Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Izam yang sesungguhnya


__ADS_3

Aulia menemani Annisa dan Pakde Soleh di rumah sakit. Saat ini mereka sedang beristirahat di ruang perawatan VVIP yang sengaja di sedia kan oleh Papa Idris selama mereka menunggui Ibu Tinah di rumah sakit.


Karena gak mungkin mereka menunggu di luar saja dengan duduk di kursi tunggu tanpa istirahat.


"Pakde, Makan dan istirahat dulu sebentar! Sudah seharian Pakde dan Nisa menunggui Ibu! Kalian berdua harus istirahat juga, jangan sampai Pakde dan Nisa juga ikutan sakit! Kalau Pakde dan Nisa sakit, terus siapa yang mau menjaga dan merawat Ibu?? " tegur Aulia dengan menyerahkan sekotak nasi di hadapan mereka berdua.


"Astaghfirullah hal adzim... ! Maaf Nduk, Pakde sampai lupa jika Pakde juga harus kuat! " ucap Pakde Soleh tersadar dari lamunannya.


"Annisa, kamu juga harus makan! Abah gak mau kamu jatuh sakit juga, Nduk! Siapa yang bantu Abah jagain Ibu kamu kalau kamu sakit juga? Benar kata Aulia, kita harus kuat dan sehat supaya Ibu mu juga kuat! " tegur Pakde Soleh pada Putri nya yang masih melamun tapi dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Abah aja yang makan! Nisa lagi gak selera makan, Bah! " jawab Annisa dengan suara parau.


"Makan dulu Nisa, dikit gak papa asalkan ada yang masuk ke dalam perut kamu! " sahut Aulia dengan duduk di samping Annisa.


"Gak Mbak! Aku benar-benar gak berselera! Aku mau minta minum aja! Aku pengen tiduran! " jawab Annisa keukeh tidak mau makan.


Ia menerima botol air mineral yang di berikan Aulia dan meminum nya dengan beberapa tegukan. Ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di kamar tersebut tanpa bicara apapun.


Annisa berbaring menghadap dinding, membelakangi Aulia dan Abah nya. Ia menggigit ujung hijab nya agar tangisan yang ia tahan tidak di dengar mereka.


"Umi.... Bantu Ibu melewati masa ini Umi! Nisa tidak mau calon adik Nisa kenapa-napa! Nisa menginginkan nya hadir di dunia ini Umi! Tolong Nisa Umi.. ! Nisa sayang Umi, Nisa juga sayang Ibu dan adik bayi! Nisa ingin mereka berdua selamat! Tolong Nisa Umi... ! " batin Annisa dengan menangis tertahan.


Pakde Soleh dengan sedikit terpaksa memakan nasi kotak tersebut semata-mata karena ia tidak ingin jatuh sakit, karena bagaimana istrinya nanti jika ia juga ikutan sakit.

__ADS_1


"Aulia tinggal keluar sebentar ya Pakde! " pamit Aulia karena ponsel nya berbunyi.


Pakde Soleh yang sedang makan hanya mengangguk pelan. Aulia berjalan menuju pintu dan menutup nya dengan pelan begitu sudah keluar.


"Iya Mas, assalamualaikum! " jawab Aulia yang menerima panggilan telepon dari Davin.


Ia berbicara cukup lama di lorong yang sepi lalu lalang pengunjung dan perawat bersama Davin. Ia menampilkan raut wajah prihatin mendengar apa yang di katakan calon suami nya itu.


"Baik Mas, Waalaikumsalam! " jawab nya lagi sembari menutup ponselnya.


Aulia menghela napas kasar sebelum pergi dari tempat itu. Ia memutuskan untuk melihat keadaan Ibu mertua nya di ruang IGD.


"Sus, boleh saya menjenguk Ibu mertua saya sebentar? " tanya Aulia pada Suster jaga di ruangan tersebut.


"Ibu Siti Martinah! " jawab Aulia.


"Oh silahkan saja Mbak! Tapi jangan di ajak bicara dulu ya jika pasien nya sudah sadar! " ucap Suster tersebut mengingatkan Aulia.


.


"Iya Sus, Terimakasih banyak sudah mengizinkan! " jawab Aulia dengan perasaan bahagia.


Ia berjalan dengan wajah bahagia ke ranjang tempat Ibu Tinah terbaring dengan lemah. Aulia mengusap lembut punggung tangan Ibu Tinah yang tidak di beri infus. Mata nya berkaca-kaca teringat apa yang di katakan Dokter jika Ibu Tinah dan calon janin nya masih belum keluar dari zona bahaya.

__ADS_1


Ia menggenggam tangan Ibu Tinah dan mencium nya dengan takzim hingga akhirnya pertahanan nya jebol karena air mata nya terjun bebas di pipinya.


"Bu...! Ibu harus kuat demi janin yang ada di dalam kandungan Ibu! Ibu harus kuat! Kami semua menunggu Ibu! Mas Davin begitu mengkhawatirkan Ibu! Ibu jangan khawatir, Mas Davin tidak akan membiarkan penjahat itu kabur dan bebas! Ibu harus kuat karena kasihan dengan Pakde dan Annisa yang sedih lihat Ibu kayak gini! Mas Davin pengen adiknya lahir Bu, Mas Davin pengen Ibu juga cepat sembuh! Aulia mohon, bertahan lah Ibu demi kami semua di sini, terutama pada janin yang ada di dalam kandungan Ibu! " isak Aulia pelan dengan menangis sambil menggenggam tangan Ibu Tinah.


Air mata nya jatuh ke tangan Ibu Tinah hingga tanpa ia sadari jika perlahan-lahan Ibu Tinah mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.


"Da-davin.... " bisik Ibu Tinah dengan agak pelan.


Aulia masih menangis tanpa menyadari jika Ibu Tinah perlahan sadar dan berbicara lirih.


"Davin.... " panggil Ibu Tinah dengan suara agak kencang dari yang pertama.


Aulia seketika menghentikan tangisan nya saat mendengar suara yang masih samar-samar ia dengar.


"Davin.... " panggil Ibu Tinah lagi yang membuat Aulia sontak langsung berdiri.


"Alhamdulillah ya Allah... ! Ibu sudah sadar! Ibu, ini Aulia! Aulia akan telpon Mas Davin dulu ya Bu! Ibu jangan banyak bicara karena Dokter melarang nya! Mas Davin masih di kantor polisi Bu, Ibu tenang aja! Mas Davin tidak akan membiarkan perempuan jahat itu lolos begitu saja! Ibu jangan banyak pikiran dulu ya! Aulia panggil Dokter dulu! " ucap Aulia di dekat wajah Ibu Tinah dengan tersenyum bahagia.


Ibu Tinah hanya mengangguk pelan karena dalam hatinya ia lega jika Davin sudah melaporkan perempuan jahat itu.


**Bersambung


Selamat membaca dan selamat beristirahat reader ku semua nya🤗🤗🤗

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍**


__ADS_2