Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Klan Atmanegara


__ADS_3

Tepat pukul 16.00 para karyawan di perusahaan yang di kelola Damian sudah mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya beberapa divisi yang masih bertahan karena beberapa karyawan di berbagai divisi lembur hingga jam 22.00.


Beberapa karyawan Cleaning service pun juga pulang. Ada yang mengendarai kendaraan pribadi dan ada pula yang menggunakan angkutan umum seperti angkot dan Bis. Tidak terkecuali Cleaning service yang bernama Rudi, ia pulang menggunakan Bis kota karena rumah nya terbilang cukup jauh dari kantor.


"Pak Rudi, katanya tadi sepulang kerja mau cerita sama saya siapa itu Tuan Rahman! " celutuk pemuda teman seprofesi nya dengan tidak sabaran.


"Soni, soni... Kamu ini tidak sabaran sekali! Belum juga naik ke Bis, nanti kita ngobrol ketika sudah masuk ke dalam Bis! " ucap Pak Rudi dengan jengkel.


Pemuda yang bernama Soni pun memasang wajah cemberut mendengar jawaban Pak Rudi. Tidak berapa lama Bis yang mereka tunggu akhirnya datang. Para penumpang Bis naik secara teratur dan mengambil tempat duduk. Pak Rudi duduk bersebelahan dengan Soni di kursi belakang. Pak Rudi sengaja mengambil bangku paling belakang agar tidak ada orang di belakangnya mendengar apa yang akan ia ceritakan kepada Soni.


"Sebenarnya, jauh sebelum perusahaan tempat kita bekerja di pegang Pak Damian, perusahaan itu di pegang oleh Tuan Muda Rahman Atmanegara. Beliau adalah putra satu-satunya pendiri klan Atmanegara yang mempunyai berbagai jaringan bisnis di seluruh indonesia, mulai dari properti, infrastruktur, dan layanan jasa.


Tuan Besar Rajasa Atmanegara selaku pendiri perusahaan tersebut mempunyai dua orang anak yaitu Tuan Rahardian Atmanegara dan Nona Rania Atmanegara. Karena Tuan Rahardian Atmanegara anak laki-laki satu-satunya, maka tampuk kepemimpinan semua kekayaan klan Atmanegara menjadi miliknya. Tapi Nona Rania juga mendapatkan hak nya sebagai seorang anak perempuan sesuai syariat agama Islam. Tapi suami Nona Rania tidak setuju dengan pembagian tersebut, ia marah dan menuntut Tuan Besar Rajasa memberikan hak yang sama seperti Rahardian kepada Rania istrinya.


Tuan Besar Rajasa menolak dengan tegas tuntutan menantunya itu, ia bahkan mengusir Tuan Kemal Faruk dari kediamannya. Nona Rania juga menolak keinginan suaminya itu, karena ia tahu bagaimana tabiat suaminya jika mempunyai uang yang banyak. Apalagi mereka juga tidak di karunia seorang anak karena Nona Rania mempunyai penyakit susah untuk hamil. Hal itu membuat suaminya gelap mata dan menghamili pembantu mereka yang masih muda sehingga membuatnya mendekam di rumah sakit jiwa karena depresi di gauli majikannya secara paksa.


Nona Rania jatuh sakit karena hal itu, namun ia kembali sehat karena pembantu yang di hamili suaminya melahirkan anak laki-laki yang sehat walaupun ia masih mendekam di rumah sakit jiwa.


Nona Rania memutuskan untuk merawat anak tersebut meskipun mendapat pertentangan dari Tuan Besar Rajasa dan Tuan Rahardian. Tapi karena Nona Rania memohon dengan sangat akhirnya mereka mengizinkan Nona Rania merawat bayi tersebut yang di beri nama Damian Natanegara. Usianya berbeda satu tahun dengan anak laki-laki Tuan Rahardian yaitu Tuan Muda Rahman.

__ADS_1


Singkat cerita, ketika Tuan Rajasa meninggal maka Tuan Rahardian lah yang menggantikan nya. Hingga saat Tuan Rahardian juga meninggal, maka Tuan Muda Rahman lah yang menggantikannya. Tuan Damian tidak terima karena ia tidak mendapatkan apa-apa, padahal semua bagian Nona Rania sudah di berikan kepadanya. Tapi seperti nya sifat rakus dan tamak ayahnya rupanya menurun pada nya hingga kasih sayang dan cinta Nona Rania tidak berarti apa-apa bagi Damian, yang di pikirannya hanya satu yaitu harta, harta dan harta.


Entah bagaimana ceritanya, Tuan Rahman berserta Istrinya yang Bule mengalami kecelakaan hebat yang membuat istri Tuan Rahman melahirkan secara cepat dan di kabarkan bahwa istrinya meninggal bersama anak mereka dan Tuan Rahman juga menghilang saat itu juga. Ada yang bilang ia juga meninggal, dan ada juga yang bilang ia masih hidup. Entah siapa yang benar namun saat ini Tuan Damian lah yang mengisi kekosongan kekuasaan di perusahaan. " cerita Pak Rudi panjang lebar.


"Terus Nona Rania itu kemana Pak Rudi! " tanya Soni dengan serius.


"Nona Rania yang saya dengar memutuskan untuk pergi ke kampung halaman Ibunya di Yogyakarta. Ia memutuskan pergi karena kecewa anak yang ia besarkan dengan cinta setulus hati menjadi anak yang serakah dan tamak, bahkan saya dengar Tuan Damian mengusir Nona Rania dari rumahnya! " jawab Pak Rudi dengan geram.


"Keterlaluan sekali Tuan Damian itu! Air susu di balas dengan air tuba! Tidak tahu berterimakasih jadi orang! " ucap Soni juga dengan geram.


"Itu lah yang membuat saya tidak suka dengan orang itu! Saya hanya bisa berharap Tuan Rahman kembali lagi menjadi pemimpin dan pemilik perusahaan tersebut! " sahutnya penuh harap.


"Emang Bapak yakin jika Tuan Rahman masih hidup? " tanya Soni agak sangsi.


"Oh begitu! Mudah-mudahan saja keyakinan Pak Rudi benar! " sahut Soni lagi juga ikutan berharap.


🌾🌾🌾


Menjelang siang, rombongan keluarga Amay dari kampung akhirnya datang juga di kediaman Barzakh.

__ADS_1


"Subhanallah Bah, besar banget rumahnya Bah! Kayak gedung-gedung yang kita lihat tadi di jalan! " pekik Bulek Saroh penuh kagum ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah keluarga Barzakh.


"Jangan ndeso dong Umi, malu! " celutuk Haikal dengan kesal.


"Lah, Umi kan ngomong jujur Kal! Lagian emang gak boleh jika kita terpesona dengan bangunan yang kayak istana gini! " jawab Bulek Saroh mendelik tajam.


"Iya, boleh! Tapi jangan kelihatan banget kalau Umi itu kagum, malu tau Umi! Sewajarnya aja kalau kagum itu, gak perlu pakai pekikan gitu! " jawab Haikal lagi dengan jengah dengan kelakuan katrok Umi nya.


"Biarin! Umi gak perduli, pokoknya terserah Umi gimana mau mengekspresikan perasaan Umi! " Ucap Bulek Saroh tidak perduli.


"Terserah Umi deh! " sahut Haikal malas.


"Udah, udah, gak usah berdebat mulu! Malu di dengar orang! Ingat, jaga sikap dan tingkah laku kalian di depan orang! Karena ini kita bukan di kampung, kita ini di kota besar yang semuanya bisa melihat dan menilai tingkah laku kita! " lerai Pak lek Rohim dengan memperingatkan mereka semua yang ada di dalam mobil.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan bangunan megah yang menjulang tinggi. Satu persatu mereka keluar dari dalam mobil dengan wajah kagum melihat bangunan megah tersebut.


"Pak lek, Bulek, Haikal, Haura! " pekik Amay dari depan pintu yang sudah terbuka lebar.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2