
"Papa baru pulang??? " ucap Amay saat Rahman mendekati mereka.
Amay dan Aulia langsung menyalami tangan Papa nya dan Papa Rahman duduk di seberang mereka.
"Memangnya ada masalah apa ?? Apa ada hal yang genting?? " tanya Rahman lagi dengan menatap mereka berdua bergantian.
"Bukan Pa... Jadi gini nih ceritanya... ! " jawab Aulia yang langsung menceritakan tentang lima kandidat yang ia rasa patut di pertimbangkan.
Papa Rahman mendengarkan dengan seksama penuturan Aulia dan pandangannya kepada lima kandidat ini.
"Kalau pendapat Papa sih ya, ini menurut Papa loh.. ! Kenapa gak di training aja mereka berlima selama sebulan untuk melihat kinerja mereka dan dari situ kita pilih dua atau tiga orang untuk maju ke babak selanjutnya. Gak semua orang yang pendidikan rendah punya skill yang rendah juga, malahan justru mereka lah yang mempunyai attitude yang bagus dan kinerjanya yang hebat di banding kan dengan yang mempunyai pendidikan tinggi. " ucap Papa Rahman dengan pendapat nya.
"Aulia juga mikir gitu Pa, hanya saja kan yang Bos nya kan Mas Izam. Jadi nanti terserah mau nya Mas Izam aja! " sahut Aulia yang satu pendapat dengan Papa Rahman.
"Abang agak malam pulang nya.. ! Ntar kalau gak sempat malam ini besok pagi juga bisa, kan Abang juga ke kantor nya agak siangan dikit! " ucap Amay ikut memberitahu lagi.
"Papa saran kan besok aja bicaranya dengan Izam! Karena Izam pulang nya agak malam pasti ia capek banget dan pasti nya ia lebih membutuhkan istirahat dulu dari pada memikirkan masalah tadi! Papa yakin kok kalau Izam pasti sependapat dengan Papa yang pasti lebih mengutamakan kinerja dari pada gelar! " ucap Papa Rahman memberikan saran.
"Papa benar benget.. ! Abang pasti capek hingga sampai lembur gini! Oh ya, kamu omongin aja langsung sama Mas Davin Aul, minta pendapatnya. Jadi semua pendapat kita saring mana yang paling bagus. Aku juga akan membicarakan nya pelan-pelan sama Abang kalau ia masih mau ngobrol sebelum tidur. Mana tau Mas Davin punya masukan yang lain! " sahut Amay lagi dengan menatap pada Aulia.
"Kok aku sih May yang ngomong sama Mas Davin?? " jawab Aulia sedikit keberatan.
"Lah, terus siapa lagi?? Masa aku?? Yang ada nanti Abang ngambek tujuh hari tujuh malam aku telpon telponan sama Mas Davin! Kamu kan gak ada yang marahin kalau nelpon Mas Davin! Lagian juga kalian kan udah sering chat chatan, masa telponan masih sungkan gitu! " ucap Amay sekenanya tanpa bisa di bantah.
Aulia langsung bersemu merah mendengar ucapan frontal Amay. Papa Rahman hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan mereka berdua.
"Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu! Mau bersih-bersih! " ucap Papa Rahman bangkit berdiri dan berjalan menuju ke lantai atas.
Amay dan Aulia kompak mengiyakan dan kembali mengobrol tentang kandidat asisten barunya Izam.
πΎπΎπΎ
Izam pulang saat Adzan isya sudah berkumandang setengah jam yang lalu. Ia masuk ke kamar dengan wajah yang kusut dan lelah. Ia langsung memasuki kamar mandi karena badan nya sudah bau Mangga muda alias bau kecut.
Amay menatap wajah lelah suaminya dengan pandangan kasihan. Ia tidak bisa membantu karena ia saja butuh bantuan orang lain untuk sekedar duduk di kursi roda.
"Kasihan Papa mu sayang... ! Pasti capek banget kerja seharian sampai pulangnya malam gini! " gumam Amay pelan sembari mengelus perut buncit nya.
__ADS_1
"Kesayangannya Papa belum tidur??? " tanya Izam dengan naik ke atas tempat tidur dengan mengecup lembut bibir istrinya kemudian beralih mengecup perut buncit sang istri.
"Belum Papa?? Dedek lagi temani Mama nungguin Papa! " jawab Amay dengan suara seperti anak kecil.
"Uluh-uluh... Jadi dedek nungguin Papa ya.. ?? " ucap Izam kembali bermain di perut istrinya dengan mengusap dan menciumnya berulang kali.
Triple langsung merespon dengan sundulannya di perut Amay hingga mereka berdua terkekeh walaupun Amay agak sedikit meringis ngilu.
"Maafkan Abang ya sayang... ! Abang akhir-akhir ini sering lembur dan pulang terlambat. Abang agak mengabaikan kalian semuanya, Abang merasa gak ada gunanya sebagai seorang suami yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memberikan perhatian kepada kalian berempat! " ucap Izam dengan sendu menatap wajah istrinya.
"Ssssttttt... Gak boleh ngomong gitu Abang.. !!! Siapa bilang Abang gak ada gunanya sebagai seorang suami?? Abang adalah suami yang terbaik untuk Amay dan calon Papa yang baik untuk si dedek! Di saat pekerjaan Abang sedang padat-padat nya, Abang masih sempat memikirkan kami semua. Itu sudah membuat kami bahagia, lagian kan Abang mencari nafkah untuk kita juga, jadi gak boleh ngomong begitu! " jawab Amay dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya.
Izam malah menciumi jari telunjuk Amay hingga membuat Amay terkekeh geli. Ia langsung memakan habis bibir istrinya dan menekan tengkuk Amay untuk memperdalam ciuman nya. Amay membalas ciuman suaminya dengan berpegangan pada dada bidang suaminya.
"Abang kepengen sayang?? Boleh kah?? " bisik Izam dengan mata berkabut gairah.
"Abang gak capek kah?? Amay takut Abang kecapean karena pulang larut! " jawab Amay sembari ikut bertanya.
"Capek Abang hilang dengan melihat kamu, sayang.. ! " jawab Izam dengan jempolnya mengusap pelan bibir Amay.
Amay mengangguk dengan tersenyum manis dan Izam membaca kan doa sebelum memulai menjenguk si triple.
πΎπΎπΎ
Keesokan harinya sehabis sholat subuh, Amay duduk bersandar di sandaran kasur dengan Izam berbaring di pahanya sambil mengusap perutnya. Ia membelai rambut hitam suaminya sambil berbicara masalah semalam.
"Jadi gimana pendapat Abang sebagai orang yang akan bekerja langsung nantinya dengan mereka? " tanya Amay setelah ia mengatakan permasalahan kandidat asisten semalam.
"Pendapat Papa ada benarnya juga karena seperti yang Papa bilang kalau Abang pribadi lebih mengutamakan kinerja mereka lah karena pendidikan itu hal yang kedua. Untuk apa punya pendidikan tinggi sampai S3 hingga nanti Es teler jika tidak becus bekerja. Tidak bertanggung jawab, kerjanya asal-asalan dan terlebih lagi tidak bisa di arahkan. " jawab Izam dengan pendapat nya.
"Kalau gitu, gimana kalau seandainya nanti kepilih yang hanya tamatan D3 kita beri beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya setelah kontrak kerja selama setahun, Bang! Jadi ia bisa kembali mempunyai wawasan dan pengetahuan yang akan membuatnya semakin lebih baik lagi dalam bekerja! " usul Amay tiba-tiba.
"Wah, ide bagus itu! Benar juga ya?? Seperti yang di katakan kamu tadi kan kalau mereka berpengalaman selama 5 tahun, hanya saja pendidikan mereka lah yang menghambat karir mereka! Istriku ini memang pintar banget memberikan ide! " jawab Izam setuju dengan tersenyum sumringah.
Ia langsung duduk dan memberikan banyak kecupan di wajah Amay hingga membuat Amay terkekeh geli.
Sementara itu di Pondok Pesantren Al-Mutmainnah, Davin duduk termenung seorang diri di sebuah pendopo tempat para santri saat berkumpul bersama teman-teman nya entah itu mau menghafal atau hanya ingin duduk-duduk menikmati semilir angin yang datang sehabis sholat subuh.
__ADS_1
Ia menghela nafasnya dengan berat teringat percakapan nya semalam dengan Aulia sebelum tidur.
"Kasihan juga kalau aku tinggalkan semua pekerjaan pada Izam! Apalagi saat ini Amay pasti sangat butuh perhatian suaminya di saat menanti detik-detik kelahiran di triple! Rasanya gak tega juga ngebayangin wajah lelah dan kusut nya Izam pulang kerja, di tambah lagi pulang nya sering larut lagi! " gumam Davin seraya berpikir ulang niatnya untuk tinggal di sini sementara waktu.
"Tapi lucu juga ngebayangin muka lecek nya itu, apalagi sampai kusut kayak kertas yang di remas erat! Hi... Hi... Hi... ! " ucapnya lagi dengan terkikik geli.
"Astaghfirullah hal adzim, Mas... ! Tak kira tadi Mbah kunti, rupanya suara sampean di sini! " tegur Ustadz Farhan yang dulu menjadi saksi pernikahan Amay dengan Izam.
Ia lalu duduk di sebelah Davin menikmati angin pagi yang berhembus sedikit kencang.
"Ya kali Mbah kunti rambut pendek gini Tadz.. ! " jawab Davin dengan sebel.
"Ha.. Ha.. Ha... ! Abis nya ketawa mu itu loh mirip banget! " sahut Ustadz Farhan tertawa terkekeh.
"Asem... ! " gerutu Davin makin gedek dengan meninju pelan bahu Ustadz Farhan.
Selama di Pondok Pesantren ini, mereka memang berteman akrab karena mungkin seumuran sama dulu seperti Izam.
Mereka pun berbincang sambil menikmati udara segar di pagi hari dengan berbagai candaan mereka berdua.
Tepat setelah selesai sarapan, Davin mengutarakan niatnya untuk kembali ke kota untuk membantu Izam di perusahaan.
"Pak lek, Bulek, Davin mau izin pulang ke Jakarta besok pagi! Davin kasihan melihat Izam keteteran mengurus dua perusahaan seorang diri tanpa ada yang bantu. Apalagi Amay sedang hamil tua, jadi pasti butuh perhatian suaminya dan pasti mereka juga sangat butuh menghabiskan waktu bersama sebelum lahiran! " ucap Davin menyampaikan maksud nya.
"Kalau Pak lek, terserah kamu saja Le.. ! Toh kampung ini akan selalu menjadi kampung mu! Pak lek sebenarnya juga kepikiran hal itu, malahan Bulek kamu semalam juga meminta Pak lek membicarakan hal ini juga sama kamu! Bukan nya apa-apa, hanya saja bagi seorang istri yang sedang menanti kelahiran si jabang bayi pasti ingin suaminya selalu bersama nya menghabiskan waktu seperti yang kamu bilang tadi. Kelak kamu juga akan merasakan hal yang sama nanti kalau sudah menikah dan akan punya anak! " jawab Pak lek yang menyerahkan semuanya pada Davin.
"Iya Le... Bulek juga memikirkan hal itu! Apalagi berat perjuangan seorang wanita yang hamil tanpa di dampingi seorang ibu seperti Amay. Setidaknya nya suaminya lah yang menggantikan peran ibu yang mendampingi nya menjelang saat kelahiran. Bulek saja rencana nya akan ke kota lagi minggu depan sendirian. Bulek kepengen mendampingi Amay saat lahiran nanti walaupun sudah ada mertua nya. Rasanya Bulek tidak bisa diam saja dari jauh melihat anak yang Bulek besarkan sedari bayi merah bersama Umi mu berjuang melahirkan tanpa ada yang mendampingi sebagai ibunya. Setidaknya dengan adanya Bulek, Amay merasa senang karena Bulek menggantikan peran Umi mu di samping nya. Bulek nanti juga akan melakukan hal yang sama pada istrimu jika nanti ia akan melahirkan. " sahut Bulek Saroh ikut bicara.
Wajah Davin bersemu merah mendengar ucapan Bulek Saroh yang berkata istrimu. Seketika ia terbayang satu nama di pikirannya yaitu Aulia. Senyum dan suara lembut Aulia tiba-tiba terlintas di pikiran nya.
Davin cepat-cepat mengubah kembali ekspresi wajah nya agar tidak ketahuan sedang memikirkan Aulia.
"Alhamdulillah kalau Pak lek dan Bulek memberi kan izin. Kalau begitu besok pagi Davin akan kembali ke kota, dan minggu depan Bulek tunggu jemputan saja. Davin akan suruh orang untuk menjemput Bulek biar aman daripada naik angkutan umum sendirian. " ucap Davin dengan wajah lega.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat berakhir pekan bersama keluarga..
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...