Ponpes ini! Jadi jangan mengada-ngada deh Mbak! " teriak Bulek Saroh dengan tersenyum sinis pada Bude Maryam.


"Cih, gak usah ngarang kamu Saroh! Pokoknya saya harus mendapatkan hak suami saya! Pak polisi, jika mereka tidak mau tanda tangan surat ini, jebloskan saja mereka ke balik jeruji karena tindakan merampas hak orang lain! " ucap Bude Maryam tidak terima dengan perkataan Bulek Saroh.


"Ibu Maysaroh! Tolong kerja sama nya dengan Ibu Maryam! Karena tidak mungkin Ponpes sebesar ini di bangun tanpa campur tangan orang tua suami Ibu Maryam! Apa lagi Ibu Maryam juga cerita jika orang tua suaminya itu orang yang cukup berada pada waktu dulu! Sekali lagi tolong kerja sama nya, karena kalau tidak.... "


"Kalau tidak apa??? Apa yang akan anda lakukan pada istri saya?? " potong Pak lek Rohim pada ucapan Pak polisi itu.


Pak polisi yang awalnya merasa menang karena yakin bisa membuat Bulek Saroh agak takut langsung terdiam saat melihat sorot mata Pak lek Rohim yang menatap nya dengan tatapan tajam.


"Jangan mentang-mentang anda seorang polisi, anda seenaknya mengintimidasi orang kecil seperti kami! Kami bukan orang bodoh yang mau mengikuti permainan kotor kalian! Dan kamu Mbak, gak capek kamu dari dulu berkoar-koar mengatakan jika Ponpes ini ada bagian suami kamu! Sadar diri Mbak, suami Mbak itu hanya saudara tiri kakak ipar saya! Sedikitpun tidak ada hubungan darah baik dari bapak nya atau dari ibunya kakak ipar saya! Jadi, jangan ngaku-ngaku yang bukan hak nya Mbak! " ucap Pak lek Rohim dengan nada tegas.


"Heh, Ustadz! Saya gak takut dengan ancaman kamu! Saya tahu orang kampung seperti kamu itu hanya bisa menggertak saja! Kita lihat saja nanti, siapa yang akan masuk penjara terlebih dahulu! " ucap Bude Maryam dengan nada angkuh.


"Bos... ! Gimana kalau Ustadz itu bukan menggertak? Bisa ketahuan jika kita ini hanya polisi gadungan? " bisik salah satu polisi pada Bude Maryam.


"Gak akan! Saya tahu orang kampung seperti mereka! Udah deh jangan sok ngajari saya! Kamu lakukan aja tugas kamu sampai si Rohim sialan itu menandatangani berkas itu! Kalau kamu mengacau sedikit aja, maka aku gak akan kasih bagian mu! " ancam Bude Maryam juga dengan berbisik.


"Iya Bos iya.. ! Tapi jika mereka beneran kami gak mau masuk penjara sendiri! Bos juga harus menanggung nya! " bisik polisi gadungan tadi tampak pasrah.


"Iya iya.. ! Gak bakalan itu! Bawel banget sih! " omel Bude Maryam geram sambil berbisik.


"Hei Rohim... ! Cepat tanda tangani berkas itu! Aku gak mau tahu, karena kalau tidak aku akan menuntut semua ini ke pengadilan! " ancam Bude Maryam dengan membentak Pak lek Rohim.


Pak lek Rohim tersenyum sinis dan sengaja meremehkan Bude Maryam. Ia dengan sengaja menyobek berkas tersebut lengkap dengan map nya menjadi kecil-kecil layaknya sampah.


"Tuntut saja ke pengadilan! Saya gak takut! Toh, Ponpes ini sudah resmi menjadi milik Amay selaku pengemban amanah dari kakak ipar saya! " ucap Pak lek Rohim santai.


"Kurang ajar kamu Rohim! Lancang kamu menyobek kan berkas itu! Anak pungut itu tidak berhak memiliki Ponpes ini! Kalian kenapa diam saja! Ayo paksa mereka menandatangani berkas kosong saja! " teriak Bude Maryam pada beberapa orang yang berdiri di belakang nya.


Ibu Tinah yang baru selesai mengikuti pengajian, berniat mengunjungi Bulek Saroh di kediamannya sambil mengobrol sejenak.


Ia mendengar suara yang terasa begitu familiar di telinga nya.


"Suara siapa itu yang marah-marah? Kayak kenal aku dengan suara itu! Tapi di mana ya aku dengar suara itu! " ucap Ibu Tinah seraya berpikir sambil berjalan pelan.

__ADS_1


Tiba-tiba ia teringat jika suara itu adalah suara perempuan yang membayar perawat untuk membuang Davin 32 tahun yang lalu.


"Iya, tidak salah lagi! Itu suara perempuan jahat malam itu! Aku tidak pernah lupa akan suara perempuan itu! Aku harus memastikan tanda di tangan perempuan itu! " ucap Ibu Tinah dengan berjalan cepat menuju pintu kediaman Bulek Saroh.


"Jangan coba-coba berbuat kekerasan di rumah ini! Saya tidak akan segan-segan melempar kalian semua dari sini! " ancam Pak lek Rohim saat orang-orang di belakang Bude Maryam hendak mendekati mereka.


"Berhenti! " pekik Ibu Tinah di depan pintu.


Ia langsung mendekati Bude Maryam dan meraih tangan kiri Bude Maryam. Ia menaikkan tangan baju Bude Maryam hingga memperlihatkan tanda lahir hitam di pergelangan tangan nya bagian luar. Karena ia memakai baju lengan panjang, maka tanda hitam tersebut tidak terlihat.


"Hei! Siapa kamu! Apa-apaan kamu ini! Lancang kamu menyentuh tangan saya! Perempuan gila! " hardik Bude Maryam berontak hingga ia tanpa sadar mendorong Ibu Tinah hingga tersungkur dan perut nya terkena lengan kursi.


"Mbak Tinah... ! " pekik Bulek Saroh kaget dengan kejadian cepat ini di depan mata nya.


Ibu Tinah meringis kesakitan sambil memegang perut nya.


"Sa-sakit... ! " ucapnya lirih dengan tangan memegang perut nya.


Teriakan Bulek Saroh terdengar hingga keluar dan membuat Annisa yang hendak ke rumah Bulek Saroh langsung berlari karena Bulek Saroh memanggil nama Ibu nya dengan kencang.


"Ibu.. ! Ya Allah Ibu! Apa yang terjadi! " ucap Annisa kaget dan panik melihat Ibu nya tergeletak di lantai dengan meringis kesakitan sambil memegang perut nya.


"I-itu pe-perempuan jahat malam itu! Itu dia! " tunjuk Ibu Tinah ke arah Bude Maryam.


"Ibu... Apa yang sakit Ibu! Ya Allah Ibu! Pak lek, panggil Abah Pak lek! Panggil Abah! " teriak Annisa panik karena wajah Ibu Tinah makin pucat seperti vampir.


"Biar saya saja yang panggil Pak Kyai! " ucap Ustadz Farhan sambil berlari keluar.


Pak lek Rohim berteriak kencang memanggil siapapun yang bisa diminta pertolongan. Mendengar teriakan Pak lek Rohim, para Ustadz dan Ustadzah keluar dari ruang guru dan kantor Ponpes menuju kediaman Pak lek Rohim.


Sedangkan Pakde Soleh yang di beri tahu Ustadz Farhan langsung berlari kencang menuju rumah Pak lek Rohim.


"Sa-sakit Nisa! Perut i-ibu sakit! Panggil A-abah mu! " ucap Ibu Tinah dengan nada lemah.


Bulek Saroh mengusap wajah Ibu Tinah yang berkeringat dengan tangan nya dan tiba-tiba ia melihat kaki Ibu Tinah mengalir darah.


"Da-darah.... ! " ucap Bulek Saroh dengan wajah pucat pasi menunjuk kaki Ibu Tinah.


Annisa yang mendengar ucapan Bulek Saroh langsung menoleh kearah yang di tunjuk Bulek Saroh.


"Abaaaah..... ! " teriak Annisa kencang dengan berurai air mata.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semua nya🤗🤗🤗


Selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta☺☺☺


Happy weekend 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2