
"Kemana sih si Maliq?? Lama bener?? Jamuran Mama lama-lama nungguin nya di sini?? " omel Mama Lia dengan wajah kesal.
"Tadi waktu Amay keluar, Abang baru mandi, Ma! Mungkin sebentar lagi! " jawab Amay membela suaminya.
"Sabar Ma, tunggu aja lima menit lagi! Kalau gak nongol juga kita tinggalkan saja dia di rumah! " jawab Papa Idris pula dengan santai.
"Menunggu itu hal yang membosankan Papa?? " ucap Mama Lia dengan bibir manyun.
Mereka kembali mengobrol sambil menunggu Izam datang dan tampaknya kesabaran Mama Lia sudah di ambang batas.
"Udah 5 menit lewat 15 detik gak nongol juga itu anak! Maunya apa sih!! Ayo sayang kita saja yang pergi! Tinggalkan saja suami kamu itu, gak penting juga! " ucap Mama Lia dengan sangat geram dan kesal.
"Tapi Ma, yang mau di periksa kan Abang? Kenapa malah di tinggal?? " jawab Amay heran.
"Gak penting suami kamu itu di periksa! Gak ngaruh juga! Yang penting itu kesehatanmu yang akan kita periksa!Ayo Pa, buruan! " ajak Mama Lia dengan menggandeng lengan Amay.
Mereka berjalan keluar rumah dan ketika Amay hendak menutup pintu, Izam akhirnya keluar dan berteriak agar tidak meninggalkannya.
"Eh tunggu!! Enak aja main di tinggal!! " teriak Izam dengan agak setengah berlarian.
"Abang lama banget sih?? Ngapain aja?? " tanya Amay penuh selidik.
"Kamu ini! Seneng banget bikin orang kesel! Kamu gak salah ke rumah sakit pakai baju beginian! Emangnya sekarang ini musim dingin pakai sweater segala! " omel Mama Lia dengan melihat Izam dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Emang kenapa?? Orang Maliq lagi kepengen pakai sweater, kenapa Mama yang kebakaran jenggot?? " jawab Izam sengit.
"Kalau di bilangin orang tua, jawab aja! Plak... Plak... Plak... " geram Mama Lia sambil memukul lengan Izam berkali-kali.
"Aduh Mama.... " pekik Izam kesakitan.
"Halah lebay.. Pukul pelan aja teriak-teriak! " sahut Mama Lia dengan ketus.
"Abang yakin pergi ke rumah sakit pakai sweater?? " tanya Amay yang agak sedikit sangsi.
"Yakinlah!! Emang kenapa?? Ada yang salah kalau Abang pergi pakai sweater?? " tanya Izam balik.
Amay menggelengkan kepala nya dan lanjut mengunci pintu rumah.
"Nih, bawa mobilnya! " ucap Papa dengan memberikan kunci mobil ke tangan Izam.
"Emangnya Papa gak bawa sopir?? " tanya Izam agak keberatan.
"Kan ada kamu, ngapain Papa bawa sopir segala! Ayo buruan! " jawab Papa sambil membuka pintu depan.
"Ish Papa, sama aja tingkahnya dengan Mama! " gerutu Izam dengan muka cemberut.
Amay dan Mama Lia juga langsung masuk di bangku belakang. Mobil pun melaju keluar dari komplek perkampungan tempat Izam tinggal menuju jalan ibukota.
"Ke rumah sakit mana kita Pa?? " tanya Izam melirik Papa Idris.
"Rumah Royal Husada! " jawab Papa Idris singkat.
"Kenapa gak ke rumah sakit kita aja, kan agak dekat dari arah kita sekarang! Lumayan gak macet! " tanya Izam memberikan pendapat nya.
"Di rumah sakit kita Dokter perempuan nya lagi pada cuti dan ada juga yang lagi mengisi seminar. Udah, jalan aja! Gak usah banyak protes! " jawab Papa Idris lagi dengan memerintah Izam tetap fokus dengan tujuan mereka.
"Iya, iya... " ucap Izam langsung diam tanpa bertanya lagi.
Karena jalan ramai dan lumayan terjebak kemacetan, mereka sampai di rumah sakit Royal Husada setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit.
"Ayo sayang kita masuk! Papa kamu sudah bikin janji dan kamu tidak perlu antri karena mendapat urutan pertama! " ajak Mama Lia sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
Amay yang merasa baik-baik saja tambah merasa aneh dan bingung, karena yang akan di periksa bukan suaminya tetapi dia sendiri yang akan di periksa.
"Udah, gak usah bingung gitu? Nanti kamu bakalan juga tahu sendiri! " ucap Mama Lia lagi dengan santai.
Mereka berjalan dengan beriringan masuk ke rumah sakit. Sepanjang mereka masuk ke rumah sakit, semua mata memandang Izam sambil senyum-senyum dan bisik-bisik yang mana membuat Izam mengernyitkan kening nya dengan heran.
"Ngapain sih orang-orang, bahkan perawat juga melihat Abang sambil senyum-senyum gitu?? Heran deh! " ucap Izam agak sedikit risih dengan tatapan mereka.
"Jelas aja mereka melihat Abang, coba Abang lihat diri Abang sendiri! Kenapa mereka seperti itu?? " jawab Amay agak sedikit dongkol dengan sikap gak peka suaminya.
Izam sambil jalan melihat dirinya sendiri dan tidak melihat ada keanehan sedikit pun.
"Udah Abang lihat, sayang! Gak ada yang aneh! " jawab nya lagi.
"Ya sudah kalau menurut Abang gak ada yang aneh! Gak usah di peduliin pandangan orang dengan Abang! " ucap Amay keki.
Akhirnya mereka sampai lah di depan tulisan yang teramat besar POLISI KANDUNGAN.
"Kok kita ke sini Ma?? " tanya Amay bingung.
"Iya, ngapain kita ke sini?? " timbal Izam ikutan Amay.
"Udah, diam aja kalian berdua! Ikut aja Mama! " sahut Mama Lia tanpa menjawab pertanyaan mereka berdua.
"Permisi suster?? Saya mau bertemu Dokter Nadia Adi Dharma! Apakah beliau ada?? " tanya Mama Lia kepada suster yang berjaga di samping pintu ruangan praktek.
"Dengan ibu siapa ya?? Apakah sudah membuat janji sebelum nya? " tanya suster itu balik sambil mengambil sebuah buku tebal.
"Sudah bikin janji suster, atas nama Sumayyah! " jawab Mama Lia lagi.
"Oke Bu ! Sebentar ya, saya periksa dulu! " jawab suster itu lagi dengan membuka buku tersebut.
"Oke Ibu, Dokter Nadia sudah ada di dalam. Silahkan Ibu masuk! " ucap Suster tersebut sambil berdiri dari duduknya dan membukakan pintu ruangan praktek Dokter.
"Maaf Dokter, kami masuk semuanya! Saya dan Suami saya ingin melihat secara langsung dugaan kami berdua terhadap menantu kami! " ucap Mama Lia sambil menangkup kedua tangan nya di dada memohon maaf.
"Oh, tidak apa-apa, Bu! Saya sangat memaklumi nya, karena ini bukan yang pertama kali saya alami! " jawab Dokter Nadia tersenyum ramah.
"Ibu Sumayyah, silahkan ke sebelah sana dulu biar di periksa tensinya sama suster sebelum kita periksa lebih lanjut ! " ucap Dokter Nadia seraya menunjuk ke arah kanan ia duduk.
Amay mematuhi perintah Dokter tersebut dengan hati yang bertanya-tanya kenapa malah ia yang di periksa. Izam tidak bisa menerka dan hanya diam saja karena ia tidak tahu mau bertanya apa.
"Dok, tekanan darah Ibu Sumayyah normal, 120/90 dan berat badannya 55. " lapor suster tersebut kepada Dokter Nadia.
"Terimakasih suster! Ayo Ibu Sumayyah! Silahkan anda berbaring di bed ini dan nanti akan di bantu suster juga! " jawab Dokter Nadia sambil mempersilahkan Amay naik ke tempat periksa.
"Panggil Amay saja, Dok! Aneh banget rasanya kalau ada yang panggil nama lengkap saya! " ucap Amay yang berjalan menuju tempat periksa.
"Baiklah kalau itu membuat Ibu nyaman! Ayo Bu, silahkan! " jawab Dokter Nadia dengan ramah.
Amay menaiki bed pemeriksaan dengan di bantu suster yang tadi memeriksa tensinya. Suster yang bernama Anis itu menutup layar gorden hingga menutupi pinggang Amay.
"Tunggu suster! Kenapa kalian membuka pakaian istri saya hingga kelihatan perutnya! Saya tidak suka ada yang melihat aurat istri saya selain saya sendiri! " protes Izam ketika ia mengikuti Amay naik ke bed pemeriksaan.
"Tapi memang seperti ini jika ingin memeriksa Ibu Amay, Pak! lagi pula kami kan sama-sama perempuan, jadi Ibu Amay tidak berdosa melakukannya. " jawab Suster Anis pelan.
"Ya, tetap saja saya gak rela bagian tubuh istri saya terlihat orang lain walaupun sama-sama perempuan! " tukas Izam lagi sehingga membuat Mama Lia berdiri dan menarik Izam kembali ke kursi.
"Bisa diam gak! Gak usah banyak protes! Udah Sus, lanjutkan saja pekerjaan Suster! " ucap Mama Lia dengan melotot tajam kepada Izam dan tersenyum ramah dengan Suster Anis.
"Mama apa-apaan sih! Main tarik aja! " sungut Izam dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Kamu itu yang apa-apaan, bikin malu saja! Udah, diam saja dan lihat serta dengar kan baik-baik apa yang di katakan Dokter! " jawab Mama Lia dengan wajah kesal dengan tingkah anaknya.
Suster Anis kembali melanjutkan tugasnya, ia membuka sebagian perut Amay dan menutup area yang lain dengan selimut. Kemudian ia menaruh gel di atas perut Amay yang membuat Amay kegelian karena dinginnya.
"Sudah siap, Dokter! " ucap Suster Anis setengah berteriak.
Dokter Nadia bangkit dari duduknya dan berdiri mendekati sisi kanan Amay.
"Baik Pak, Bu! Saya akan memeriksa keadaan Ibu Amay! Apakah sesuai dugaan Ibu dan Bapak sewaktu menelpon tadi atau tidak! Jika tidak sesuai jangan lah berkecil hati karena masih banyak kesempatan dan peluang juga masih terbuka lebar untuk mendapatkan kembali keinginan Ibu dan Bapak! " ucap Dokter Nadia mewanti-wanti agar orang tua pasien tidak kecewa.
"Dokter tenang saja! Saya dan istri saya tidak akan sedih ataupun kecewa jika dugaan kami tadi salah! Kami hanya ingin memastikan saja agar lebih jelas lagi! Itu saja! " jawab Papa Idris meyakinkan Dokter Nadia.
"Alhamdulillah kalau begitu Pak, Bu! Untuk suami Ibu Amay, silahkan bawa kursinya agak mendekat sedikit sehingga Bapak bisa melihat layar di sebelah sana lebih jelas lagi! " ucap Dokter Nadia kepada Izam.
Izam mengikuti perkataan Dokter tersebut dengan mendorong sedikit kursinya menghadap layar komputer yang di tunjuk Dokter tadi.
"Baiklah! Ayo kita mulai! Bismillahirrahmanirrahim... Jangan tegang Ibu, santai saja! " kata Dokter Nadia dengan tersenyum kecil melihat Amay yang wajahnya tiba-tiba saja tegang dan grogi.
Dokter Nadia menggerakkan transduser di atas permukaan perut Amay dengan gel yang di taruh Suster Anis sebagai pelumasnya. Ia menekan sedikit transduser ke perut Amay agar mendapatkan apa yang ia cari.
"Alhamdulilah, ternyata apa yang Bapak dan Ibu duga memang benar! Kalian semua bisa melihat di layar kan gambar nya? " ucap Dokter Nadia dengan tersenyum senang.
"Ya Allah!! Beneran Dokter?? Ya Allah... Alhamdulillah Pa, kita punya cucu dan kita akan jadi kakek dan nenek lagi! " pekik Mama Lia dengan wajah sumringah.
"Apa??? Jadi saya hamil Dokter?? " tanya Amay dengan rasa tidak percaya.
"Benar Ibu, Ibu saat ini sedang mengandung! Disini tertera jika kandungan Ibu berusia enam minggu! Kantung janinnya bagus, berat dan besar janinnya juga bagus dan normal sesuai dengan usianya! " jawab Dokter Nadia dengan detail.
"Subhanallah... Alhamdulillah ya Allah... Aku hamil dan aku akan menjadi seorang Ibu! " ucap Amay penuh syukur dan sangat bahagia hingga ia meneteskan air mata bahagia.
"Dokter menipu kami ya?? Mana ada istri saya hamil! Lihat, itu hanya bintik-bintik kecil saja! Bukan bayi seperti yang Dokter katakan! Saya tidak akan tertipu, Dok! Masa bintik-bintik kayak kecambah itu di bilang anak saya! " ucap Izam dengan ketus kepada Dokter Nadia.
"Allahu Akbar, Pa???? " sahut Mama Lia gemes dengan menepuk jidatnya sendiri.
Amay melongo mendengar tuduhan suaminya terhadap Dokter Nadia dan ia seketika malu dengan ketidaktahuan suaminya soal kehamilan dan janin. Dokter Nadia hanya tersenyum dan tidak tersinggung dengan tuduhan Izam. Sedangkan Suster Anis hanya terkekeh geli dengan ketidaktahuan Izam sambil berusaha menahan tawa nya. Papa Idris hanya geleng-geleng kepala melihat kebodohan putra nya itu.
"Bapak Idzam... Bintik-bintik yang bapak sebutkan tadi itulah cikal bakal bayi yang bapak bilang tadi. Ia akan terus tumbuh sesuai dengan usianya hingga nanti ia siap untuk di lahir kan ke dunia ini! " jawab Dokter Nadia dengan ramah.
"Jadi bintik-bintik tadi beneran calon anak saya, Dokter?? " tanya Izam sambil berdiri dengan rasa tidak percaya.
"Benar Bapak! Dan tidak hanya itu saja, dari tadi saya lihat secara berulang kali dan hasilnya tetap sama bahwasanya ada tiga titik janin di rahim istri Bapak! Itu artinya istri Bapak mengandung bayi kembar tiga! " jawab Dokter Nadia dengan tersenyum lebar.
"Apaaaaa????? " pekik Mama Lia, Papa Idris dan Izam barengan.
"Dokter gak salah ngomong dan gak salah lihat?? " tanya Mama Lia dengan rasa tidak percaya.
"InsyaAllah saya tidak salah lihat, Bu! Memang ada tiga titik di janin Ibu Amay yang mempunyai berat yang sama satu sama lainnya! " jawab Dokter Nadia dengan wajah serius.
"Subhanallah ya Allah... Alhamdulillah atas anugerah dan rezeki mu untuk kami ya Allah!! " ucap Izam dengan wajah bahagia dan langsung mendekati Amay dengan menghujani wajah Amay dengan kecupan-kecupan.
"Ya Allah, Pa.... Mama bahagia banget! Ya Allah... Mama masih gak percaya kalau kita akan punya cucu kembar, tiga lagi sekaligus! " ucap Mama Lia sambil berpelukan dengan Papa Idris.
"Iya Ma, Papa juga gak nyangka bakalan dapat cucu kembar tiga! " sahut Papa Idris dengan wajah sama-sama bahagia.
Amay yang masih terbaring di atas bed pemeriksaan menangis haru dan bahagia atas karunia yang Allah berikan pada nya sungguh sangat istimewa. Ia sangat tidak menyangka jika ia dan suaminya akan diberikan kepercayaan secepat ini untuk mendapatkan keturunan.
"Ya Allah.... Terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku dan kepada keluarga baruku! Aku berjanji InsyaAllah akan menjaga amanatmu ini dengan sekuat tenaga ku dan bahkan dengan nyawaku sekalipun. " ucap Amay berjanji dalam hatinya.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
__ADS_1
Happy nice dream 😴😴😴...