
"Dah lah.... Kakak mau keluar! Lama-lama disini kakak bisa ikutan gila kayak kamu! " tukas Aini sambil berjalan keluar kamar.
Mereka makin tertawa cekikikan melihat Aini yang langsung pergi.
"Kak, ngomong-ngomong kakak udah pernah ya ngelakuin yang kakak bilang tadi sama suami kakak? " tanya Amay pelan ketika Aini sudah keluar kamar.
"Belum pernah sih! Tapi udah ada rencana mau di praktekkan! " jawab Ana ngasal.
"Apa???? " ucap mereka berbarengan kaget.
"Ya iyalah.... Orang aku baru aja baca kemaren di Ig... Jadi akan aku praktek kan nanti dengan Mas Farel! " jawab Ana dengan memainkan alisnya.
"Yassalam..... " sahut Ara sambil menepuk jidatnya dengan ulah kembarannya.
"Benar kata Kak Aini, lebih baik aku keluar juga! Bisa gila juga aku lama-lama di sini! Dasar sotoy! " tambahnya lagi dengan gemes sambil menoyor pelan kepala sang kembaran.
Ana tertawa terbahak-bahak melihat kembaran nya keki karena kesal ia jahili. Amay dan yang lainnya hanya tersenyum kecil melihat ke absurd Ana yang jauh dari image nya selama ini yang terkenal galak dan tomboi.
"Kak, kami juga mau keluar karena pekerjaan kami sudah selesai! " ucap keempat penghias henna dengan sopan.
"Oh iya... Silakan! Jangan lupa makan dulu ya sebelum kalian pulang dan jangan lupa untuk datang besok pas hari H ! " jawab Ana dengan ramah melepaskan penghias henna pergi keluar.
Amay masih tetap di tempatnya karena berhadapan dengan kipas angin agar henna ditangan serta di kakinya cepat kering.
"Kamu baik-baik ya Dek duduk di sana, kakak mau rebahan dulu! " ucap Ana dengan santai berbaring di atas tempat tidur dengan tangan di angkat ke atas agar henna tidak mengotori sprei.
Amay hanya mengangguk, dan tidak berapa lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan Ana sudah benar-benar tidur.
"Krietttt..... " suara pintu kamar berderit yang menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
Amay langsung menoleh kebelakang dan tersenyum lebar ketika melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.
"Ya Robbi.... Bisa-bisa nya mak Lampir tidur dengan tangan ke atas kayak gitu! Ckckckck... " ucap Izam berdecak heran melihat kelakuan kakak nya.
"Abang..... ! " panggil Amay dengan suara berat.
"He... He..... He.... Bercanda sayang, jangan marah! Peace....." jawab Izam dengan tersenyum cengengesan dan mengangkat dua jarinya tanda damai.
"Bukan soal itu Abang???? " ucap Amay menahan geram.
"Trus apa dong sayang? Abang kan gak ngerti? " jawab Izam bingung.
"Dedek lapar Papa? Dari tadi perutnya keroncongan, gak tau mau minta tolong siapa! Mana henna nya belum kering lagi yang di kaki ini! " sahut Amay dengan wajah merenggut kesal.
__ADS_1
"Ya Salaaam.... " ucap Izam tepuk jidat.
Ia lalu berjalan mendekati tempat istrinya duduk dan menempelkan telinganya ke perut Amay yang sudah mulai terlihat sedikit jika di raba.
"Triple kesayangan Papa lapar ya Nak! Duh duduh.... Kacian banget... Emang tega Bubu kalian itu! Bukan nya triple Papa di kasih makan, eh Bubu kalian enak-enakan tidur! Ngorok lagi! Bentar ya sayang-sayang nya Papa! Papa ambil dulu makanannya! " ucap Izam berbicara di perut Amay yang membuat Amay kegelian karena Izam menciumi perutnya bertubi-tubi sebelum keluar kamar.
"Abang ih kebiasaan! Geli tau! " omel Amay kesal.
"Duh, makin gemes aja kalau lagi kesal! " sahut Izam sambil menoel hidung mancung istrinya.
"Abaaaang..... ! " pekik Amay dengan suara tertahan.
"Iya iya..... " jawab Izam langsung berlari keluar kamar.
Ia langsung bergegas ke dapur sebelum ibu negara benar-benar ngamuk. Sedangkan Amay mendengus sebel dengan kelakuan suaminya.
Di luar keadaan semakin ramai karena acara pengajian akan di gelar sehabis sholat dzuhur. Karena resepsi nya di salah satu hotel milik keluarga Barzakh, maka di rumah dilakukan acara pengajian menjelang acara besok agar di beri kelancaran hingga acara tersebut selesai.
Tenda sudah terpasang dengan rapi di halaman rumah dengan kursi yang sudah tersusun berjejer dan beberapa orang sedang merapikan meja prasmanan tempat makan tersaji untuk para tamu yang hadir. Mobil-mobil pick up yang membawa tenda dan kursi sudah mulai keluar dari pekarangan satu persatu karena tenda sudah terpasang.
Papa Idris bersama Salim baru saja pergi ke hotel untuk mengecek persiapan yang ada di hotel mereka untuk acara besok. Walaupun sudah ada Davin yang menghandle, Papa Idris tetap ingin mengontrol juga agar tidak memberatkan Davin yang juga sedang mengurus perusahaan Izam.
Papa Rahman dan Hardi beserta Pak lek dan Pakde bertugas mengawasi para pekerja di rumah yang mempersiapkan untuk acara nanti siang.
Setelah merasa cukup, Izam membawa sebuah nampan yang berisi segelas susu hamil, air mineral botol, semangkuk buah yang sudah di potong-potong dan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
"Tara..... Makanan untuk Mama dan triple datang!!! " pekik Izam ketika masuk ke dalam kamar.
"Berisik.... ! " jawab Ana dengan ketus.
"Loh, kok sudah bangun! Tidur lagi gih sana! " jawab Izam juga dengan ketus kepada kakaknya.
"Dasar adik durhakim! Kamu keterlaluan banget sih! Masa bawa makanan nya cuma satu? Untuk kakak mana hah! " teriak Ana sambil berdiri berkacak pinggang di hadapan Izam.
"Situ siapa? Aku kan cuma bawain untuk istriku tercinta dan bayi-bayiku yang kelaparan! Minggir! " jawab Izam menggeser tubuh kakaknya ke pinggiran kasur.
"Wah... Ngelunjak rupanya ni anak! " sahut Ana lagi dengan menyingsingkan lengan bajunya, seakan-akan akan melabrak sang adik.
"Arghhh.... Lepasin kakak! Lepasin! Ke cekik nih leher aku!! " teriak Izam kesakitan lehernya di jepit Ana dengan ketiak nya.
"Woi.... Mak Lampir! Lepasin! Bau nih ketek nya! Bau terasi! " pekik Izam berusaha menjauhkan wajahnya dari ketek Ana.
"Rasain nih! Rasain! " ucap Ana dengan semakin kuat mengunci leher adiknya dengan lengan di keteknya.
__ADS_1
Amay hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak beradik itu dan dengan santainya memakan buah potong yang di mangkuk sembari menonton pergulatan kakak beradik di hadapannya.
"Untung aja yang di tangan udah kering, jadi bisa langsung makan! Selamat makan ya bayi-bayi nya Mama! Kita makan sambil menonton pertunjukan Papa dan Bubu kalian! " ucap Amay dengan santai makan dan berbicara sendiri sambil mengelus perutnya.
Izam dan Ana saling memiting leher masing-masing dan beberapa kali Ana membuat Izam terjatuh dan kewalahan. Ternyata walaupun badannya kecil tetapi tenaga Ana sama besar dengan tenaga laki-laki yang selalu mengangkat beban berat. Secara Ana memang menguasai beberapa keahlian beladiri seperti karate, silat, wushu dan taekwondo. Ia sudah beberapa kali meraih penghargaan di bidang olahraga beladiri tersebut sebelum ia memutuskan untuk menjadi pelatih ketika ia hamil anak kedua nya.
"Cepatan ambilkan lagi untuk kakak, sana! " perintah Ana pada Izam yang kelelahan meladeni Ana gulat.
"Dasar mak Lampir bar-bar! " gerutu Izam sembari berjalan keluar kamar.
"Aduh, sakit juga badan aku di bikin perkedel sama mak Lampir! Gini nih akibatnya menantang suhu bela diri, jadinya K.O ! Apa karena aku gak pernah latihan lagi yah, makanya jadi gampang capek gini! Masa iya gulat sedikit sudah kelelahan kayak gini, sama perempuan lagi! " ucap Izam berbicara sendiri sembari ke dapur mengambil makanan untuk kakaknya.
Di dalam kamar, Amay makan dengan lahapnya di hadapan Ana yang duduk melihat Amay makan tidak berkedip. Ia beberapa kali menelan air liur karena melihat Amay makan seperti orang yang gak makan berhari-hari. Bukan karena ia kepengen tapi karena ia menelan ludah ngeri melihat porsi makan Ibu-ibu yang hamil kembar.
"Eh Busyet.... Kalap bener makannya kayak gak makan selama setahun! Buah yang mangkoknya segede gaban udah abis, Sekarang lanjut makan nasi yang tinggi nya segunung dengan lauk beraneka macam! Apa jangan-jangan kecebong adik gue kecebong kerbau kali ya? Secara yang jadi langsung tiga gitu! Ckckck... " ucap Ana dengan geleng-geleng kepada berbicara sendiri dengan kencang pada Amay.
"Amay kan makan untuk empat orang kakak! Tiga dalam perut dan satu untuk Amay sendiri! Ini aja masih belum kenyang! " jawab Amay santai.
"A-apa??? Belum kenyang juga sebanyak ini?? " tanya Ana dengan mata melotot menunjuk piring Amay.
"Heem.... " jawab Amay menganggukkan kepala sembari menggigit potongan ayam goreng.
"Astaga naga kejepit tangga! " ucap Ana tepok jidat.
Tidak berapa lama pun Izam datang dengan membawa nampan berisi dua piring nasi yang lengkap dengan lauk pauknya.
"Nih makanannya! Oh ya sayang, ini untuk kamu! Mie celor kesukaan istrinya Idzam Maliq Barzakh! " ucap Izam sembari meletakkan nampan di atas nakas di samping Ana duduk.
Ia lalu mengambil piring yang berisi mie celor lengkap yang selalu di inginkan Amay semenjak beberapa hari yang lalu dan menyerahkan nya kepada Amay yang juga menyerahkan piring kosong yang isinya sudah ludes ia makan.
"Kenapa bengong! Buruan makan! Tadi marah-marah gak di ambilin makan! Sekarang udah ada malah bengong ngeliatin orang makan! " omel Izam kepada Ana.
"Gimana kakak gak bengong liat porsi makan Amay aja melebihi makan orang sekampung! " jawab Ana dengan mengelus dada.
"Kayak gak pernah aja lihat ibu hamil makan! Ya kayak gini lah kalau hamil anak kembar, makanya banyak karena yang dalam perutnya juga banyak! Yang penting sudah empat sehat lima sempurna dan sampai kenyang! " ucap Izam masa bodo dengan reaksi kakaknya.
"Oh ya Bang, tadi kata Nanaz abang sama Pak lek dan semuanya berkumpul di ruang kerja Papa! Emangnya Pak lek ada yang di omongin nya ya sama Abang? " tanya Amay tiba-tiba memutuskan obrolan kakak beradik itu.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
__ADS_1