
Mereka pun mulai memesankan beberapa menu makanan kepada salah seorang pramusaji yang selalu standby di depan pintu masuk.
Sambil menunggu makanan datang, mereka berbincang-bincang dengan ringan dan memperkenalkan Hardi, sang penyelamat saat ia terbaring koma.
Lima belas menit pun berlalu, pramusaji datang bersama rekannya membawa pesanan mereka dan menyajikan nya di atas meja.
Mereka pun makan siang dengan diam dan hanya terdengar bunyi dentingan sendok.
Selesai makan, Rahman menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara nya menjawab pertanyaan Tuan Barzakh tadi.
"Terimakasih atas waktu yang Tuan Barzakh berikan kepada saya pribadi yang telah sudi meluangkan jadwalnya menerima permintaan saya. Perkenalkan saya Rahman Farid Atmanegara putra tunggal dari Rahadian Atmanegara dan juga ayah kandung dari istri anak laki-laki Tuan Barzakh Sumayyah Calista Atmanegara. " ucap Rahman dengan berkeringat dingin.
"Apaaaa??? " pekik Mama Lia dengan wajah terkejut.
"Ja-jadi anda ayah kandung Amay? " tanya Mama Lia dengan rasa tidak percaya.
"Benar Nyonya! Maafkan saya baru bisa memperlihatkan diri saya sekarang ini! " jawab Rahman dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Ti-tidak apa-apa Tuan! " ucap Mama Lia dengan pelan.
"Pa, ngomong dong! " bisik Mama Lia menyenggol lengan Papa Idris yang masih membisu.
Papa Idris memejamkan matanya sejenak sembari menarik napasnya dalam-dalam.
"Jadi, apa tujuan Anda meminta pertemuan ini! " tanya Papa Idris dengan wajah datar.
Rahman hanya tersenyum melihat sisi lain dari Besannya itu dan ia tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Tidak ada maksud apa-apa! Saya hanya ingin mengenal lebih jauh Besan saya saja! Saya juga ingin bertemu dengan Putri kecil ku Amay dan mengatakan jika Papa nya ini sangat merindukannya! " jawab Rahman dengan tersenyum santai.
"Bukankah yang saya dengar keturunan Atmanegara sudah meninggal karena kecelakaan? " tanya Papa Idris dengan penasaran.
__ADS_1
"Itu benar! Hanya saja itu kabar bohong yang di buat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil alih kekayaan dan kekuasaan Atmanegara! " jawab Rahman lagi dengan memperbaiki duduknya agar terlihat santai.
"Kalau boleh tau, kenapa Anda sampai terpisah dengan Amay Tuan? Dan kenapa Amay bisa ada di depan gerbang pesantren kampung? " tanya Mama Lia dengan wajah ingin tahu.
"Malam itu saya dan istri saya mendapat panggilan telepon dari orang yang menjaga rumah mendiang ayah saya di Semarang. Saya ingin berangkat sendiri, tetapi istri saya ngotot mau ikut karena ia tidak ingin di tinggalkan sendiri di rumah. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat deras sehingga jalanan menjadi licin dan tiba-tiba ada seseorang yang menyeberang jalan sehingga membuat saya banting stir ke pinggir jalan. Karena jalanan licin akibat hujan, mobil yang saya kendarai oleng dan menabrak pembatas jalan. Saya berusaha mengeluarkan istri saya yang sudah pingsan dari dalam mobil karena saya sangat takut terjadi sesuatu dengan kandungan istri saya. Beliau waktu itu sedang hamil 7 bulan.
Setelah yakin istri saya sudah keluar dari dalam mobil, saya kembali lagi masuk ke dalam mobil untuk mengambil ponsel saya yang tertinggal di dalamnya karena saya ingin menghubungi orang-orang saya. Baru berkata beberapa patah kata, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah saya dan saat saya hendak keluar dari dalam mobil semuanya sudah terlambat dan saya tidak ingat apa-apa lagi sampai beberapa bulan yang lalu saat saya sadar dari koma. " jawab Rahman dengan menahan air mata yang akan keluar.
"Ja-jadi Anda tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan istri dan anak dalam kandungan istri Anda? " tanya Mama Lia dengan menangis sedih.
"Benar Nyonya! " jawab Rahman mengangguk.
"Ya Allah Pa, Mama gak bisa bayangin gimana keadaan Mama nya Amay saat itu! " ucap Mama Lia dengan prihatin.
"Lalu bagaimana dengan istri Anda saat itu hingga Amay lahir? " tanya Papa Idris dengan wajah mulai bersahabat.
"Biar saya yang bercerita Tuan! " potong Hardi saat Rahman akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan besannya.
Begitu sampai di rumah sakit, Nyonya muda kehabisan darah karena pendarahan dan harus dilakukan operasi agar bayinya bisa selamat. Pihak dokter kesulitan mencari donor darah untuk Nyonya karena Nyonya memiliki golongan darah yang langka.
Saya dan orang-orang saya berusaha mencari donor darah yang sesuai dengan Nyonya Muda. Saat saya sedang mencari donor darah, saya tidak sengaja melihat seorang wanita yang akan di rampok. Saya menolong wanita tersebut dan ternyata wanita itu mempunyai darah yang sama seperti Nyonya Muda. Sebagai balas budi, ia akan mendonorkan darahnya kepada Nyonya Muda.
Nyonya Muda pun di operasi dan bayi nya selamat, Nyonya Muda meminta untuk bicara dengan saya. Dengan keadaan lemah, Nyonya muda meminta saya untuk berjanji menyelamatkan suaminya dan menjaga anak mereka. Tidak lama berkata seperti itu, Nyonya Muda pergi untuk selama-lama nya. Ketika saya hendak keluar ruangan, saya tidak sengaja mendengar orang-orang mencari keberadaan Tuan Muda beserta keluarga nya dan berencana melenyapkan mereka semua tanpa terkecuali.
" jawab Hardi panjang lebar dengan menahan sesak mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan untuk Tuan nya.
Rahman tidak bisa menahan lajunya air matanya mendengar kembali cerita itu dari mulut Hardi, begitu pun Mama Lia yang ikut menangis merasakan kesedihan tersebut seolah-olah ia yang mengalami nya sendiri.
"Saya lalu menyuap perawat yang kebetulan ada di ruangan Nyonya Muda untuk mengatakan jika bayi yang di lahirkan Nyonya Muda juga meninggal dunia bersama Nyonya Muda. Ia langsung setuju karena ia sedih melihat orang-orang ingin melenyapkan bayi yang tidak berdosa ini. Saya pergi melalui pintu belakang dan perawat tersebut pergi ke ruang jenazah lewat pintu belakang setelah mengunci pintu utama terlebih dahulu agar orang-orang tersebut tertahan di luar sampai ia mendapatkan jenazah bayi yang meninggal. Ketika pintu utama di dobrak dari luar, perawat tersebut sudah ada di sana dengan menggendong jenazah bayi yang ia ambil dari kamar mayat.
Orang-orang itu memeriksa Nyonya Muda dan bayi itu. Kemudian menghubungi seseorang dan setelah itu mereka langsung membawa jenazah Nyonya Muda dan bayi itu keluar. Saya melihat semuanya dari tempat persembunyian dengan menggendong Nona Muda yang tertidur lelap.
__ADS_1
Orang-orang saya mengabarkan jika Tuan Muda di temukan dan saya meminta mereka untuk merahasiakan identitas Tuan Muda jika di bawa ke rumah sakit.
Saya akan mengantarkan Nona Muda ke daerah perkampungan dekat adik saya tinggal dengan istrinya. Karena mereka bercerita jika pemilik pondok pesantren itu kehilangan anaknya ketika melahirkan beberapa tahun yang lalu. Saya memutuskan akan memberikan Nona Muda kepada pemilik pesantren tersebut secara langsung. Tapi saat saya hendak memasuki gerbang pesantren, orang saya menelpon memberitahu jika Tuan Muda dalam keadaan kritis dan saya dilema. Saya memutuskan untuk meninggalkan Nona Muda di depan gerbang pesantren setelah menulis beberapa kata yaitu meminta pemilik pesantren untuk mengazan kan Nona Muda karena belum di azankan ketika lahir. Saya lalu melempar batu ke arah pintu dan langsung pergi setelah mendengar pintu itu terbuka. Semenjak saat itu saya selalu mengawasi Nona Muda dari jauh hingga saat ini! " ucap Hardi melanjutkan ceritanya.
"Lalu, apa yang terjadi dengan Anda Tuan? " tanya Mama Lia penasaran.
"Ketika saya sampai di rumah sakit, Tuan muda kritis dan pihak rumah sakit berkata agar Tuan muda di tempat kan di rumah sakit yang besar yang mempunyai peralatan yang lengkap dan canggih. Saya tidak mau ambil resiko dengan membawa Tuan Muda ke rumah sakit tersebut. Singkat cerita, dengan bantuan teman saya, saya membawa Tuan Muda ke Batam dan dirawat sementara di rumah sakit tersebut. Tuan Muda kembali drop dan akhirnya di nyatakan koma dan pihak rumah sakit menganjurkan untuk di rawat di Singapura. Saya mengatakan kendala saya jika membawa Tuan Muda ke Singapura lewat jalur udara. Dokter tersebut menawarkan bantuan membawa Tuan muda dengan jalur laut yang akan menggunakan identitas palsu. Ada temannya yang akan membantu membuat identitas palsu untuk kami berdua agar bisa aman masuk ke Singapura dan tidak terdeteksi oleh pihak lawan yang ada di indonesia! " jawab Hardi berhenti sejenak.
"Semenjak saat itu, Tuan muda di rawat di Singapura dan saya mengirim orang saya untuk menjaga dan mengawasi Nona Muda sampai saat ini! " ucap Hardi lagi sambil menatap Tuan Besar Rahman dengan wajah sendu.
"Terus apa yang anda lakukan jika bertemu dengan Amay? Mengumumkan jika kalian berdua masih hidup hingga membuat hidup Amay terancam atau tetap bersembunyi seperti dulu! " ucap Papa Idris dengan nada dingin.
"Papa, kok gitu ngomong nya? " sahut Mama Lia mendelik ke arah Papa Idris.
"Papa hanya berpikir realistis Ma, karena ini menyangkut keselamatan Amay dan calon cucu kita! " jawab Papa Idris dengan nada agak keras.
"Cucu??? Maksud kalian Amay sedang hamil?? " Rahman memotong pembicaraan suami istri tersebut.
"Iya Tuan, saat ini Amay sedang mengandung cucu kita, kembar tiga! " jawab Mama Lia dengan ramah.
"Ke-kembar tiga!! " ucap Rahman kaget.
"Hardi, aku akan punya cucu tiga sekaligus! " ucap Rahman dengan wajah bahagia kepada Hardi.
"Iya Tuan Besar! Selamat untuk Tuan Besar! " jawab Hardi juga tersenyum senang.
"Jadi, apa tindakan Anda setelah mendengar keadaan Amay saat ini? " tanya Papa Idris dengan tegas kepada Rahman.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..