
Pagi ini di kediaman Barzakh riuh dengan teriakan Syahnaz dan Syakir yang ngotot ikut membantu Omanya memasak untuk keluarga Amay yang akan datang dari kampung. Mama Lia mempersiapkan menyambut kedatangan besan nya dengan sangat antusias.
Amay hanya duduk menonton saja para pelayan hilir mudik melakukan instruksi dari Mama Lia. Ia menonton sambil mengemil keripik pisang yang sengaja di belikan Mama Lia untuk menemani Amay bersantai.
"Sibuk banget Mama pagi ini! " celutuk Izam yang berdiri di sebelah Amay.
Amay menoleh ke samping mendengar suara tersebut, ia melihat suaminya sudah rapi sekali. Terlihat sangat gagah dan tampan dengan pakaian resmi seperti itu. Tiba-tiba darah Amay berdesir hebat ketika melihat tubuh tegap suaminya itu, sekelebat bayangan ritual mereka sebelum subuh langsung membuat wajahnya bersemu merah.
"Kenapa sayang? Tidak kau pandangi juga suamimu ini memang tampan! " ucap Izam menggoda istrinya.
"Ish, narsis banget sih! Siapa juga yang pandangi Abang! " jawab Amay dengan mencebik kan bibirnya.
"Gak usah malu sayang? Gak papa kok kalau kamu mau mandangin aku, kalau perlu aku gak usah ke kantor dan kau boleh memandangi ku sepuasnya di dalam kamar! " sahut Izam lagi dengan menaik turunkan alisnya.
Amay yang paham ucapan suaminya sontak memukul gemes suaminya yang pagi-pagi sudah membicarakan urusan dunia pergulatan di dalam kamar dengan santai.
"Dasar Abang nyebelin!! Itu sih maunya Abang! Dasar Kang Modus! " ucap Amay sebel.
"Ha.... Ha.... Ha.... Ha.... " Izam tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda istrinya.
"Ayo kita berangkat! " ucap Papa Idris ketika sudah mendekat ke arah mereka.
Amay bangkit dari duduknya mengantarkan suaminya pergi ke kantor. Ia menyalami Papa Idris dan terakhir menyalami suaminya yang langsung di balas kecupan lembut di kening Amay dan juga di perutnya. Sekarang mencium perut Amay sudah menjadi rutinitas Izam setiap mau pergi, entah itu ke kantor atau pun pergi sebentar keluar.
Setelah mobil yang di tumpangi suami dan mertuanya hilang dari pandangan, Amay pun masuk ke dalam rumah melanjutkan kegiatannya untuk rebahan di depan televisi.
πΎπΎπΎ
Seorang wanita sedang mengatur dagangannya di depan sebuah minimarket dengan senyuman yang tidak pernah pudar. Ia terus saja tersenyum seakan-akan ia sangat bahagia.
Beberapa orang datang membeli dagangannya yang berupa sarapan pagi seperti lontong sayur dan nasi kuning. Ia tampak sangat bahagia melayani pelanggan nya yang datang dengan senyum yang cerah.
Seorang laki-laki berjalan mendekat ke depan wanita itu berjualan, ia sengaja datang di hadapan wanita itu untuk melihat dirinya dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Saya pesan nasi kuning lengkap satu dan makan di sini! " ucap laki-laki tersebut dengan suara keras.
Wanita itu dengan cekatan menyiapkan pesanan laki-laki itu tanpa melihat ke arah laki-laki tersebut. Beberapa orang yang membeli sudah mulai sepi karena mereka membelinya untuk di bungkus dan di makan di rumah. Hanya satu dua orang saja yang beli makan di tempat, termasuk laki-laki ini yang makan di sini.
"Ini Tuan pesanan anda! " ucap wanita itu memberikan piring berisi nasi kuning yang lengkap.
laki-laki itu masih menatap wanita itu tanpa berkedip dan mengabaikan ucapan wanita itu. Sehingga wanita itu memanggil laki-laki tersebut dengan suara kencang dan membuat beberapa orang melirik ke arah mereka.
laki-laki tersebut mengambil piring berisi nasi kuning dengan wajah datar dan tampak tidak perduli dengan tatapan mata yang melihat kearah dirinya.
Ia memakan makanannya dengan terus menatap wanita itu dan tiba waktunya wanita itu mulai berbenah karena dagangannya sudah habis, tapi laki-laki itu masih memakan makanan nya dengan santai, seperti sengaja di lambat-lambat kan.
"Maaf Tuan, harus berapa lama lagi saya menunggu anda makan? Dagangan saya sudah habis, dan saya mau pulang! " tegur wanita itu kepada laki-laki itu.
"Apa kau sudah melupakan aku Kinanti? Apakah aku tidak penting bagi dirimu? " laki-laki itu tidak menjawab teguran wanita itu tetapi ia malah bertanya balik.
"Hei Tuan, anda salah orang! Saya bukan Kinanti, saya Minarti! Jangan sembarangan mengganti nama orang! " jawab wanita itu dengan kesal.
"Tidak! Kau pasti bohong! Kau adalah Kinanti! Aku tidak mungkin salah mengenali orang! " ucap laki-laki itu bersikeras dengan pendapatnya.
"Kinanti.... ! Jangan pergi! Kinanti... ! Kinanti.... ! " panggil laki-laki itu dengan berlari berusaha mengejar wanita itu, namun terhalang dengan kendaraan bermotor lalu lalang di hadapannya tanpa jeda.
Wanita itu sengaja pergi ketika lampu merah dan mobil berhenti, namun saat laki-laki itu hendak mengejarnya lampu jalan sudah berubah menjadi hijau.
Diseberang jalan, Damian berteriak kesal sambil menendang apapun yang ada di hadapannya untuk mengungkapkan kekesalannya karena gagal mengejar wanita itu.
Ia pergi begitu saja meninggalkan makanan nya di atas meja tempat wanita tersebut berjualan.
"Rencana B berhasil, lanjut ke rencana selanjutnya! " ucap seseorang dari balik mobil yang parkir di seberang jalan tersebut.
"Aaaarrrgggghhhhh..... Sial.... Sial.... Padahal tinggal sedikit lagi, dan aku yakin jika wanita itu adalah Kinanti! " ucap Damian kesal sambil meninju jok mobilnya.
Ia langsung pergi ke kantornya setelah meluapkan kekesalannya sendiri di dalam mobil. Damian melonggarkan dasinya sambil menyetir mobil, ia sengaja hari ini berangkat sendiri ke kantor tanpa di antar sopir. Ketika di perjalanan ia tanpa sengaja melihat wanita yang mirip Kinanti berjalan membawa beberapa barang di atas kepalanya ke sebuah stan kecil. Ia memutuskan untuk berhenti dan memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu, dan akhirnya ia tahu jika wanita itu sedang berjualan sarapan pagi.
__ADS_1
Dengan langkah pasti, Damian turun dari mobil dan mendekati wanita itu. Ia menunggu pembeli agak sepi, barulah ia memesan makanan nya. Tapi wanita itu membuat pesanannya tanpa melihat wajah pembelinya. Ia sangat begitu terampil menyajikan dan meracik makanan tersebut.
Damian masih saja teringat penolakan wanita itu sehingga membuatnya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pokoknya besok pagi aku harus ketempat itu lagi! Aku tidak akan membuatmu pergi lagi dari ku Kinanti! " gumam Damian dengan wajah serius.
Ia pun menghentikan mobilnya di depan kantor. Ia masuk setelah memberikan kunci mobil kepada salah seorang security untuk memarkirkan mobilnya.
Ia bergegas masuk ke dalam bangunan tinggi tersebut dengan wajah sombong dan angkuh. Beberapa orang karyawan yang bertemu di lobby menunduk hormat ketika ia hendak masuk ke dalam lift.
Setelah ia masuk ke dalam lift, Orang-orang yang hormat tadi pun kembali memasang wajah sinis dan eneg dengan pemimpin perusahaan ini.
"Kalau bukan karena menyekolahkan anak-anakku, aku tidak sudi lagi bekerja di bawah pemimpin yang sombong seperti itu! " sungut seorang Bapak-bapak yang melintas menuju tangga.
"Loh, emangnya kenapa Pak dengan Pak Damian? Beliau kan baik dan hebat dalam memimpin perusahaan ini! " ucap teman di sebelahnya yang sedang membawa ember.
"Cih, kamu baru 5 tahun bekerja di sini sebagai cleaning service tahu apa? Saya sudah 31 tahun bekerja di sini sebagai cleaning service dan bagi saya hanya Tuan Rahman lah yang layak untuk di jadikan pemimpin! " jawab nya dengan ketus.
"Ssssstttttt... Jangan keras-keras Rudi! Nanti ada yang dengar bisa bahaya! " sahut temannya yang satu lagi menempelkan telunjuknya di bibir.
"Emangnya siapa sih Tuan Rahman itu Bu Ani? " tanya pria yang masih muda itu dengan penasaran.
"Saya bilang jangan keras-keras!! Bisa bahaya kalau kedengeran Tuan Damian! Sudah, kerjakan saja pekerjaan kalian! Nanti di tegur Bu Yuni kalian mau?? " tegur wanita paruh baya yang di panggil Bu Ani dengan tegas.
laki-laki muda tersebut hanya diam dengan bibir mengerucut kesal karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Jangan cemberut begitu, nanti saya ceritakan ketika kita pulang nanti! " bisik Pak Rudi mendekati pria itu.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Selamat weekend bersama keluarga tercinta...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...