
Setelah mengatakan semua itu, Bulek Saroh segera pamit pulang karena acara memang sudah selesai dan hanya tinggal makan-makan sambil mengobrol satu sama lainnya.
Beberapa orang juga mengikuti tindakan Bulek Saroh karena sebagian juga tidak terlalu suka bergosip seperti yang sebagian nya lagi yang semakin mengerubungi Bude Maryam.
"Bu Nyai, jangan di ambil hati omongan nya Bude Maryam! Anggap saja angin lalu, lagian kan kita tahu sendiri orang seperti apa Bude Maryam itu! " ucap Ibu yang memakai gamis hitam.
"Iya Bu Tika, hanya saja kadang-kadang saya suka gregetan banget sama mulutnya yang sembarangan aja kalau ngomong! " jawab Bulek Saroh dengan geram.
"Iya tuh Bu Tika, benar banget kata Bu Nyai! Saya aja yang bukan orang tua Ning Amay saja emosi dengar apa yang di katakan Bude Maryam itu! Heran bener saya sama tuh orang! " sambung Ibu-ibu yang lainnya ikutan gemes.
"Sudah Ibu-ibu ! Gak usah di lanjutin ! Gak penting juga, yang ada nanti kita ikut-ikutan mereka ngegibah! Sia-sia dong ibadah kita kalau kita ikutan mereka, yang ada malahan orang yang kita bicarakan mengambil semua perbuatan baik dan amal kita! Ayo Ibu-ibu ucapkan istighfar, supaya gusti Allah memaafkan kesalahan kita yang baru saja! " Tegur Bulek Saroh seraya mempercepat jalannya.
"Ya Allah, untung Nyai ingetin ! Kalau gak bisa-bisa kita sama aja toh kayak mereka! Astaghfirullah hal adziim ya Allah... " ucap salah satu Ibu-ibu dengan mengusap dadanya.
"Untung aja aku masih bisa nahan emosi, ya Allah! Bisa sia-sia amalku kalau aku sampai kebablasan ikutan ghibah! " batin Bulek Saroh penuh syukur.
"Mari Ibu-ibu mampir?? " ajak Bulek Saroh ketika sudah sampai di depan gerbang pesantren.
"Terimakasih, Nyai! Lain kali saja kami mampir! " jawab mereka barengan.
Bulek Saroh baru masuk ke dalam setelah rombongan Ibu-ibu tersebut sudah hilang dari pandangannya.
πΎπΎπΎ
Rumah sakit Pondok Indah.
Aulia pergi ke apotek yang ada di rumah sakit tersebut untuk mengambil obat yang di resep kan dokter yang menangani Zahra.
Ia duduk di kursi tunggu sambil mengamati keadaan di sekeliling nya yang banyak orang yang berlalu lalang tanpa henti.
Dari kejauhan ia melihat seorang laki-laki datang dari arah pintu masuk dengan berjalan sempoyongan sambil memijit keningnya.
"Ya ampun, kenapa tuh cowok jalannya kayak orang mabok gitu? Tapi kenapa seperti meringis ya? Eeeh... Mau jatuh dia! Mbak !! Mas !! Suster!! Tolong?!!! Ada orang yang mau pingsan!!! " pekik Aulia sambil berlari mendekati laki-laki tersebut dan...
"Bruk..... "
__ADS_1
"Tolooong???? Ada orang pingsan!!! " teriak Aulia sambil jongkok dan menepuk pelan pipi laki-laki tersebut.
Beberapa orang berlarian dengan mengambil brankar dan mendekati Aulia yang masih berusaha membangunkan laki-laki itu.
"Permisi Mbak! Biar kami yang akan membawa nya ke ruangan UGD ! " ucap seorang perawat pria bersama dua orang rekannya.
"Eh iya Mas, silahkan! " jawab Aulia dengan wajah malu.
Mereka pun segera mengangkat laki-laki itu ke atas brankar untuk di bawa ke ruangan UGD agar segera di tangani.
Sedangkan Aulia kembali ke kursi tunggu di depan apotek menunggu nama Zahra di panggil sama petugas apoteker tersebut.
"Aulia, Aulia... Malu maluin banget sih jadi orang! Kayak istrinya aja aku tadi berusaha buat sadarin tuh cowok! Tapi, kenapa wajahnya berasa kayak kenal ya?? " gumam Aulia dengan heran seraya berpikir.
"Nona Zahra !! " panggil apoteker dari dalam apotek.
"Iya, Sus! " jawab Aulia cepat dan segera berdiri berjalan menuju celah tempat pengambilan obat yang telah di sediakan di dalam plastik putih.
Aulia mengambil obat tersebut dan memasukkannya di dalam wadah plastik putih yang sudah di sediakan. Setelah mengucapkan terimakasih iapun pergi ke ruangan inap kakak sepupunya Zahra.
Setelah menyerahkan obat tersebut kepada perawat yang selalu standby menjaga dan mengawasi Zahra, Aulia duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat tersebut.
Ternyata yang menghubungi nya adalah Amay yang berkata akan datang menjenguk Zahra bersama Mama mertuanya. Amay pertama kali menjenguk sekitaran seminggu yang lalu bersama suaminya, namun karena suaminya ada keperluan lain ia ditinggal di rumah sakit berdua dengan Aulia. Ia di jemput pulang setelah urusan suaminya selesai dan ia akan menjenguk lagi bersama mertuanya.
"Jadi penasaran aku sama mertuanya Amay, Mudah-mudahan aja bukan mertua yang kayak sinetron ikan lele! "gumam Aulia pelan.
"Astaghfirullah hal adziim.... " ucap Aulia tiba-tiba karena mengingat sesuatu.
"Ya Gusti... Abah Sulaeman! Iya, Abah Sulaeman yang wajah nya sama persis dengan laki-laki itu tadi! Ya Allah... Bagaimana bisa laki-laki itu mempunyai wajah yang sama dengan Abah Sulaeman? Mereka kan pastinya gak saling kenal? Ya Allah... Teka-teki apa lagi ini?? Aku yakin banget kalau wajah mereka itu seperti pinang di belah dua sama persis! Hanya saja laki-laki itu masih muda, mungkin seumuran suaminya Amay! Kalau Pak lek dan Bulek ada di sini dan melihat laki-laki itu pasti mereka akan sependapat dengan ku! Aku harus cari tahu siapa laki-laki itu! "ucap Aulia berpikir sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan rawat Zahra.
Cukup lama Aulia berperang dalam dirinya untuk mencari tahu siapa laki-laki itu. Ia begitu yakin sekali jika ia tidak salah melihat. Tapi, begitu ingat Amay akan menjenguk ke rumah sakit, ia menunda niatnya itu untuk sementara waktu.
"Ya Allah, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu laki-laki itu setelah Amay pulang nanti! " ucap nya pelan dengan kedua tangan di dada.
Tiga puluh menit kemudian, dari kejauhan Aulia melihat sahabatnya Amay datang bersama seorang wanita paruh baya berjalan dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
Ketika sudah mendekat, Aulia di buat kaget karena ia mengenal wajah wanita paruh baya tersebut.
"Tante Lia ??? Kok bisa barengan sama Amay datang kesini?? " ucap Aulia dengan wajah heran sambil menyalami tangan Mama Lia.
"Kan di telpon aku udah bilang Aul akan datang bersama Mama mertua aku! Ya ini lah Mama mertua aku! " jawab Amay dengan santainya.
"A-apa???? Se-serius May?? " pekik Aulia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Iya... " jawab Amay mengangguk.
"Ya Allah... Itu berarti suami kamu itu orang kaya?? " tanya Aulia dengan wajah shock.
"Iya... Aul... " jawab Amay menekankan sekali lagi.
"MashaAllah... Rasanya gak percaya aku dengan kenyataan ini! Ya Allah, May?? Aku senang banget kamu dapat mertua yang baik kayak Tante Lia! " ucap Aulia terharu dan langsung memeluk Amay dengan erat.
"Iya Ul, aku juga masih gak nyangka kalau Mama mertua aku itu Mama Lia! " jawab Amay ikutan terharu.
"Udah, udah !! Kalian ini malah jadi mellow gini sih! Nanti yang ada malah tangis-tangisan lagi! " ucap Mama Lia gemes sama interaksi mereka berdua.
"He.... He.... He.... " jawab mereka berdua dengan cengengesan.
Aulia pun mengajak Amay dan mertuanya masuk ke ruang rawat Zahra. Di dalam mereka saling bercerita tentang perkembangan keadaan Zahra. Mereka mengobrol hampir satu jam lamanya, dan Amay serta Mama Lia pun pamit pulang.
"Terimakasih ya May, Tante, udah datang menjenguk! " ucap Aulia dengan memeluk pelan Amay dan menyalami tangan Mama Lia.
"Iya, Sama-sama! Semoga Kak Zahra cepetan sadar ya Aul! " jawab Amay sungguh-sungguh.
"Aamiin ya rabbal alamiin.... " ucap Aulia lagi.
Amay dan Mama Lia pun pergi meninggalkan ruang rawat Zahra dan berjalan keluar dari rumah sakit tersebut. Ketika melewati poli penyakit dalam, Tiba-tiba ada orang berteriak memanggil nama Mama Lia.
"Eh jeng Lia !!! " panggilnya dengan suara kencang.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya..
Happy nice dream π΄π΄π΄...