Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Berkah di balik musibah.


__ADS_3

Pakde Soleh berlari di luar langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Pak lek Rohim dan terkejut melihat istrinya terkapar di lantai dengan kepala di pangku Annisa anak nya.


"Abah... Cepetan angkat Ibu ke mobil! Ibu berdarah Abah! " teriak Annisa dengan menangis kencang.


"Apa??? " teriak Pakde Soleh juga kaget dan langsung menggendong istrinya sambil berteriak memanggil Ujang.


"Ujang... ! Cepetan hidupkan mobil! " teriak Pakde Soleh sembari berjalan cepat dengan menggendong istrinya yang makin pucat dan meringis kesakitan.


"Kau harus bertanggung jawab Mbak! Pak Ustadz dan Ustadzah saya minta kesediaan kalian untuk menjaga mereka semua yang ada di rumah ini agar tidak ada yang keluar dari rumah ini sampai polisi datang! Dan saya tidak peduli anda polisi daerah mana dan jangan bertindak yang macam-macam jika masih ingin hidup! " ucap Pak lek Rohim dengan tatapan yang menghunus seperti pedang.


"Bah, mendingan Abah tetap di sini sampai Davin datang! Umi sudah mengirim pesan pada Davin, dan mungkin sekarang ia langsung ke sini! Biar Umi dan Annisa yang menyusul Mbak Tinah! Jangan biarkan perempuan jahat ini pergi meskipun jika ia ingin ke toilet sekali pun! " usul Bulek Saroh dengan mata memerah karena menangis.


Bude Maryam masih shock dan terlihat ketakutan melihat perempuan yang ia dorong tadi keluar darah dari sela-sela kakinya. Tidak hanya Bude Maryam, dua polisi gadungan yang ia bawa juga tampak ketakutan saat Pak lek Rohim bilang akan memanggil polisi, begitu juga dengan tiga orang yang juga ikut bersama Bude Maryam sama pucat nya karena ketakutan.


"Usul yang bagus Umi.. ! Abah akan tetap di sini mengawasi mereka semua! " jawab Pak lek Rohim mengangguk paham.


"Ayo Nisa kita susul Abah dan Ibumu! " ajak Bulek Saroh dengan menarik tangan Annisa.


"Jika terjadi sesuatu pada Ibu, saya tidak akan tinggal diam Bude! " ancam Annisa dengan mata nyalang menatap Bude Maryam sekilas sebelum keluar dari rumah Bulek Saroh.


Sementara itu Pakde Soleh berusaha menyadarkan istrinya yang pingsan di dalam mobil. Baju Pakde Soleh penuh dengan darah dari gamis bagian bawah Ibu Tinah.


"Ya Allah sayang! Buka mata kamu dan jangan bikin Mas takut! " ucap Pakde Soleh dengan hampir menangis.


"Cepetan Ujang bawa mobil nya! " teriak Pakde Soleh dengan sangat panik.


"Iya Tuan! " jawab Mang Ujang patuh.


10 menit kemudian mereka sampai di Puskesmas dekat pasar yang lumayan jauh dari Pondok Pesantren, kira-kira sekitar 30 menit jaraknya jika memakai mobil.


"Tolong.. ! Tolong istri saya! Tolong.. ! " teriak Pakde Soleh saat mengeluarkan Ibu Tinah dari dalam mobil.


Salah satu petugas kesehatan di Puskesmas langsung mendekat dan meminta Pakde Soleh membawa istrinya masuk ke ruang darurat untuk di tangani.


"Ayo Pak bawa ke ruang gawat darurat saja! Kebetulan Dokter nya sedang ada di dalam! " ucap petugas tersebut pada Pakde Soleh.


Ibu Tinah di letakkan di bed pembaringan untuk di tangani. Pakde Soleh menunggu dengan wajah cemas dan tangan yang gemetar takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Kira-kira kemana Abah kamu bawa Ibu mu Nisa? " tanya Bulek Saroh saat mereka di dalam mobil.


"Kemungkinan besar nya ke Puskesmas Bulek! Soalnya terlalu lama jika ke rumah sakit kecamatan yang jarak tempuh nya satu jam! Takutnya nanti Ibu kenapa-napa di jalan jika kelamaan! " jawab Annisa menduganya.


"Benar juga ya! Buruan Mang kita ke Puskesmas! " ucap Bulek Saroh sambil memberikan perintah pada sopir nya.

__ADS_1


"Ada gunanya juga Davin memberikan kita mobil di kampung ini! " gumam Bulek Saroh lirih.


Davin yang baru saja selesai meeting langsung pergi setelah pamit pada Izam dengan diantar sopir kantor.


"Kabari gue ketika elu sudah sampai sana! " teriak Izam begitu Davin masuk ke dalam mobil.


Davin hanya memberikan jempol nya, ia komat kamit berdoa agar Ibu nya tidak kenapa-napa. Ia juga menghubungi polisi sesuai permintaan Bulek nya meskipun ia belum sempat bertanya untuk apa bawa polisi ke sana. Untung saja ia punya kenalan di polres, jadi ia bisa meminta mereka ikut ke kampung nya sesuai permintaan sang Bulek.


Annisa dan Bulek Saroh sudah sampai di halaman Puskesmas dan langsung berlari menemui Pakde Soleh yang mondar mandir di luar dengan wajah cemas.


"Abah/Kang Soleh! " panggil mereka berdua barengan.


"Annisa, Saroh! " gumam Pakde Soleh lirih tapi masih kedengaran oleh mereka berdua.


"Gimana keadaan Ibu, Bah! Apa kata mereka? " tanya Annisa dengan mata merah dan sembab.


"Abah belum tahu Nis! Ibumu masih di tangani di dalam! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu mu bisa sampai seperti itu??" jawab Pakde Soleh sambil bertanya pada mereka berdua.


"Nisa juga gak tau Bah! Tau-tau saja Ibu sudah terjatuh dan meringis kesakitan! " jawab Annisa jujur.


"Ini salah saya Kang! Seandainya saya cepat menyadari saat Mbak Tinah mau jatuh dan menahannya, mungkin Mbak Tinah gak akan sampai jatuh ke lantai dan pendarahan gini! " ucap Bulek Saroh menyalahkan dirinya.


"Apa maksud kamu Saroh?? " tanya Pakde Soleh dengan wajah memerah menahan amarah.


Bulek Saroh pun menceritakan saat Ibu mendekati Bude Maryam dan memegang tangan nya seperti memastikan sesuatu. Bude Maryam marah karena di sentuh Ibu Tinah hingga mendorongnya hingga perut nya terbentur lengan kursi dan jatuh tersungkur. Kejadian yang begitu cepat membuat semua orang kaget dan tidak sempat menahan Ibu Tinah untuk tidak terjatuh di lantai.


"Gak kapok-kapok nya si Maryam itu mencari masalah! Jika terjadi apa-apa pada istriku, aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membalas nya! " ucap Pakde Soleh dengan dada naik turun karena emosi.


"Istighfar Kang! Saya sudah menghubungi Davin dan memintanya membawa polisi! Abah nya anak-anak juga masih di rumah menahan Mbak Maryam dan rombongan nya untuk tidak kabur sampai Davin datang bersama polisi! " sahut Bulek Saroh mengingatkan Pakde Soleh untuk nyebut.


"Iya Bah! Jangan biar kan amarah Abah menghancurkan semuanya! Jika Abah melampiaskan nya dengan kekerasan maka mereka juga bisa menuntut balik kita dengan alasan kekerasan! Biarkan polisi yang bekerja! Nisa yakin Kang Davin tidak akan tinggal diam dan membiarkan pelakunya lolos begitu saja! " ucap Annisa menenangkan Abah nya.


"Iya Kang! Benar kata Annisa! Yang terpenting sekarang kita fokus untuk Mbak Tinah! Kita berdoa semoga Mbak Tinah gak kenapa-napa! " sahut Bulek Saroh membenarkan ucapan Annisa.


Pakde Soleh mengangguk seraya beristighfar pelan dengan memejamkan matanya sejenak untuk meredakan amarah di dadanya.


"Keluarga Ibu Siti Martinah! " panggil salah satu petugas Puskesmas keluar dari ruangan.


"Iya Mbak, Saya suaminya! "


"Saya anaknya Mbak! "


Pakde Soleh dan Annisa bergegas menemui petugas tersebut dengan Bulek Saroh ikut di belakang mereka.

__ADS_1


"Silahkan masuk karena Dokter mau bicara! " ucap petugas tersebut dengan ramah.


Mereka bertiga masuk ke dalam ruang gawat darurat dan terlihat Ibu Tinah berbaring di bed dengan tangan di beri infus.


Pakde Soleh dan Annisa duduk di kursi sedangkan Bulek Saroh berdiri di belakang Annisa. Mereka duduk di hadapan Dokter yang menangani Ibu Tinah.


"Maaf Pak! Kami di sini hanya melayani sekedarnya saja karena minim nya petugas dan peralatan. Kami berhasil menghentikan pendarahan yang di alami istri Bapak! Jika saja terlambat setengah jam saja, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungan istri Bapak karena kehilangan banyak darah. Saya saran kan untuk di bawa ke fasilitas kesehatan yang peralatan nya lengkap untuk di tangani lebih lanjut lagi. Apalagi di sini tidak ada Dokter spesialis kandungan, hanya bidan saja yang ada di sini! Jika Bapak mau, pihak Puskesmas bisa menyediakan ambulans untuk membawa istri Bapak ke rumah sakit yang besar dan lengkap fasilitas nya! " ucap Dokter tersebut panjang lebar.


"Ja-jadi maksud Dokter istri saya hamil?? " tanya Pakde Soleh dengan wajah tidak percaya.


"Benar Pak! Jika pemeriksaan saya tidak salah sudah terdengar detak jantung nya dengan alat kebidanan ini! Dan perkiraan saya sudah hampir 10 minggu atau dua bulan setengah! Makanya untuk memastikan nya lagi, istri Bapak harus menjalani pemeriksaan USG untuk memastikan usia kandungan dan memantau keadaan janin! " jawab Dokter itu lagi pada Pakde Soleh.


"Subhanallah Bulek! Nisa benar-benar jadi seorang kakak! Ibu hamil, Bulek! " ucap Annisa dengan menggenggam tangan Bulek Saroh.


"Iya Nis, Bulek juga dengar! Alhamdulillah ya Allah.. ! Selamat ya Kang! " sahut Bulek Saroh dengan tersenyum bahagia.


Pakde Soleh menangis tersedu-sedu di hadapan Dokter dengan berita kehamilan istrinya. Ia tidak menyangka di usia yang tidak lagi muda ia akan mendapat kan anak lagi dari istri nya yang sekarang.


"Terimakasih ya Allah... ! Terimakasih atas rezeki, nikmat dan karunia yang Engkau berikan kepada kami semua! Terimakasih ya Allah! Hamba akan berjanji menjaga calon anak hamba dan istri hamba sekuat tenaga hamba! Alhamdulillah.,. Alhamdulillah... ! " ucap Pakde Soleh mengucap syukur.


Dokter tersebut hanya tersenyum kecil melihat euforia keluarga yang ada di hadapan nya.


"Dokter, bisakah kita menunggu anak laki-laki saya dulu sebelum membawa istri saya ke rumah sakit yang besar? " tanya Pakde Soleh pada Dokter tersebut.


"Bisa Pak! Lagian istri Bapak juga sudah berhenti pendarahan nya! Kira-kira kapan anak Bapak sampai di Puskesmas ini? " tanya Dokter itu lagi.


"Kurang lebih dua jam lagi Dokter! Kakak saya lagi dalam perjalanan karena jarak nya agak jauh! " jawab Annisa pada Dokter tersebut.


"Oke... ! Kalau begitu biarkan satu orang saja yang menunggu di sini karena takut pasien gak nyaman karena banyak pengunjung. Apalagi jika nanti ada pasien lagi yang masuk untuk di tangani! " ucap Dokter tersebut minta pengertian mereka.


"Abah aja yang tunggu Ibu di sini! Nisa di luar saja sama Bulek sambil menunggu Kang Davin! " sahut Nisa pada Abah nya.


"Iya Kang! Biarkan kami duduk di luar saja! Takutnya nanti pas Mbak Tinah sadar dia nyariin Kakang! " ucap Bulek Saroh membenarkan ucapan Nisa.


"Kami permisi keluar Dokter! " ucap mereka berdua dengan menundukkan kepala.


Dokter tersebut hanya mengangguk pelan, Pakde Soleh memindahkan kursi nya mendekati ranjang sang istri dan menggenggam tangan nya dengan tersenyum bahagia.


"Bulek, Nisa mau telpon Kang Davin dulu biar ke sini langsung! Soal di Pesantren, suruh polisi yang Kang Davin bawa aja ke sana! Biar Ibu cepat di bawa ke rumah sakit di Jakarta! Gimana menurut Bulek? " tanya Annisa meminta pendapat Bulek Saroh.


"Ide bagus itu! Ya udah kamu telpon saja Davin! Bulek mau beli snack dulu di sana! " jawab Bulek Saroh setuju.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Semoga hari kalian menyenangkan ๐Ÿ’•๐Ÿ˜


__ADS_2