
Rahman melangkahkan kakinya memasuki kamar putri nya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ia masuk dengan pelan dan mata mereka saling bertatapan ketika ia sudah di dalam kamar tersebut.
Amay menatap lekat laki-laki paruh baya yang di hadapan nya dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa tiba-tiba hatinya sakit mengingat apa yang membuat mereka terpisah dengan jarak dan waktu yang sangat lama.
Rahman merasa jantungnya berhenti berdetak melihat putri kesayangannya yang begitu ia nantikan kehadirannya di depan matanya.
"Apa Papa gak mau memeluk Amay? " ucap Amay memecahkan kesunyian dengan air mata yang turun bebas di pipinya.
Rahman langsung berhamburan ke atas tempat tidur Putri nya dan memeluk Amay dengan begitu erat dengan menangis kesegukan bersama Amay. Ia menciumi wajah Amay dengan begitu antusias berulang kali walaupun wajah Amay basah karena air mata. Kemudian ia memeluk Amay lagi dengan mencium pucuk kepala Amay dengan penuh kasih sayang.
"Papa jahat! Kenapa Papa baru datang sekarang? Amay kangen Papa? Selama ini Amay mengira Amay sebatang kara, Amay kira Amay anak yatim piatu! Papa jahat! Papa gak sayang sama Amay! " ucap Amay dengan suara serak dalam pelukan Rahman.
"Maafin Papa sayang! Maafin Papa! Maafin Papa yang udah membuat kamu merasa seorang diri sayang! Maafin Papa! " sahut Rahman bertubi-tubi dengan menciumi pucuk kepala anaknya.
Semua yang ada di dalam kamar tersebut tak kuasa ikut meneteskan air mata melihat pertemuan anak dan ayah untuk pertama kalinya selama hampir 26 tahun.
"Ayo kita keluar! Berikan mereka berdua ruang untuk melepaskan rindu dan saling mengenal lebih dalam! " ucap Papa Idris dengan suara pelan kepada semua orang termasuk Izam.
Mereka semua mengangguk dan secara pelan-pelan keluar dari kamar Amay dan Izam satu persatu tanpa di sadari Amay dan Rahman yang larut dalam suasana penuh kerinduan antara ayah dan anak.
"Putri kecil Papa sudah sebesar ini! Dan sekarang sudah menjadi seorang istri dan seorang Ibu! Mama kamu pasti bahagia di atas sana melihat Putri kesayangannya tumbuh menjadi wanita yang hebat, tangguh dan kuat! " ucap Rahman sambil mengecup hangat kening Putri nya.
"Mama... Amay pengen ketemu Mama, Pa? Bagaimana rupa dan kepribadian Mama Pa? Seperti apa Mama di mata Papa? " sahut Amay mendongakkan wajahnya menatap Rahman.
Rahman membetulkan duduknya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Ia menarik tubuh Amay dengan lembut dan membawa nya ke dalam pelukannya.
"Mama mu perempuan Bule yang tidak hanya cantik wajahnya, tapi juga cantik hatinya. Papa bertemu dengan Mama mu ketika Papa sekolah S1 di Belanda. Pagi itu Papa yang hendak berangkat ke kampus, Papa tidak sengaja melihat seorang perempuan yang beradu mulut dengan seorang pria yang ternyata seorang pengemudi mobil yang hampir saja menabrak seorang nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan.
Perempuan itu menyelamatkan nenek-nenek tersebut dan langsung melempari mobil itu dengan sepatunya sehingga mereka beradu mulut di pinggir jalan.
Pria itu marah, tapi perempuan cantik itu lebih bringas lagi dengan memukuli pria itu dengan tingkat nenek-nenek tersebut tanpa merasa takut. Pria itu langsung berlari kabur dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Mendengar ada yang tertawa di belakangnya, perempuan itu membalikkan badannya dan tanpa ampun memarahi Papa mu ini dengan wajah marah namun terlihat menggemaskan di mata Papa. Itulah awal perkenalan kami kala itu hingga hubungan kami berlanjut menjadi teman dan menjadi sepasang kekasih.
Selesai kuliah, Papa memutuskan untuk melamar Mama mu menjadi istri Papa dengan persetujuan Opa dan Oma mu. Kami menikah secara sederhana di kedutaan besar Indonesia di Australia karena Mama mu aslinya orang Australia. Papa memboyong Mama mu ke Indonesia setelah selesai mengurus semua dokumen selama satu bulan setelah kami menikah.
__ADS_1
Mama mu meneruskan pekerjaan Oma mu mengurus yayasan sosial dan Panti asuhan yang di kelola Oma mu. Setiap hari Oma mu selalu membawa Mama mu pergi untuk di pamer kan kepada semua teman-teman dan kenalannya. Karena Mama mu orang yang gampang beradaptasi, Mama mu mudah sekali berbaur dengan teman-teman Oma mu. Tepat tiga tahun pernikahan kami, Mama mu mendapatkan rezeki dengan adanya dirimu di rahimnya yang mana membuat semua keluarga bergembira. Tapi sayang, saat kau berusia empat bulan di kandungan Oma dan Opa mu pergi untuk selamanya. Namun sebelum pergi, Oma mu sempat mengatakan jika nanti cucunya perempuan berikan nama Sumayyah pejuang wanita yang pertama mati syahid mempertahankan agama Allah. Ternyata apa yang di katakan Oma mu benar, cucunya seorang perempuan yang kuat dan tangguh di saat ia hanya sendiri tanpa ada orang tua di sisi nya. Ia mempunyai keluarga baru yang mencintai nya dengan tulus dan menjadikannya perempuan yang sholehah dan patuh pada agama Allah. " ucap Rahman dengan tersenyum bahagia memeluk Amay.
"Amay pengen ketemu Mama, Pa? Amay pengen ziarah ke makam Mama! " sahut Amay dengan suara pelan.
"Iya sayang! Nanti kita akan mengunjungi Mama kamu! Mama kamu pasti bahagia di kunjungi Putri kesayangannya dan juga calon cucunya! " jawab Rahman dengan penuh kasih sayang sambil mengecup puncak kepala Amay.
"Sekarang princess Papa istirahat ya? Biar nanti badannya cepat pulih! " pinta Rahman dengan mengendorkan sedikit pelukannya.
"Gak mau kalau gak di peluk Papa? " rengek Amay dengan manja.
"Iya, Papa akan peluk princess Papa kok sampai tertidur! Ayo, Papa nyanyikan lagu kesukaan Mama kamu waktu kamu dalam kandungan Mama mu dulu! " jawab Rahman dengan gemes kembali memeluk anaknya yang gak mau di lepas.
"Twinkle- Twinkle little star.. How i wonder what you are.. Up above the world so high... Like a diamond in the sky.. Twinkle-Twinkle little star... How i wonder what you are... " Rahman menyanyikan lagu tersebut berulang kali sampai terdengar suara dengkuran pelan Amay di dalam pelukannya.
Dengan sangat Hati-hati, Rahman melepaskan pelukannya dan meletakkan pelan-pelan kepala Amay di atas bantal. Ia kemudian turun dengan sangat pelan takut Amay terbangun dan begitu kakinya sudah berpijak di lantai, Rahman menaikkan selimut hingga sebatas dada Amay. Ia berjongkok di hadapan Amay dengan mengusap pelan pipi tembem anaknya.
"Maggie... Apa kau lihat princess kesayangan kita? Ia sangat cantik persis seperti yang kau inginkan selama ini! Postur wajahnya sangat mirip dengan ku, dengan mata yang sama seperti mata mu! Senyuman nya begitu indah persis seperti senyuman mu Maggie! Maafkan aku Maggie, 26 tahun lebih aku baru bisa melihat anak kita, memeluknya dengan erat, mengatakan betapa aku begitu mencintai dan menyayanginya..Maafkan aku Maggie.. Aku mohon padamu, jagalah anak dan calon cucu-cucu kita dari atas sana, Maggie! Aku dan anak kita sangat mencintaimu, sayang! Kau akan selalu ada di hati kami berdua! " tangis Rahman dengan suara tertahan supaya Amay tidak mendengar tangisannya.
Ia lalu mengusap air matanya, mengecup hangat kening Amay dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Selamat tidur kesayangan Papa! Papa sangat menyayangi dan mencintai mu sepenuh hati Papa! " ucap Rahman dengan lirih sebelum keluar dari kamar anaknya.
Semua orang melihat ke arah Rahman ketika Rahman berjalan mendekati mereka.
"Amay gimana Pa? Kok di tinggal sendiri? " tanya Izam tanpa canggung kepada Papa mertuanya.
"Amay lagi tidur! Oh ya nak Izam, terimakasih sudah mencintai Putri ku tanpa mengetahui asal usul nya selama ini! " jawab Rahman sambil berkata dengan wajah penuh ketulusan.
"Kenapa Papa berterimakasih pada ku? Justru aku yang berterimakasih sama Papa udah memberikan aku seorang istri yang begitu baik dan cantik seperti Amay.. Aku bangga Amay terlahir dari orang tua seperti Papa dan almarhumah Mama! Papa orang yang hebat dan kuat persis seperti putri Papa itu. Jika aku di posisi Papa, mungkin aku tidak akan sanggup bertahan kehilangan orang yang aku cintai selama nya dan terpisah dari darah daging sendiri selama berpuluh tahun. Aku bangga sama Papa! " ucap Izam dengan sungguh-sungguh kepada Rahman.
Rahman lalu mendekati Izam dan memeluk erat tubuh menantu nya itu dengan rasa bangga dan bahagia. Di dalam hatinya, ia merasa begitu bahagia dan beruntung anaknya mendapatkan suami seperti Izam.
"Oh ya, Papa mau pergi dulu! Ada urusan sebentar! Ayo Hardi kita pergi! Saya permisi dulu Besan, Mas, Dik Rohim! " ucap Rahman sopan dengan menundukkan kepala nya.
"Loh, nanti kalau Amay nanyain sampean gimana Mas? " tanya Bulek Saroh agak keberatan karena ia tahu bagaimana tabiat Amay.
__ADS_1
"Saya pergi tidak akan lama Dik Saroh! Kalau Amay bangun, bilang saya akan kembali sebentar lagi! Setelah urusan saya selesai saya kembali lagi kesini! " jawab Rahman dengan ramah.
"Yo wes lah, hati-hati yo Mas! Amay biar kami yang jagain! " sahut Pak lek Rohim begitu Rahman berjalan keluar bersama Hardi.
"Besan, emangnya kenapa kalau Amay nanyain Papa nya lagi? " tanya Mama Lia penasaran.
"Itu loh Bu besan, Amay itu sekarang ini saya lihat kembali lagi seperti saat ia berumur 10tahun. Pasti nanti ia akan merengek dan menangis ketika Mas Rahman gak ada di sampingnya. Persis kayak dulu saat di tinggal Kang Sulaeman dakwah di beberapa kota sehingga menghabiskan waktu selama seminggu meninggalkan Amay bersama saya dan Abah nya anak-anak. Begitu Kang Sulaeman pulang ia mulai menunjukkan sifat manjanya dengan tidur di temani Abah nya. Tapi ketika bangun tidur ia langsung menangis kejer ketika melihat Abah nya sudah tidak ada lagi di sampingnya, padahal waktu itu Abah nya sedang sholat di kamar nya. Saya takut nanti Amay kayak gitu lagi, ia akan menunjukkan sifat manja nya kepada Papa yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Walaupun mereka baru pertama bertemu, tetapi ikatan batin antara anak dan ayah tidak bisa di anggap remeh, apalagi seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuan nya. Nanti kalau Amay kayak gitu gimana kita jelasinnya? " jawab Bulek Saroh dengan wajah bingung dan cemas.
"Bulek tenang aja! Kalau nanti Amay nanyain Papa Rahman, Izam akan bilang pelan-pelan jika Papa lagi ada urusan sebentar! Izam yakin Amay akan mengerti kok, Bulek! Pokoknya Bulek jangan cemas ! " ucap Izam dengan begitu yakin.
"Mudah-mudahan saja! " gumam Bulek Saroh mengangguk.
πΏπΏπΏ
Di dalam mobil, Rahman menatap luar mobil dengan tatapan datar dan dingin.
"Bagaimana rencana kita Hardi? Apakah semuanya berjalan lancar? Kapan kau pertemukan aku dengan sekutu kita di Atmanegara group? " tanya Rahman tanpa melepaskan pandangan nya ke jalanan luar.
"Semuanya berjalan lancar Tuan, rencananya Tuan akan bertemu mereka seminggu sebelum rapat direksi tahunan Atmanegara group dia minggu lagi! " jawab Hardi dengan yakin.
"Berarti itu setelah resepsi pernikahan putri ku? " tanya Rahman sambil menoleh ke arah Hardi.
"Benar sekali Tuan! " jawab Hardi dengan mengangguk.
Rahman kembali melihat ke arah luar dengan jemarinya bermain mengetuk jendela mobil.
"Apa ada kabar dari Merpati? " tanya Rahman lagi tanpa melihat ke arah Hardi.
"Jika untuk minggu ini belum ada Tuan! Karena sesuai rencana kita untuk tidak terlalu buru-buru menjerat seorang Damian! Karena kita tidak mau kaki tangan Damian curiga dengan Merpati sehingga membahayakan nyawa Merpati sendiri! Tapi Tuan jangan khawatir, karena Merpati perempuan yang cerdas. Ia akan membuat Damian masuk ke dalam perangkapnya dengan suka rela! " jawab Hardi dengan begitu yakin.
"Bagus kalau begitu! Sampai di kantor, adakan pertemuan darurat dengan beberapa direktur yang memihak ku! Aku akan menyampaikan sesuatu di depan mereka! Percepat jalannya! " jawab Rahman sambil memerintahkan sopir untuk agak mengebut.
Bersambung...
Alhamdulillah... Bisa up lagi setelah semingguan off karena anak pada sakit. Mudah-mudahan up kali ini bisa mengobati kerinduan readers dengan Amay dan Izam..
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...