
Amay menundukkan kepalanya karena takut suaminya tersinggung dengan pertanyaan yang ia ucapkan tadi. Dan Izam terdiam sejenak, kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan sang istri.
"Duduk lah di sampingku! Aku akan bercerita tentang masa lalu ku sebelum aku ada di Ponpes ini! " ajak Izam dengan lembut sambil meraih tangan istrinya.
Amay mengangkat wajahnya mendongak dan ia tampak melihat suaminya begitu tenang dan santai. Ia mengikuti permintaan suaminya untuk duduk di sampingnya dan Izam mulai bercerita tentang masa lalu nya yang selalu di bohongi dan di tipu oleh wanita-wanita yang sempat dekat dengannya hanya karena harta. Ia juga bercerita tentang pertemuannya dengan perempuan yang bernama Anita yang sempat membuatnya sedikit merasa bahagia.
Namun semuanya tidak berjalan sempurna karena kedekatan mereka tidak di restui orang tua Anita yaitu Uminya. Ia menentang kedekatan mereka bahkan ia tidak segan-segan menghina dan mencaci maki Izam. Puncaknya ketika ia di undang Anita untuk datang syukuran kepulangan kakaknya dari Mesir.
Izam mengatakan di sana ia melihat perempuan yang sama dengan yang bertengkar dengan Amay itu juga menghinanya habis-habisan di hadapan orang banyak. Semenjak itulah ia berusaha menjaga jarak dengan Anita agar ia tidak di hina dan di caci maki orang tua Anita lagi.
Tapi, suatu ketika Anita datang menemuinya, mengajaknya untuk pergi jauh berdua dan kawin lari. Menjauh dari keluarga masing-masing supaya tidak ada yang bisa menentang hubungan mereka, namun Izam menolaknya dengan tegas karena ia tidak mau menyakiti hati kedua orang tuanya dengan membawa lari anak orang. Ia juga dengan tegas mengatakan jika ia tidak akan menyakiti dan membuat kecewa orang tua Anita meskipun mereka sudah menghina dan merendahkannya.
Izam juga bercerita tentang kecelakaan yang di alami Anita setelah pulang dari rumahnya dan Izam memutuskan untuk mengikuti saran sahabatnya untuk menenangkan diri di Ponpes ini.
Amay menangis tersedu-sedu mendengar cerita suaminya yang begitu menyedihkan di hina dan di caci maki orang hanya karena bukan orang kaya. Izam sengaja tidak menceritakan siapa sebenarnya ia dan siapa juga keluarga nya kepada istrinya. Ia ingin menguji ketulusan dan keikhlasan istrinya menjadi seorang istri seorang penjual kebab yang selalu di katakan orang kere dan kismin.
"Cup... Cup... Cup.... Udah dong nangis nya! Ntar di kirain Pak lek dan Bulek kalau Abang melakukan KDRT lagi! " bujuk Izam sambil mengusap air mata Amay.
"Hu... Hu... Hu.... Emang Abang gak sakit hati ketika di hina seperti itu?? " tanya Amay dengan menaikkan volume tangisnya.
"Abang manusia biasa, sudah pasti Abang juga sakit hati. Tapi Abang mencoba bersabar dan memaafkan mereka agar hati Abang tenang, damai dan jauh dari penyakit hati dan dendam. Itu yang di nasehat kan Bunda Yasmine kepada Abang pada saat Abang di hina. Dan Abang bersyukur tidak memelihara dendam sehingga Abang bisa sampai ke Ponpes ini dan menemukan jodoh Abang di tempat ini, meskipun dengan cara yang instan.. He... He... He... Yang jelas, masa lalu itu bukan untuk di kenang, tapi jadikan lah ia pelajaran yang bisa kau ambil hikmahnya! " jawab Izam dengan terkekeh pelan.
"Oh iya, kalau boleh Abang tahu, perempuan tua yang mulutnya lemes itu siapa kamu, sayang! Kok dia kayak punya andil banget dengan hidup kamu? " tanya Izam penasaran.
"Jadi gini ceritanya Bang... " jawab Amay dengan serius.
Amay pun menceritakan siapa itu Bude Maryam dan apa hubungannya dengan dia dan Ponpes ini. Ia juga menceritakan masa lalu Abah nya dengan Bude Maryam tersebut dan juga tentang Bude Maryam yang sempat ingin menikahkan paksa ia dengan Laki-laki pilihan Bude Maryam sehingga membuat Amay kabur ke kota.
"MasyaAllah.. Jadi si Bude itu cuma ipar dari saudara tirinya Abah ! Kirain ada hubungan yang erat banget gitu dengan Ponpes ini! Gak taunya cuma numpang lewat aja! " celutuk Izam dengan geleng-geleng kepala.
"Tapi, aku bersyukur loh sayang waktu kamu kabur ke kota! Coba kalau kamu masih bertahan di sini, bisa-bisa masih jomblo Abang sampai sekarang! " ucap Izam lagi dengan wajah bahagia.
"Dih, Abang demen banget dengar Amay kabur! Ya kali Amay mau di nikahkan paksa dengan laki-laki yang gak Amay kenal, siapa tahu laki-laki itu Aki-aki, hiyy... Jijay... " sahut Amay sambil bergidik jijik.
__ADS_1
"Huahahaha.... " Izam tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya.
"Trus kamu kabur ke tempat siapa, sayang? " tanya Izam lagi setelah tawanya reda.
"Aku ke rumah Bapak-bapak yang waktu itu aku tolong di rumah sakit, eh rupanya istri Bapak tersebut orang yang aku kenal. Mereka pun sepakat menganggap aku anak perempuan mereka, itu yang bikin aku sedih waktu kita menikah. Mereka tidak bisa hadir karena mereka mendapat musibah, anak mereka mengalami kecelakaan dan mereka pergi ke sana melihat keadaan anak dan menantunya. " jawab Amay dengan wajah sendu.
"Maaf ya sayang? Aku udah bikin kamu ingat yang sedih-sedih! Kapan-kapan kita berkunjung ke rumah mereka ketika kita di kota nanti. " ucap Izam mencoba menghibur istrinya.
"Beneran Bang? " tanya Amay dengan penuh semangat.
"Heem.. " jawab Izam menganggukkan kepalanya.
"Yeay.... Alhamdulillah... Aku pengen banget kenalin Abang sama mereka! Abang pasti suka sama mereka karena mereka orang nya baik banget! " sahut Amay dengan wajah berseri-seri.
"Tapi, mungkin minggu depan Abang akan kembali ke kota, karena sudah waktunya Abang untuk kembali bekerja mencari nafkah untuk keluarga kita. Amay mau tetap di sini apa ikut Abang ke kota? " tanya Izam hati-hati.
"Bismillah.. Amay ikut Abang. Kemana pun Abang pergi, Amay akan ikut! " jawab Amay dengan mantap.
"Wah, udah Azan Ashar rupanya! Gak terasa lama juga kita ngobrol-ngobrol di sini! Abang mau shalat dulu ya di masjid! " sahut Izam ketika terdengar suara Azan Ashar.
"Iya Bang! Padahal perasaan Amay kita baru aja ngobrol nya, eh tau-tau udah Azan aja! Ya udah, Abang ambil wudhu nya di masjid aja, biar gak telat! " jawab Amay sambil menyarankan suaminya dengan lembut.
"Iya sayang! Abang pergi dulu ya! Assalamualaikum! " ucap Izam keluar rumah dengan mengucapkan salam.
Amay pun membalas salam suaminya kemudian menutup pintu dan ia langsung memasuki kamarnya untuk sholat ashar.
Malam harinya...
Ketika Amay dan Izam sedang duduk-duduk santai di teras rumah setelah makan malam, tiba-tiba Aulia datang menemui mereka dengan wajah panik.
"Assalamualaikum May! " ucap Aulia dengan wajah panik dan tangan yang gemetar.
"Waalaikumsalam Aul... Ya Allah, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Amay dengan ikutan khawatir.
__ADS_1
"Hu.... Hu... Hu... May, Kak Zahra kecelakaan! Tadi Umi telpon, katanya Kak Zahra di tabrak orang ketika baru keluar dari rumah sakit! " jawab Aulia dengan menangis.
"Innalillahi.... Ya Allah... Ayo duduk dulu! " Ajak Amay membawa Aulia untuk duduk dulu agar tidak terlalu cemas.
"Terus gimana sekarang keadaan Kak Zahra Ul? " tanya Amay lagi.
"Belum tahu May, Umi belum ngasih kabar lagi! Aku pengen ke kota May, aku mau lihat keadaan Kak Zahra! Hati aku gak tenang sebelum memastikan Kak Zahra baik-baik aja! " jawab Aulia dengan wajah sembab nya.
Izam sengaja menyingkir dan mempersilahkan mereka berbicara dengan leluasa sebagai sesama perempuan. Ia meninggalkan mereka berdua dan duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Cukup lama Amay berbincang dengan Aulia membicarakan bagaimana caranya agar Aulia bisa pergi ke kota secepatnya.
Amay pergi ke ruang tengah meminta suaminya untuk memanggil Haikal di rumah sebelah.
"Ada apa Kak? " tanya Haikal yang datang tidak lama setelah di panggil Izam.
"Bisa gak carikan mobil yang pergi ke kota subuh-subuh seperti kakak waktu itu Kal? Kasihan Aulia, dia mau ke kota bingung gini! Kakak sepupunya kecelakaan di kota, dan tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini! " jawab Amay dengan wajah sedih.
"Gampang itu Kak! Sekarang aku akan ke rumah teman aku untuk memastikan apakah mereka akan ke kota esok subuh! Doakan saja jika mereka pergi nanti subuh, jadi Kak Aulia bisa menumpang mobil mereka! " ucap Haikal sambil pergi keluar rumah.
Amay memberikan Aulia minum dan menemani nya untuk menguatkan hati nya dengan musibah Kak Zahra. Tidak lama kemudian, Haikal datang dengan wajah yang tidak bisa di tebak.
"Maaf Kak, paman teman ku lagi sakit. Jadi mereka tidak ke kota untuk waktu yang tidak di tentukan. Kemungkinan besar menunggu paman temanku itu sehat dulu! " ucap Haikal dengan agak sedih.
"Ya Allah, May! Gimana ini! Aku cemas banget dengan keadaan Kak Zahra! " sahut Aulia sambil mengigit kukunya.
"Istighfar Ul, Istighfar.... Mudah-mudahan Kak Zahra gak kenapa-napa! Sekarang waktunya kamu banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan Kak Zahra! InsyaAllah jika memang rezeki mu, akan ada kendaraan yang akan membawamu ke kota! " ucap Amay menguatkan Aulia agar tidak terlalu cemas.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
__ADS_1