
Malam harinya setelah makan malam, Aulia menyampaikan sesuatu kepada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa... Aulia ingin mengatakan sesuatu sama Mama dan Papa! Aulia udah di lamar oleh Mas Davin, sahabatnya Mas Izam suami nya Amay. Keluarga Mas Davin akan datang ke rumah kita untuk melamar secara resmi dua minggu lagi! " ucap Aulia kepada Papa dan Mama nya.
"Apa??? Apakah keluarga mereka orang baik-baik? Mama hanya takut melepaskan kamu pada keluarga yang salah! " sahut Mama nya dengan wajah kaget sekaligus khawatir.
Aulia tersenyum dengan kekhawatiran Mama nya, kedua orang tuanya belum tahu siapa sebenarnya Davin.
"Ma, Pa! Sebenarnya Mas Davin itu anak kandung Abah Sulaeman dan Umi Hafizah yang di nyatakan meninggal waktu lahir! Jadi, sudah pastikan jika keluarga mereka seperti apa?? " ucap Aulia lagi yang membuat kedua orang tuanya shock.
"MasyaAllah.... ! Jadi anaknya Pak Kyai dan Bu Nyai masih hidup?? " tanya Papa nya yang masih tidak percaya.
"Iya, Pa! Hal itu sudah terbukti dengan hasil tes DNA Mas Davin dan Pak lek Rohim! Gimana menurut Papa sama Mama? Apakah Papa dan Mama merestui Aulia menikah dengan Mas Davin?? " jawab Aulia sambil bertanya kembali.
"Iya Nak! Kami merestui kamu menikah dengan Nak Davin! Mama masih tidak percaya jika anak nya Almarhum Pak Kyai yang akan menjadi jodoh kamu! Mama harus mempersiapkan nya sebaik mungkin! Papa harus bantu Mama! " ucap Mama nya Aulia dengan sangat bersemangat.
"Ma, gak usah berlebihan gitu! Lagian kan ini baru lamaran, belum acara pernikahan! " sahut Aulia mengingatkan Mama nya.
"Ya, gak bisa gitu dong! Semua nya harus di persiapkan dengan sebagus nya, apalagi ini akan menjadi acara yang pertama dan terakhir bagi keluarga kita! Pokoknya kamu tenang aja, biar Mama dan Papa yang urus semuanya, kamu tinggal beres aja! " ucap Mama nya tidak peduli.
"Tapi Aulia gak mau Mama dan Papa capek hanya karena mempersiapkan semua nya sendiri! Kenapa gak minta orang aja yang membantu, kan ini belum acara besar nya! " sahut Aulia dengan wajah yang khawatir.
"Betul kata Mama kamu! Ini acara yang istimewa bagi keluarga kita khususnya bagi Papa dan Mama! Kamu tidak usah khawatir Nak, biarkan kami melakukan apa yang harus di lakukan oleh orang tua untuk anaknya! Hal yang dulu tidak pernah kami lakukan untuk mu! InsyaAllah kami berdua akan selalu sehat sampai kamu memberikan Mama dan Papa mu ini cucu! " jawab Papa nya dengan mata berkaca-kaca.
"Papa... Mama... ! " seru Aulia dan memeluk kedua orang tuanya dengan menangis bahagia.
Mereka bertiga menangis sambil berpelukan erat, Papa nya mencium puncak kepala dua wanita yang sangat ia cintai dengan wajah bahagia.
"Papa bahagia melihat anak perempuan Papa satu-satunya akan menikah, dan rasanya Papa berat untuk melepaskan kamu pada laki-laki lain! " ucap Papa nya lagi yang membuat Aulia semakin kencang menangis.
"Papa harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu dan juga menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak mu kelak! " tambahnya lagi dengan mencium lama kening Aulia.
Malam itu mereka tangis-tangisan hingga mata sembab karena kelamaan menangis.
Keesokan pagi.
Mama Irah dan suaminya mendatangi rumah kakaknya alias pamannya Aulia atau lebih gampangnya Papa nya Zahra kakak sepupunya.
Zahra sudah keluar dari rumah sakit dan untuk sementara istirahat di kampung karena masih dalam masa pemulihan.
Mereka semua sangat antusias saat mendapatkan kabar bahagia ini, terlebih lagi saat mereka tahu siapa Davin sebenarnya. Paman dan keluarga nya juga ikut membantu persiapan lamaran olahraga keluarga nya Davin.
...****************...
Sementara itu, Pak lek dan Bulek menunda kepulangan mereka selama tiga hari karena akan mempersiapkan hantaran untuk lamaran nya Davin pada Aulia.
Mereka akan pulang sekalian pergi melamar Aulia untuk Davin. Mama Lia membantu Bulek Saroh, dan mereka berdua lah yang mempersiapkan apa-apa saja yang akan mereka bawa saat lamaran ini.
Selama dua minggu ini Ali dengan cekatan dan terampil dalam bekerja membantu Davin, karena ia akan lamaran ke kampung nya Aulia, ia menyelesaikan semua pekerjaannya di bantu Ali.
Ali dan Elya juga di ajak Davin sebagai rombongan dari pihak laki-laki pada acara lamaran nanti.
Sudah tiga hari Amay merajuk dan ngambek karena tidak bisa menghadiri acara lamaran bestie nya. Izam melarang nya ikut karena kasihan dengan si kembar yang masih kecil di bawa jalan jauh.
__ADS_1
"Sayang ku... ! Kasihan si kembar dong sayang kalau mereka ikut! Apalagi mereka belum genap dua bulan, dan kamu tahu kan anak-anak kita lahirnya prematur. Abang takut mereka gampang terserang penyakit, apalagi tempat itu baru pertama kali mereka datangi. " bujuk Izam saat ia pulang dari kantor.
Amay yang sedang menyusui Zaid hanya menghela napas kasar. Sejujurnya ia begitu sedih sekali tidak bisa menyaksikan langsung momen yang istimewa bagi sahabatnya itu. Tapi ia juga takut membawa si kembar jauh-jauh karena takut si kembar sakit persis seperti yang dikhawatirkan suaminya.
"Ya udah lah Bang, gak usah ngomong itu lagi! Bikin aku tambah sedih aja! " sahut Amay dengan nada datar.
"Iya sayang, Abang gak akan ngomong itu lagi! " jawab Izam patuh.
Tiga orang suster atau pengasuh bayi sudah tinggal di kediaman Barzakh seminggu yang lalu. Ketiga nya memakai hijab dengan rentang usia yang hampir sama yaitu sekitar 39 tahun ke atas. Ketiga nya juga sudah menikah dan mempunyai anak yang masih sekolah.
Tiga suster tersebut hanya kerja mulai jam 8 pagi hingga jam 8 malam, tepat setelah Izam pulang kantor. Jadi, mereka masih bisa mengurus anak dan suami di rumah.
...****************...
Hari yang di nanti Aulia dan Davin akhirnya tiba. Ada empat mobil yang berangkat ke sana, Izam bersama kedua orang tua nya, Davin bersama Pak lek dan Bulek nya, Ali bersama Elya serta suaminya dan juga Fahri, sedangkan satu lagi mobil untuk menjemput Ibu nya dan Pakde Soleh.
Papa Rahman tidak bisa ikut karena menemani Amay dan si kembar di rumah, karena tidak mungkin mereka meninggalkan Amay dan si kembar tanpa ada keluarga yang menunggunya.
Sedari selesai sholat subuh, Aulia sudah di dandan cantik menggunakan kebaya berwarna maroon dengan bawahan kain batik, kompak dengan baju batik yang di kenakan Davin saat berangkat tadi.
Semua keluarga nya sudah berkumpul sejak kemaren sore termasuk kakak sepupunya Zahra yang masih dalam masa pemulihan.
"Mereka udah berangkat Nak? " tanya Mama nya saat memasuki kamar Aulia.
"Sudah dari jam 7 tadi Ma, dua jam lagi juga akan sampai! " jawab Aulia yang sedang di pakaikan hijab nya.
"Kalau gitu kamu sarapan aja dulu, mumpung masih ada waktu! Ntar kelaparan saat acara nya dimulai! Mela... ! Ambilkan adik kamu sarapan dan bawa ke sini! " ucap Mama nya sambil berteriak memanggil salah satu kerabat mereka.
Terdengar sahutan dari luar kamar dan tak lama kemudian seorang perempuan masuk kamar dengan membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan segelas air putih.
Aulia mengangguk dengan tersenyum bahagia karena ia pertama kalinya sang Mama menyuapi nya makan semenjak kakaknya meninggal dunia. Saat kakak nya masih ada dulu, ia masih sering di suapi makan oleh Mama nya.
Aulia membuka mulutnya saat sendok berisi nasi dan lauknya sudah terarah ke mulutnya. Suapan demi suapan yang ia terima dari sang Mama membuat hatinya berbunga-bunga dan bahagia. Ia memakan makanannya hingga nasi dan lauknya habis tidak tersisa.
Aulia sudah selesai di dandan, dan sekarang ia sedang bermain game di ponselnya sambil menunggu kedatangan calon suami nya.
Dua jam kemudian, bunyi klakson mobil menghentikan kegiatannya. Jantung nya berdegup dengan kencang dan salah satu kerabatnya memberitahu nya jika orang yang mereka tunggu sudah datang.
Pak Mardi dan Ibu Sumirah menyambut kedatangan Davin dan rombongan keluarga nya dengan senyum mengembang di wajah mereka. Pamannya Aulia juga ikut menyambut mereka dan ia berpelukan dengan Pak lek Rohim.
"Gak nyangka saya Pak Kyai! Kita menjadi saudara karena pernikahan ini! Ayo-ayo semua nya kita masuk! " ucap Paman Aulia dengan wajah cerah pada Pak lek Rohim.
"Iya Pak Mitra! Saya senang sekali menjadikan Aulia sebagai bagian dari keluarga kami! " jawab Pak lek Rohim dengan tersenyum kecil.
"Gak usah grogi gitu? Baru juga lamaran, belum akad! Jangan mau-malu in gue lu kalau gugup kayak gitu! "ejek Izam dengan berbisik di telinga Davin.
"Kampret... Dasar sahabat laknat! Bukannya memberi semangat malah bikin orang tambah grogi! " umpat Davin pelan seraya berbisik.
"Hehehehe.... " Izam terkekeh melihat kekesalan sahabatnya itu.
"Udah, udah.. Betul kata Izam, jangan gugup lah! Ini kan baru lamaran aja, belum acara akad nya yang suasana nya lebih menyeramkan dari ini! " ucap Fahri yang awalnya membela ternyata sama saja, Sama-sama mengejek.
"Elu juga! Emang sial gue punya dua sahabat yang gak ada akhlak kayak elu berdua! " sungut Davin jengkel setengah mati.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama terkekeh dan langsung masuk ke dalam rumah mendahului sang calon pengantin.
Mereka duduk lesehan di ruang tamu di atas karpet yang lumayan lembut. Dua keluarga saling berhadap-hadapan dengan Pak lek Rohim sebagai juru bicara dari pihak Davin dan Paman Mitra juru bicara dari pihak Aulia.
"Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. ! Kedatangan kami semua ke sini dalam rangka membangun silaturahmi dengan Pak Mardi dan keluarga besarnya. Saya sebagai wali dari Davin Pratama, menyampaikan maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar atau meminta Putri Pak Mardi untuk menjadi istri keponakan kami Davin Pratama! Sudi kah kiranya Pak Mardi dan keluarga besar menerima niat baik kami ini? " ucap Pak lek Rohim memulai acara ini.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. ! Terimakasih atas kedatangan Pak Kyai dan rombongan ke rumah kami yang sederhana ini! Saya sebagai juru bicara yang di tunjuk oleh adik saya Mardi akan menjawab permintaan Pak Kyai. Bismillahirrahmanirrahim, kami sekeluarga menerima lamaran Pak Kyai untuk keponakan Pak Kyai, Davin Pratama! " jawab Paman Mitra dengan lantang.
"Alhamdulillah.... " ucap semua orang dengan tersenyum bahagia.
Sejak masuk ke dalam rumah ini, Davin tak henti-hentinya mencuri pandang pada pujaan hatinya yang duduk di seberang nya dengan wajah menunduk malu.
"Sabar Bro! Masih lamaran ini, belum sah mau lihat lama-lama! " bisik Izam dengan menepuk pelan bahu Davin.
Davin yang kaget langsung berubah raut wajahnya menjadi masam karena bisikan laknat sahabatnya itu.
Izam justru terkekeh geli melihat wajah cemberut nya Davin, rasanya ia senang sekali menggoda sahabatnya itu.
Acara selanjutnya pun adalah pemasangan cincin pada Aulia oleh Bulek Saroh sebagai pengganti Umi kandungnya Davin.
Setelah selesai mereka pun berbicara tentang kapan pernikahan mereka akan dilakukan. Semua yang bicara adalah para orang tua, Davin dan yang lainnya hanya menyimak saja.
"Davin, Aulia! Kami semua sudah sepakat jika pernikahan kalian akan dilakukan langsung dengan akad nikah pada pagi hari setelah itu di lanjutkan dengan resepsi nya hingga selesai! Terhitung tiga bulan dari sekarang, dan acara tersebut akan di lakukan di hotel Atmanegara sebagaimana sudah di minta Pak Rahman Atmanegara pada saya semalam. Beliau tidak menerima penolakan dan semua keluarga besar Pak Mardi di minta untuk datang tanpa terkecuali. Beliau juga mengatakan kalau akan ada Bus yang membawa mereka semua ke kota! Apa kalian berdua setuju?? " ucap Pak lek Rohim pada Davin dan Aulia.
"Kenapa lama banget sih Pak lek, tiga bulan! Ibu aja nikah sama Pakde hanya dalam waktu dua hari! Masa giliran aku lama sekali hingga tiga bulan! " protes Davin dengan wajah cemberut.
Bukan Davin namanya kalau ia langsung terima keputusan para tetua.
"Alah, bilang aja elo udah gak tahan pengen segera halal dan dua-duaan sama si Aul.. ! " ejek Izam yang membuat wajah Aulia langsung bersemu merah.
"Sue lu... " sungut Davin kesal.
"Kamu tuh ya, selalu aja protes! Kapan sih nurut nya sama orang tua? Pokok nya harus tiga bulan lagi! Mama, Bulek dan mertua mu akan mempersiapkan semua nya dan kamu cukup persiapkan diri aja untuk menghafal ijab qabul nya! Kan malu masa keturunan Kyai Sulaeman ngucap ijab qabul nya di ulang-ulang! " ucap Mama Lia diiringi tatapan tajam nya seperti laser pada Davin.
Mama nya Aulia tersenyum geli melihat wajah pias calon menantunya itu saat mendapat tatapan tajam dari mertua nya Amay. Ia sudah tahu jika mereka juga menganggap Davin seperti anak kandung mereka sendiri, terlebih lagi Davin sahabat anaknya.
"Mama kok jelek banget doanya! Masa iya seorang Davin harus mengucap ijab qabul di ulang-ulang! Emangnya Mama gak malu apa pas nikah anaknya ijab qabul pakai di ulang-ulang! " sahut Davin lagi dengan wajah cemberut.
"Ngapain Mama malu, orang nanti muka Mama akan Mama tutup, jadi gak ada yang tau kok apalagi nanti Mama juga gak akan duduk dekat kamu! " jawab Mama Lia santai.
"Ish.... Gak pernah menang emang kalau udah berdebat sama Mama! Pintar banget ngeles nya! " sungut Davin lagi bertambah keki.
"Kayak kamu gak aja! Kamu kan juga pinter ngeles kalau sama Bulek! " ucap Bulek Saroh yang ikutan memojokkan dirinya.
"Kalah lah aku di serang dua emak-emak sekaligus! " jawab nya dengan wajah sengaja di buat sedih seperti korban sinetron ikan loncat yang di aniaya sang antagonis.
"Gak cocok muka elu di bikin melas kayak gitu! " ucap Izam dengan menoyor pelan bahu nya Davin.
Davin membalas Izam dengan memukul bahunya karena benar-benar kesal. Semua orang hanya tersenyum melihat perdebatan mereka.
"Ayo, ayo semuanya! Kita makan siang dulu! Maaf jika hidangan nya hanya yang seadanya aja! " ajak Paman Mitra kepada semua orang.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya 🤗🤗🤗
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..