
Setelah berbicara dari hati ke hati mengungkapkan semua kebenarannya, Tinah bersiap-siap untuk di antar Davin ke pondok pesantren. Ia sudah mengatakan semuanya kepada Pak lek nya untuk membawa sang Ibu yang telah merawatnya selama ini untuk tinggal di pesantren.
Tinah awalnya menolak secara halus, tapi Davin keukeh meminta Tinah agar mau tinggal di sana karena ia tidak mau lagi membiarkan ibu nya tinggal seorang diri di rumah kecil mereka.
Davin dan Tinah sepakat untuk tidak menjual rumah itu karena rumah itu adalah saksi bagaimana perjuangan Tinah dalam membesarkan Davin untuk memberikan tempat tinggal yang layak setelah lama mengontrak sampai Davin berumur 15 tahun. Rumah yang ia beli dari tabungan ia menjadi pembantu di rumah orang kaya selama 15 tahun itu sangat berarti bagi kedua nya yang sudah ia alih namakan menjadi milik Davin.
"Pokoknya Ibu gak usah bekerja diam-diam lagi! Percuma dong Davin kerja keras kalau Ibu juga ikutan kerja bukan duduk di rumah, banyak-banyak beribadah dengan menikmati penghasilan Davin selama ini! Kalau gaji Davin hanya lima juta sih gak masalah kalau Ibu masih cari uang tambahan, tapi kan uang gaji Davin tiga kali lipat dari itu dan apa lagi jika dapat bonus, bisa lebih berkali-kali lipat uang nya! Kalau gak Ibu nikmatin untuk apa uang sebanyak itu? Untuk di bawa mati? Mendingan Ibu di kampung aja, Ibu bisa beribadah di sana dan berkumpul bersama perempuan sebaya Ibu yang sama-sama mencari ketenangan di masa tua! Apalagi di pesantren sering di gelar tausiyah setiap selesai sholat subuh! Jadi Ibu bisa beribadah dengan tenang di sana sembari membantu Bulek memberi makan santri-santri di sana! " ucap Davin panjang lebar mengomeli Ibu nya.
Ibu nya tersenyum kecil melihat Davin panjang lebar mengomelinya yang sempat menolak saat di minta untuk tinggal di Pesantren.
"Iya, iya... Gak usah marah gitu! Ibu itu hanya ingin kamu mengumpulkan uang untuk masa depan kamu sendiri! Suatu saat kamu pasti menikah dan itu memerlukan biaya yang banyak! Apalagi nanti jika punya anak, pasti kebutuhan mu nanti lebih banyak lagi, itu aja kok yang Ibu inginkan! " jawab Tinah membela diri.
"Kalau itu urusan lain Bu, Toh nyenengin orang tua sendiri gak bikin kita miskin! Begitu yang Davin dengar dari ceramah-ceramah para ustadz! Toh jika sudah menikah nanti sudah ada rezeki untuk istri dan anak-anak, jadi Ibu gak perlu khawatir kan hal yang kita tidak tahu ke depan nya seperti apa! Sesuai kata Pak ustadz, masa depan tidak ada yang tahu, makanya dari sekarang kita berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mencari uang yang halal sebanyak-banyaknya! Itulah yang sedang Davin lakukan sekarang ini, mencari uang untuk Ibu dan untuk modal nikah! " ucap Davin lagi dengan penuh semangat.
"Iya... Gak usah panjang lagi ceramah nya! Ibu sudah siap kok, semuanya sudah beres! " jawab Ibu nya dengan terkekeh kecil.
"Nah, gitu dong! Ayo Bu, sopirnya sudah menunggu di luar! Dua minggu lagi Izam akan meng aqiqah kan anak-anak nya dan Ibu akan di jemput sopir ke Jakarta lagi menghadiri aqiqah anak-anak nya Izam bersama sepupu Davin, Haikal dan Haura! " ucap Davin sambil menenteng tas hitam Ibu nya.
"Iya,.. Ibu paham! " jawab Tinah dengan menganggukkan kepala nya.
"Ibu gak papa kan di kampung tanpa Bulek dan Pak lek? Mereka masih disini sampai Amay selesai 40 hari membantu Mama Lia merawat si kembar. " tanya Davin saat Ibu nya masuk ke dalam mobil.
"Ibu gak papa kok! Kamu kapan juga nikah dan punya anak? Ibu kan juga kepengen gendong cucu dan merawat anak kamu kayak orang-orang! " jawab Ibu nya dengan melemparkan pertanyaan yang sangat ia hindari.
"Ais... Ibu mah! Sama saja dengan emak-emak di luaran sana! Kapan nikah mulu pertanyaan nya? Davin lagi pdkt bu sama perempuan nya! Doa kan aja Mudah-mudahan perempuan itu mau dan khilaf mau bersuami laki-laki kere kayak Davin! " jawab nya lagi sekenanya.
"Aamiin.... Mudah-mudahan perempuan itu khilaf mau menerima kamu jadi suaminya! " sahut ibunya mengaminkan ucapan nya.
"Hahahaha.... " Davin tertawa terkekeh mendengar ucapan absurb Ibu nya.
"Ya udah, Ibu pergi dulu ya?? Jangan telat makan biar maag mu gak kumat! Jangan tidur malam-malam dan jangan lupa sholat meskipun kita bukan orang baik! " pesan Tinah sebelum mobil melaju.
"Iya Bu... Iya.. ! Pak! Hati-hati bawa mobilnya! " jawab Davin sambil berteriak dan melambaikan tangan.
Mobil pun perlahan pergi meninggalkan ia yang masih berdiri di halaman rumah mereka.
"Heran deh sama Ibu! Udah segede gini masih aja di pesanin kayak gitu, kayak anak TK aja pakai di ingatin segala! " gumam nya sambil geleng-geleng kepala.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit kamar perawatan nya Amay.
__ADS_1
Mama Lia menggendong si sulung yang di beri nama Muhammad Khalid Maliq Barzakh. Bulek Saroh menggendong yang kedua Muhammad Zaid Maliq Barzakh. Aulia menggendong yang ketiga Muhammad Imran Maliq Barzakh dan Papa Rahman menggendong si cantik Khumairah Margaretha Maliq Barzakh. Papa Idris memainkan jemari mungil Khalid sama seperti Pak lek Rohim memainkan jemari nya Zaid yang sedang tertidur di gendongan Oma mereka.
Seperti dugaan Papa Rahman, Si cantik Khumairah wajah nya persis seperti Mama kandung nya Amay Margaretha alias Maggie.
Papa Rahman sampai menangis tersedu-sedu saat melihat wajah cantik cucu nya yang sangat mirip sekali dengan mendiang istrinya Margaretha alias Maggie beberapa hari yang lalu saat mereka di keluarkan dari kotak inkubator.
Untuk itulah Izam dengan senang hati menambahkan nama almarhumah Mama mertuanya pada nama putri kesayangan nya saat Papa Rahman meminta izin nya memberikan usul nama tersebut.
"Ya Allah... Udah empat aja mereka masih asyik main sendiri! Apa lagi cuma satu, pasti mereka rebutan mau gendong ! " ucap Izam geleng-geleng kepala melihat tingkah orang tua mereka.
"Hehehehe... Iya Bang! Mereka seperti punya mainan baru! Lihat Papa dari tadi lihatin si cantik sampai segitu nya! Amay jadi penasaran, gimana ya reaksi Papa jika Maggie kecilnya di lamar laki-laki lain saat ia dewasa nanti! " sahut Amay dengan terkekeh kecil.
"Pastinya Papa mu akan menjadi garda terdepan selain Abang menghadapi laki-laki itu! " jawab Izam dengan membusungkan dadanya.
"Hahahaha... " Amay tertawa lepas sambil menutup mulutnya takut si kembar terbangun.
"Gak cuma Papa dan Abang! Kakak-kakak nya pasti akan selalu menjadi bodyguard nya jika mereka besar nanti! " sahut Izam lagi.
"Hahaha.... Mudah-mudahan Allah masih memberikan kita umur yang panjang ya Bang hingga anak-anak kita dewasa nanti! " jawab Amay sembari terkekeh pelan.
"Aamiin... " sahut Izam mengaminkan doa istri nya.
Ia sedang mengepak barang-barang istrinya yang akan di bawa pulang. Sudah 10 hari Amay di rumah sakit, begitu juga dengan si kembar. Selama seminggu ini berat badan mereka terus bertambah dan akhirnya dua hari yang lalu mereka di keluarkan dari kotak inkubator. Mereka di letakkan di ruangan yang sama dengan Mama nya dan selama dua hari ini keluarga mereka tidak henti-hentinya bergantian menggendong mereka.
Ana dan Aini menangis saat menelpon Amay karena belum bisa datang ke Jakarta untuk menjenguk Amay dan si kembar. Ana bahkan menangis histeris saat melihat video kiriman Izam akan wajah si kembar terlebih lagi si cantik yang membuat semua orang jatuh cinta pada wajah Bule nya itu.
Hari ini Amay dan anak-anak nya di perbolehkan untuk pulang setelah tadi pagi si kembar di periksa dokter Inayah. Karena kondisi si kembar semakin sehat dan berisi, mereka pun di persilahkan pulang dan di haruskan untuk datang tiga minggu lagi untuk di lakukan imunisasi pertama mereka.
Davin dan para pelayan di kediaman keluarga Barzakh mempersiapkan kedatangan si kembar dan Amay. Mereka semua berbahagia dengan kelahiran empat penerus keturunan keluarga Barzakh. Davin bahkan mendekorasi kamar khusus mereka dengan desain yang di inginkan Izam dan Amay beberapa hari yang lalu.
"Alhamdulillah... Sudah siap semuanya! Ayo Ma, Pa, kita pulang! " ucap Izam sembari menggenggam tangan istrinya.
"Ayo... ! " jawab Papa Idris dan Pak lek Rohim sembari membawa barang-barang Amay dan si kembar dengan di bantu Om Hardi.
Izam dan Amay sudah melarang mereka membawanya karena mereka meminta sopir saja yang membawa kan barang-barang nya. Tapi dua Opa itu menolak dan bersikeras akan membawa nya sendiri. Alhasil Om Hardi ikutan membantu mereka berdua membawa barang-barang Amay dan si kembar ke mobil.
Mereka pulang dengan menggunakan tiga mobil. Mama Lia satu mobil dengan Bulek Saroh dan suami mereka masing-masing karena Papa Idris yang bawa mobilnya. Aulia satu mobil dengan Papa Rahman yang duduk di depan bersama Om Hardi yang mengemudikan mobil.
Amay dan Izam berdua dengan di sopiri Pak Mat sopir keluarga Barzakh.
"Berasa kayak penganten baru berdua kayak gini! " ucap Izam ketika mereka berdua sudah di dalam mobil.
__ADS_1
"Iya ya Bang... ! Padahal anak udah empat! Hehehe... " sahut Amay dengan terkekeh.
"Alhamdulillah, Pak Mat senang Non Amay melahirkan si kembar dengan selamat! Masih gak percaya Pak Mat kalau Non Amay melahirkan bayi kembar empat! " ucap Pak Mat dari depan.
"Terimakasih Pak Mat! Jangan kan Pak Mat, saya aja masih belum percaya jika anak kami bukan tiga tapi empat! Sungguh kejutan tak terduga! " jawab Izam dengan tersenyum bahagia.
"Iya Den, kami semua senang sekali mendengar kabar bahagia ini! Semoga si kembar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah yang taat pada Allah dan berbakti kepada kedua orang tuanya! " sahut Pak Mat mendoakan si kembar dengan tulus.
"Aamiin ya Rabbal alamiin... ! " jawab Amay dan Izam barengan.
Mereka pun akhirnya sampai di kediaman keluarga Barzakh setelah berkendara selama 15 menit. Amay memang memutuskan untuk tinggal kembali di rumah mertua nya begitu si kembar lahir karena ia sangat membutuhkan bantuan Mama mertuanya dalam mengasuh si kembar. Papa Rahman tidak mempermasalahkan keinginan putri nya karena ia mengerti jika ia tidak bisa membantu banyak dalam merawat keempat cucu-cucu nya.
Izam dan Papa Rahman sepakat memberikan tiga pengasuh bayi untuk membantu Amay dan Mama Lia dalam mengasuh di kembar, tentu saja sudah di seleksi dengan sangat ketat oleh Aulia dan ia lah yang menyeleksi tiga pengasuh bayi yang benar-benar sudah di akui kredibilitas pekerjaan mereka.
"Surprise..... " pekik Ana, Aini dan Ara serta suami mereka masing-masing saat si kembar masuk ke dalam rumah.
"Aaaaaa..... Lucunya... ! " pekik Ana saat melihat Maggie dalam gendongan Papa Rahman.
Ia langsung meraih Khumairah ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan gemes hingga Maggie menggeliat karena risih.
"Eh Mak Lampir! Tuh liat si cantik aku jadi risih karena ulah mu! " omel Izam dengan kegeraman kakaknya.
"Biarin! Salah sendiri kenapa jadi cantik begini! Aunty kan jadi iri! " jawab Ana dengan ketus.
"Ya iyalah, wajar lah cantik begini! Orang Bapak emak nya cakepan kayak gini, pasti anak-anak nya ya cakepan juga! " sahut Izam membanggakan dirinya.
"Gak salah lu... ! Orang kayak Bule gini pasti dari emaknya yang juga Bule, lah elu...Bule cuma idung nya doang! " cibir Ana mengejek Izam.
"Sue lu mak Lampir! Orang cakep kayak orang Arab di bilang idung nya doang yang Bule! Mata lu tuh katarak! Sirik punya adek yang cakep kayak gue! " jawab Izam yang protes dengan ucapan kakaknya.
"Oek.... Oek.... Oek.... " si cantik menangis kencang.
"Kalian itu ya... ! Tuh lihat Maggie sampai nangis dengar perdebatan unfaedah kalian! Heran Mama, udah punya anak semua masih aja berantem kayak anak kecil! " ucap Mama Lia dengan mata melotot kepada Izam dan Ana.
"Sepertinya si cantik haus May... ! Ayo kamu susui dulu! Tuh lihat mulutnya komat kamit nyari makanan nya! " ucap Ana dengan menyerahkan Maggie pada Amay.
Aini dan Ara mengambil Khalid dan Imran dari Mama Lia dan Aulia. Bulek Saroh menyerahkan Zaid pada Pak lek Rohim karena ia akan kebelakang membantu Mama Lia menyiapkan makan siang untuk mereka semua di bantu asisten rumah tangga di kediaman tersebut.
Syahnaz, Syafiq, Farid, Faris dan Azzam sangat antusias bermain dengan sepupu mereka yang baru meskipun hanya menoel pipi nya saja karena si kembar sedang tidur.
Amay masuk ke dalam kamar untuk menyusui si cantik yang memang menangis karena lapar. Di antara keempat anak kembarnya Maggie lah yang paling sering menyusu di banding kan ketiga kakaknya. Ia tidak mau minum susu melalui botol dot seperti ketiga kakaknya. Ia hanya mau minum langsung dari sumbernya. Benar-benar sangat manja.
__ADS_1
Bersambung.....