
Ahyar akhirnya mengetahui jika beberapa hari yang lalu Umi nya masih menemui kakaknya di penjara. Sebenarnya ia tidak masalah jika Uminya tetap berhubungan baik dengan sang kakak.
Ia menekan Umi nya habis-habisan agar tidak berbuat bodoh karena membela yang salah.
"Jika Umi masih ingin hidup enak, nyaman dan tidak kekurangan, maka hentikan upaya Umi untuk membebaskan Bude Maryam! Yang salah harus di hukum sesuai kesalahan nya! Apalagi kesalahan kakak Umi itu pada masa lalu tidak bisa di maafkan! Ahyar benar-benar malu menjadi bagian dari perempuan jahat seperti Bude Maryam! " ucap Ahyar memperingati Ibu nya dengan tegas.
"Ahyar... ! Apa maksud kamu berkata seperti itu tentang Bude mu?? Bagaimana pun juga itu Bude Mu, keluarga mu?? Kesalahan masa lalu apa yang dilakukan Bude mu hingga kau begitu membenci nya, Nak?? " sahut Hajjah Marlena dengan nada kencang.
Ia tersinggung dengan perkataan anak nya tentang sang kakak, karena di matanya kakak nya orang yang baik.
"Cih... Sebutan apa untuk perempuan yang membayar perawat untuk membuang anak dari laki-laki yang ia suka saat bayi itu baru lahir ke dunia ini Umi?? Perempuan jahat yang berhati iblis! " jawab Ahyar dengan wajah menghina.
"Plak... "
Hajjah Marlena menampar pipi anaknya usai Ahyar menghina sang kakak di hadapan nya. Ahyar tersenyum sinis menerima tamparan dari Umi nya dan Anita dan Haji Amir shock saat Umi mereka menampar kakak nya.
"Marlena!!! Sejak kapan kamu main kekerasan pada anak sendiri hah! " bentak Haji Amir dengan kencang.
Tangan Hajjah Marlena bergetar usai menampar anak laki-laki nya. Bentakan suaminya menyadarkan nya atas apa yang ia lakukan pada anak nya itu.
Ahyar meraih ponsel yang ada di saku celananya dan memutarkan rekaman video yang sengaja ia rekam seminggu yang lalu sesaat keesokan harinya setelah mereka bertemu di kantor polisi.
Ahyar : Assalamualaikum Pak Davin, Pak Izam! Maaf jika saya mengganggu waktu kalian berdua.
Izam : Waalaikumsalam, Pak Ahyar! Silakan masuk dan duduk di manapun kau suka!
Ahyar : Saya tidak mau basa basi Pak Izam, terutama pada anda Pak Davin. Saya ingin meminta maaf atas perkataan adik saya tempo hari di kantor polisi. Saya pribadi tidak akan membela dan meminta Bude saya di bebaskan, karena bagi saya kejahatan tetap lah kejahatan. Jika sudah berbuat jahat maka harus terima resiko nya! Kedatangan saya ke sini hanya ingin minta maaf atas sikap adik saya Anita, itu saja!
Izam : Aku akui keberanian mu Pak Ahyar! Urusan Bude anda adalah urusannya Davin, sedangkan saya hanya membantu nya saja!
Davin : Aku tidak akan mengubah keputusan ku karena Bude mu hampir saja mencelakakan Ibu ku dan membuatnya hampir kehilangan janin yang ia kandung. Jika saja orang tua ku masih hidup, pastinya mereka juga akan menuntut pertanggungjawaban Bude mu akan kejahatan nya di masa lalu.
Ahyar : Apa maksud anda Pak Davin? Saya tidak mengerti!
Davin : Ibu ku yang sekarang adalah saksi mata kejahatan Bude mu di masa lalu. Ia saksi mata saat Bude mu membayar perawat tempat Umi ku melahirkan aku dan membuang aku yang masih melekat plasenta nya di tempat sampah. Kalau tidak ada Ibu ku, mungkin aku tidak tau apakah aku bisa hidup sampai sekarang. Bude mu membuat aku terpisah dari orang tua kandungku yang hingga saat ini tidak bisa aku temui sampai aku mati. Kau tau kenapa? Karena mereka sudah duluan di panggil sang Pencipta sebelum bertemu dengan anak kandung mereka. Ibu ku tidak pernah lupa suara Bude mu hingga puluhan tahun berlalu dan bahkan ia langsung mengenal Bude mu di tambah lagi dengan tanda lahir yang ada di tangan Bude mu! Sekarang kau tahu betapa jahatnya perempuan yang bernama Maryam itu? Nama yang bagus tapi tidak sebagus akhlak dan perangainya! Dosa ia di masa lalu akan ia per tanggungjawab kan sendiri kelak di hadapan Tuhan. Tapi untuk kejahatan nya yang sekarang, tidak akan ada kata ampun karena ia harus membayarnya sesuai hukum yang berlaku!
Ahyar : Astaghfirullahalazim... maafkan saya Pak Davin yang tidak tahu penderitaan anda karena ulah Bude saya. Saya tidak akan menghalangi proses tersebut karena saya juga akan melakukan hal yang sama seperti anda jika saya berasa pada posisi anda.
Davin : Terimakasih karena sudah bersikap profesional.
Ahyar : Sama-sama Pak Davin!
Izam : Ya sudah, mari kita lanjut kan lagi pembicaraan kita tentang kerja sama yang hampir mendekati finish ini.
Ahyar mematikan rekaman pada ponselnya, Umi langsung terduduk dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup.
"Aku tidak menyangka jika kakak mu bisa melakukan hal yang serendah itu Marlena! Pantas saja dia selalu suka menghina dan menjelekkan orang lain, karena ia memang mempunyai hati yang busuk dan otak yang penuh dengan kejahatan! " ucap Haji Amir dengan menatap kecewa pada istrinya itu.
Hajjah Marlena tidak bisa menahan bobot tubuhnya, ia merosot jatuh ke lantai setelah mendengar pembicaraan yang di rekam putranya. Tubuhnya sepertinya di cabut tulangnya satu persatu mendengar sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya selama ini.
Wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup, ia menatap kosong ke sembarangan arah. Lidahnya kelu tidak bisa berkata apa-apa, seolah-olah terasa berat untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Anita juga sama seperti Umi nya, ia tidak menyangka jika Bude nya bisa melakukan hal yang seperti itu, sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam otaknya. Ia kira Bude nya hanya perempuan yang tidak suka dengan hidup miskin karena selalu menghina orang-orang yang hidup di bawah nya. Ia kira Bude nya perempuan yang hanya melihat sesuatu dari harta dan jabatan nya saja, tapi ternyata Bude nya melakukan kejahatan yang sering ia tonton di televisi.
"Jika setelah mendengar rekaman ini Umi masih membela kakak Umi itu, Ahyar akan pergi dari keluarga ini selama-lamanya! " ucap Ahyar lagi yang membuat Hajjah Marlena mendongakkan kepalanya melihat Ahyar yang pergi keluar rumah.
Hajjah Marlena tidak bisa membendung air mata yang hendak turun dan akhirnya tangisan nya pun runtuh. Ia menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan nya yang sudah memukul anak laki-laki nya karena membela kesalahan kakak nya.
Haji Amir pergi meninggalkan istrinya yang menangis di ruang tamu, ia sengaja melakukan itu agar istrinya introspeksi diri atas sikapnya selama ini. Anita yang masih belum terlalu akrab lagi dengan Umi nya ikut pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Hajjah Marlena menangis seorang diri di ruang tamu, ia tidak menyangka kakak yang paling mendukung dirinya melakukan sebuah kejahatan yang begitu besar, dosa yang tidak bisa di ampuni dengan sekali perkataan maaf.
__ADS_1
Sementara itu, setelah Briptu Teguh mendapatkan keterangan dari korban yaitu Ibu Tinah, proses penyidikan kasus itu berjalan lancar karena polisi gadungan dan preman yang di sewa Bude Maryam memberikan kesaksian yang memberatkan nya.
Bude Maryam kembali mengamuk membabi buta memukuli teman satu sel nya hingga mengalami luka di area wajahnya. Bude Maryam di pisahkan sel nya seorang diri setelah insiden tersebut terjadi. Ia mengumpat, mencaci maki dan menyumpahi adiknya sendiri karena tidak bisa membebaskannya dari penjara. Bukan nya bebas, ia malah di tetapkan sebagai tersangka dan akan menjalani sidang minggu depan.
Davin yang mendapat kabar dari kenalan nya Komandan Petrus Nababan mengucapkan syukur karena kasus tersebut akan memasuki sidang pertama seminggu sebelum ia menikah.
Davin langsung menyampaikan kabar tersebut pada Pak lek dan Bulek nya, serta pada Ibu dan Pakde nya.
"Alhamdulilah ya Allah... Mudah-mudahan hakim memberikan hukuman yang pantas untuk orang jahat seperti dia! " ucap Ibu Tinah dengan nada lemah.
Ibu Tinah mengalami mual yang parah dua hari sebelum ia kontrol, Pakde Soleh sehabis panen langsung ke Jakarta karena kasihan melihat istrinya yang mual-mual terus setiap sore hingga menjelang tidur.
"Iya Dek! Mudah-mudahan gak ada lagi orang yang jahat seperti itu di dunia ini! Kasihan sekali nasib orang yang mengalami kejadian orang tua nya Davin! Meskipun kita tidak bisa menghukum nya untuk kejadian di masa lalu, setidaknya kejadian yang sekarang bisa membuat efek jera pada pelaku kejahatan tersebut! " sahut Pakde Soleh sambil membelai kepala istrinya.
"Assalamualaikum Pakde, Ibu! " panggil Amay sembari masuk karena pintu kamar mereka terbuka lebar.
"Pakde sama Ibu sudah dapat kabar dari Mas Davin?? " tanya Amay dengan langsung duduk di dekat Ibu Tinah.
"Sudah Nduk! Emangnya ada apa? " jawab Pakde Soleh kembali bertanya.
"Ibu bisa gak Pakde hadir di sidang perdana untuk memberikan keterangannya di depan hakim? Karena kalau kondisi Ibu gak kuat karena lagi mabuk, kita bisa meminta pengacara untuk melakukan sidang online untuk Ibu. Jadi Ibu bisa menjawab pertanyaan Jaksa penuntut umum dari rumah saja, tidak perlu hadir di pengadilan! " ucap Amay memberitahu mereka berdua.
"Gimana Dek? Kamu bisa gak hadir di sana? Mas takut kamu malah kumat saat di pengadilan nanti! " tanya Pakde Soleh pada istrinya.
"Sebenarnya aku takut juga Mas! Dari rumah sehat, tapi sampai di sana malah bikin repot! Ibu mau sidang online aja Nak Amay! Kalau dari rumah kan Ibu gak merepotkan banyak orang! " jawab Ibu Tinah dengan penuh pertimbangan.
"Oke deh kalau gitu! Amay kasih tau Abang dulu ya Pakde, Ibu! " ucap Amay sambil berdiri dan keluar dari kamar mereka.
Karena memikirkan kondisi Ibu Tinah yang mengalami morning sickness, pengacara dari penggugat alias dari pihak Davin meminta sidang online khusus keterangan korban kepada pengadilan.
Pengadilan memberikan izin khusus untuk Ibu Tinah dan sidang perdana kasus penganiayaan dan tindakan tidak menyenangkan di gelar keesokan hari nya.
Keluarga Haji Amir ikut datang dalam sidang tersebut. Semenjak kasus nya makin meningkat dan akan menjalani sidang, Bude Maryam tidak mau menerima tamu dari keluarga adiknya. Perasaan marah dan kecewa nya berubah menjadi benci karena adiknya lebih memilih keluarga nya dari pada membebaskan dirinya.
Hajjah Marlena hanya menatap kakak nya dari jauh dengan wajah sendu. Wajah yang dulu tampak berisi dan selalu memakai make up sekarang menjadi kuyu, kusam dan agak kurus.
Sidang berjalan lancar karena baru mendengar keterangan korban yaitu Ibu Tinah dan tuntutan jaksa penuntut umum pada Bude Maryam.
Bude Maryam berang saat mendengar tuntutan jaksa penuntut umum pada nya, yang ia pikir berat sebelah dan hanya mementingkan hak korban saja. Ia protes di hadapan hakim jika ia tidak bersalah dan kembali menyalahkan Ibu Tinah.
Karena tidak ingin ricuh, hakim menunda sidang hingga minggu depan dengan kasus yang sama.
"Untung aja Ibu gak datang! Kalau gak, bisa tambah lama lagi kericuhan nya! " komen Davin saat hendak meninggalkan gedung pengadilan.
"Iya, untung saja! Ya udah, sekarang kita mau balik ke kantor apa kemana dulu? " tanya Izam pada Davin.
"Kantor lah! Pekerjaan gue tanggung banget mau di tinggal! Pokoknya sebelum gue married minggu depan semua nya kudu selesai! " jawab Davin sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil.
"Bagus... ! Itu baru pegawai teladan! " ucap Izam memberikan jempolnya.
"Cih, bilang aja elu senang kalau pekerjaan gue beres elu juga bisa santai-santai! " cibir Davin sinis pada temannya itu.
"Hahahaha... " Izam tergelak kencang mendengar cibiran Davin padanya.
Mereka pun saling melempar cibiran dan ejekan hingga sampai ke kantor.
🌿🌿🌿
Seminggu sudah sidang perdana kasus Ibu Tinah dan Bude Maryam di gelar, hari ini adalah hari bahagia Davin dan Aulia.
Sedari subuh Davin sudah menghapal ijab qabul yang akan ia ucapkan di depan calon mertuanya. Dua hari sebelum acaranya digelar, Davin pulang ke kampung untuk berziarah ke makam orang tua kandung nya. Ia meminta restu agar pernikahan nya berjalan lancar tanpa penghalang.
__ADS_1
Sedangkan Aulia juga sedang di rias oleh MUA yang di pakai Amay saat resepsi pernikahan nya dulu sehabis sholat subuh.
Ia dan keluarga besarnya akan datang ke hotel keluarga Atmanegara satu jam sebelum acara di mulai, tepatnya pukul 8 pagi. Karena acara ijab qabul akan di gelar pada pukul 9.
Kediaman keluarga Barzakh tidak kalah heboh. Si kembar di dandani pengasuhnya dengan pakaian seragam yang di jahit khusus buat mereka berempat.
"Uluh-Uluh... Ganteng banget cucu nya Opa ini?? Mau kemana sih udah rapi banget! " ucap Papa Idris dengan mencium gemes cucu-cucu nya.
"Mau ke kondangan nya Onty Aul Opa?? " jawab Ara dengan suara anak kecil.
Kakak-kakak nya Izam bermain bersama si kembar sambil memakaikan mereka pakaian seragam yang sama dengan pakaian keluarga Barzakh.
Farid dan Faris sedari mereka datang dua hari yang lalu tidak mau beranjak dari anak-anak nya Amay. Bahkan Nanaz yang biasanya selalu bersama Tablet melupakan kotak persegi tersebut dengan bermain bersama si kembar, lebih tepat nya keenakan mencubit pipi gembul nya Maggie.
Begitu juga dengan Haura dan Haikal, yang langsung mendatangi si kembar begitu sampai di rumahnya Izam.
Pak lek dan Bulek sudah siap dengan pakaian yang sama dengan orang tua nya Aulia. Sebenarnya Davin meminta Ibu dan Pakde duduk di pelaminan menemani dirinya, tapi Ibu menolak secara halus karena tidak sanggup untuk tegak duduk menyambut tamu dengan keadaan nya yang sedang hamil muda ini. Alhasil Pak lek dan Bulek lah yang menemani Davin duduk di pelaminan nanti nya.
Amay sedang membantu suaminya berpakaian di kamar mereka. Sedari tadi Izam selalu mencuri ciuman pada bibir istrinya itu. Amay memutuskan untuk memakai cadar saat di acara nanti dan itu menjadi permintaan Izam. Izam ingin istri nya memakai cadar saat pergi keluar rumah, alasannya karena ia tidak ingin wajah cantik istrinya di lihat oleh laki-laki lain yang bukan keluarga mereka.
"Abang ih.. Udah dong cium-cium nya ! Lama-lama Amay gak selesai-selesai nih pakai hijab nya! " protes Amay karena Izam mengganggunya saat ia akan memakai hijab syar'i nya.
"Abisnya Abang gemes! Untung keluar nanti pakai cadar, kalau nggak bisa-bisa semua mata melotot melihat kecantikan istriku ini! Itu akan membuat Abang berselimut dosa karena berniat mencolok mata mereka yang melihat wajah cantik istriku ini dengan tatapan lapar harimau Sumatera! " sahut Izam santai.
"Kayak Abang gak aja! Semenjak buka puasa sebulan lalu Abang gak pernah absen minta jatah! Untung aku langsung KB sama Dokter Nadia setelah 40 hari, kalau gak bisa-bisa si kembar punya adik lagi! " ucap Amay mencibir suaminya.
"Hahahaha... " Izam tergelak kencang sambil mencubit gemes pipi istrinya.
"Itu sudah menjadi kodrat nya laki-laki sayang ku, Tapi kamu suka kan olahraga mencari keringat di ranjang?? " goda Izam dengan menaikturunkan alisnya.
"Ya suka lah, siapa juga yang mau nolak di bikin tidur nyenyak! Udah ah, gak kelar-kelar kalau ngomongin urusan ranjang sama Abang! Yuk kita ke bawah ! Oh iya hampir lupa bawa! " jawab Amay tersenyum genit pada suaminya.
Ia mengambil kotak kado yang ia letakkan di atas meja riasnya.
"Kado kamu sayang?? Apa isi nya? Kenapa gak amplop aja?? " tanya Izam kepo.
"Iya Abang! Ini kado khusus untuk Aulia, baju dinas malam pertama! " jawab Amay dengan tersenyum licik.
"Hahahaha... Bisa aja istriku ini.. ! " ucap Izam tergelak kencang sembari merangkul pinggang istrinya.
Mereka berdua menuruni tangga dengan bergandengan mesra. Mereka menemui semua keluarga yang sudah berkumpul di lantai bawah.
"Duh, princess nya Papa! Untung aja masih umur 4 bulan kamu nak, kalau udah setahun Papa pakaikan kamu cadar setiap keluar rumah! Biar mata jelalatan gak lihat wajah cantik anaknya Papa ini! " ucap Izam berbicara pada Maggie yang di gendong Aini.
"Dasar Bapak posesif! Masa iya umur setahun di pakaikan cadar! Gemblung Papa kamu itu sayang! " sahut Ana yang mendengar ucapan absurb adiknya itu.
Amay hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan aneh suaminya itu, ia mengecek kembali perlengkapan si kembar termasuk Asip yang ada di kotak khusus untuk menyimpan Asip.
"Calon pengantin nya mana Pak lek? Masih di kamar?? " tanya Izam pada Pak lek Rohim yang keluar dari kamarnya.
"Masih berpakaian dia! Kayaknya itu anak gugup banget, kelihatan dari mukanya! " jawab Pak lek Rohim dengan terkekeh geli.
Tak lama orang yang mereka bicara kan keluar dengan gagah nya memakai pakaian putih lengkap dengan peci putih nya dengan di apit Ibu Tinah dan Pakde Soleh.
"Karena semuanya sudah siap, ayo kita berangkat! " ucap Papa Idris setelah melihat kesiapan semua orang.
Davin memang di minta untuk tinggal di rumah Izam sehari sebelum hari pernikahan nya. Mama Lia takut Davin kenapa-napa kalau di biarkan tinggal sendiri di apartemen nya.
"Bismillahirrahmanirrahim.. " gumam Davin lirih saat kaki nya masuk ke dalam mobil.
Bersambung...
__ADS_1