Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Comeback


__ADS_3

"Huek.... Huek.... Huek.. "


Izam kembali mual dan muntah selesai shalat subuh karena masih mencium wangi sabun di tubuh Amay. Padahal Amay sudah menjaga jarak dengannya yah walaupun masih dalam satu ruangan.


Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi dan langsung merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak ingin suaminya semakin tersiksa, Amay pun segera keluar dari kamar mereka dan pergi ke dapur melakukan aktivitas nya setiap pagi.


Tepat jam 9 pagi, Izam bangun dan bangkit dari tempat tidur karena cacing di perutnya sudah mulai demo karena belum di kasih makan.


"Sayang, sarapan apa pagi ini?? " tanya Izam dengan membuka tudung saji.


"Amay gak masak Bang! Amay tadi sarapan pakai roti bakar sama selai coklat! Emang Abang mau makan apa? Biar Amay masakin?? " jawab Amay dari ruang tengah.


"Masakin Abang nasi goreng jamur ya sayang? Bikin agak pedes! " jawab Izam sambil berjalan mendekati istrinya di ruang keluarga.


"Lah, tumben Abang mau pedes? Biasanya kalau nongol cabe nya satu bawel nya minta ampun! " ucap Amay dengan heran.


"Entahlah, mungkin bawaan triple Abang kayak gini! " jawab Izam santai sambil duduk di sofa.


"Cih, yang hamil Amay kenapa Abang yang ngidam! " sungut Amay dengan bibir manyun lima senti.


"Kondisikan bibir nya sayang, nanti aku khilaf! " sahut Izam menggoda Amay.


"Ish, gak kayak gini aja Abang selalu nyosor! Dasar modus! Pake bilang khilaf segala! " cibir Amay sambil beranjak menuju dapur.


Izam terkekeh pelan mendengar cibiran istrinya dan ia memencet remot televisi mencari chanel yang ia suka.


Amay memasak nasi goreng pesanan suami nya sambil mengumandangkan sholawat dengan mengusap pelan perutnya yang masih terlihat datar.


Ia sudah mengabari kabar bahagia tersebut kepada Pak lek dan Bulek nya di kampung. Mereka akan ke Jakarta Bulan depan karena Mama Lia dan Papa Idris memajukan tanggal resepsi mereka yang akan di ada kan bulan depan.


Mama Lia sengaja mempercepat resepsi mereka karena ia tidak ingin menantunya di cemooh orang karena di kira hamidun sebelum menikah. Amay dan Izam pasrah mengikuti kehendak Mama Lia karena apa yang di pikirkan Mama Lia rupa nya juga seperti apa yang di pikirkan Bulek Saroh.


Bahkan Mama Lia berkomunikasi dengan Bulek Saroh melalui telepon untuk mengatur bagaimana rencana resepsi mereka begitu Amay selesai memberitahu kabar kehamilan nya.


"Tok.... Tok.... Tok... " suara ketukan pintu yang terdengar sangat keras.


"Aduh, siapa lagi sih yang ketok pintu pagi-pagi gini?? " ucap Izam yang merasa terganggu dengan suara ketukan tersebut.


"Iya, sebentar! " teriak Izam sambil berjalan ke ruang depan.


"Siapa sih!!! " sahut Izam dengan membuka pintu rumahnya.


"Kejutan..... !! Uncle..... " pekik dua bocah sambil meloncat ke pelukan Izam.


"Anak-anak... Kak Ara?? " ucap Izam dengan wajah terkejut.


"Nanti aja ngomong nya, kakak capek! Assalamualaikum!! " jawab Ara dengan masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam dengan keras.


"Ya ampun... Kalian berat banget sih! Makan apa?? Perasaan dulu gak segede ini! " ucap Izam dengan tertatih-tatih menggendong dua keponakannya di depan dan belakang.


Ara melihat di sekelilingnya dan tidak melihat objek yang ia cari-cari.


"Dimana Amay? Kakak mau ketemu Amay? " tanya Ara sambil celingak celinguk mencari Amay.


Belum Izam menjawab, terdengar suara panggilan Amay dari belakang.


"Abang?? Nasi goreng pesanan Abang udah siap ini?? Amay mau jemur pakaian dulu, lupa tadi kalau belum di jemur! " teriak Amay dari dapur.

__ADS_1


Mendengar suara orang yang ia cari, Ara bergegas pergi ke belakang untuk menemui Amay.


"Berhenti!! " ucap Ara lantang ketika melihat Amay hendak mengangkat keranjang cucian.


"Anda siapa?? " tanya Amay dengan wajah terkejut.


Ara langsung mendekati Amay dan memeluk erat tubuh Amay sambil mencium pipi kanan dan kiri Amay dengan gemes.


"Ya ampun... Cantik banget menantu kesayangan Mama! Pantesan banget Mama kepengen banget jadiin kamu menantu nya! " ucap Ara dengan gemes sambil mencubit pipi gembul Amay.


"Kak!! Jangan cubit pipi istri Maliq kayak gitu?? Emangnya pipi Amay untuk di cubit-cubit! " pekik Izam tidak rela istrinya di uyel-uyel kayak gitu.


"Gak usah protes! Bawa keranjang pakaian itu keluar dan cepat jemur! Buruan! " bentak Ara dengan mata melotot kepada Izam.


"Kok jadi aku sih yang kakak suruh! " tolak Izam dengan agak keberatan.


"Nanaz, Syakir, turun dulu yuk Nak! Nanti kita bermain lagi sama aunty cantik yang itu?? Sekarang Mami mau mendisiplinkan uncle Aliq dulu! Turun ya sayang? Kalian nonton televisi dulu di depan! " pinta Ara dengan lemah lembut kepada kedua anaknya yang bergelayut di badan Izam.


"Beneran Mami?? " sahut Nanaz dengan mata hazel nya.


"Beneran sayang! Ayo kalian ke dalam dulu! " jawab Ara sambil mencium pipi anaknya satu persatu.


Setelah kedua anaknya pergi ke ruang keluarga, Ara mendekati Izam dan langsung menjewer telinga adiknya itu dengan sekuat tenaga sehingga membuat Izam memekik kesakitan.


"Dasar adik durjana! Suami minim akhlak, gak punya perasaan! Otak itu di pakai! Percuma saja sekolah tinggi sampai keluar negeri kalau otak nya gak di pakai sama sekali! Sudah tahu istri sedang hamil muda, masih seenaknya menyuruhnya mengangkat yang berat-berat, hah! Kamu memang membuat kakak kesal Maliq!! Ih... Kesel banget kakak di buat nya! Jangan bengong aja! Cepetan jemur itu pakaian! Huh! " teriak Ara dengan geram setelah menjewer telinga adik nya.


"Kakak jahat! Sama kayak Mama! Suka banget melakukan kekerasan dengan adiknya sendiri! Maliq kan gak nyuruh Amay Kak? Lagian kenapa Maliq yang di salahkan sih! Lihat, telinga Maliq sampai merah gini karena ulah kakak! " gerutu Izam membela diri sambil mengusap telinga nya yang terasa panas.


"Gak usah banyak alasan! Jelas saja itu salah kamu yang gak peka terhadap istrinya sendiri! Ngapain lagi masih di sini! Buruan jemur sana! " sahut Ara sambil berkacak pinggang.


"Gak ada! Buruan jemur sana! " tolak Ara dengan tegas.


Izam mau tidak mau mengambil keranjang berisi pakaian yang tadi hendak di jemur Amay dengan wajah kesal dan mulut mengerutu kesal merutuk kakaknya yang sudah mendzalimi nya pagi ini.


"Maaf ya May! Kamu pasti kaget lihat kami seperti ini! Maklum lah anak bungsu jadi kepekaan nya agak kurang karena gak pernah di suruh melakukan hal beginian! Yah, walaupun ia mandiri kalau sendiri. Tapi kalau sudah ada yang bersama nya manja dan pemalas nya kumat! Kayak sekarang ini ! " ucap Ara sambil mengajak Amay ke ruang keluarga.


"He... He... Santuy aja Kak! Orang Amay udah terbiasa melihat Abang sama Mama yang selalu berantem ketika ketemu! Hanya saja Amay kasihan Kak sama Abang yang belum sarapan? Nanti kalau Abang sakit gimana? " jawab Amay terkekeh tapi masih terlihat sedikit khawatir dengan suaminya.


"Alah, gak papa suamimu itu! Dia juga gak punya riwayat sakit maag! Lagi pula gak mungkin jemur baju sampai berjam-jam lamanya! " ucap Ara dengan santainya.


"Oh ya, nama kakak Ara! Kembaran nya Ana! Terus yang paling tua Aini! Mereka berdua akan pulang ketika kalian resepsi nanti! Gimana kehamilan kamu, May? Apakah ada keluhan? " sahut Ara memperkenalkan dirinya sambil bertanya dengan mengusap pelan perut Amay.


"Alhamdulillah sehat Kak! Gak ada keluhan sih, hanya saja makan Amay lebih banyak dari biasanya! " jawab Amay tersenyum senang.


"Alhamdulillah kalau gitu! Kakak jadi iri sama kamu! Kakak sama Ana kembar, tapi anak kami gak ada kembar kayak kami! " sahut Ara dengan wajah cemberut.


"He... He... He... Kakak bisa aja! Kan Amay jadi gak enak banget sama kakak! Kakak jangan iri dong? InsyaAllah kakak akan di berikan anak kembar lagi dengan Allah SWT! " jawab Amay dengan nyengir.


"Gak ah! Kakak gak mau lagi kalau sekarang! Udah cukup dua aja! Gak kebayang kakak repot nya mempunyai anak kembar! Ini aja dua gak kembar repot nya minta ampun, apalagi sampai di kabulkan Allah punya anak kembar lagi! Aduhh bisa-bisa kakak kena hipertensi ngadapin mereka! " celutuk Ara dengan bergidik ngeri.


Ha.... Ha.... Ha.... " Amay tertawa geli melihat Ara yang sudah angkat tangan duluan jika punya anak kembar.


"Udah cukup kamu aja yang mewakilkan kita-kita! Pokoknya kalau ada apa-apa cepat kamu kasih tau kakak! " ucap Ara dengan menggenggam lembut jemari Amay.


"Terimakasih ya Kak, Amay bahagia banget punya keluarga baru yang menerima kehadiran Amay dengan tangan terbuka! " jawab Amay dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Sama-sama! Kakak juga seneng banget punya ipar yang bisa membuat adik tengil kakak itu bucin kayak gini! " jawab Ara di sertai kekehan nya.

__ADS_1


Mereka kembali bercerita sambil menemani anak-anak menonton acara favorit mereka. Izam yang sudah selesai menjemur pakaian langsung pergi ke meja makan dan dengan lahap menghabiskan nasi goreng buatan istrinya yang sudah dingin itu.


"Alhamdulillah kenyang! Yah, walaupun dingin tapi rasanya tidak berbeda sama sekali! " ucap Izam sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.


Setelah makan ia mencuci sendiri piring bekas ia makan, lalu pergi ke ruang keluarga ikut bergabung bersama istrinya dan kakaknya serta kedua keponakan nya.


🌾🌾🌾


Rumah sakit luar negeri..


Seorang perempuan cantik memakai hijab berjalan pelan-pelan di rumput tanpa menggunakan tongkat. Ia tersenyum bahagia karena usahanya sudah menampakkan hasil. Ia langsung terduduk ketika kakinya sudah mulai lelah berjalan.


Ia mengangkat tangannya agar kakak dan dokter yang menangani berlari mendekati nya karena mereka terlihat khawatir kalau kakinya kenapa-napa.


"Stop kakak, Dokter! Anita hanya lelah dan kaki ku tidak apa-apa! Jangan bantu, biarkan aku berusaha sendiri! " tolaknya dengan tegas dengan mencoba berdiri sendiri tanpa di bantu lagi.


Perlahan tapi pasti, ia bisa bangkit berdiri kembali dan berjalan lagi pelan-pelan menuju bangku yang menjadi tujuannya berjalan kaki.


"Good job Anita! Jika kamu selalu bersemangat seperti ini, bukan tidak mungkin dalam waktu satu bulan lagi kamu akan kembali berlari seperti dulu! " ucap Dokter yang menangani Anita dengan tersenyum puas.


"Terimakasih Dokter! " jawab Anita dengan wajah bahagia.


"Kalau begitu saya permisi dulu! Jangan lupa besok terapi lagi seperti biasanya! Tetap semangat! " sahut Dokter tersebut sambil melangkah pergi.


Ahyar duduk di bangku bersama Anita, mereka hanya diam sambil menikmati semilir angin pada sore hari.


"Kamu senang usaha mu berhasil dan tidak sia-sia? " tanya Ahyar tanpa menoleh sedikitpun.


"Iya kak, Anita senang dan bahagia! Karena tidak lama lagi Anita bisa berjalan seperti dulu lagi dan kita akan pulang ke Indonesia! Anita sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba! " jawab Anita dengan wajah berseri-seri.


"Tentu saja kita akan pulang ketika kamu sudah di nyatakan sudah sembuh secara total! " jawab Ahyar ikut tersenyum.


"Ayo kita pulang! Sudah hampir petang! " ajak Ahyar sambil menyerahkan kembali kruk ke tangan Anita.


Anita masih tetap menggunakan kruk karena ia baru bisa berjalan beberapa langkah saja. Mereka berjalan bersisian keluar dari taman rumah sakit dan kembali ke apartemen yang mereka sewa selama tinggal di negara ini.


🌾🌾🌾


Hardi dan Tuan besar Atmanegara saat ini sedang berada di kursi tunggu keberangkatan di Bandara Changi Singapore. Mereka akan bertolak ke Indonesia secara diam-diam tanpa di ketahui orang-orang mereka di Indonesia terlebih lagi musuh mereka yang belum menyadari jika bahaya sedang mengintainya.


"Tuan besar! Apakah Tuan siap berangkat? " tanya Hardi kepada majikannya.


"Tentu saja aku selalu siap, Hardi! Momen ini lah yang sangat aku tunggu-tunggu. Dua puluh lima tahun lebih aku terbaring koma, dan sekarang saat nya aku mengambil kembali milikku yang sudah di curi orang! " jawab Tuan besar Atmanegara dengan penuh semangat.


"Kalau saja kita tidak pergi diam-diam, mungkin Tuan besar tidak akan kepanasan naik pesawat biasa seperti ini! Tuan besar biasanya selalu naik jet pribadi milik keluarga Atmanegara! " ucap Hardi dengan agak sendu.


"Tidak usah sedih begitu, aku tidak apa-apa naik pesawat biasa! Lagipula belum saat nya mereka tahu aku kembali! Tunggu saja saat itu tiba! " jawab Tuan besar dengan santai.


"Iya Tuan, saya juga begitu menantikan saat dimana semua orang tahu jika pewaris sah Atmanegara Group masih hidup hingga saat ini! " ucap Hardi dengan tersenyum kecil.


"Kamu benar Hardi, Ha.... Ha.... Ha.... " sahut Tuan besar Atmanegara tertawa sinis.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜..

__ADS_1


__ADS_2