Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Alasan yang sebenarnya..


__ADS_3

"Jika itu memang untuk kebaikan si kembar mau gimana lagi! Mudah-mudahan si kembar cepat naik berat badan nya biar bisa pulang bersama kita! " sahut Pak lek Rohim mendoakan nya.


"Aamiin.... ! " jawab mereka semua mengaminkan ucapan Pak lek Rohim.


"Iya Pak lek.. ! Malahan tadi si cantik atau si bungsu membuka mata nya saat hendak di kasih Asi. Mata biru sama seperti Amay Mama nya tapi wajahnya tidak. Si kecil seperti bayi Bule total yang gak ada wajah Indonesia nya! Ia juga sampai menangis saat di bawa perawat masuk kotak inkubator nya! " cerita Izam penuh semangat.


"Benarkah?? Ya Allah, jadi gak sabar pengen ketemu mereka semua! " sahut Bulek Saroh dengan mata berbinar.


"Iya Jeng, saya juga jadi gemes dengar cerita Maliq! Rasanya pengen melihat nya secara langsung! " ucap Mama Lia ikutan gregetan.


"Sabar Mama ku sayang! Makanya Amay harus memakan makanan yang sehat dan bergizi agar Asi nya banyak dan melimpah sehingga si kembar tidak kekurangan sumber makanan nya dan Mudah-mudahan berat badan mereka akan cepat naik. " sahut Izam pada Mama nya.


"Kamu tenang aja sayang, mulai besok kamu akan selalu makan makanan yang sehat dan bergizi! Mama yang akan memasaknya langsung untuk kamu! " Jawab Mama Lia penuh semangat.


"Iya, Bulek juga! Bulek akan membantu mertuamu membuatkan semuanya, Nduk! Si kembar harus mendapatkan gizi yang cukup agar bisa keluar dari kotak itu dan berkumpul bersama kita semua! " sahut Bulek Saroh ikut bersemangat.


Amay tersenyum senang melihat semangat Mama mertuanya dan Bulek Saroh yang sangat antusias agar ia bisa mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.


Lain hal nya dengan Papa Rahman yang kepikiran dengan perkataan Izam tentang anak bungsunya yang wajahnya sangat Bule. Tiba-tiba saja ia kepikiran jika sang cucu tercinta mirip dengan almarhumah istrinya yang Bule tulen.


🌿🌿🌿


Sementara itu di tempat yang berbeda, Davin akhirnya memberanikan diri untuk menemui Ibu nya yang telah merawat dan membesarkan nya selama ini.


Ia datang ke rumah kecil yang dari remaja ia tempati bersama sang Ibu. Ia berjalan memasuki halaman rumah dengan jantung berdebar seperti hendak bertemu calon mertua.


"Tok... Tok... Tok... ! Assalamualaikum! " ucap Davin seraya mengetuk pintu.


Ia mengucap kan salam sampai tiga kali, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali saja karena tidak ada jawaban dari dalam rumah itu.


"Kenapa sepi sekali? Bukankah biasanya Ibu selalu ada di rumah di jam-jam seperti ini? Apa terjadi sesuatu pada Ibu? " batin Davin yang tiba-tiba merasa cemas dan khawatir.


Baru saja mau melangkah pergi, terdengar suara kunci pintu yang di buka dari dalam rumah.


Davin langsung menoleh dan matanya bertatapan langsung dengan mata perempuan paruh baya yang tampak begitu sayu dan cekung seperti sedang sakit.


"Davin.... " ucapnya pelan dengan suara bergetar.


"Ibu... " jawab Davin dengan suara tertahan di tenggorokan.

__ADS_1


"Anakku Davin! Hu... Hu.... Hu... ! Akhirnya kamu pulang Nak! Hu... Hu... Hu... ! " ucap perempuan itu dengan langsung memeluk tubuh Davin yang masih mematung di hadapan nya.


Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Davin dengan tenaga nya yang lemah. Davin masih tetap tidak bereaksi apa-apa, ia hanya diam saja tanpa membalas pelukan Ibu nya yang selama ini merawatnya.


"Maafkan Ibu... ! Seharusnya Ibu tidak merahasiakan semuanya selama ini! Hu... Hu... Hu... Maafkan Ibu Davin! Ibu sangat menyayangi mu Davin! Ibu takut kamu akan meninggalkan Ibu jika tahu kebenaran nya dan semuanya terbukti dengan kamu pergi meninggalkan Ibu! Maafkan Ibu Davin! " ucap nya lagi dengan menangis tersedu-sedu sembari mulutnya terus meminta maaf.


Hati Davin menjadi sakit mendengar permintaan maaf dari perempuan yang selama ini membesarkan dengan penuh kasih sayang. Ia tiba-tiba merasa bersalah telah menghakimi sang Ibu tanpa mendengar terlebih dahulu alasan nya selama ini menyembunyikan siapa dirinya.


Ia membalas pelukan ibunya dengan menangis bersama-sama di depan pintu rumah. Cukup lama mereka berdua saling menangis hingga akhirnya Davin melepaskan pelukannya pada tubuh ringkih sang Ibu.


"Maafkan Davin Bu... Seharusnya Davin yang bisa menahan diri untuk tidak menghakimi Ibu dan melampiaskan kekecewaan Davin pada Ibu! Maafkan Davin Bu... " sahut Davin sambil menyeka air mata di pipi sang Ibu.


"Kenapa Ibu jadi kurus begini? Apa Ibu sakit? Maaf kan Davin yang sudah membuat Ibu seperti ini! " ucap nya lagi dengan tulus.


"Ibu tidak apa-apa Nak! Ibu hanya sedikit demam saja beberapa hari ini dan sekarang Ibu sudah sembuh karena kamu sudah pulang! " jawab Ibu nya dengan mata berbinar bahagia.


"Ayo kita masuk! Ibu akan masak kan makanan kesukaan mu! " sahut nya lagi dengan penuh semangat.


"Gak usah masak Bu! Kita pesan aja kalau makan! Ibu juga masih tampak lemah pakai mau masak segala! " tolak Davin sembari masuk ke dalam rumah.


Mereka duduk di ruang tamu di sofa panjang. Davin merebahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu seperti waktu dulu jika ia sedang bersedih hati.


"Apakah Ibu mau cerita bagaimana Ibu bisa merawat dan membesarkan aku? " tanya Davin dengan pelan.


Flashback masa lalu On..


Siti Martinah itu namanya yang sebenarnya, ia di usir oleh keluarga suaminya pada saat ia mengalami keguguran untuk yang ketiga kalinya. Suaminya yang termakan hasutan keluarga nya membiarkan saja ia saat di dzolimi keluarganya dan di usir pada saat ia baru saja keguguran.


Tinah yang kala itu sedang terpuruk, lemah dan putus asa, menerima saja perlakuan mereka padanya dan pergi dari rumah itu dengan perasaan hancur dan terluka.


Suami yang seharusnya bisa menjadi pelindung dan penjaganya tidak bisa di andalkan sama sekali dan bahkan hanya diam saja melihat ia di perlakukan seperti itu.


Tinah pergi hanya membawa pakaian yang melekat di tubuh nya saja berjalan kaki di kegelapan malam dengan berurai air mata.


Saat melintasi sebuah rumah sakit, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di mushola yang ada di sekitar rumah sakit tersebut untuk melepaskan penat.


Saat ia hendak menutup mata sejenak, ia mendengar suara orang bercakap-cakap di balik sebuah tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari mushola tersebut.


"Ngapain perawat itu malam-malam berbicara dengan perempuan itu di tempat yang sepi seperti ini? Bungkusan apa yang di bawa perawat itu ya? " gumam Tinah dalam hatinya.

__ADS_1


Cukup lama ia memperhatikan dua orang itu dan tak lama perawat tersebut meletakkan bungkusan yang ia bawa tadi di atas tumpukan sampah dan mereka berdua pergi setelah perempuan yang satunya memberikan sejumlah uang kepada perawat tersebut.


Setelah merasa aman dan mereka sudah benar-benar pergi, Tinah mendekati bungkusan tersebut karena ia penasaran dengan isi bungkusan itu. Begitu membuka bungkusan itu, Tinah melonjak kaget ternyata bungkusan itu berisi bayi laki-laki yang masih berlumur darah dan masih lengkap dengan ari-ari nya.


"Astaghfirullah hal adzim ya Allah... ! Bagaimana bisa mereka tega membuang bayi ini di tumpukan sampah seperti ini! Ya Allah... Malang sekali nasip mu, Nak! Kau di buang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab! " ucap Tinah dengan lirih sambil menangis.


Hatinya terenyuh melihat bayi yang tidak berdosa di buang seperti itu. Ia yang mati-matian menginginkan seorang anak menjadi iba dengan nasib bayi malang tersebut.


Ia menyentuh pelan kulit sang bayi dan kaget karena bayi tersebut kulitnya dingin seperti Es.


"Astaghfirullah ya Allah... ! Apakah bayi ini masih hidup atau sudah meninggal? " ucap Tinah dengan wajah terkejut.


Ia cepat-cepat mengambil bayi laki-laki tersebut dan mendekap nya erat di dalam pelukannya. Ia menangis seraya berdoa dengan sepenuh hati di depan mushola meminta keajaiban Allah akan bayi mungil itu.


Ia memasuki mushola dan mengambil sebuah mukena untuk menjadikannya selimut untuk bayi tersebut agar hangat di dalam pelukan nya.


Ia masih berusaha agar bayi tersebut bernapas dan tiba-tiba ia mendengar ada langkah kaki yang mendekati mushola dengan suara orang yang berbicara.


Karena takut ketahuan, Tinah pun segera pergi dari mushola berjalan kaki entah kemana karena tidak ada tujuan. Tiba-tiba hujan turun dengan begitu lebat nya membuat Tinah kalang kabut mencari tempat perlindungan agar ia dan bayi tersebut tidak kehujanan.


Ajaibnya bayi laki-laki itu tiba-tiba menangis dengan begitu kencang di dalam dekapan Tinah saat suara petir menggelegar di atas langit.


"Subhanallah... Terimakasih ya Allah karena bayi ini akhirnya menangis dan kembali hidup! Mulai sekarang kamu akan menjadi anak Ibu dan Ibu akan menjadi orang tuamu Nak! Ibu akan memberikanmu nama Davin Pratama! " ucap Tinah dengan menangis bahagia.


Tinah nekat memasuki sebuah rumah yang sangat besar dan kebetulan pagar nya tidak terkunci. Ia sudah basah kuyup dan takut bayi nya kenapa-napa hingga ia nekat menerobos masuk rumah orang.


"Assalamualaikum... Permisi! Assalamualaikum! " ucap nya sambil mengetuk pintu dengan suara bergetar karena kedinginan.


Ia memeluk erat Davin kecil yang masih menangis kencang di dalam pelukannya.


Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dan keluar sepasang suami istri yang melihat nya dengan pandangan was-was.


"Tolong saya Pak, Bu... ! Kami kedinginan dan anak saya menangis! Tolong kami! " ucap Tinah dengan suara lirih karena pandangan matanya sudah mulai kabur karena kepalanya pusing.


"Bruk.... ! " ia pingsan dengan Davin masih berada di dalam dekapannya.


"Astaghfirullah hal adzim Pa... ! " pekik sang istri kaget sembari menyelamatkan Davin kecil yang masih menangis kencang sewaktu Tinah ambruk ke lantai.


Ia mengambil Davin dari dekapan Tinah dan menggendong nya dan suaminya bergegas memanggil seseorang hingga datang seorang laki-laki seusia Tinah datang mendekati mereka.

__ADS_1


"AllahuAkbar Papa! Bayinya masih ada ari-ari nya! Cepat panggil dokter Pa! Cepetan! " teriak istrinya dengan panik saat membuka bungkusan mukena yang menutup tubuh mungil Davin kecil.


Bersambung...


__ADS_2