
.Ara datang dengan membawa semua bahan baku yang ia beli bersama Haikal dan Haura.
"Untung aja ada Haikal dan Haura yang menjaga Nanaz dan Syakir, kalau gak ada mereka berdua bisa barabe Ara belanja semua ini sama bang Salim! " adu Ara pada Mama Lia.
"Justru karena mereka berdua bersama kamu, Mama pinta kamu aja yang beli sekalian kalian masih di luar rumah! " jawab Mama Lia membenarkan tindakannya.
"Gimana si Amay Ma? Masih ngambek dia? " tanya Ara sambil celingak celinguk mencari keberadaan adik iparnya itu.
"Udah ada pawang nya adik ipar mu, jadi gak bakalan ngambek lagi! " jawab Mama Lia dengan cekikikan.
"Siapa Ma? Kok Mama kelihatan bahagia banget Amay sama pawangnya! " tanya Ara dengan memicing kan matanya.
"Mama senang aja lihat wajah bete dan cemburu adik mu itu karena istrinya gak mau lepas dari papa nya! " jawab Mama Lia dengan tersenyum jahil.
"Ha.... Ha.... Ha.... Benarkah? " ucap Ara ikutan menertawakan adiknya.
"Ketawa teros.. Sampai giginya kering! Senang banget kalau lihat penderitaan orang! " sindir Izam yang kesal mendengar Mama dan kakak nya menertawakan penderitaan nya.
Mama Lia dan Ara semakin kencang tertawa nya melihat Izam berwajah masam dan cemberut begitu. Bulek Saroh dan Annisa hanya tersenyum kecil melihat mereka berdua menertawakan Izam dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dengan di bantu si Mbok, Bulek Saroh dan Annisa membantu membersihkan ayam, ikan dan aneka seafood yang akan mereka bakar nantinya. Mereka langsung mengoleskan bumbu agar sehabis sholat maghrib tinggal di bakar saja dan bumbunya sudah meresap hingga ke bagian dalam.
Ketika adzan maghrib berkumandang, semua kegiatan mereka terhenti dan semua orang tidak terkecuali para pekerja di rumah itu siap-siap untuk melaksanakan sholat maghrib, termasuk anak-anak.
Amay sholat di dalam kamar seorang diri karena ia mendadak keram perut ketika ia selesai mengambil air wudhu. Ia sholat sambil duduk kemudian membaca beberapa ayat alquran sambil mengelus perutnya yang mulai menonjol sedikit. Ia tersenyum ketika sedikit ada gerakan halus ketika ia sedang membaca Al-Quran dari dalam perutnya.
"Alhamdulillah... Anak-anak nya Mama senang ya Nak Mama bacain Alquran? In Shaa Allah Mama akan selalu menyempatkan waktu untuk membaca Al-Quran untuk kalian bertiga. " ucap Amay berbicara dengan wajahnya bahagia.
Ia semakin tersenyum lebar saat perut kembali terasa gerakan halus saat ia selesai berbicara seolah-olah ketiga janinnya mengerti apa yang ia ucapkan.
"Assalamualaikum sayang!! " panggil Izam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam Abang! Udah jamaahnya? " sahut Amay sambil bertanya ketika pintu terbuka lebar dan suaminya masuk ke dalam kamar.
"Udah, tapi lagi wirid! Abang gak tenang takut kamu kenapa-napa sendiri di atas! Apa yang terjadi? Kenapa sholat di kamar? " ucap Izam sambil bertanya kepada istrinya.
Amay tersenyum menatap wajah tampan suaminya, ia tidak menyangka jika suaminya juga merasakan hal yang demikian itu, padahal ia belum mengatakan apa-apa tentang perutnya yang tadi sedikit kram.
__ADS_1
"Amay gak papa Abang! Hanya saja tadi sehabis ambil wudhu, perut Amay tiba-tiba kram sedikit. Makanya Amay bawa baring sebentar, dan Amay akhirnya sholat di kamar sendiri! " jawab Amay dengan jujur.
"Ya Allah sayang! Sekarang gimana perutnya? Apa masih kram? " sahut Izam khawatir dan langsung mendekati istrinya dan. mengusap lembut perut Amay dari luar mukena.
"Alhamdulillah gak Abang, setelah Amay baring sejenak tadi, perlahan kram nya menghilang! Maaf ya udah bikin Abang khawatir! " jawab Amay tersenyum lembut sembari mengusap rahang tegas suaminya yang mulai di tumbuhi jambang halus.
"Dedek-dedek kesayangannya Papa Mama! Baik-baik di dalam sana ya Nak! Sehat-sehat kalian di dalam, jangan saling berebutan makanan dan in shaa Allah tujuh bulan lagi kita akan bertemu! " ucap Izam berbicara dengan perut Amay dan menciuminya dengan lembut.
Amay tersenyum sambil membelai rambut tebal suaminya, ia sangat bahagia mempunyai suami yang begitu mencintai nya dan keluarga yang selalu mendukung dan menyayangi nya selama ini. Apalagi sekarang ini ia berkumpul kembali dengan Papa kandung nya yang selama ini terpisah dari nya karena sakit. Ia benar-benar sangat bersyukur karena begitu banyak kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
"Abang udahan ngomongnya! Amay lapar! Ayo kita kebawah! Amay pengen makan ikan bawal bakar! " rengek Amay dengan manja.
"Siap tuan Putri! Ganti dulu mukena nya! " ucap Izam dengan memberi hormat.
Ia dengan sigap mengganti mukena istrinya dan memakaikan jilbab instan ke kepala Amay dan tanpa komando ia langsung menggendong Amay dengan bridal style turun ke bawah. Amay menikmati apa yang dilakukan suaminya dengan menghirup aroma mint dari leher suaminya dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher suaminya.
"Amay kenapa Zam? " tanya Rahman khawatir melihat Izam turun sambil menggendong Amay.
"Gak kenapa-napa kok Pa! Izam gak mau Amay kecapean turun tangga, apalagi tadi sebelum sholat perut Amay sempat kram sedikit! " jawab Izam jujur.
"Kenapa baru bilang sekarang?? " pekik Mama Lia dengan sangat terkejut.
"Oh, itu kram yang wajar! Kecuali kram disertai perut mules dan keluar flek itu yang harus di waspadai! Jika kamu ada keluhan semua yang kakak bilang tadi jangan di simpan sendiri harus panggil siapapun yang bisa membantu untuk segera di bawa ke rumah sakit biar cepat di tangani! " ucap Ara sedikit menjelaskan.
"Alhamdulillah gak kayak gitu Kak! " sahut Amay kepada Ara.
"Ya sudah... Kita harus bersyukur Amay gak apa-apa! Mudah-mudahan si triple baik-baik aja sampai nanti lahir ke dunia dengan sehat dan selamat! " ucap Papa Idris menengahi agar tidak semakin panjang.
"Aamiin.... " ucap semua orang mengaminkan ucapan Papa Idris.
"Ma, buruan dong acara bakar-bakarnya! Noh, mantu kesayangan Mama lapar pengen makan bawal bakar! " ucap Izam langsung mendesak Mama nya.
"Benarkah? Awas kalau kamu bohongin Mama! " sahut Mama Lia melihat ke arah Amay.
Amay mengangguk kan kepala nya dan Mama Lia langsung bergegas memanggil si Mbok untuk membawa semua bahan baku ke tempat pembakaran di taman samping.
"Dasar tuh nenek-nenek! Gak percayaan banget sama anak sendiri! " gerutu Izam dengan lirih tapi masih bisa di dengar Amay.
__ADS_1
"Plak.... Dosa tau bilangain Mama kayak gitu! " ucap Amay mengeplak lengan kekar suaminya.
"Piiss Abang cuma bercanda sayang! Gak mungkinlah Abang serius, bisa barabe nanti Abang di kutuk jadi beras! " jawab Izam dengan cengengesan.
"Kok jadi beras gak jadi batu! " ucap Amay bingung.
"Enakan jadi beras sayang, bisa langsung di masak jadi nasi! Lah, kalau jadi batu gak bisa di apa-apain! Emangnya batu bisa di masak, enggak kan? " jawab Izam sekenanya.
"Serah Abang dah! Pintar banget kalau soal ngeles! " ucap Amay memutar bola matanya jengah dengan jawaban absurd suaminya.
Semua orang kebagian tugas masing-masing. Hardi dan Pakde Soleh membakar ayam, Papa Idris dan Pak lek Rohim membakar aneka seafood termasuk bawal pesanan Amay, Papa Rahman dan Salim membakar ikan gurame dan mujair. Para perempuan nya mengoleskan bumbu-bumbu di semua tempat pembakaran. Annisa dan Ara menyiapkan piring-piring dan menatanya di atas meja. Sedangkan Izam duduk santai tidak melakukan apa-apa bersama Amay mengawasi anak-anak bermain bersama Haura di samping mereka duduk. Haikal ikut membantu mengipasi bara api jika ada yang padam. Para pelayan juga ikut membantu apa yang bisa di bantu karena mereka akan makan bersama tanpa pandang status sosial.
"Enak ya Bang kalau kita sering-sering kumpul kayak gini? Seandainya aja Kak Ana dan Kak Aini juga udah datang, pasti ramai banget dan anak-anak juga senang ada teman mainnya! Sayang banget mereka baru bisa besok sampainya ke sini! " ucap Amay dengan wajah agak sedih.
"Jangan sedih sayang ku? In Shaa Allah kita bikin lagi nanti pada saat pesta resepsi kita selesai, sebelum Pak lek dan Bulek pulang ke kampung! " jawab Izam menjanjikan hal itu kepada Amay.
"Beneran ya Bang! " sahut Amay dengan mata berbinar bahagia.
"In Shaa Allah sayang! " jawab Izam tersenyum teduh.
Mereka kembali mengawasi anak-anak yang berlarian di belakang mereka duduk.
"Nanaz, Syakir! Lari-larinya jangan ke sana ya? Nanti terkena api pembakaran! " tegur Izam dengan kencang.
"Iya uncle! " pekik mereka berdua sambil berlari.
Ketika mereka semuanya sedang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, tiba-tiba ada suara keras yang membuat mereka menoleh ke asal suara tersebut.
"Assalamualaikum semuanya.... Wah, lagi ada pesta nih! " ucap Davin yang datang tiba-tiba dengan suara kencang.
"Bruk..... "
"Bulek..... " pekik Amay melihat Bulek Saroh langsung pingsan ketika melihat Davin.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...