Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Seseorang...


__ADS_3

Akhirnya semua orang turun ke bawah dan membiarkan Izam menjaga Amay di dalam kamar mereka. Papa Idris menelpon Dokter kandungan Amay dan memintanya untuk datang ke rumah keluarga Barzakh. Ia ingin memastikan secara jelas kondisi kandungan Amay dengan ahlinya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang ringan menunggu Dokter kandungan Amay datang. Tiga puluh menit kemudian, Dokter Nadia datang seorang diri mengendarai mobil sendiri tanpa sopir.


"Assalamualaikum, Tuan, Nyonya! " ucap Dokter Nadia dengan ramah di depan pintu.


"Waalaikumsalam Dokter! Mari masuk! Ayo Dokter saya antar ke kamar menantu saya! " jawab Mama Lia dengan ramah.


Dokter Nadia masuk dan menyalami semua orang kecuali para pria, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia lalu mengikuti langkah Mama Lia naik tangga ke lantai atas menuju kamar Izam dan Amay.


"Tok... Tok... Tok... Dokter Nadia sudah datang Maliq! " ucap Mama Lia sambil mengetuk pintu.


Pintu pun terbuka dari dalam, Izam membukanya dengan lebar dan Dokter Nadia bersama Mama Lia masuk ke dalam kamar.


"Amay belum bangun juga! " tanya Mama Lia dengan setengah berbisik kepada Izam.


"Belum... " jawab Izam juga dengan setengah berbisik.


Izam berdiri bersama Mama Lia agak jauh sedikit dari tempat Dokter Nadia bekerja memeriksa pasiennya.


Sepuluh menit Dokter Nadia memeriksa Amay dan perutnya dengan alat yang ia bawa di dalam tas medisnya.


"Bagaimana Dok? Apakah cucu-cucu saya baik-baik saja? Bagaimana juga keadaan menantu saya? Kenapa sampai sekarang belum juga bangun? " tanya Mama Lia beruntun.


"Ish Mama ini kebiasaan kalau nanya! Satu-satu atuh Ma! Ini kayak kereta api aja gak ada rem nya! " sahut Izam dengan menyenggol lengan Mama nya.


"Plak.... ! Keadaan genting begini, masih juga cari gara-gara sama Mama! " omel Mama Lia dengan memukul pelan bahu Izam.


Dokter Nadia tersenyum geli melihat interaksi ibu dan anak yang ada di hadapan nya.


"Gak papa kok Pak! Ibu Amay baik-baik saja, begitu juga dengan janinnya! Mereka sehat dan kuat! Ibu Amay hanya shock saja karena tidak bisa menahan kesedihan! Apa ada sesuatu yang membuat beliau begitu terpukul seperti ini? Saya saran kan di masa seperti ini agar kondisi selalu tetap bahagia dan tidak stress, agar perkembangan janin-janinnya tidak terhambat. Jika ibunya senang dan bahagia, maka janin-janinnya juga merasakan hal yang sama, begitu juga sebaliknya, jika Ibu nya sedih maka janin-janinnya juga ikutan sedih. Karena emosi Ibu terhubung secara langsung dengan sang janin melalui tali pusar tempat janin tersebut makan. " ucap Dokter Nadia panjang lebar.


"Iya Dokter! Menantu saja sedih karena mengetahui kebenaran tentang kedua orang tuanya yang meninggal saat melahirkan nya ke dunia! " jawab Mama Lia dengan wajah sendu.


"Saya turut prihatin Nyonya! Peran Bapak sebagai suami sangat penting di fase ini, Pak! " sahut Dokter Nadia melihat ke arah Izam.


"Maksud Dokter? " tanya Izam dengan bingung.


"Bagi Ibu hamil, semangat dan dukungan dari suami lah yang bisa membuat mood Ibu hamil langsung membaik karena ikatan suami dan istri itu begitu indah sehingga semua kebahagiaan seorang istri itu tergantung dengan para suami. Apalagi sedang hamil begini, Bapak bisa menghibur istrinya dengan mengajak jalan-jalan sebentar sambil berwisata kuliner kesukaan sang istri, bisa juga dengan memberikan pujian dan kata-kata yang lembut dan menyanjung sang istri, dan bisa juga dengan memijat sang istri sambil duduk-duduk di taman atau apapun lah yang bisa membuat sang istri bahagia! " jawab Dokter Nadia menjelaskan.


"Oh, begitu Dok! Saya mengerti! Terimakasih Dokter atas saran nya! " ucap Izam sambil mengangguk paham.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak! Nyonya! Ini ada resep vitamin, penambah darah dan penguat kandungan dari saya! Jika ada keluhan lain ketika Ibu Amay bangun, langsung hubungi saya! " pamit Dokter Nadia sambil memberikan kertas berisi cacatan resep Dokter.


Mama Lia ikut berjalan keluar kamar bersama Dokter Nadia dan turun ke bawah menemui keluarga yang lain. Setelah pamit kepada semua orang, Dokter Nadia pun pulang menuju rumah sakit tempat ia bertugas.


"Pa, Papa udah kasih tahu Pak Rahman, ayah Amay tentang keadaan Amay? " tanya Mama Lia kepada suaminya.


"Sudah, Ma! Tidak lama lagi mungkin beliau datang! " jawab Papa Idris.


"Gimana Bu Besan dengan Amay dan cucu-cucu kita? " tanya Bulek Saroh kepada Mama Lia.


"Alhamdulillah kata Dokter baik-baik Amay dan cucu-cucu kita Bu Besan! " jawab Mama Lia dengan tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah... Saya jadi lega dengar nya! Saya takut banget cucu-cucu kita kenapa-napa! " ucap Bulek Saroh dengan wajah lega.

__ADS_1


"Iya Bu Besan alhamdulillah banget! Saya juga gak bisa bayangin jika cucu-cucu kita sampai kenapa-napa! " sahut Mama Lia membenarkan ucapan Bulek Saroh.


Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah keluarga Barzakh. Papa Idris sudah mewanti-wanti para penjaga di pos jaga untuk mempersilahkan masuk mobil mewah yang datang ke rumahnya, agar Besan nya tidak repot-repot lagi melaporkan kedatangannya kepada penjaga rumah.


"Ma, sepertinya Besan kita sudah datang! " ucap Papa Idris sambil berdiri menuju pintu depan menyambut sang tamu.


Semua yang ada di ruang keluarga berjalan menuju ruang tamu menyambut kedatangan ayah kandung Amay.


Rahman keluar dari dalam mobil bersama dengan Hardi, berjalan menuju arah Papa Idris dan rombongan berdiri menyambutnya.


"Selamat datang di kediaman Barzakh, Besan! " ucap Papa Idris dengan ramah dan memeluk akrab Papa Amay.


"Terimakasih sudah mau menghubungi saya Besan! " jawab Rahman tidak kalah ramah dengan membalas pelukan Besan nya itu.


Ia lalu menyapa semua yang ada di sana tidak terkecuali Pak lek Rohim, Pakde Soleh, Bulek Saroh serta Annisa dan Mama Lia.


Ia dan Hardi masuk ke dalam rumah setelah di persilahkan pemilik rumah untuk masuk.


"Ketemu lagi kita Pak Kyai! " ucap Hardi dengan ramah kepada Pak lek Rohim.


"Anda yang waktu itu datang ke pesantren kan? Yang ngasih foto Amay ketika masih dalam kandungan Ibu nya? " tanya Pak lek Rohim yang lupa-lupa ingat.


"Iya Pak Kyai! Itu saya! Apa kabar Pak Kyai, Bu Nyai! " sapa Hardi ramah.


"Alhamdulillah kami baik dan sehat Pak... " jawab Pak lek Rohim dengan terjeda karena lupa nama pria yang dihadapannya ini.


"Hardi Pak Kyai! Nama saya Hardi! " ucap Hardi lagi.


"Ah iya, saya lupa! Maaf! " sahut Pak lek Rohim mengatup kedua tangan nya di dada meminta maaf.


Rahman menatap Pak lek Rohim dengan mata berembun, ia terharu melihat orang yang membesarkan dan mendidik putri nya hingga saat ini.


"Jadi, Pak Kyai yang membesarkan anak saya Amay? " tanya Rahman yang ikut-ikutan Hardi memanggil Pak Kyai kepada Pak lek Rohim.


"Bukan saya Pak! Tetapi almarhumah kakak saya dan almarhum suaminya yang membesarkan dan mendidik Amay hingga menjadi anak yang membanggakan semua orang! Saya dan istri saya hanya membantu saja karena Amay datang di saat yang tepat saat kakak saya kehilangan putra nya dua tahun yang lalu dan juga waktu itu kami berdua belum dikaruniai seorang anak! Amay adalah hiburan kami, pelipur hari kami, yang membuat rumah kami yang tadinya sepi menjadi ramai karena kehadiran Amay! Kehadiran Amay juga membuat pesantren yang di kelola kakak ipar saya bertambah maju dengan banyak nya donatur yang membantu pembangunan pesantren hingga menjadi besar seperti sekarang ini! " jawab Pak lek Rohim panjang lebar.


Rahman langsung menangis mendengar jawaban Pak lek Rohim dan langsung berdiri menuju Pak lek Rohim. Ia memeluk Pak lek Rohim sambil menangis dan mengucapkan terimakasih terus menerus yang mana membuat Pak lek Rohim ikutan menangis karena lega Amay akhirnya bertemu dengan ayah kandungnya. Bulek Saroh, Mama Lia dan Annisa ikutan menangis haru melihat Rahman tidak henti-hentinya berterimakasih kepada Pak lek Rohim.


"Pak, jangan pisahkan saya dengan Amay! Saya menyayangi Amay melebihi anak kandung saya sendiri! Saya yang membantu Mbak Aisyah merawat Amay dari ia bayi! Saya tidak sanggup jika Bapak membawa Amay pergi dari saya! " ucap Bulek Saroh tiba-tiba dengan menangkup kedua tangannya di dada memohon kepada Rahman.


"Ibu tidak usah khawatir, saya tidak akan membawa Amay pergi karena disini lah rumahnya! Rumah suaminya! Lagi pula sampai kapanpun Amay tetap menjadi keponakan kalian meskipun ada saya Papa kandung nya! " jawab Rahman dengan tersenyum lembut.


"Alhamdulillah ya Allah.. Terimakasih banyak Pak! " jawab Bulek Saroh tersenyum lega dan menghapus air matanya.


"Panggil saya Mas saja! Karena nampaknya saya seumuran dengan kakak kalian! " ucap Rahman dengan ramah.


"Kalau gitu, panggil saya Rohim saja Mas! Jangan Pak Kyai kayak orang-orang, jadi gak enak banget dengar nya kalau sampean memangil saya kayak gitu! " sahut Pak lek Rohim ikutan bicara.


"Oke... Oke... ! " jawab Rahman dengan tertawa kecil.


"Mama, Papa! Amay sudah sadar! Cepetan ke atas! " teriak Izam dari lantai atas.


Saat Rahman menginjakkan kakinya di rumah keluarga Barzakh, saat itu pula lah Amay tersadar dari pingsan nya.


"Abang! Haus! " ucap Amay dengan lirih.

__ADS_1


Izam yang sedang tidur sambil duduk langsung terbangun ketika merasakan ada pergerakan pada jemari Amay yang ia genggam.


"Alhamdulillah sayang! Kamu sudah sadar! Kamu jangan seperti ini ya sayang! Aku cemas banget lihat kamu kayak gitu! Aku takut kamu dan anak-anak kita kenapa-napa! " ucap Izam sambil menghujami wajah Amay dengan ciuman bertubi-tubi.


"Abang jorok! Wajah Amay penuh dengan jigong Abang! " jawab Amay dengan sangat risih.


"Biarin! Abang gak perduli! " ucap Izam masa bodoh.


"Ish, Abang nyebelin! " sahut Amay dengan wajah cemberut.


Izam terkekeh kecil melihat wajah cemberut istrinya, itu tandanya istrinya dalam keadaan baik-baik saja karena sudah bisa kesal padanya.


Tiba-tiba Amay kembali menangis karena teringat akan Mama nya yang meninggal ketika melahirkan nya dan Papa nya koma karena kecelakaan sehingga ia tidak pernah bertemu mereka sampai saat ini.


"Cup... Cup... Cup... Sayang! Jangan menangis lagi! Nanti Baby nya juga ikutan sedih! Nanti kita juga loh yang repot bujuk tiga baby yang nangis bersamaan! " hibur Izam dengan sedikit bercanda.


"Ish Abang merusak suasana! Masih lama tauk anak anak kita itu nangis kejer! Masa iya dalam perut juga ikutan nangis! " jawab Amay sebel dengan memukul pelan dada bidang suaminya.


"He.... He... He... Itu kamu tau! Udah ya, jangan nangis lagi! " Izam terkekeh sambil menghapus air mata istrinya.


"Abang! Amay pengen ketemu Papa Amay, Bang! Boleh gak Bang Amay ketemu Papa? Abang tau gak di mana Papa Amay? " ucap Amay meminta izin.


"Boleh dong sayang! Masa ketemu Papa sendiri gak boleh! Nanti kita tanya Papa sama Mama ya? Karena jujur saja Abang belum pernah ketemu sama Papa mertua, apa lagi tau tempat tinggal nya di mana! " jawab Izam mengiyakan permintaan istrinya.


"Kamu di sini dulu ya! Abang mau panggil semua orang dulu! Mereka semua nya cemas banget dengan keadaan kamu waktu pingsan tadi! " ucap Izam sambil melepaskan pelukan nya dan turun dari tempat tidur.


Ia keluar kamar dengan berteriak memanggil Papa dan Mama nya memberitahu bahwa Amay sudah sadar.


Izam kembali ke kamar dengan membuka pintu kamar lebar-lebar agar memudahkan keluarga nya untuk masuk melihat keadaan Amay.


Rahman ikutan naik ke atas bersama Hardi berjalan di belakang besannya. Mama Lia dan Bulek Saroh langsung berlari dan memeluk Amay dan menghadiahi beberapa ciuman di wajah dan kepala Amay dengan penuh hari melihat Amay kembali sadar.


"Alhamdulillah, Nduk! Kamu sudah sadar! Bulek takut banget kamu dan cucu-cucu Bulek kenapa-napa! "ucap Bulek Saroh dengan lega.


"Iya sayang! Mama juga takut banget kamu kenapa-napa! Maafkan Mama ya udah membuat kamu sedih dan shock seperti ini! " sahut Mama Lia dengan merasa sangat bersalah.


"Kenapa Mama Minta maaf! Mama gak salah, justru Amay berterimakasih sama Mama sudah mau mengatakan semua kebenarannya kepada Amay! Terimakasih ya Bulek udah mencemaskan keadaan Amay! Alhamdulillah Amay dan triple sehat semua! " jawab Amay dengan menangis haru.


Secara bergantian Papa Idris, Pak lek Rohim, Pakde Soleh memeluk Amay dan mengatakan mereka lega Amay baik-baik saja.


"Tuan, ayo masuk! Kenapa berdiri di luar saja! Sudah saatnya Tuan bertemu Nona Muda! " ajak Hardi kepada Rahman yang mematung di luar kamar.


"A-aku takut anakku menolak ku Hardi! A-aku takut anakku membenciku! " jawab Rahman dengan ragu-ragu dan bimbang.


"Bismillah saja Tuan! Mudah-mudahan semua yang Tuan khawatir kan tidak terjadi! " ucap Hardi memberikan semangat kepada Rahman.


"Papa, suara siapa itu di luar! " Ucap Amay ketika ia mendengar suara-suara yang terasa tidak asing di telinga nya.


"Oh iya, ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu Nak! " jawab Papa Idris dengan lembut.


"Siapa Pa? " ucap Amay penasaran.


Bersambung...


Selamat membaca dan Selamat beraktivitas readers semua nya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..


__ADS_2