
"Apa aku boleh datang ke sini?? " tanya Davin saat melihat wajah kaget Pak lek Rohim.
Pak lek Rohim langsung tersadar dari rasa kagetnya dan berjalan mendekati Davin dan membawanya ke dalam pelukan nya. Ia tersenyum bahagia dengan kejutan kedatangan Davin ke Pondok Pesantren seraya menepuk pelan bahu Davin pertanda ia sangat senang sekali.
Bulek Saroh juga tersenyum dari belakang dan ia pun bergegas masuk membawa barang belanjaan nya ke dalam rumah.
"Kalian berdua saja dari Jakarta?? " tanya Pak lek Rohim dengan menunjuk mereka berdua bergantian.
"Iya Pak lek... ! Soalnya gak ada lagi yang bisa di minta tolong untuk nemenin ke sini! " jawab Aulia Jujur.
"Ya sudah gak papa! Ayo masuk! " ajak Pak lek dengan mengangguk paham.
Baru saja hendak melangkah, ponsel Aulia berbunyi dan tertera nama Amay di layarnya.
"Duluan aja Mas bareng Pak lek! Aku mau jawab telepon dulu! " ucap Aulia mempersilahkan Davin masuk bersama Pak lek Rohim.
"Hallo, assalamualaikum May.. ! " jawab Aulia begitu Davin dan Pak lek Rohim sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam Aul... Maaf ya tadi Amay lagi di luar kamar! HP nya ketinggalan di kamar waktu kamu manggil tadi? Ada apa?? Kamu kok gak ngasih kabar kalau udah pulang ke Indonesia? " ucap Amay panjang kayak kereta api.
"Satu-satu dong May kalau nanya! Aku mau jawab yang mana dulu nih! " jawab Aulia dengan menggerutu sebel.
"He.... He.... He.... ! Maaf... Kuy lanjut! " sahut Amay cengengesan di seberang sana.
"Aku tadi itu mau pergi sama Mas Davin ke kampung! Ia mau menenangkan diri di sana dan menginap di rumah Abah dan Umi. Tapi ia gak enak sama kamu karena bagaimana pun juga kan itu rumah masa kecil kamu dan ia gak mau di anggap merampas milik kamu di rumah itu! Makanya aku telepon kamu tadi mau minta izin untuk Mas Davin supaya bisa menginap di rumah Abah dan Umi! " ucap Aulia dengan hati-hati.
"Astaghfirullah hal adzim.. ! Kenapa mesti izin aku dulu mau ke sana! Mas Davin kan berhak untuk ke rumah orang tua kandung nya! Kenapa gak enak sama aku? Aku mah santai aja lagi asalkan kamar aku jangan di otak-atik karena itu semua pemberian Abah! Mas Davin kan bisa tinggal di kamar Abah dan Umi ! Sekarang ini rumah itu menjadi milik Mas Davin seutuhnya nya karena aku hanya bisa ke sana kadang-kadang saja, itupun jika ada waktu. " jawab Amay dengan santai.
"Alhamdulillah... Makasih ya May ! Sekarang kami baru aja sampai di kampung! Aku nemenin Mas Davin ke sini untuk beberapa hari saja, abis itu aku langsung balik ke Jakarta kok! " sahut Aulia tersenyum bahagia.
"Iya... Eh ngomong-ngomong kapan kamu ketemu sama Mas Davin?? Soalnya setelah hari itu Mas Davin menghilang kata si Abang! " tanya Amay penasaran.
"Kemarin May.. ! Mas Davin hampir aja nabrak aku di jalan karena ia bawa mobil kayak orang kesetanan! " jawab Aulia lagi.
"Ya Allah... Ya udah kamu temanin aja gih Mas Davin di sana! Siapa tahu jodoh kalian berdua! Oh ya, kalau udah mau pulang ke Jakarta langsung ke rumah aku ya? Nanti aku share lock lokasinya! Awas kalau gak! " ucap Amay dengan setengah mengancam.
"Iya, iya... Assalamualaikum... ! " sahut Aulia mengiyakan nya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam... ! " jawab Amay dari seberang sana.
Panggilan pun terputus, Aulia menyimpan kembali ponselnya di saku gamis nya. Ia menyusul masuk ke dalam rumah Pak lek Rohim.
"Kalian udah lama kenal rupanya?? " tanya Bulek Saroh begitu Aulia masuk ke dalam rumah.
"Gak sengaja ketemu Bulek, di rumah sakit! Waktu itu Aulia melihat Mas Davin pingsan di rumah sakit dan langsung aja panggil dokter saat menunggu Kak Zahra di rumah sakit! " jawab Aulia dengan tersenyum kecil.
"Sudah lumayan juga rupanya! Ya udah, kalian lanjut aja ngobrol nya! Bulek mau lihat Mbak Khadamah masak dulu! Nanti kita makan siang bareng-bareng! " ucap Bulek Saroh sambil berdiri kembali lagi ke belakang.
"Aulia ikut Bulek... ! " sahut Aulia juga ikutan berdiri mengikuti Bulek Saroh ke belakang.
Tinggal Pak lek Rohim dan Davin yang masih duduk di ruang tamu.
"Pak lek, bolehkan saya melihat foto Abah dan Umi ? " pinta Davin dengan agak pelan.
"Boleh, boleh banget! Ayo kita ke rumah nya saja! Sebentar ya, Pak lek pamit dulu sama Bulek mu! " jawab Pak lek Rohim dengan tersenyum lebar.
Ia pergi ke belakang menemui istrinya dan Aulia juga ikut ke depan menyampaikan pesan Amay pada Davin.
"Tunggu Mas... ! Lebih baik Mas bawa saja langsung pakaian Mas ke dalam rumah sana! Amay tadi berpesan kalau kamar nya jangan di otak-atik karena itu Abah yang bikin. Terus katanya Mas di suruh pakai kamar Abah dan Umi aja, biar merasa dekat gitu dan anggap aja jika mereka berdua juga di kamar itu bersama Mas! " ujar Aulia memberikan saran.
"Oke lah kalau gitu! Ayo Pak lek! " jawab Davin dengan tersenyum kecil dan berjalan menuju mobilnya parkir.
Aulia kembali ke dapur bergabung bersama para khadamah dan Bulek Saroh memasak makan siang.
"Jadi, Gus-Gus itu anak kandung Kyai Sulaeman, Nyai?? " tanya Lastri Khadamah yang mengurus rumah Almarhum Abah Sulaeman.
"Iya Lastri.. ! " jawab Bulek Saroh mengangguk.
"Subhanallah... Gak nyangka ya Nyai jika anak kandung Kyai Sulaeman dan Nyai Hafizah ternyata masih hidup! Sayang sekali mereka sudah wafat saat Gus Davin di temukan! " ucap Laila dengan wajah sedih.
"Iya La, sayang banget! Pak Kyai dan Nyai pasti senang banget kalau mereka berdua bisa bertemu dengan anak kandung mereka yang hilang selama ini! " sahut Lastri membenarkan dengan wajah prihatin.
"Mau gimana lagi karena semua ini takdir Allah! Kalau saja Amay tidak menikah dengan Izam, saya dan suami saya gak mungkin bisa ketemu Davin yang notabene adalah sahabat kental nya Izam! " ucap Bulek Saroh dengan nada pasrah.
"Iya juga ya Nyai.. Semua ini sudah takdir dari Gusti Allah! " sahut Laila membenarkannya.
__ADS_1
Aulia hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa mau ikutan nimbrung. Ia fokus mengolah sayur kangkung untuk di tumis bersama udang dan telur puyuh.
Davin berjalan di belakang Pak lek Rohim menuju rumah Abah dan Umi nya.
"Bismillahirrahmanirrahim... ! " ucapnya pelan saat kaki kanannya memasuki rumah orang tua kandungnya.
Tiba-tiba saja dadanya sesak dan air mata mengalir tanpa bisa di tahan saat ia masuk ke dalam rumah. Davin langsung merosot ke bawah dan terduduk di lantai dengan memegang dadanya.
Ia tidak bisa menahan air mata nya, ia menangis tersedu-sedu hingga susah bernafas.
"Abah... Umi... Da-davin pulang?? Kenapa A-abah dan Umi gak nyambut Davin pulang ? Hu... Hu... Hu... ! Davin pulang Bah, Mi.. ! Anak Abah dan Umi pulang! " ucap nya dengan putus-putus sambil menangis pilu.
Pak lek Rohim juga ikutan menangis tanpa bersuara. Ia ikut merasakan apa yang di rasakan keponakan kandung nya itu. Ia menghapus air mata dengan ujung bajunya.
"Ya Allah... Apa salah aku?? Kenapa baru sekarang engkau pertemukan kami! Apa aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang orang tua kandung ku? Hu... Hu... Hu... ! Rasanya sakit banget ya Allah... ! Hatiku benar-benar sakit tidak bisa memeluk kedua orang tua ku! " ucap Davin pilu mengungkapkan perasaan nya.
Pak lek Rohim mendekati Davin dan ikutan duduk di samping Davin. Ia membawa Davin di pelukannya seraya menepuk pelan punggung Davin yang bergetar karena menangis.
"Yang sabar yo Le... ! Ini semua takdir Allah untuk keluarga kita! Masih ada Pak lek yang akan menggantikan kasih sayang Abah dan Umi mu! Umi mu kakak kandung Pak lek yang sangat Pak lek sayangi! Dan kamu keponakan Pak lek Satu-satunya yang mereka tinggalkan untuk Pak lek! " ucap Pak lek Rohim menguatkan Davin.
"Davin benar-benar terluka Pak lek! Hati Davin sakit seperti di hujam ribuan jarum tak kasat mata! Rasanya Davin gak sanggup menanggung semua ini! " jawabnya dengan nada putus asa.
"Istighfar Le... Istighfar... ! Jangan seperti itu! Abah dan Umi mu pasti sedih mendengar ucapan mu! Pak lek yakin kamu lelaki yang kuat! Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya yang tidak mampu, karena kita mampu lah Allah memberikan cobaan tersebut untuk kita! Jangan suudzon dengan ketentuan Allah Le... ! Kamu harus kuat, ikhlas dan Ridho atas takdir Allah kepada mu! " ucap Pak lek meminta Davin meminta ampun pada Allah.
"Astaghfirullah hal adzim.... Astaghfirullahalazim... ! " ucapnya dengan pelan.
"Ayo kita ke kamar Abah dan Umi mu saja! Kamu istirahat saja dulu di sana! " ajak Pak lek Rohim seraya membantu Davin berdiri.
Mereka berdua berjalan pelan menuju sebuah kamar yang pintunya di cat putih. Bau harum kasturi tercium saat pintu kamar terbuka oleh Pak lek Rohim.
"Ini wangi kesukaan Abah mu! Amay selalu memberikan pengharum ini untuk mengharumkan kamar Abah dan Umi mu! Jika ia rindu kepada mereka, ia akan tidur di kamar ini seolah-olah sedang tidur bersama mereka! Kamar ini selalu Bulek mu yang bersihkan selain Amay jika ia pulang. Tidak ada seorangpun yang di izinkan Amay untuk masuk ke sini kecuali dia dan Bulek mu yang memang di minta untuk membersihkan nya! " ucap Pak lek Rohim bercerita dengan tersenyum kecil.
Davin masih menangis dengan tidak bersuara. Ia berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sana. Ia mengusap pelan kasur tersebut dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
"Ini album foto Abah dan Umi mu saat masih muda dulu ! Dan ini foto mereka bersama Amay dari Amay bayi hingga sekarang ini! Pak lek mau ke kantor dulu, hari ini ada ustadzah yang cuti melahirkan. Jadi, Pak lek akan mengurus surat izinnya dulu! " ucap Pak lek Rohim dengan menyerahkan beberapa tumpukan album foto lama.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat berakhir pekan bersama keluarga..
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...