Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Nasib seorang pria


__ADS_3

Mama Lia bersemangat sekali membenahi pakaian nya yang akan ia bawa ke rumah Izam. Papa Idris hanya geleng-geleng kepala melihat antusias istrinya menginap di rumah putra mereka.


"Ma, kita gak bisa lama-lama loh ya nginap di rumah nya Maliq! Dua hari lagi kan Ara akan datang bersama cucu-cucu kita! " ucap Papa Idris mengingatkan istrinya.


"Papa tenang aja! Mama gak lupa kok! Walaupun cuma dua hari kita menginap di sana, Mama udah bahagia banget, Pa! " jawab Mama Lia dengan santai.


"Syukur deh kalau Mama gak lupa! " sahut Papa Idris lagi dengan lega.


Setelah berbenah hampir satu jam, Mama Lia akhirnya keluar dari kamarnya dengan menenteng travel bag ukuran sedang di tangannya. Senyum nya tidak pernah hilang dari wajahnya dan ia tampak begitu bahagia karena keinginannya bersama sang menantu terkabul, walaupun hanya dua hari kebersamaan mereka.


"Ayo Pa! Mama udah siap ini! " ajak Mama Lia begitu mendekati Papa Idris yang menunggunya di ruang tamu.


"Ayo! " jawab Papa Idris dengan mengambil alih tas tersebut dari tangan Mama Lia.


🌿🌿🌿


Lain hal nya dengan Amay yang begitu senang Mama mertuanya akan menginap, Izam justru sedang misah misuh mengumpati dirinya sendiri yang bicara sembarangan menantang Mama nya dan sekarang ia kena batunya.


"Perasaan ku kuat banget merasakan jika nanti aku yang akan sengsara dengan omongan ku sendiri! Mulut, mulut... Kenapa sih kau tidak mengerem ketika akan berucap? Gara-gara dirimu aku menjadi nelangsa seperti ini! " ucap Izam berbicara sendiri sambil memukul pelan mulutnya.


"Udah deh Bang! Kenapa sih wajahnya di tekuk seperti itu? Jelek banget tahu?? " ucap Amay yang semakin membuat Izam menekukkan wajahnya.


"Sayang, bisa kan kamu ngomong sama mertua kamu itu untuk membatalkan niatnya menginap di rumah kita? Kita kan masih pengantin baru, masa iya udah di recokin sama orang tua? " rayu Izam dengan wajah memelas.


"Astaga Abang?? Sama orang tua sendiri aja seperti itu? Dosa tau ngomong kayak gitu? Kalau kedengeran Mama bahaya tau, bisa-bisa Mama jewer habis telinga Abang! " jawab Amay dengan geleng-geleng kepala.


"Ah kamu mah gak bisa di ajak kompromi, sayang! Emang nya kamu mau usaha kita nyicil bikin baby gagal karena Mama? " ucap Izam dengan bibir manyun.


"Dih, Abang kok pikirannya sampai kesitu mulu! " jawab Amay bersemu merah dan memalingkan wajahnya.


"Cie-cie yang malu-malu.... " ledek Izam dengan gemes menjawil pipi gembul istrinya.


"Apaan sih Abang!! " jawab Amay menepis tangan Izam.


Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu dan Amay dengan bersemangat bergerak ke depan untuk membuka kan pintu untuk mertuanya.


"Assalamualaikum... " ucap Mama Lia dan Papa Idris memberikan salam.


"Waalaikumsalam, Mama, Papa, ayo kita masuk! Bang, bawain nih tas Mama! " jawab Amay dengan tersenyum lebar sambil berteriak memanggil suaminya.


Izam datang dengan wajah lesu dan ia menyalami kedua orang tuanya dengan wajah cemberut.


"Kenapa tuh anak wajahnya kusut kayak gitu? " tanya Mama dengan menyenggol bahu Amay.


"Gak kenapa-napa kok Ma! Biasalah ngambek! " jawab Amay dengan santai.


"Dasar manja! Udah punya istri masih aja ngambeknya di gedein! " sahut Mama Lia mengejek putranya.

__ADS_1


Izam hanya melengos mendengar ejekan Mama nya dan ia langsung mengambil tas Mama nya tanpa berkata-kata.


"Oh ya, Mama bawa makan siang untuk kita! Jadi kamu gak perlu masak untuk makan siang! " ucap Mama dengan bahagia menunjukkan beberapa kotak makanan yang di dalam kantong kertas yang ia tenteng.


"Subhanallah Mama! Amay baru aja mau masak untuk makan siang kita! Mama emang the best deh! " jawab Amay tersenyum lebar.


"Yuk kita ke dapur! " ajak Mama Lia dengan menggandeng tangan menantunya.


Mereka pergi ke dapur tanpa memperdulikan Papa Idris dan Izam yang bengong melihat mereka berdua di cuekin.


"Pa, Papa! " panggil Izam dengan setengah berbisik.


"Apa? Kenapa kamu berbicara berbisik kayak gini? " tanya Papa Idris ikutan berbisik.


"Lah Papa juga! Kenapa ikutan berbisik? " tanya Izam balik.


"Kamu ini, pakai tanya lagi! Ya ikutan kamu tadi lah! " jawab Papa Idris gemes.


"Oh iya iya... " sahut Izam dengan menggaruk kepalanya.


"Apaan sih, kenapa kamu bisik-bisik panggil Papa? " tanya Papa Idris lagi.


"Pa, bisa gak ajak Mama lagi pulang ke rumah! Lihat tuh! Belum apa-apa aja Mama udah memonopoli istri Maliq kayak gitu! Kita di cuekin sama mereka! " ucap Izam dengan wajah cemberut.


"Kamu ngomong sama Mama kamu lah! Jangan sama Papa! " jawab Papa Idris menolak.


"Anak nakal! Papa itu bukan takut sama Mamamu! Papa hanya tidak mau membuat Mama mu sedih! Itu aja! " sahut Papa Idris mengelak.


"Alah, sama aja kali Pa! " cibir Izam dengan sebel.


"Ya beda lah! Emang pernah selama ini omongan Papa gak di dengarkan Mamamu? " ucap Papa Idris membantah.


"Ya... Gak pernah sih! " jawab Izam lagi.


"Nah, itu tahu! Pakek nanya lagi sama Papa! Udah, terima aja apa yang di lakukan Mama kamu! Toh, kami menginap juga hanya dua hari aja! " ucap Papa Idris dengan santainya.


"Apaaaaa??? Dua hari??? Yang serius Pa?? " teriak Izam melompat kaget.


"Ya serius lah, emang ada wajah Papa bilang bercanda! " sahut Papa Idris dengan menunjuk dirinya sendiri.


Izam menggeleng kan kepalanya dan ia langsung terduduk dengan lesu selonjoran di lantai meratapi nasib nya yang harus merelakan istrinya di kuasai sang Mama.


"Nih minumnya Pa, Bang! Ya Allah Abang?? Kenapa duduk di lantai kayak gitu?? " ucap Amay ketika membawakan mereka minuman dan beberapa camilan yang di bawa Mama Lia tadi.


"Udah, Nak! Tidak usah panik dengan tingkah aneh suamimu ini! Biasa itu, ayo kita lihat majalah yang Mama bawa tadi! " jawab Mama Lia yang ikutan Amay mengantar minum ke depan.


Papa Idris tersenyum geli melihat keadaan putranya yang duduk selonjoran dengan wajah lesu dan lunglai.

__ADS_1


Karena kedua orang tuanya menginap di rumah, Izam memutuskan untuk libur berjualan selama dua hari. Ketika saatnya makan siang Mama Lia tetap menguasai Amay bahkan Amay duduk di dekat Mama Lia namun Amay tetap melayani suaminya dan mengambilkan nya makan.


"Nih sayang, dimakan ya? Bagus ini untuk kamu, supaya badan mu selalu sehat dan tidak gampang sakit! Mama sengaja beli makanan sehat untuk kamu! Biar pun makanan sehat tapi rasanya tidak kalah enak! Betul kan? " ucap Mama Lia dengan memberikan beberapa makanan yang tadinya hendak di ambil Izam.


Izam mendengus kesal pada Mama nya, ia begitu menginginkan porsi ikan bakar yang begitu menggugah seleranya namun Mama nya malah merebutnya dan memberikan semuanya untuk istrinya.


Ketika ia ingin mengambil capcay sapo tahu kesukaannya, lagi-lagi Mama nya mengambil nya dan menaruhnya ke piring istrinya.


"Ayo Nak di makan! Jangan malu-malu! " ucap Mama Lia dengan cueknya.


"Ya ampun Mama, ini banyak banget! Gak muat perut Amay makan sebanyak ini! " sahut Amay dengan menelan ludah karena ngeri.


"Ah gampang! Kamu makan aja sampai kamu kenyang! Kalau masih ada sisa kan nanti biar di abisin suami kamu ! Tuh suami kamu pasti masih kelaparan, lihat aja matanya masih jelalatan lihat makanan! " jawab Mama Lia dengan santai nya.


"Astaghfirullah hal adziim ya Allah.... Begini rasanya di anak tirikan oleh ibu kandung sendiri! " ucap Izam dengan mimik wajah sesedih mungkin layaknya orang yang terdzalimi.


"Cih, raja drama banget! "cibir Mama Lia dengan memukul pelan lengan anaknya.


"Habis nya Mama sih, masa anak sendiri di jadiin tong sampah! " jawab Izam membela diri.


"Itu harus, karena jika nanti kalian sudah punya anak, pastinya nanti Amay lah yang akan menjadi tong sampah menampung semua makanan anak kalian jika ia mogok makan. Kayak kamu dan kakak mu dulu waktu kecil begitu! " jawab Mama Lia dengan mata melotot tajam.


"Iya iya... Ngeri banget itu mata! " ucap Izam dengan pasrah.


Amay tersenyum geli melihat suaminya selalu kalah jika bersilat lidah dengan sang Mama. Dengan perlahan ia memakan makanan yang ada di piringnya dan menyuapi suaminya yang seketika di sambut Izam dengan mata berbinar bahagia.


"Ayo Bang, Amay suapi Abang juga! Jadi kita sama-sama makannya! " ucap Amay dengan menyodorkan tangan nya yang penuh dengan makanan.


Izam tersenyum menang menatap Mama nya seolah-olah berkata kalau ia memenangkan perdebatan mereka tadi. Mama Lia mencibir senyuman putranya dengan mulut manyun dan menatap nya dengan hati yang dongkol.


Selesai makan siang, mereka duduk sejenak sebelum melaksanakan sholat dzuhur karena mereka sengaja makan sebelum adzan dzuhur berkumandang. Tidak lama kemudian, terdengar suara adzan dzuhur dari masjid yang tidak jauh dari rumah kontrakan Izam. Papa Idris dan Izam langsung beranjak dan pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur.


Malam harinya, ketika Izam dan Papa Idris duduk di ruang keluarga menonton televisi. Mereka melihat Mama Lia wara wiri di hadapan nya dengan membawa beberapa bantal dan guling ke kamar ia dan Amay tempati.


"Mama ngapain sih mondar-mandir bawa bantal dan guling segala? Emangnya mau taruh di mana itu? " tanya Papa Idris dengan heran.


Mama Lia tidak menjawab, ia tetap berjalan dengan muka melengos dan tidak berapa lama, ia keluar lagi dengan membawa bantal guling serta selimut dan memberikannya kepada Izam.


"Nih, malam ini dan malam besok Mama yang akan tidur dengan menantu Mama! Kamu tidur aja di luar atau gak kamu tidur dengan Papa kamu! " ucap Mama Lia dengan cuek dan langsung pergi sebelum Izam menjawab.


"Apaaaaa????! " pekik Izam dengan melonjak kaget dan langsung terduduk di lantai.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2