
Aulia benar-benar kaget dan tidak percaya jika Davin adalah anak kandung Abah nya Amay. Selama ini ia hanya mengira mirip saja dan tidak terpikir jika mereka benar-benar ada hubungan darah.
"Sebenarnya, pertama kali aku melihat Mas, aku seperti pernah bertemu dan setelah aku pikir-pikir lama sekali akhirnya aku sadar kalau wajah Mas sangat mirip dengan almarhum Abah. Apa lagi kalau Mas tersenyum, mirip banget senyumnya Umi. Tapi aku gak kepikiran sama sekali kalau kalian ada hubungan darah. " ucap Aulia jujur.
"Benarkah.. ??? " tanya Davin sembari melihat ke arah Aulia.
"Hmmmm... ! " Jawab Aulia dengan mengangguk.
Davin kembali melihat ke arah pantai dengan menghirup oksigen lalu kemudian membuang nya.
"Dari aku kecil aku sangat iri melihat teman-teman ku yang bermain bersama ayah mereka. Sedangkan aku hanya bermain bersama Ibu saja berdua. Setiap aku tanyakan kepada Ibu dimana ayah, Ibu selalu berkata jika ayah sudah meninggal dunia. Saat aku remaja aku mulai protes pada Ibu, kenapa tidak ada satupun foto ayah yang bisa aku lihat. Setidaknya aku bisa meluapkan rinduku dengan memandangi foto beliau tapi lagi-lagi Ibu berkata jika mereka tidak pernah berfoto berdua karena mereka menikah diam-diam tanpa restu keluarga. Tidak ingin Ibu bersedih semenjak saat itu aku tidak pernah menanyakan lagi soal ayah.
Saat Pak lek nya Amay mengatakan ia melakukan tes DNA pada kami berdua diam-diam, jujur saja aku sangat kaget. Apa lagi saat membaca hasil tes tersebut. Rasanya duniaku terasa runtuh saat tahu jika aku bukan anak kandung ibuku dan yang paling membuat aku hancur adalah kenyataan kalau kedua orang tua kandung ku sudah pergi untuk selamanya tanpa bertemu dulu dengan ku anak kandung mereka.
Hatiku benar-benar sakit Lia... Sakit sekali... Hiks... Hiks... Aku semakin kecewa saat aku bertanya pada Ibu siapa ayahku, dimana dia, apakah aku ini anaknya atau bukan, Ibu tetap dengan jawaban nya yang dulu. Saat aku bilang aku sudah tahu jika aku bukan anak kandung nya ia juga keukeh mengatakan jika aku adalah anaknya. Aku tidak tahu siapa yang bisa aku percayai Lia! Ibuku atau hasil tes ini.. ! " curhat Davin sambil menangis pilu.
Aulia ikutan menangis mendengar kisah sedih Davin yang begitu menyentuh hatinya.
"Aku tidak tahu Mas bagaimana menghibur mu ! Hanya satu yang aku tahu, bersimpuh lah di hadapan Allah. Minta petunjuk beliau dan minta agar di berikan keyakinan hati dan keikhlasan hati menerima semua kenyataan ini! Mungkin saat ini begitu berat, tapi insyaallah lama-lama akan terbiasa. Mas bisa melihat foto Abah dan Umi di pondok pesantren, di rumah mereka, tempat mereka selama ini tinggal bersama Amay! Kalau Mas mau, aku akan menemani Mas ke sana! " ucap Aulia dengan begitu tulus.
"Benarkah?? Aku bisa ke sana? Aku ingin sekali menenangkan diri sejenak! Untuk saat ini aku masih belum mau bertemu Ibu lagi karena aku takut khilaf dan berkata kasar yang menyakiti perempuan yang sudah membesarkan aku hingga saat ini! Setelah hatiku tenang, aku akan kembali ke Jakarta untuk meminta penjelasan Ibu kenapa ia bisa merawat aku! " sahut Davin dengan raut wajah kembali bersemangat.
"Tentu aja bisa Mas! Pak lek pasti senang Mas mau ke sana dan tinggal di rumah Abah dan Umi. " jawab Aulia dengan tersenyum teduh.
"Tapi bagaimana dengan Amay? Apakah ia tidak marah jika aku memasuki rumah masa kecilnya ia? Aku merasa tidak enak saja karena bagaimana pun itu rumah tempat ia di besarkan selama ini! " ucap Davin agak ragu-ragu.
"Mas gak usah khawatir, Amay bukan orang yang seperti itu! Nanti aku akan bicara langsung dengan nya tentang keinginan Mas mengenal Abah dan Umi di Pondok Pesantren! " jawab Aulia melenyapkan keraguan Davin.
"Baiklah kalau begitu! Mas lega mendengar nya! Oh ya, ayo kita pesan makanan! Perut Mas lapar! Rasanya lega setelah mengeluarkan semua kegelisahan dan kesedihan di hati! Rasanya benar-benar plong! " ucap Davin tersenyum manis.
Hati Aulia berdesir melihat senyuman manis yang tersungging di bibir Davin.
"Ya Allah.... Maafkan aku yang tidak sengaja melihat senyuman manis Mas Davin! Rasanya hatiku meleleh kayak lilin yang di bakar! Duh... Bikin jantung dag dig dug ser... ! " Batin Aulia dengan tertunduk malu.
Davin memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Aulia mengalihkan pandangan nya ke arah pantai agar rasa grogi dan malunya.
"Bagaimana jika habis makan ini kita jalan-jalan di pantai?? Seperti nya menyenangkan berjalan di pasir dengan bertelanjang kaki saja! " usul Davin yang juga melihat ke arah pantai.
"Boleh Mas... Tapi sebentar saja ya karena sudah sangat sore dan beberapa jam lagi maghrib akan datang! " jawab Aulia mengiyakan ajakan Davin.
"Ya sudah, ayo kita makan! Makanan sudah datang! " sahut Davin lagi-lagi dengan tersenyum manis.
Aulia menjadi salah tingkah dan cepat-cepat mengambil makanan nya agar tidak ketahuan sikapnya itu.
πΎπΎπΎ
__ADS_1
Pak lek dan Bulek memutuskan untuk pulang ke kampung bersama anak-anaknya. Mereka berjanji akan datang lagi saat Amay akan operasi sesar beberapa minggu lagi.
Mereka sengaja tidak memberi tahu kan Davin akan kepulangan mereka. Mereka ingin memberikan Davin waktu karena bagaimana pun juga ini begitu mendadak bagi dirinya.
"May.... Gimana dengan keinginan kamu waktu itu?? Apakah sudah ada keputusan?? " tanya Mama Lia pada Amay saat mobil yang membawa Pak lek dan Bulek pulang sudah menghilang dari pandangan mata.
Ia mendorong kursi roda Amay memasuki rumah. Amay menghirup oksigen banyak-banyak sebelum menjawab pertanyaan mertuanya.
"Entahlah Ma... ! Amay sudah meminta petunjuk Allah, hanya saja hati Amay masih ada keraguan! Amay akan minta petunjuk lagi dalam beberapa hari ini! Mudah-mudahan saja ada hasilnya menurut Allah untuk Naura. " jawab nya dengan suara pelan.
"Mama tau kok kalau niat kamu itu baik! Hanya saja perlu di pikirkan lagi matang-matang! " ucap Mama Lia memberikan nasihat nya.
"Iya Mama... ! " jawab Amay tersenyum lembut.
πΎπΎπΎ
Pagi-pagi sekali di apartemen nya, Davin sedang bersiap-siap mengemasi pakaian nya untuk di bawa ke rumah orang tua kandungnya.
Ia percaya jika hasil tes tersebut adalah benar karena Izam sendiri yang memberikan sampel nya pada dokter di rumah sakit milik keluarga Barzakh.
Ia membawa sebuah koper yang berisi pakaian dan album foto saat ia bayi dulu hingga sebesar ini. Foto yang dulu selalu di kumpulkan Ibu nya dan di taruh dalam sebuah album.
Aulia menunggu di rumah pemberian orang tua nya saat ia dan Amay tinggal di Jakarta bersama Zahra kakak sepupunya.
Davin langsung bergegas mengendarai mobilnya menuju ke rumah Aulia untuk menjemput nya. Aulia tersenyum senang begitu melihat Davin keluar dari mobil dengan memakai kaos berkerah lengan pendek warna putih dan celana jeans biru.
"Kenapa diam aja? Ayo masuk! " tegur Davin membuyarkan lamunan Aulia.
"Eh iya Mas... ! " jawab Aulia gelagapan kepergok melamun.
"Duh... Bikin malu banget pakai gak sadar kalau melamun! " gumam Aulia lirih.
"Kamu ngomong apa tadi? Mas gak dengar?? " tanya Davin semakin membuat Aulia grogi.
"Aku gak ngomong apa-apa Mas! Mas salah dengar kali! " jawab Aulia sok lihat kanan kiri.
"Oh... Mas kira kamu ngomong sesuatu tadi! " jawab Davin santai dan menutup pintu yang di sebelah Aulia duduk.
"Selamat... Selamat... ! " ucap Aulia pelan dengan mengusap dadanya saat Davin masih di luar berputar ke pintu yang satunya.
Ia memutuskan untuk menyetir sendiri mobil nya menuju kampung tempat orang tua kandungnya tinggal selama ini.
Mereka hanya pergi berdua saja karena tidak ada lagi seseorang yang bisa di ajak pergi bersama mereka. Davin mengendarai mobil selama hampir tiga jam dengan berhenti dua kali untuk melepas lelah sekalian untuk membeli oleh-oleh.
"Nah, itu gerbang Pondok Pesantren nya keliatan dari sini! " tunjuk Aulia pada bangunan besar yang tidak jauh dari mobilnya berhenti.
__ADS_1
Davin mendadak gugup dan berkeringat dingin, jantung nya berdebar kencang seperti akan bertemu calon mertua saja.
"Kenapa berhenti Mas? Mas gak mau masuk? " tanya Aulia dengan menatap ke arah Davin.
"Lia... Kok aku jadi gugup gini?? Grogi kayak mau melamar anak gadis orang! " jawab Davin dengan mengisap keningnya yang berkeringat.
"Ha... Ha... Ha... ! Mas bisa aja lawaknya! Masa iya mau ke rumah orang tua sendiri aja grogi kayak gitu! " ucap Aulia dengan tertawa kecil.
"Mas serius Lia... ! Kira-kira mereka terima gak ya Mas datang ke sini! " sahut Davin dengan wajah serius dan galau.
"Maaf Mas! Abis Mas lucu sih! Pak lek pasti senang lihat Mas datang ke sini! Masa iya keponakan nya datang untuk pertama kali langsung di usir! " jawab Aulia dengan terkekeh kecil.
"Benar juga ya... Ya udah, aku kita masuk! " ucapnya dengan menjalankan kembali mobilnya memasuki gerbang Pondok Pesantren Al-Mutmainnah.
Bulek Saroh yang baru saja pulang dari pasar berhenti sejenak saat melihat sebuah mobil yang sangat asing di matanya memasuki halaman Pesantren.
"Siapa yang datang ya?? Baru sehari sampai masa sudah ada tamu yang datang! " gumam nya dengan mata yang terus menatap ke arah mobil tersebut.
Ia memperhatikan dari jauh saat mobil tersebut berhenti di depan halaman rumah Abah Amay.
"Kenapa ia berhenti di rumah nya almarhum Kang Eman ya? Jadi penasaran banget siapa itu? Gak mungkin Amay karena Amay di Jakarta! Hanya Amay yang datang langsung menuju rumahnya, tapi Amay gak pernah datang bawa mobil! Siapa ya kira-kira?? " ucap Bulek Saroh bertanya-tanya.
Ia berjalan mendekati mobil tersebut berhenti dan saat seseorang turun dari mobil tersebut ia terbelalak kaget dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Aulia.. / Davin... ! " pekik Bulek Saroh dengan wajah terkejut.
"Abah.... ! Abah.... Abah.... ! Cepetan keluar Bah... ! Cepetan Abah... ! " teriak Bulek Saroh dengan kencang memanggil-manggil suaminya.
Pak lek Rohim yang baru saja pulang dari masjid sholat dhuha langsung keluar dari rumahnya saat mendengar teriakan istrinya dari luar rumah.
Untung saja jarak rumah mereka berdua agak jauh beberapa meter dari asrama santri dan pusat belajar santri hingga tidak mengganggu konsentrasi mereka dalam belajar dengan teriakan Bulek Saroh.
"Ada apa sih Mi??? Kenapa teriak-teriak kayak kebakaran aja! " ucap Pak lek Rohim keluar tanpa melihat kedatangan Davin dan Aulia.
"Itu Bah... ! Itu... ! " tunjuk Bulek Saroh ke arah Davin dan Aulia dengan tersenyum penuh haru.
Pak lek Rohim menoleh ke arah telunjuk istrinya dan ia sama kaget nya dengan kedatangan Davin dan Aulia di kediaman mereka.
"Davin... Aulia... ! " ucap nya dengan tersenyum sumringah.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers ku semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan nya...