
Acara yang di tunggu keluarga Amay dan Izam akhirnya tiba, semuanya sudah siap dari tadi pagi karena mereka menggelar acara nya sehabis sholat dzuhur.
Pak Lek Rohim membuka acara dengan pengajian dan doa-doa untuk Amay dan calon bayi yang di kandung nya. Amay sangat cantik dengan balutan setelan gamis syar'i dengan hijab yang warna senada.
Begitu juga dengan Izam yang juga memakai pakaian senada dengan istrinya, duduk berdampingan di atas karpet tebal dengan di apit orang tua masing-masing.
Setelah pengajian dan beberapa tausiah singkat tentang bagaimana proses perjalanan bayi hingga ia lahir menurut islam dan peran seorang ibu untuk anaknya dalam islam, mereka menggelar acara sungkeman.
Amay dan Izam sungkem kepada orang tua masing-masing dengan penuh hikmat dan rasa haru.
Saat Amay sungkem kepada Rahman, Rahman langsung menangis karena tidak dapat menyembunyikan perasaan sedih, bahagia dan terharu karena ia teringat akan mendiang istrinya.
Mereka berdua menangis sambil berpelukan. Rahman berdoa di ubun-ubun kepala putrinya dengan linangan air mata lalu mengecup hangat kening Putri nya dengan penuh kasih sayang.
Semua yang ada di ruangan tersebut ikutan menangis haru momen Amay sungkem dengan ayah kandung nya.
Kemudian mereka bergantian dengan Amay sungkem kepada mertuanya dan Izam sungkem kepada Rahman.
Karena Amay susah untuk berdiri maka Mama Lia dan Papa Idris lah yang mendatangi Amay.
Begitu acara sungkeman selesai, mereka pun menggelar acara siraman dengan berbagai macam jenis bunga.
Amay duduk di bangku single dengan memakai untaian baju dari kembang melati dan juga hiasan di atas kepalanya yang tertutup hijab juga dari untaian jalinan kembang melati.
Proses pertama pun di mulai dengan Izam yang pertama menyiramkan air yang berisi bermacam-macam kembang di dalam sebuah wadah ke atas kepala istrinya, bahu kiri dan kanan.
Kemudian lanjut oleh Rahman, Mama Lia, Papa Idris, Pak lek Rohim, Bulek Saroh, Semua kakak-kakak ipar Amay secara bergantian, dan terakhir Om Hardi ikut menyirami Amay.
Setelah acara siraman selesai, maka Izam menggendong Amay yang sudah basah kuyup untuk berganti pakaian di kamar mereka yang sudah pindah ke lantai bawah sampai Amay melahirkan.
"Apa Tuan Besar masih sedih sekarang? " tanya Hardi saat mereka duduk bersama yang lainnya yang sedang menikmati hidangan kecil.
"Aku tidak sedih Hardi! Hanya saja aku menyalahkan diriku sendiri yang baru mengenal Putri ku setelah ia menikah dan sebesar ini! Rasanya aku ingin sekali protes dengan takdir ini, tapi setidaknya aku masih bersyukur di beri kesempatan hidup hingga saat ini dengan memberikan kasih sayangku kepada Putri kesayangan kami dan juga calon cucu-cucu kami ! Maggie pasti bahagia di atas sana dengan kebahagiaan anaknya yang ia lahir kan dengan taruhan nyawa. " jawab Rahman dengan menghela napas panjang.
"Tuhan itu tidak tidur Tuan besar! Buktinya Nona muda di besarkan dan di asuh oleh orang-orang yang berhati mulia yang tulus menyayangi nya tanpa perduli asal usul nya selama ini! Nona di asuh dan didik dengan baik oleh mereka tanpa pamrih dan di berikan cinta dan kasih sayang yang tulus dari hati mereka! " sahut Hardi dengan bijak.
__ADS_1
"Iya kamu benar! Mereka adalah malaikat yang di kirim kan Allah sebagai pengganti Maggie dan aku yang tidak bisa merawat dan membesarkan anak kami sendiri karena keadaan dan takdir Allah! " ucap Rahman membenarkan perkataan Hardi.
Tidak lama kemudian, Amay datang bersama Izam dengan menggunakan pakaian berwarna mocca berjalan dengan di papah Izam karena Amay kesulitan berjalan sendiri dengan perut sebesar itu.
Mama Lia dan Bulek Saroh langsung menyambut mereka dengan masing-masing memegang lengan Amay kiri kanan.
"Maaf ya Ma, Bulek! Amay jadi ngerepotin Mama sama Bulek gini! " ucap Amay saat ia berjalan bersama Mama Lia dan Bulek Saroh.
"Siapa bilang Mama repot? Justru Mama kasihan dan agak sedih karena gak bisa bantu kamu yang selalu kesusahan untuk berjalan dengan perut sebesar itu! Kamu membawa tiga cucu Mama kemana-mana hingga semua pergerakan mu jadi terbatas! " jawab Mama Lia dengan mengusap lembut perut Amay.
"Au..... Ssshhhh... ! " Amay meringis karena anak-anaknya bergerak aktif saat perut nya di sentuh Mama Lia.
"Ya Alloh Le.. Maafin Oma ya ! Jangan terlalu kencang bermainnya ya Le... Kasihan Mama mu yang kesakitan kayak gini! " ucap Mama Lia lagi dengan mengusap lembut perut Amay.
Perut Amay kembali bergerak dan membuat Bulek Saroh gemes dan ikutan mengusap nya.
"Mereka seperti nya mengerti kalau Mama nya kesakitan kayak gini! Main nya pelan-pelan yo Le... Eyang Uti udah gak sabar menunggu kehadiran kalian semua! Sehat-sehat selalu yo Le sampai lahir nanti! " ucap Bulek Saroh dengan mengusap lembut perut Amay juga.
"Mereka sangat aktif Ma, Bulek! Amay senang dan bahagia dengan pergerakan mereka! Rasanya nikmat meskipun sering kali sakit saat mereka bergerak terlalu kencang! Apalagi saat di ajak bicara, mereka selalu merespon dengan gerakan mereka seolah-olah kami berbincang bersama! " sahut Amay curhat dengan wajah bahagia.
"Subhanallah.... " sahut Amay dan Mama Lia dengan takjub.
"Amay dan Abang insyaallah akan berbakti kepada Papa dan Mama, Bulek! Amay juga ingin nanti anak-anak dan keturunan Amay juga berbakti kepada kedua orang tuanya sampai kapan pun usia mereka! " ucap Amay lagi penuh harap.
"Aamiin.... ! " sahut Mama Lia dan Bulek Saroh dengan tersenyum bahagia.
Karena Amay tidak memungkin kan untuk melakukan tradisi tujuh bulanan adat Jawa, maka setelah acara siraman mereka menggelar acara pertunjukan anak-anak yatim dan panti asuhan anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan bakat-bakat mereka.
Semua anak-anak yang di undang sangat antusias dengan acara tersebut, terlebih lagi dengan kelima cucu-cucu keluarga Barzakh yang semangat sekali melihat pertunjukan anak-anak itu.
Ada yang bernyanyi, ada yang mengaji, ada yang bermain musik, ada yang menari dengan berbagai macam lagu yang sedang hits saat ini.
Para tamu undangan sangat terhibur dengan aksi anak-anak tersebut karena tingkah mereka mengundang gelak tawa siapapun yang menontonnya.
Cukup lama mereka beraksi di depan para tamu undangan dan kegiatan di akhiri dengan ramah tamah dan pembagian bingkisan dan amplop dari tuan rumah. Karena Amay susah untuk berdiri, ia membagikan amplopnya sambil duduk di kursi roda.
__ADS_1
Seorang bocah perempuan berusia sekitar 4 tahun berkata kepada Amay saat ia memberikan amplop nya.
"Tante.... Boleh gak Naura cium dedek bayi yang di perut Tante? Naura pengen juga punya adek? Adek nya laki-laki apa perempuan Tante? " tanya nya dengan kata-kata yang pasih dan jelas.
"MasyaAllah... Pintar banget ngomong nya! Boleh dong sayang, sini cium dedek nya! Dedeknya laki-laki! Dedeknya nanti akan jadi dedek nya Naura juga! Duh gemes nya.... ! " ucap Amay gemes dengan memeluk bocah usia empat tahun tersebut dan mencium pipinya bertubi-tubi.
Naura tersenyum lebar dan mencium lembut perut Amay dengan di balas gerakan bayinya Amay.
"Dedeknya bergerak Tante... ! " pekiknya kegirangan.
"Iya sayang... Itu artinya dedeknya suka di cium kakak Naura! " jawab Amay tersenyum kecil.
Karena antrian sangat panjang, ia pun menyudahi bermain dengan bayi dalam kandungan Amay. Ia segera menyingkir memberikan anak-anak yang lain kesempatan menerima amplop dari Amay.
Izam tersenyum melihat interaksi istrinya dengan bocah perempuan usia empat tahun itu.
Setelah acara pemberian amplop selesai, para pengurus yayasan dan panti asuhan pun ikut bersalaman pada Amay dan Izam selaku pemilik acara tersebut.
"Maaf Ustadzah... Kalau boleh tau anak yang tadi bernama Naura apakah benar berusia 4 tahun? " tanya Amay kepada salah satu pengurus yayasan yang berhijab syar'i tersebut.
"Panggil Umi Dina saja neng Amay... ! Oh, Naura! Iya Neng, usia Naura sekarang ini 4 tahun. Ia anak yang pintar dan cerdas dalam belajar, apalagi dalam menghafal surah-surah pendek! Nasib nya sangat miris, ia di antar ke panti asuhan oleh ibu kandung nya sendiri saat ia baru berusia 2 tahun karena ayahnya meninggal dunia. Ibunya tidak sanggup membesarkan Naura karena tidak punya pekerjaan. Sedangkan keluarga almarhum ayahnya hidup mapan dan kaya namun mereka tidak mau menampung mereka berdua apalagi menafkahi Naura yang notabene keponakan mereka sendiri yang sudah yatim. Ibunya merantau ke luar daerah untuk bekerja mencari uang dan setiap bulan mengirimi Naura uang meskipun tidak banyak. Ia bahkan berpesan jika ada yang mengadopsi Naura ia mengizinkannya karena ia ingin Naura punya keluarga yang utuh agar ia bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. " jawab Umi Dina panjang lebar.
"Astaghfirullah hal adzim... Hu.... Hu.... Hu.... Jahat sekali mereka pada keponakan mereka sendiri yang masih yatim dan baru berusia 2 tahun! Dimana hati nurani mereka membiarkan anak usia 2 tahun berpisah dengan ibu kandung nya sendiri! " ucap Amay dengan menangis tersedu-sedu.
"Sudah sayang... Jangan menangis! Itulah hidup sayang..., ada yang beruntung punya orang tua yang lengkap dan ada yang tidak seperti halnya Naura! Mudah-mudahan Naura bisa menjadi anak yang kuat dan sholehah untuk kedua orang tuanya! " sahut Izam dengan memeluk istrinya dari samping.
"Aamiin.... Betul kata Den Izam Neng Amay! Semua itu sudah di garis kan Allah untuk kita umat nya! Buktinya sampai sekarang Naura sehat walafiat meskipun hidup di panti asuhan dan ia anak yang pintar dan cerdas. Bahkan usia 3 tahun ia bicara pasih dan lancar tidak cadel seperti kebanyakan anak seusianya! " jawab Umi Dina dengan sangat bangga.
"Iya Umi... Amay senang mendengar nya! " ucap Amay dengan tersenyum kecil.
Acara pun selesai dengan pembacaan doa oleh Pak lek Rohim dan semua para tamu undangan pun pulang satu persatu, begitu juga dengan anak-anak panti asuhan dan yayasan anak berkebutuhan khusus juga pulang.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas kembali di hari senin...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...