
Begitu sampai di ruangannya, Amay turun dari tempat tidur di bantu Izam suaminya di sisi kiri dan Papa Rahman di sisi kanan.
"Pa... Udah dong gak usah cemberut terus! " ucap Amay sambil meringis kesakitan.
"Gimana Papa gak kesel, gak cemberut! Papa mau booking ruangan yang presiden suite di rumah sakit ini, eh malah penuh. Papa pengen kasih anak dan cucu Papa kenyamanan selama di sini, ini malah di kasih ruangan VVIP kayak gini! " jawab Papa Rahman mengeluarkan unek-unek nya.
"Ini udah bagus banget lagi Pa ruangan nya.. ! Gak perlu lah yang presiden-presiden kayak Papa bilangin tadi, gak lama juga Amay di sini! " ucap Amay dengan lembut.
"Iya Pa... Kalau Papa masih gak puas, Papa bilang aja sama perawatnya agar ngasih tau jika ada ruang presiden suite nya yang kosong! Siapa tahu pas triple lahir ruangan yang Papa inginkan ada! "
sahut Izam ikut menenangkan mertuanya.
"Betul juga ya... Ya udah, nanti biar Papa ke sana lagi! " ucap Papa Rahman dengan wajah sumringah.
"Biar aku aja Pa yang kasih tau perawatnya! Papa di sini aja sama Amay, nungguin Amay lahiran keburu di ambil orang nanti! " ucap Davin mengajukan diri.
"Iya besan.. Kelamaan kalau nunggu triple lahir! Mudah-mudahan pas mereka lahir ruangannya sudah rapat! " ujar Papa Idris ikut menimpali.
"Ya udah kalau gitu! Hardi, berikan kartunya pada Davin! " sahut Papa Rahman sambil memanggil Om Hardi.
"Oh ya, tadi Mas udah kasih tau Bulek! Bulek mau berangkat hari ini ke Kota, tapi Mas larang biar besok aja berangkatnya. Nanti sore Mas akan kirim sopir untuk jemput Pak lek dan Bulek langsung dan gak susah-susah lagi naik kendaraan umum! " ucap Davin memberitahu sebelum ia keluar dari ruangan Amay.
Ia langsung keluar begitu menerima kartu yang di berikan Om Hardi.
"Bang... A-amay udah gak tahan lagi! Sa-sakit banget, Bang! " ucap Amay seraya menahan nyeri di perut nya.
"Ya Allah sayang... ! Ayo kita ke tempat tidur aja! " jawab Izam dengan wajah cemas.
Izam dan Papa Rahman pun membawa Amay menuju tempat tidur.
"Ayo sayang miring ke kiri, biar prosesnya makin cepat! Banyak-banyak berdoa, Nak!
بسم الله الر حمن الر حيم.. لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين.
Bismillahirrahmanirrahim
Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin..
Baca sebanyak-banyaknya sayang karena semuanya atas izin Allah.. Doa yang di panjatkan nabi yunus saat di dalam perut ikan paus. " ucap Mama Lia dengan mengusap lembut perut Amay..
Amay pun melakukan apa yang di katakan mertuanya, ia membaca dzikir tersebut sambil meringis menahan sakit hingga mengeluarkan air mata.
Karena kasihan melihat Amay seperti itu, Aulia keluar kamar dan memanggil Dokter untuk melihat keadaan Amay.
"Assalamualaikum... Bagaimana Mbak Amay? Apakah mules nya sudah sering apa masih hilang timbul? " tanya Dokter Nadia saat memasuki ruangan Amay.
Ia kemudian menutup layar karena ingin memeriksa pembukaan jalan lahir Amay.
"Alhamdulillah sudah pembukaan tujuh.. ! Yang sabar ya Mbak! Anggap saja sakitnya sebagai penebusan dosa-dosa kita! Lakukan semuanya hanya karena Allah karena Allah lah yang memberikan semua ini. Masih banyak di luaran sana perempuan pejuang garis dua menginginkan apa yang Mbak Amay rasakan sekarang ini! Miring ke kiri ya Mbak, biar prosesnya cepat! Gak cuma Mbak Amay yang berjuang, si dedek juga berjuang di dalam mencari jalan keluar untuk ketemu sama Mama Papa nya! " ucap Dokter Nadia dengan tersenyum lembut.
"Terimakasih Dokter.. ! " jawab Izam karena Amay tidak sanggup lagi bicara.
"Iya Pak, Sama-sama! Ayo kita pasang infus nya dulu ya Mbak, biar Mbak Amay ada tenaga nya! Kalau mau makan silahkan ya Mbak, Pak! Gak ada larangan karena untuk mengejan nanti membutuhkan tenaga yang banyak! Oh ya satu lagi, jika terasa mau buang air besar langsung panggil saya ya Mbak, Pak! Tekan saja tombol merah ini! " ucap Dokter Nadia dengan ramah sambil menyuruh perawat nya memasangkan infus pada Amay.
"Iya Dokter.. ! " jawab Izam lagi.
Dokter Nadia keluar dari ruangan Amay setelah perawatnya memasangkan infus.
Amay semakin meringis kesakitan dengan kedua tangannya menggenggam tangan suaminya. Sedangkan mulutnya tidak berhenti berdzikir menikmati proses yang sangat di dambakan setiap wanita yang sudah menikah.
"Semangat sayang! Papa tahu kamu perempuan yang kuat sama seperti Mama kamu! " ucap Papa Rahman dengan mengusap lembut kening Amay yang mengeluarkan keringat.
"Ya Allah... Sakit bangettt.. ! AllahuAkbar.. AllahuAkbar.. " ucap Amay lirih dengan mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
__ADS_1
Aulia menangis melihat Amay kesakitan seperti itu, ia tidak henti-henti nya berdoa agar Amay dan anak-anak nya selamat.
Davin masuk ke dalam ruangan dengan di tangan nya panggilan video call Bulek Saroh.
"Amay sayang.. ! Bulek tahu kamu perempuan yang kuat! Ayo Nak bersemangat! Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin... Jangan lepas doa itu sayang! Jangan menyerah! Nikmatilah prosesnya karena rasa sakit ini terbayar dengan tangisan suara si kecil nanti! Jangan patah semangat! Bulek dan semuanya akan berdoa dari sini! " ucap Bulek Saroh dari seberang sana memberikan semangat.
"AllahuAkbar.. Sakiiit... Ya Allah... Aku ikhlas menjalani semua ini ya Allah.. ! Bang, aku mau BAB.. !" ucap Amay seperti hendak mengejan.
"Apa???? " pekik Izam panik.
Panggilan videonya Davin pun terputus karena teriakan panik Izam. Aulia dengan sigap menekan tombol merah di dekat ranjang Amay.
"Jangan mengejan sayang.. ! Tahan dulu! Tunggu dokter datang! " ucap Mama Lia dengan mengusap perut Amay.
Dokter Nadia datang bersama tim nya, mereka langsung mendorong ranjang Amay untuk di bawa ke ruang bersalin. Izam di minta untuk tetap menemani Amay selama proses kelahiran. Sedangkan semua orang menunggu di kursi tunggu yang ada di depan ruang bersalin.
"Jangan mengejan dulu ya Mbak.. ! Tunggu aba-aba dari saya! Ambil oksigen banyak-banyak agar nanti ngejan nya lama! Usahakan jangan mengejan putus-putus karena bayi nya nanti tidak menangis saat lahir! " ucap Dokter Nadia dengan memakai sarung tangan nya.
"Maaf ya Bu.. Hijab nya kami buka dulu! " pinta salah satu perawat pada Amay.
Amay mengangguk karena di sini semua nya perempuan kecuali suaminya yang berdiri di sampingnya.
"Dokteeeeer... Saya mau BAB, gak tahan lagi! " teriak Amay dengan kencang.
"Sudah sempurna pembukaan nya Mbak.. ! Ikuti aba-aba dari saya! 1...2...3...Ayo ngejan yang panjang! " ucap Dokter Nadia berteriak.
"Uuuugggghhhhh.... " Amay mengejan dengan memegang tangan Izam.
"Ayo lagi Mbak yang panjang.. !Ayo... ! " teriak Dokter Nadia lagi.
"Uuuugggghhhhh... Huh.. Huh.. Huh... Uuuugggghhhhh... " Amay mengejan lagi dengan keringat keluar sebesar biji jagung.
"Tos... ! " Dokter Nadia menusuk ketuban yang keluar sebesar telur ayam hingga pecah.
"Ayo Buk ikuti yang saya lakukan ya! Ayo Pak, kasih semangat Ibu nya! Matanya lihat ke perut ya Bu, jangan di pejam! Bokongnya jangan diangkat karena nanti bisa robek gak beraturan! Pegang kedua lutut ibu erat-erat seperti ini! " ucap seorang bidan yang berdiri di sisi kanan Amay mengajarinya dengan telaten.
"Ayo sayang! I love you! Kamu pasti bisa! " sahut Izam dengan mencium kening Amay dengan lembut.
"Ayo Mbak.. Jika sakitnya datang lagi, lakukan seperti yang saya ajar kan tadi! " ucap sang Bidan pada Amay.
Sakit nya kembali datang dan Amay langsung mengejan seperti yang di ajarkan Bidan tadi hingga akhirnya.
"Oek... Oek.... Oek.... "
"Alhamdulillah, bayinya laki-laki... ! " ucap Dokter Nadia dengan mengangkat bayi merah yang masih berlumur darah dan menyerahkan nya kepada Bidan.
Semua orang yang diluar tersenyum lega saat mendengar suara tangisan bayi.
Amay tersenyum penuh haru, begitu dengan Izam yang menangis saat mendengar suara tangisan si kecil. Ia menghujani wajah Amay dengan kecupan saking bahagia nya.
"Ayo Mbak, semangat! Masih dua lagi yang mau keluar! " teriak Dokter Nadia membuyarkan senyuman Amay dan Izam.
"Ayo sayang, semangat lagi! Perjuangan kita belum selesai! Masih ada dua lagi! Abang yakin kamu pasti bisa! " ucap Izam memberikan semangat.
Amay mengangguk pelan, ia kembali mengejan saat rasa sakit itu kembali datang.
"Uuuugggghhhhh... Huh.. Huh.. Huh.. Uuuugggghhhhh... "
"Ayo Mbak! Yang panjang! Sedikit lagi! Ayo! " teriak Dokter Nadia memberikan instruksi nya.
"Uuuugggghhhhh... Uuuugggghhhhh.. Uuuugggghhhhh... "
"Oek... Oek... Oek... "
__ADS_1
"Alhamdulillah.. Laki-laki lagi! " ucap Dokter Nadia kembali menyerah kan nya pada sang Bidan.
"Ayo Mbak.. Yang panjang lagi ngejan nya! Masih satu lagi! " ucap Dokter Nadia lagi.
"Saya udah gak kuat lagi Dok! " jawab Amay lemah.
"Ayo sayang! Masih satu lagi! Apa kamu gak mau ketemu dengan semua anak-anak kita? Abang yakin kamu bisa! Ayo sayang! " sahut Izam kembali memberikan semangat dan dukungan pada Amay dengan mencium kening Amay dengan penuh cinta.
Amay mengangguk karena ia sangat ingin bertemu dengan ketiga anak-anak nya. Ia kembali mengejan saat rasa sakit itu kembali datang dan akhirnya..
"Oek... Oek... Oek... "
"Alhamdulillah, laki-laki lagi! " ucap Dokter Nadia dengan menyerahkan bayi merah itu pada Bidan yang membantu nya.
"Selamat sayang! Kamu berhasil! Anak-anak kita semuanya laki-laki! I love you... ! " ucap Izam menangis haru sambil mencium kening Amay.
Amay mengangguk lemah, tenaga nya benar-benar terkuras habis. Tiba-tiba ia merasakan kembali sakit di bagian bawah tepatnya di jalan lahir tadi.
"Dok... Kenapa perut saya sakit lagi? Terasa ada yang mengganjal di bawah sana! " ucap Amay dengan tubuh lemah.
"Apa... ??? " teriak Dokter Nadia kaget.
Ia kembali didepan paha Amay yang memang belum di tutup karena Dokter Nadia baru mau mengeluarkan plasenta nya yang masih di dalam perut Amay.
Ia terbelalak kaget melihat ada penampakan kepala di mulut Vaginanya Amay. Tidak hanya Dokter, pada Bidan pun juga ikutan kaget melihat nya.
"MasyaAllah Mbak, Pak! Masih ada satu bayi lagi! Ya Allah, ini kejutan! Bayinya bukan tiga tapi empat! " ucap Dokter Nadia dengan wajah tidak percaya.
"Apa??? Subhanallah... ! " teriak Izam juga sangat terkejut.
"Ya Allah sayang! Anak kita bukan tiga tapi empat! " ucap ia lagi dengan mencium Amay dengan wajah sangat bahagia.
"Ayo Mbak, InsyaAllah ini yang terakhir! Kasihan nanti bayinya tidak langsung menangis! " ucap Dokter Nadia sudah bersiap di bawah sana.
"Amay gak kuat lagi Bang! Amay benar-benar lelah! Amay benar-benar gak kuat! " ucap Amay dengan lirih tapi masih bisa di dengar.
"Abang mohon bertahan sayang! Demi anak-anak kita! Ayo sayang, kamu pasti bisa! " sahut Izam sambil menangis karena kasihan dan tidak tega melihat wajah lelah dan pucat istrinya.
Seorang perawat melakukan transfusi darah agar Amay tetap bertenaga setelah kehilangan banyak darah. Ia juga memberikan suntikan di infus nya Amay sesuai perintah Dokter Nadia.
"Ayo Bu, kasihan dedek bayi nya! Ibu pasti bisa! Saya sudah menyuntikkan obat agar ibu punya tenaga lagi untuk mengejan! " ucap perawat tersebut memberikan semangat lagi.
Amay mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk mengeluarkan bayi yang terakhir, sebuah bonus untuk nya.
"Bismillahirrahmanirrahim... Ayo sayang, kita berjuang sama-sama! " ucap Amay lirih dengan penuh tekad.
"Ayo Mbak, Mbak pasti bisa! " teriak Dokter Nadia penuh semangat.
"AllahuAkbar.... Uuuugggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh... " jerit Amay panjang dan...
"Oek... Oek.... Oek... "
"Subhanallah.. Pelengkap semuanya yang lahir, welcome baby girl... " ucap Dokter Nadia dengan tersenyum lebar.
"Subhanallah... Alhamdulillah... Anak kita perempuan sayang! Pelengkap ketiga kakaknya yang laki-laki! Terimakasih sayang... ! Terimakasih ya Allah.. ! Terimakasih Dokter atas bantuan nya! " ucap Izam sambil menangis bahagia.
Amay tersenyum kecil sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Dokter, Dokter... !!! Kenapa dengan istri saya?? Sayang, sayang, bangun sayang! Ya Allah... apa yang terjadi dengan istriku! " teriak Izam panik saat melihat Amay pingsan.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...