
Begitu selesai memberikan tendangannya di tulang kering Damian, Merpati langsung masuk ke dalam rumah kakak nya.
Ia langsung menghubungi Hardi melalui sambungan telepon mengabarkan jika saat ini Damian tinggal di sebuah rumah tepatnya di depan rumah kontrakan kakak nya.
Hardi langsung memerintahkan anak buahnya untuk pergi ke lokasi tersebut untuk mengamankan Merpati agar tidak di ganggu Damian karena saat menelpon tadi ia juga memberitahu jika Damian berniat melecehkan nya.
Hardi langsung menghubungi pihak kepolisian untuk memberikan informasi tempat persembunyian Damian. Polisi langsung bergerak cepat pergi ke lokasi yang di berikan sebelum buronan kabur lagi.
Damian yang kesakitan sedang duduk selonjoran di sofa ruang tamu dengan wajah kesal.
"Sialan itu perempuan! Berani-berani nya ia menendang ku hingga sakit begini! Kalau saja ini bukan di tempat persembunyian, sudah aku bawa ia ke rumah ku untuk aku jadikan pelampiasan ku! Sssshhhhh.. ! " ucap nya geram sambil meringis kesakitan.
"Lihat saja nanti, begitu posisi ku aman! Kau akan aku jadikan satu-satunya pelepas hasrat ku sampai aku bosan! Aku tidak perduli kau Kinanti ataupun bukan! " ucapnya lagi dengan penuh dendam.
Ia memejamkan matanya untuk meredakan emosi yang berkecamuk di dadanya. Hingga ia menjadi ketiduran di ruang tamu sampai hari gelap.
Tiba-tiba tepat pukul 7 malam, pintunya di ketuk dari luar dengan begitu kencang. Damian yang baru saja selesai mandi dan berpakaian langsung berjalan ke depan untuk membukakan pintu rumah nya.
Damian yang langsung buka pintu saja melotot kaget melihat beberapa orang polisi berdiri di depan rumah nya. Ia reflek menutup kembali pintu rumah dan berniat kabur, namun salah seorang polisi melihat nya membukakan pintu langsung berlari mendorong keras pintu tersebut agar terbuka kembali.
Damian juga mendorong keras dari dalam agar pintu nya tertutup kembali hingga terjadilah adegan dorong mendorong dari luar ke dalam, dari dalam keluar. Tapi karena Damian seorang diri, maka ia pun kalah karena polisi tersebut meminta bantuan temannya yang lain.
Pintu terbuka dengan Damian terdorong hingga terduduk di lantai.
__ADS_1
"Angkat tangan dan serahkan diri Anda! " ucap polisi tersebut dengan menodongkan senjatanya di depan mata Damian.
Damian pasrah saat dirinya di bantu berdiri oleh polisi yang lain dengan lengan di pegang erat oleh mereka berdua.
Ia di pasangi borgol dengan kedua tangan berada di belakang dan di giring keluar rumah itu menuju mobil patroli yang berada di gang depan.
Sepanjang perjalanan menuju mobil polisi, semua orang yang di sekitar tempat persembunyian Damian ramai-ramai melihat penangkapan tersebut seraya berbisik-bisik satu sama lainnya.
"Gak nyangka ya, kirain baik orang nya soalnya kalau ketemu ramah banget! Ternyata penjahat rupanya! " bisik seorang Ibu yang mempunyai warung kecil tidak jauh dari kontrakan kakaknya Merpati.
"Iya... Walaupun sudah tampak berumur masih kelihatan ganteng, tapi sayang seorang kriminal! " bisik temannya lagi dengan pandangan tidak suka.
Merpati mengintip dari balik gorden jendela kamar kakaknya saat Damian di giring polisi keluar rumah menuju mobil polisi.
Ia langsung memberitahu Hardi jika Damian sudah di tangkap polisi saat ini juga.
🌾🌾🌾
"Ah.... Capek nya... Pinggang ku pegel semua... Leherku jadi kaku! " keluh Aulia dengan menggerakkan tubuhnya kiri kanan sambil duduk.
Karena Amay mudah lelah, ia sendiri lah yang memeriksa berkas para pelamar tersebut hingga sore hari. Ia memutuskan untuk lanjut lagi sehabis sholat maghrib karena Adzan maghrib sudah berkumandang dengan lantang menyeru umat manusia untuk bertemu sang Pencipta.
Izam masih di kantor nya karena ia lembur dan akan pulang setelah Adzan Isya seperti chat WA yang ia kirimkan pada istrinya. Begitu juga dengan Papa nya Amay Rahman yang hari itu juga agak pulang terlambat.
__ADS_1
"May... Amay... ! Udah sholat belum?? " panggil Aulia sambil ketuk pintu dari luar kamar.
"Udah Aul... Masuk aja! " seru Amay dari dalam kamarnya.
Aulia masuk ke kamar Amay saat Amay sedang melipat mukena nya sambil duduk di atas tempat tidur.
"Mau keluar apa tetap di sini? " tanya Aulia sembari duduk di samping Amay.
"Keluar aja! Bosan dari tadi sore rebahan mulu! " jawab Amay dengan wajah jenuh.
"Ayo aku bantu! " sahut Aulia membantu Amay berdiri dan memapahnya ke kursi roda.
Amay menggerakkan sendiri kursi roda nya dengan Aulia berjalan di belakang nya. Mereka menuju ruang santai sembari menonton televisi.
"Gimana?? Udah ada yang cocok belum?? " tanya Amay ketika mereka sudah di depan TV.
"Entahlah... Aku bingung banget dengan beberapa orang ini! Sengaja aku sisihkan beberapa berkas ini untuk di mintai pendapat suamimu! " jawab Aulia agak tidak bersemangat.
"Apanya yang bikin bingung?? " tanya Amay lagi yang memang tidak mengerti.
"Ya bingung aja gitu... ! Pertama, Ada dua kandidat yang dari segi pengalaman nya sangat mendukung sekali dan terlihat bagus, tapi mereka hanya tamatan D3. Sedangkan syarat utama nya untuk yang lulusan S1 atau S2. Terus yang kedua, ada tiga kandidat yang memang ketiganya lulusan S2 di perguruan tinggi ternama tapi pengalaman nya minim dan rata-rata hanya berpengalaman dua tahun saja, sedangkan syarat yang kedua minimal pengalaman selama 5 tahun. Itu yang bikin aku bingung karena dari ke lima puluh berkas ini hanya lima ini yang menurut aku layak di pertimbangan kan. Hanya saja ya itu tadi yang bikin bingung gimana kita memilihnya karena masing-masing punya kekurangan dan kelebihannya! " jawab Aulia panjang lebar menjelaskan.
"Oh... Gitu.. ! Ya udah kalau gitu kita tunggu Abang pulang aja! Tapi Abang pulang nya agak malam ini karena katanya lembur di perusahaan Papa! Atau kita tanya pendapat Papa aja gimana kira-kira?? " sahut Amay memberikan ide.
__ADS_1
"Wah, ide bagus itu! Siapa tahu Papa punya pemikiran yang dapat membantu kita memecahkan masalah ini ! " ucap Aulia dengan wajah sumringah.
"Masalah apa??? " ucap Papa Rahman tiba-tiba datang menghampiri mereka.