
Sepanjang meeting dengan klien perempuan tersebut, Davin tidak pernah memandang Siska secara langsung meskipun perempuan itu duduk di hadapan nya.
Perempuan bernama Siska itu bertambah kesal saat Davin sedikit pun tidak mau melihat ke arahnya. Ia bertambah dongkol saat Davin datang membawa perempuan yang di katakan nya sebagai calon istri nya.
"Cih, perempuan seperti ini tidak level dengan perempuan modern seperti aku! Tubuh ku lebih seksi dan wajahku lebih cantik dari perempuan ini! Aku tidak rela laki-laki tampan dan mapan seperti mu jatuh pada perempuan kampung yang udik ini! " batin Siska yang tersenyum sinis dalam hatinya.
"Apa anda mendengar kan semua perkataan saya Ibu Siska? " tanya Davin dengan lantang pada perempuan yang melamun di hadapan nya ini.
"Eh, apa! Maaf, saya tadi agak kurang fokus! " jawab nya gelagapan dengan memamerkan senyum nya yang terlihat menjijikan oleh Davin.
Melihat Siska tersenyum genit pada Davin membuat hati Aulia tiba-tiba panas dan seperti terbakar.
"Kurang ajar tuh ondel-ondel! Berani banget senyum-senyum genit tebar pesona sama Mas Davin! Awas aja kamu! " batin Aulia dengan geram.
"Anda sudah tahu kan jika saya paling tidak suka jika ada orang yang tidak fokus dan tidak serius dalam bekerja? Kalau anda masih memikirkan hal lain, lebih baik kita akhiri saja pertemuan ini! Pekerjaan saya bukan hanya untuk bertemu dengan anda saja! " ucap Davin lagi dengan tegas dan tanpa ekspresi.
"Ma-maaf Pak Davin! Saya tidak akan mengulanginya lagi! Saya mohon jangan akhiri pertemuan ini sebelum tercapai kesepakatan! Papa saya sangat berharap pada proyek ini Pak Davin! " jawab Siska dengan sangat memohon.
"Iya Pak! Mohon maaf kan Nona Siska! " sahut perempuan di sebelah nya yang ternyata adalah sekretaris nya.
"Baiklah, kali ini saya akan berbaik hati pada anda karena memandang Pak Wibowo Papa anda! " ucap Davin sedikit melunak tapi masih berwajah datar.
Aulia tersenyum dalam hati melihat wajah pias Siska yang di gertak Davin.
Akhirnya mereka kembali membicarakan proyek kerjasama mereka dengan begitu serius hingga tercapainya kesepakatan antara kedua pihak.
"Terimakasih Pak Davin atas kerjasama nya! Saya akan jamin jika perusahaan Bapak tidak akan kecewa dengan kesepakatan ini! Karena meeting nya sudah selesai, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol santai dulu? " ucap Siska yang berusaha menarik perhatian Davin dengan mengajaknya hangout.
"Maaf, saya tidak pernah bersantai saat masih jam kerja! Terimakasih atas tawaran nya! Selamat siang ! " jawab Davin dengan tegas dan langsung keluar bersama Aulia.
Mereka berdua keluar dari ruang tersebut dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kita makan dulu yuk! Mas lapar! Untung aja meeting nya hanya satu setengah jam! Jadi perut Mas jadi gak kelamaan keroncongan nya! " ajak Davin sambil menghidupkan mesin mobil.
"Lah, tadi kan kita meeting di restoran Mas! Kenapa gak makan di sana aja? Atau kenapa gak makan aja tadi sebelum meeting! " tanya Aulia dengan heran.
"Ish... Kamu ini! Mas sengaja langsung meeting agar gak lama-lama berurusan perempuan itu! Kalau Mas gak memandang Bapak nya, gak sudi Mas datang ke pertemuan ini ! Apa lagi Bapak nya itu klien lama kita, yang selama ini tidak pernah neko-neko saat menjalin kerja sama! " jawab Davin jujur.
"Oh gitu, ya udah! Kita makan di restoran Sunda aja yuk Mas! " sahut Aulia menentukan tempat mereka makan siang yang agak telat.
"Okeh... " jawab Davin dengan tersenyum.
Davin membelokkan mobil nya ke restoran Sunda dan mereka makan berdua dengan tenang.
...****************...
Sudah genap sebulan Aulia bekerja membantu Davin di perusahaan Izam. Hari ini adalah hari terakhir ia membantu Davin karena Aspri yang akan membantu Davin dan Izam juga sudah di tentukan yaitu Rozali alias Ali. Sedang kan yang empat lainnya di tempatkan di divisi lain karena perusahaan Izam juga membutuhkan tenaga dan pemikiran mereka.
"Selamat ya Li, akhirnya kamu yang terpilih untuk membantu Mas Izam bersama Mas Davin! " ucap Aulia memberikan selamat nya pada Ali.
Karena saling membantu selama sebulanan ini menjadikan mereka sangat akrab, meskipun tak jarang Ali mendapat tatapan tajam dan ucapan yang ketus dari Davin.
"Terimakasih banyak Lia! Kok sedih ya rasanya kamu udah gak kerja di sini lagi besok! " jawab Ali dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Hehehehe... Mau gimana lagi! Aku kan disini cuma sekedar bantu Mas Davin aja biar gak keteteran meng-handle dua perusahaan! Lagian besok Mas Izam juga udah aktif lagi kerja, jadi kamu harus benar-benar serius dan membuktikan pada Mas Izam jika kamu benar-benar layak menempati posisi ini! " ucap Aulia memberikan semangat pada Ali.
"Iya Lia... Aku akan semangat membantu Pak Izam dan Pak Davin memajukan perusahaan ini! Oh ya, ngomong-ngomong hari inikan hari terakhir kamu di kantor, gimana kalau kita makan-makan sebagai salam perpisahan! " sahut Ali sambil meminta pendapat Elya yang duduk di seberang nya.
"Boleh juga! Kamu yang traktir ya Li! Anggap aja perayaan kamu jadi Aspri nya Pak Izam! " jawab Elya dengan wajah ceria.
"Oke deh! Gimana Lia, mau gak! Gak usah jauh-jauh! Cafe seberang kantor kita aja lah! Kita makan setelah pulang kerja nanti! Oke guys... ! " ucap Ali lagi dengan menanyai Aulia kembali.
"Oke lah... " jawab Aulia mengangguk pelan.
"Asyik... Makan-makan gratis! "ucap Elya bersorak-sorai di kursi nya.
Begitu waktu menunjukkan pukul 16.30, bel kantor yang menandakan waktu pulang karyawan pun berbunyi dengan kencang nya. Izam memang sengaja memberlakukan jam pulang karyawan lebih cepat setengah jam dari perusahaan lain yaitu jam 17.00.
Ia tidak ingin karyawan perempuan nya pulang kemalaman jika pulang kantor jam 17 tepat, karena kebanyakan karyawan perempuan nya pulang menggunakan kendaraan umum. Ia juga memberlakukan jika jam lembur hanya di kerjakan karyawan laki-laki saja dan karyawan perempuan di bebaskan dari lembur. Itu pun tidak boleh lewat dari jam 9 malam.
"Mas, aku mau pergi makan-makan sama Mbak Elya dan Ali di cafe depan! Kami mau rayakan hari terakhir aku kerja sekalian syukuran nya Ali jadi Aspri nya Mas Izam! "
Bunyi pesan yang dikirim kan Aulia pada Davin yang sedang meninjau proyek di luar kantor.
"Oke, nanti kalau udah selesai kabari Mas ya! Biar Mas jemput, soalnya ada yang mesti Mas omongin sama kamu! "
Balasan dari Davin yang membuat Aulia senyum-senyum sendiri menatap ponsel nya.
Setelah mengirimkan balasan iya, ia pun menutup ponsel nya kembali dan menyimpan nya di dalam tas.
"Dah yuk kita turun sekarang! " ajak Aulia sembari menyandang tas nya di bahu.
Mereka berjalan bertiga menuju lift khusus untuk petinggi turun ke lantai dasar.
"Biarpun lantai ini sepi karena gak ada karyawan lain, tapi aku senang karena bisa bebas menggunakan lift ini dan tidak berdesakan dengan karyawan lain! " ucap Elya saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Iya Mbak! Aku aja masih gak percaya kalau aku yang terpilih jadi Aspri nya Pak Izam dan akan bekerja bersama Pak Davin! " sahut Ali dengan rasa bangga.
"Kamu pantas kok mendapatkan semua itu! Jadi, nanti Mbak Elya gak sepi lagi karena sudah ada Ali nanti yang akan menemani Mbak di sana! " ucap Aulia pada mereka berdua.
"Iya Lia, Mbak senang banget karena ada teman nya! Walaupun sedih juga karena gak ada kamu! " jawab Elya dengan wajah sendu.
"Mbak, jangan gitu dong mukanya! Aku jadi mau nangis nih! Kan kita bisa ketemu kapan aja! Tinggal chat aja mau ketemuan di mana! " ucap Aulia dengan wajah ikutan sedih.
"Iya Mbak gak usah sedih, aku juga sedih sebenarnya! Tapi mau gimana lagi, orang Aulia bukan karyawan di perusahaan ini! Oh ya, doakan aja Mbak Aulia biar cepat jadi Nyonya Davin Pratama, jadi bisa datang ke kantor ini kapanpun yang dia mau! Dan kita bisa kongkow lagi deh sama-sama! " sahut Ali yang langsung mendapat pelototan dari Aulia.
"Aamiin.... " ucap Elya kencang.
"Ish... " Aulia mendengus kesal karena Ali membuka semuanya di depan Elya.
"Dari awal aku udah menduga sih kalau Pak Davin itu ada rasa sama kamu! Hanya saja aku pura-pura gak tau aja! Dua tahun aku di sini, Pak Davin gak pernah sedikitpun lihat perempuan yang tebar pesona sama dia, apalagi sampai menggandeng perempuan atau mengajaknya pergi. Sama aku aja yang notabene nya sekretaris Pak Izam aja gak pernah Pak Davin ngajak ketemu klien. Tapi saat sama kamu ia begitu menunjukkan rasa nya dengan sikapnya yang begitu berbeda, ngajak makan di kantin, terus suruh aku satu ruangan sama kamu takut ada yang salah paham, terus selalu bersikap ketus dan memberikan tatapan tajam bila ada laki-laki yang di dekat kamu! Aku juga tahu kok kalau Ali sering di perlakukan kayak anak tiri oleh Pak Davin, soalnya Ali dekat dengan perempuan yang ia sukai yaitu kamu! " ucap Elya panjang lebar dengan nada santai.
"A-apa??? Jadi Mbak tahu? Tapi kok Mas Davin gak ngomong apa-apa sama aku! Gak ada dia ngomong kalau dia suka sama aku! Emang sih perlakuan dia sama aku terasa kayak istimewa sekali, tapi aku gak mau geer duluan Mbak, takut semua nya hanya khayalan aku aja! Makanya aku gak terlalu memasukkan ke dalam hati, soalnya takut baperan eh nyatanya hanya sebatas teman aja! Kan gak enak banget! " ungkap Aulia dengan jujur.
"Percaya deh sama Mbak! Orang yang seperti Pak Davin dan Pak Izam itu, perlu waktu yang pas untuk mengungkapkan perasaan nya dan semua itu harus melalui persiapan yang matang! Gak sembarangan kayak anak muda yang bisa nya cuma modal gombal mulu! Mbak sangat yakin jika gak lama lagi kamu akan segara sold out! " ucap Elya dengan wajah sangat yakin.
"Serius Mbak??? " tanya Aulia tidak percaya.
__ADS_1
"Serius lah! Kamu tunggu aja saat itu tiba! " jawab Elya mengangguk kan kepala nya.
"Ting.... " pintu lift terbuka.
Mereka bertiga keluar dari lift dan berjalan di lobby menuju pintu keluar gedung tinggi tersebut. Mereka bertiga berjalan sambil bercanda menuju cafe tempat mereka makan-makan.
Mereka memasuki cafe yang sudah mulai ramai di sore hari menjelang malam. Mereka langsung duduk di kursi kosong dekat dinding yang transparan sehingga terlihat lalu lalang kendaraan.
Tanpa basa basi, mereka bertiga langsung memesan makanan dan mengobrol santai sembari menunggu makanan datang. Karena makanan belum datang, Aulia dan Elya pergi ke mushola untuk sholat karena Adzan magrib sudah berkumandang. Ali menunggu di meja mereka karena mereka sholatnya bergantian.
Makanan yang mereka pesan sudah datang dan tak lama Aulia dan Elya selesai sholat. Ali pergi sholat dengan Aulia dan Elya yang menunggu di meja mereka.
"Mbak pulang sama siapa nanti? " tanya Aulia di sela-sela mereka menunggu Ali sholat.
"Di jemput Mas suami Lia! Kamu pulang sama siapa? Di jemput supir? " tanya Elya balik.
"Gak Mbak, di jemput Mas Davin! Katanya selesai dari proyek langsung ke sini jemput aku! " jawab Aulia.
"Alhamdulillah, kalau ada yang jemput! Terus kira-kita rencana kamu selanjutnya apa Lia? Secara kan gak di kantor lagi? " tanya Elya penasaran.
"Belum ada rencana apa-apa sih Mbak! Belum kepikiran! Yang pasti bantuin Amay aja dulu ngurus si kembar, soalnya kasihan kalau gak di bantu! Yah, meskipun udah ada suster tapi tetap aja aku kasihan! Itung-itung belajar merawat bayi, jadi pas nanti punya anak gak canggung lagi! " jawab Aulia santai sambil menyeruput minuman nya.
Tak lama berselang, Ali datang dan mereka mulai memakan makanan mereka dengan hening tanpa ada yang bicara.
Davin yang selesai memantau proyek perusahaan nya yang masih setengah jalan, langsung menuju ke cafe tempat Aulia dan teman-temannya makan.
"Udah selesai belum? Mas sudah otw nih ke sana! Palingan 15 menit lagi sampai! "
Davin mengirimkan pesan pada Aulia saat ia hendak menghidupkan mesin mobilnya. Tak lama balasan dari Aulia pun masuk ke ponsel nya yang mengatakan jika mereka sudah selesai makan dan hanya mengobrol saja menunggu jemputan masing-masing.
"Udah sampai Pak Davin ya Lia? " tanya Elya.
"Belum Mbak, lagi di jalan katanya! " jawab Aulia sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
"Suami Mbak gimana? " tanya Aulia balik.
"Udah nyampe tuh di parkiran nunggu! " jawab Elya santai.
"Kenapa gak di suruh ke sini aja Mbak! Kasihan nunggu di parkiran! Kalau gak aku tunggu di depan aja dan Mbak pulang duluan aja! Gak papa kok Mbak! Ya kan Li? " ucap Aulia dengan meminta pendapat Ali.
"Betul tuh Mbak yang di bilang Aulia! Atau kalau enggak aku temani kalian di depan aja nunggu Pak Davin sekalian aku ambil motor aku! " usul Ali pada mereka berdua.
"Boleh deh kalau kayak gitu! " jawab mereka berdua setuju.
Baru mau beranjak dari tempat duduk mereka, sebuah pesan masuk ke ponsel Aulia.
"Mbak, Ali... ! Mas Davin udah datang dan nunggu di depan! Jadi kita gak perlu nunggu lagi lah! " ucap Aulia pada Elya dan Ali.
"Ya udah kalau begitu! Kita pisah ya guys... ! Jangan lupa saling kasih kabar! " ucap Ali sambil melambaikan tangan nya berjalan menuju Kantor karena motor nya masih di parkiran kantor.
Elya menemui suaminya yang sudah menunggu di luar mobil, sedang kan Aulia langsung masuk kedalam mobil saat melihat mobil Davin yang parkir tak jauh dari pintu masuk.
...Bersambung... ...
__ADS_1