
Begitu semuanya keluar dari ruangan perawatannya, Amay merentangkan tangannya minta di peluk sang suami.
"Aduhh, manjanya bidadari ku ini?? " ucap Izam jahil menggoda istrinya.
"Abang ih... Nyebelin... ! " sahut Amay memasang wajah cemberut.
"Duh... Bikin gemes aja kalau ngambek kayak gini! Cup, cup, cup.... ! " ucap Izam dengan gemes menciumi seluruh permukaan wajah istrinya.
Ia kemudian memeluk erat Amay dan menangis tersedu-sedu tanpa melepaskan pelukan nya pada sang istri. Amay hanya diam saja dan membiarkan sang suami menangis meluapkan perasaan nya hingga selesai. Ia hanya mengusap lembut punggung suaminya untuk sekedar menenangkan sang suami.
Setelah selesai mengeluarkan tangisan nya yang tertahan itu, Izam pun melepaskan pelukan nya pada sang istri. Ia naik ke atas ranjang Amay dan duduk di samping istrinya itu dengan menggenggam tangan nya.
Izam dan Amay duduk berdempetan di atas ranjang, mereka saling berpandangan. Mereka saling memandang dengan penuh cinta satu sama lainnya.
"Abang sangat mencintai mu sayang! Saat pertama kali mengucapkan ijab qabul di Pondok Pesantren, Abang sudah jatuh cinta sama kamu! Aku mencintai mu karena Allah istriku, Sumayyah Binti Rahman Atmanegara! Saat itu, sekarang dan selama nya hingga nyawa terpisah dari badan. Dan bahkan di akhirat pun Abang tetap mencintaimu! " ucap Izam tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam pada istrinya.
__ADS_1
Mata Amay berkaca-kaca hendak menangis mendengar pernyataan cinta dari suaminya itu.
"Aku juga mencintaimu karena Allah suamiku, Imam ku Idzam Maliq Barzakh ! " jawab Amay tanpa bisa menahan air matanya.
Ia mencium dengan lembut dan penuh cinta punggung tangan suaminya itu. Izam merengkuh tubuh Amay dan membawanya ke dalam pelukannya.
Ia lalu memegang pipi Amay dengan kedua tangannya. Perlahan tapi pasti Izam mendaratkan ciumannya pada bibir ranum sang istri dengan lembut dan penuh cinta. Amay menyambut ciuman manis dari sang suami dengan membalas ciuman itu juga dari hatinya yang paling dalam.
Cukup lama mereka berciuman, saling mengungkapkan kan perasaan mereka berdua melalui sebuah ciuman manis tanpa nafsu di dalam nya. Hanya sekedar ciuman saja yang mereka lakukan.
"Terimakasih sayang! Terimakasih sudah berjuang melahirkan anak-anak kita ke dunia ini! Abang tidak bisa menggantikan rasa sakit yang kamu rasakan saat melahirkan anak-anak kita dengan apapun di dunia ini! Bahkan jika Abang memberikan semua harta kekayaan yang Abang miliki itu semua masih belum cukup dan baru seujung kuku nya saja dari perjuangan mu sayangku! " ucap Izam dengan mencium punggung tangan Amay.
"Abang gak usah ngomong kayak itu! Itu sudah menjadi kewajiban Amay sebagai seorang istri mengandung dan melahirkan anak-anaknya ke dunia ini. Amay bahagia Bang, mengandung dan melahirkan Anak-anak dari suami Amay yaitu Abang. Amay bahagia bisa menjadi seorang Ibu meskipun taruhannya adalah nyawa seperti yang dilakukan almarhumah Mama Maggie, Ibu kandung Amay, Bang! Amay bahagia banget! Sangat-sangat bahagia! " jawab Amay dengan mengusap lembut pipi suaminya.
Izam tersenyum bahagia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya itu. Mereka berpelukan lagi di atas tempat tidur hingga waktu Adzan magrib berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Amay melahirkan.
__ADS_1
Sementara itu di apartemennya, Davin berperang dengan pikirannya untuk menemui Ibu nya apa tidak.
Ia benar-benar belum siap mendengar penjelasan sang Ibu kenapa ia bisa menjadi anaknya.
"Ya Allah, aku sebenarnya ingin tahu bagaimana aku bisa menjadi anaknya! Tapi, aku masih belum siap jika itu cerita yang buruk dan menyakiti kedua orang tua kandung ku! " ucap Davin dengan meremas rambutnya.
Ia bangkit dari sofa menuju kamar nya dan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sehabis sholat magrib ia begitu malas keluar untuk membeli makan malam.
Ia merenungi apa yang ia alami saat ia masih kecil hingga sampai sekarang ini. Tidak pernah sedikitpun Ibu nya berkata kasar atau pun memukuli nya seperti Ibu yang lain. Ia merasa bangga mempunyai Ibu yang sabar terhadap kelakuan nya yang agak nakal saat itu.
"Abah, Umi... ! Apa yang harus Davin lakukan?? Davin sangat menyayangi kalian berdua! Tapi Davin tidak bisa membenci Ibu karena kasih sayang yang ia berikan pada Davin selama ini dari Davin kecil hingga sekarang sebelum Davin tahu jika Davin bukan anaknya begitu besar dan tidak bisa Davin balas dengan apapun itu! Davin harus bagaimana Abah, Umi... ! " ucap nya lagi dengan nada frustasi sambil melihat langit-langit rumahnya.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat tahun baru untuk yang merayakan nya🥳🥳🥳🥳
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...