Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Akhirnya sold out juga..


__ADS_3

Setelah ramah tamah, Ali yang kebelet buang air kecil meminta izin untuk ke kamar mandi.


"Maaf Tante, boleh gak saya numpang ke kamar mandi?? " tanya Ali dengan agak sungkan.


"Boleh, boleh.. ! Kamar mandi nya di dekat dapur! " jawab Mamanya Aulia dengan menunjuk ke belakang nya.


"Terimakasih Tante... ! " ucap Ali sedikit membungkuk.


Mama nya Aulia mengangguk pelan dengan tersenyum tipis, Ali langsung berjalan menuju kamar mandi karena ia sudah tidak tahan lagi buang air kecil.


Ali langsung masuk ke kamar mandi dan menuntaskan hajat nya. Begitu ia keluar, Annisa yang datang dari arah depan dengan membawa piring kotor bekas ia makan tidak sengaja tersandung kaki orang yang lalu lalang di rumah itu, dan tanpa sengaja menjatuhkan bekas makannya pada pakaian Ali.


"Maaf, maaf.. ! Aku gak sengaja! " ucap Annisa reflek menyentuh dada Ali yang langsung membuat sang pemilik tubuh menjadi tegang, jantungnya berdebar kencang saat sentuhan tangan Annisa di bagian dadanya. Padahal Annisa hanya berusaha membersihkan kotoran yang agak sedikit menempel pada pakaiannya.


"Maaf ya Mas, aku benar-benar gak sengaja! Aduh, gak bisa bersih lagi! " ucap nya lagi dengan wajah merasa bersalah.


Tidak ingin khilaf dan orang-orang tidak salah paham, karena jarak mereka begitu intim jika di lihat dari arah berlawanan, Ali menjauh kan sedikit tubuhnya saat tangan Annisa berusaha membersihkan kembali pakaian nya.


"Tidak usah Mbak, biar saya bersihkan lagi di dalam kamar mandi! " tolak Ali dengan tubuh sedikit menjauh.


"Ah iya, maaf.. ! " ucap Annisa lagi dengan wajah malu karena ia baru sadar jika jarak mereka sedekat ini.


"Mbak, ini sudah tiga kali Mbak meminta maaf! Ntar kalau yang keempat nya dapat hadiah payung loh! " sahut Ali dengan guyonan nya.


"Ah, Mas bisa aja! Kalau gitu saya permisi dulu Mas! " jawab Annisa dengan menundukkan wajah nya yang memerah malu.


Ia langsung berjalan ke depan tanpa menoleh kebelakang karena ia benar-benar malu.


"Duh, bisa-bisa nya tadi jarak kami sedekat itu! Tampan banget.. ! Astaghfirullah hal adzim ya Allah, Astaghfirullahalazim... ! " gumam Annisa seraya menggelengkan kepala nya.


Ia buru-buru mengenyahkan pikiran nya yang sempat teralih kan dengan wajah tampan Rozali yang seperti pria keturunan Arab lain nya.


Sama hal nya dengan Annisa, Ali senyum-senyum sendiri di dalam kamar mandi seraya mengusap baju bagian dadanya dengan air agar noda kotornya sedikit berkurang.


"Cantik.. ! Wajah malu yang kemerahan itu begitu menggemaskan! Kenapa tadi aku tidak menanyakan nama nya ya? Aku harus mencari tahu siapa perempuan cantik itu! " gumam Ali dengan senyum-senyum sendiri.


Setelah merasa pakaian nya agak bersih sedikit, Ia langsung keluar dari kamar mandi dan kembali ke depan bersama yang lainnya.


"Kenapa bajumu seperti itu?? " tanya Davin saat melihat baju Ali ada bercak noda.


"Gak sengaja di tabrak orang tadi Pak, makanya saya bersihin di kamar mandi! Oh ya, ngomong-ngomong selamat ya Pak udah otw menuju halal! " jawab Ali seraya memberikan selamat pada Davin.


"Terimakasih, ! " jawab Davin dengan ramah.


Tiba-tiba perempuan cantik yang tadi menabraknya mendekati mereka yang membuat hati Ali menjadi berbunga-bunga karena bahagia. Ia menatap nya tanpa berkedip bahkan saat perempuan itu berbicara pada atasannya Pak Davin.


"Akang.. ! Kata Ibu, Kang Davin gak mau mampir dulu ke rumah? " tanya Annisa pada kakak sepupu sekaligus kakak tirinya.


"Aduh Sa, bukannya Akang gak mau mampir! Hanya aja kerjaan Akang gak bisa di tinggalkan begitu saja! Bilang aja sama Ibu, Akang minta maaf! Ibu juga pulang gak bilang-bilang dulu! Baru juga ketemu sebentar! " jawab Davin seraya menghela napasnya dengan kasar.


"Ibu tiba-tiba ngeluh pusing Kang ! Makanya Abah langsung buru-buru bawa Ibu pulang, takut Ibu keburu pingsan di sini! Tadi Ibu cuma pamit sebentar sama Mbak Annisa! " sahut Annisa jujur.


"Ya Allah.. ! Emang Ibu sakit Sa?? Kenapa gak bilang? Perasaan tadi ketemu gak kelihatan sakit! " tanya Davin dengan wajah khawatir.


"Gak sakit Kang, selama ini sehat-sehat aja kok! Gak tau kenapa tadi tiba-tiba ngeluh pusing! Ya udah, kalau Akang gak bisa mampir, nanti Nisa sampaikan sama Ibu dan Abah! " jawab Annisa.


"Oke... Kalau Ibu masih belum enakan, langsung bawa aja Ibu ke Puskesmas Sa! Atau gak kamu telpon Akang biar Akang suruh sopir jemput Ibu untuk di bawa ke rumah sakit! " ucap Davin pada Annisa.


"Iya Kang! Kalau gitu Annisa mau pamit juga! Mau ketemu Mbak Aulia dulu! Assalamualaikum! " jawab Annisa seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mata Ali tidak berhenti menatap Annisa hingga menghilang dari keramaian. Hal itu di sadari oleh Davin dan tiba-tiba terbesit di kepala nya untuk menjodohkan adiknya itu pada Ali, toh biar Ali gak dekat-dekat Aulia lagi.


"Ekhem.... Ingat! Zina mata! " tegur Davin dengan berdehem keras di dekat telinga Ali.


"Astaghfirullahalazim... ! " ucap Ali kaget seraya mengusap dada nya.


"Kamu suka sama adik saya! " tanya Davin tanpa basa basi.


"Suka.. Eh apa Pak! " jawab Ali dengan muka gelagapan karena keceplosan.


"Itu Annisa! Adik sepupu sekaligus adik tiri saya! " ucap Davin memberitahu tanpa di tanya.


"Adik sepupu sekaligus adik tiri?? Maksudnya apa Pak?? Saya gak ngerti! " tanya Ali dengan raut muka bingung.


"Ckck... Annisa itu anak Pakde saya! Kakak sepupu nya Abah kandung saya! Nah karena duda, Pakde saya menikahi Ibu yang merawat saya dari kecil! Jadi kan adik sepupu sekaligus adik tiri! Ngerti kan, ngerti dong! " jawab Davin secara mendetail.


"Oh gitu.. ! Ngerti Pak! " sahut Ali dengan senyuman cerah di wajah nya.


"Saya bisa kok bantuin kamu dekat dengan adik saya! Tapi bukan pacaran ya? Karena pacaran itu haram! " ucap Davin lagi.


"Beneran Pak! " sahut Ali dengan mata berbinar karena ada jalan pintas atau jalan tol.


"Emang nya muka saya ini muka bercanda! " ucap Davin dengan menunjuk wajah nya sendiri.


"Nggak sih Pak! Saya cuma takut Bapak php in saya aja! " jawab Ali dengan wajah cengengesan.


"Dasar! Ya sudah, nanti saya dekatkan kalian saat pernikahan saya nanti! " ucap Davin dengan wajah jengkel.


"Yah, kelamaan dong Pak nunggu tiga bulan lagi! Ntar keburu di lamar orang! " sahut Ali agak keberatan.


"Berarti gak jodoh kamu kalau Annisa di lamar orang lain! Lagian kamu pikir saya gak kelamaan nunggu tiga bulan itu?? Saya protes tadi tapi malah saya yang di marahin! Pokoknya kamu tunggu aja tiga bulan lagi kalau masih mau sama Annisa dan kalau Annisa juga masih jomblo! " jawab Davin mendengus kesal.


"Ya Allah... ! Jodohkan hamba mu ini dengan perempuan sholehah bernama Annisa Wulandari Binti Soleh.. Jika ia bukan jodoh ku, maka jodohkan lagi ya Allah sampai kami benar-benar menikah karena-Mu! Aamiin.... !" batin Ali berdoa dalam hati.


Davin kembali ketengah-tengah keluarga nya yang masih membahas persiapan pernikahan mereka. Ia tidak diperkenankan untuk mendekati calon istrinya, ia hanya bisa melihat dari jauh saja.


Izam yang baru saja selesai video call dengan istri tercinta langsung duduk di sebelah Davin.


"Cie... Cie... Otw menuju halal nih ye.. ! Akhirnya sohib gue sold out juga! Kirain jomblo mulu sampai gue punya mantu! " ledek Izam dengan merangkul bahu Davin.


"Sue lu... ! Masih lama pea! Tiga bulan lagi! Herman gue sama nasib gue! Elu nikah sama Amay secepat kilat! Emak gue juga nikah secepat kilat! Eh giliran gue kenapa kayak siput? Lama amat! " gerutu Davin yang gondok setengah mampus.


"Hahahaha.... Nasib elu Bro! " jawab Izam tergelak kencang.


"Kayak nya seru! Lagi ngomongin apa! " seru Fahri ikut bergabung dan duduk di sebelah kanan Davin.


Alhasil Davin duduk di tengah-tengah mereka berdua.


"Elu juga, kapan ikut nyusul Davin? Masa iya nunggu gue mau mantu dulu baru nikah! " ucap Izam to the point.


"Iya, gue mau jadi mantu elu! " jawab Fahri asal.


"Eh pea! Sembarangan itu mulut! Gue gak mau itu jadi doa! Gue gak mau punya mantu bangkotan kayak elu! Masa iya anak perawan gue masih cantik melebihi bidadari nikah ama Aki-aki renta kayak elu! Ogah gue! " ucap Izam sewot lengkap dengan mata melotot hingga mau keluar.


"Hahahaha... ! " giliran Davin yang tergelak kencang mendengar kekesalan Izam.


"Seru juga tuh, Seorang Idzam Maliq Barzakh menikahkan anak perawan nya sama laki-laki bangkotan usia 50 tahunan! Hahahaha.. ! " Davin tertawa geli dengan begitu kencang.


"Sue lu.... ! " ucap Izam dan Fahri barengan dengan sama-sama menoyor kepala Davin.

__ADS_1


Semua mata melihat kehebohan mereka bertiga yang untung nya duduk di pojokan dan bukan di tengah-tengah keramaian.


Mereka bertiga masih mengobrol unfaedah yang Kadang-kadang saling toyor menoyor sesama mereka bertiga.


Sementara itu di lingkungan Pondok Pesantren, Desas desus jika Davin anak kandung Kyai Sulaeman dan Nyai Hafizah mulai berhembus kencang hingga di masyarakat sekitar Pondok Pesantren.


Hal itu juga sampai di telinga Bude Maryam yang selama ini berusaha mengambil alih Pondok Pesantren.


"Apa benar kabar yang berhembus sekarang ini Imas?? " tanya Bude Maryam pada mata-mata nya selama ini.


"Benar Nyai! Semua orang lagi membicarakan semua itu! Apalagi saya dengan kalau Pak Kyai juga melakukan tes-tes yang mengatakan semua itu benar! " jawab Imas masih dengan wajah menunduk.


"Kurang ajar! Ini tidak bisa di biarkan! Selama ini anak pungut itu yang mendapatkan semua nya dan sekarang datang lagi yang ngaku-ngaku sebagai anak kandung! Aku harus secepatnya mengambil alih Pondok ini dan menjual nya pada orang china di kota! " ucap Bude Maryam dengan geram.


"Bagaimana pun juga, Pondok Pesantren ini ada hak nya Mas Syafi'i yang tidak lain anaknya Abah Zakaria, meskipun Mas Syafi'i hanya anak tiri! Tapikan tetap aja Mas Syafi'i anaknya Abah Zakaria karena Abah Zakaria menikahi Ibu nya! Aku tidak bisa berdiam diri dan aku harus melakukan sesuatu untuk menghalangi bocah kemaren sore itu masuk ke lingkungan Pondok Pesantren ini! " ucap Bude Maryam dengan tekad yang kuat.


Imas yang bekerja sebagai pembantu di bagian dapur Pondok hanya menundukkan kepalanya, ia takut karena mendengar suara menyeramkan Bude Maryam yang sangat berambisi mengambil Pondok Pesantren.


Ia bahkan punya segudang rencana untuk datang ke Pesantren guna mengambil alih Pondok Pesantren dari tangan Pak lek Rohim dan Amay. Ia tidak tahu saja jika surat wasiat Abah Sulaeman sudah di sah kan notaris dan pengadilan oleh salah satu kenalan Pak lek Rohim di kampung sebelah.


Ibu Tinah yang sudah berada di rumah nya tiba-tiba merasa perasaan nya gelisah, was-was, serta khawatir pada Davin.


Ia bolak-balik di atas tempat tidur dengan mata masih melek dan tidak bisa tidur karena perasaan itu.


"Ngopo toh Dek?? Mas lihat kamu kok gelisah gitu?? Ada apa lagi?? Kepala mu masih pusing atau ada lagi yang sakit?? " tanya Pakde Soleh yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Ia yang mengambil air minum langsung meletakkan teko dan gelas di atas meja kecil samping tempat tidur.


Perlahan ia duduk di samping kepala sang istri yang masih gelisah dengan wajah yang sulit di artikan.


"Adek gak papa kok Mas! Kepala nya ndak pusing lagi! Hanya saja adek tiba-tiba kepikiran Davin! Entah kenapa perasaan adek gak enak kayak gini? Adek takut terjadi sesuatu sama Davin? " jawab Ibu Tinah jujur.


Pakde Soleh membelai rambut panjang istrinya itu dengan lembut seraya berkata pelan.


"Itu hanya perasaan kamu aja! Jangan sampai karena pikiran mu itu bikin kamu jadi sakit! Mas paham kok kalau kamu mengkhawatirkan pernikahan Davin, tapi Mas yakin jika Allah selalu melindungi orang-orang yang kita sayangi! " sahut Pakde Soleh dengan lemah lembut.


"Adek bukan mengkhawatirkan pernikahan Davin Mas.. ! Adek khawatir dengan Davin nya?? " ucap Ibu Tinah protes.


"Oh... Mas kira kamu khawatir dengan pernikahan Davin yang masih agak lama itu! Jangan terlalu di pikirkan sayang! Berdoa lah agar perasaan kamu itu hanya perasaan berat seorang Ibu yang melepas anak nya menikah! Bukan yang lainnya! Mas gak mau kamu sakit hanya karena cemas yang berlebihan! Kita berdoa sama Allah agar anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah SWT! " sahut Pakde Soleh lagi dengan lembut.


"Aamiin ya rabbal alamin! " ucap Ibu Tinah mengaminkan doa suaminya.


"Terimakasih ya Mas... Aku beruntung punya suami penyayang seperti kamu! Aku bahagia menjadi istri mu! Allah benar-benar memberikan aku kebahagiaan di penghujung usia ku ini! " ucapnya lagi dengan menatap wajah suaminya dengan tatapan hangat penuh cinta.


"Terimakasih juga sudah mau menerima lamaran duda tua seperti Mas! Mas juga bahagia dan beruntung punya istri dan Ibu yang penyayang seperti kamu! " jawab Pakde Soleh juga dengan membelai pipi istrinya.


"Iya Mas sama-sama! " ucap Ibu Tinah dengan mencium tangan suaminya.


"Bolehkah Mas meminta nya hari ini sayang?? " tanya Pakde Soleh yang menatap wajah istrinya dengan penuh hasrat.


Ibu Tinah mengangguk pelan dengan tersenyum bahagia pada suaminya.


Bersambung...


Jiah.... Pengantin kadaluarsa mulai jab jib jub lagi mengalahkan calon pengantin 🤭🤭🤭..


Duh, Bude Maryam mau bikin ulah apa lagi yah😤😤😤bikin othor gregetan pengan cubit ginjal nya 😠😠😠


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya🤗🤗🤗

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍


__ADS_2