Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Davin Pratama


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Amay tampak merenungi semua pendapat keluarga nya tentang keinginannya untuk mengadopsi Naura.


Ia mengusap pelan perutnya yang bergerak sangat aktif dengan tersenyum bahagia. Hanya tinggal dua bulan lagi ia akan menjadi seorang Ibu. Dokter Nadia menyarankan ia untuk melakukan operasi sesar karena kembar tiga di minggu ke 38 yang hanya tinggal 6 minggu lebih tiga hari lagi.


Izam yang baru masuk ke kamarnya tersenyum kecil melihat istrinya tidak menyadari ia masuk ke dalam kamar padahal bunyi pintu agar berisik karena berderit.


Ia menghampiri istrinya dengan memberikan ciuman lembut di pipi sang istri.


"Abang ih ngagetin Amay aja! " ucapnya dengan wajah cemberut.


"Cup... " satu kecupan lagi di pipi kiri istrinya.


"Kamu makin gemesin kalau cemberut gini! Pengen Abang makan tuh pipi bakpao nya! Gemes banget! Cup ! " ucap Izam dengan memberikan satu kecupan lagi di bibir istrinya.


"Maksud Abang, aku sekarang gendut gitu? " ujar Amay dengan mendelik ke arah suaminya.


"Siapa yang bilang?? Kamu kan kayak gini karena mengandung anak kita, tiga lagi! Lagian Abang suka kamu berisi kayak gini, jadi berasa gitu kalau meluk nya! Jadi pengen peluk terus tau gak! " sahut Izam memeluk gemes istrinya dari belakang.


"Jangan kencang-kencang Abang... ! Sesak Amay! " jerit Amay sedikit kencang.


"Abisnya kamu benar-benar bikin Abang geram, apalagi dengan si dedek yang kayak joget dalam perut kamu ! Tuh lihat, perut kamu goyang-goyang gitu! " jawab Izam makin geram karena si triple bereaksi saat itu juga.


"He... He... He... Iya ya Bang! Entah kenapa semenjak usia 5 bulan mereka selalu senang kalau dengar suara Abang! Mereka akan semakin kencang bergerak begitu Abang ngomong! Mereka kayak tahu aja kalau Papa nya yang datang! " sahut Amay terkekeh kecil.


"Iya sayang... Rasanya Abang sudah gak sabar pengen ketemu mereka bertiga! Kira-kira mereka mirip siapa ya? " ucap Izam dengan mengusap dagunya.


"Yang pasti mirip kita berdua lah.. ! " jawab Amay terkekeh.


"Maksud Abang itu mirip siapa yang lebih dominan nya, sayang?? Kamu atau Abang! Masa iya mirip tetangga, orang yang ngadon nya Abang tiap malam! Enak aja mirip tetangga! " ujar Izam gemes sama istrinya.


"Ha.... Ha.... Ha.... Awwww.... ! " jawab Amay terkekeh geli tapi kemudian meringis karena triple kembali menendang perut nya dengan kencang.


Mereka berdua bercanda sambil mengajak triple berbicara dengan wajah bahagia.


🌾🌾🌾


Davin pulang ke rumah nya dengan langkah gontai, pakaian kusut dan rambut acak-acakan karena sehari semalam ia tidak pulang dan tidak membersihkan diri.


Kali ini ia pulang ke rumah Ibu nya, bukan ke apartemen milik nya hasil bekerja di perusahaan Izam.


Ia masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat Ibu nya sedang memasak makanan di dapur.


"Davin.... ! Kamu sudah pulang Nak! Kenapa gak kabari Ibu kalau mau pulang? Jadi Ibu bisa masakin makanan kesukaan kamu! " tegur Ibu nya dengan agak sedikit kaget melihat kedatangan Davin.


"Davin pulang karena ada yang ingin Davin tanya sama Ibu! Sesuatu hal yang penting banget bagi Davin! " sahut Davin dengan wajah datar.

__ADS_1


Ibunya kaget melihat ekspresi Davin yang tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum. Ia pun mematikan kompornya dan mengangkat gorengan yang ia buat ke atas saringan.


"Kamu mau tanya apa? " tanya Ibu nya balik begitu mereka sudah duduk di ruang keluarga.


"Siapa ayah kandung Davin Bu? Dimana dia sekarang? Kenapa dari dulu Davin tidak pernah melihat foto nya satu pun? " cerca Davin dengan mengebu-ngebu.


"Davin... ! Bukankah dari dulu Ibu sudah berkata kalau ayah kamu itu sudah meninggal dunia! Tentu saja Ibu tidak menyimpan foto ayah mu karena kami menikah secara siri tanpa restu keluarga kami! Kenapa kamu menanyakan hal ini lagi, Nak? " jawab Ibunya agak meninggikan nada suaranya namun kembali melunak.


"Ibu bohong! Bertahun-tahun Ibu membohongi Davin! Davin kecewa sama Ibu! Kenapa sih Ibu gak jujur aja kalau Davin ini bukan anak kandung Ibu! " teriak Davin dengan mata berkaca-kaca.


"Davin.... !!!! " teriak Ibu nya juga sambil berdiri.


"Kenapa Bu? Ibu gak suka Davin bicara seperti itu karena semua itu benar kan? Davin bukan anak kandung Ibu! Jawab Bu... ! Jawab... ! Jangan diam saja! " cerca Davin lagi dengan memegang kedua bahu Ibu nya.


"Ibu gak bohong Davin! Kamu itu anak kandung Ibu! Anak Ibu! Bagaimana bisa kamu menuduh Ibu mu ini sudah membohongi mu?? Kamu anak Ibu Davin.... " jawab Ibu nya keukeh sambil menangis pilu.


"Davin gak percaya! Tidak mungkin kertas ini berbohong dan Davin benar-benar kecewa sama Ibu! " teriak Davin dengan melemparkan hasil tes DNA sembarangan dan langsung keluar rumah begitu saja.


Ia keluar sambil membanting pintu rumah dengan kencang dan membuat tubuh Ibu nya tersentak kaget. Ia berjalan memungut kertas yang di buang Davin dan ia menutup mulutnya dengan tangan terkejut melihat apa yang tertulis pada kertas tersebut.


Ia memegang kertas itu dengan tangan yang gemetaran dan wajah shock. Ia langsung terduduk di lantai sambil menangis memeluk kertas hasil tes DNA Davin dengan Pak lek Rohim.


Ia tidak menyangka rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama tiga puluh tahun lebih akhirnya terbongkar juga. Ia menangis sedih dan takut jika Davin akan pergi meninggalkan nya dan kembali bersama orang tua kandung nya.


Ia menangis pilu sambil menepuk-nepuk dadanya yang sesak karena kebanyakan menangis.


Davin tidak menyadari ada seseorang yang menyeberang jalan dan orang tersebut berteriak kencang dan karena kaget, Davin reflek membanting stir hingga menabrak lampu jalan dan dahinya membentur stir mobil.


"Sssshhhhh.... " Davin meringis kesakitan dengan memegang dahinya.


"Darah.... " gumam ia pelan saat melihat ujung telapak tangannya memegang darah.


Ternyata dahinya sedikit memar dan berdarah karena membentur stir mobil dengan kencang.


"Tok... Tok... Tok... ! " seseorang mengetuk kaca mobil nya dari luar.


Davin membuka pintu mobil tanpa melihat siapa yang mengetuk kaca mobil.


"Kamu gak papa ??? " tegur seseorang dengan bersuara lembut dan merdu di telinga Davin.


Ia seperti mengenal suara lembut tersebut dan langsung mengangkat wajahnya mendongak melihat pemilik suara tersebut.


"Aulia ! "


"Mas Davin ! "

__ADS_1


Mereka berdua sama kaget bertemu di situasi yang genting seperti ini, sebagai pelaku dan korban.


"Jadi, Mas Davin yang menyetir kayak orang kesurupan gitu?? " celutuk Aulia dengan geleng-geleng kepala.


"Maaf.... Mas lagi kacau banget ! " sahut Davin dengan meraup kasar wajahnya.


Baru mau membuka mulut, orang-orang berdatangan ke mobil Davin untuk mengetahui apakah ia baik-baik saja atau tidak. Tidak ingin membuat keramaian Davin meminta Aulia untuk masuk karena ia perlu seseorang untuk menemani nya bicara.


Selama di dalam mobil, Aulia sesekali melirik Davin yang menyetir seperti cangkang kosong yang hanya tubuhnya saja yang bersama nya tetapi pikiran nya pergi entah kemana.


Aulia tidak bertanya mau di bawa kemana, ia hanya diam saja dan membiarkan Davin menyetir dengan tenang. Hampir satu jam mereka berkendara dan ternyata Davin membawanya ke pantai.


Ia turun begitu mobil berhenti di sebuah tempat makan yang kebetulan tidak banyak pengunjungnya.


Aulia juga ikut turun dari mobil dan mengikuti Davin yang memasuki tempat makan tersebut dari belakang.


"Kita ke meja yang di ujung sana saja, lebih terbuka tempat nya dan bisa melihat pantai dengan leluasa! " ucap Davin dengan menunjuk sebuah tempat yang memang agak berjauhan dari meja-meja lain yang ada di tempat makan ini.


Aulia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Davin ke tempat tersebut.


Untung saja ia membuka kemeja nya yang kusut karena tidak di ganti semalaman dan ia memakai kaos oblong sehingga walaupun belum mandi seharian ia masih terlihat biasa saja.


Aulia hanya diam saat duduk di depan Davin yang matanya melihat ke arah pantai tanpa berkedip. Mereka melihat pengunjung pantai yang berlalu lalang bersama pasangan nya dan bersama keluarga nya.


"Mas... Ada masalah apa? Kok aku lihat tampang nya kusut gitu, kayak orang gak mandi berhari-hari aja! " tanya Aulia dengan hati-hati.


"Aku emang gak mandi dari kemarin Lia! Tapi dari kemarin aja sampai hari ini, bukan berhari-hari seperti kata kamu tadi! " jawab nya jujur.


"Ish.... Pantesan tadi kayak ada yang menusuk penciuman ku! Rupanya ada yang gak mandi dari kemarin kayak kambing! " ucap Aulia dengan sedikit gurauan.


"Ck... Kambing gak mandi pun mahal, Lia... ! " jawab Davin dengan mata masih melihat sebuah keluarga yang bermain di tepi pantai.


"Iyalah mahal, kan mereka juga di persiapkan dengan baik untuk qurban dan aqiqah. Emang Mas mau di Qurbanin juga?? " sahut Aulia lagi dengan manyun.


"Gak jadi kambing pun aku juga di korbanin Lia! " ujar nya lagi membuat Aulia bingung.


"Maksud Mas apa? Aku jadi makin bingung? " tanya Aulia dengan wajah bingung.


"Aku di korbanin Ibu ku untuk kepentingan dirinya sendiri ! " jawab Davin berasumsi sendiri.


"Ia menyembunyikan kenyataan jika aku bukan anak kandung nya dan ternyata aku adalah anak kandung dari orang tua angkatnya Amay istrinya Izam, sahabat kamu! " sahutnya lagi dengan menoleh ke arah Aulia dengan tersenyum miris.


"Apaaaa????? " teriak Aulia dengan kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader's ku semua...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2