
Begitu sampai di perusahaan, Hardi langsung menghubungi orang-orang yang pro dengan mereka untuk di pertemukan dengan Rahman.
Setelah semuanya berkumpul, Rahman Atmanegara langsung menyampaikan jika semua laporan tentang perusahaan selama semingguan ini di sampaikan langsung kepada Hardi yang ia tunjuk sebagai pengganti nya untuk satu minggu.
Rahman sengaja melakukan semua itu karena ia ingin menghabiskan waktunya semingguan ini bersama anaknya sebelum ia benar-benar sibuk mengurus pengambilan alih perusahaan Atmanegara group yang saat ini di kuasai oleh Damian.
πΏπΏπΏ
Kediaman Barzakh...
"Papa? Papa? Papa dimana? Hiks.... Hiks.... Hiks... Kenapa Papa pergi lagi? Katanya Papa sayang dengan Amay? Tapi sekarang Papa ninggalin Amay lagi? Huwaaaa.... Papa.... Hiks.... Hiks... Hiks.... ! " Amay berteriak sambil menangis begitu bangun tidur ia sendirian di dalam kamar.
Mendengar tangisan dan teriakan istrinya, Izam yang berada di kamar mandi langsung keluar dan berusaha menenangkan istrinya itu.
"Cup... Cup... Cup sayang... Jangan nangis ya? Nanti dedek di sini juga ikutan nangis? Kamu cariin Papa hemmm? " ucap Izam langsung merengkuh Amay ke dalam pelukan nya.
Amay mengangguk kan kepala nya sambil tetap menangis di pelukan suaminya. Entah kenapa ia begitu sensitif sekali hingga gampang sekali sedih dan mengeluarkan air mata. Sifat manja nya yang selama ini terkubur dengan kepergian Abah nya sekarang muncul kembali dengan kehadiran Papa kandung nya.
"Papa bohong Bang, katanya Papa sayang sama Amay, tapi kenapa Papa ninggalin Amay lagi! Amay benci Papa! Papa bohong sama Amay! Amay benci! " pekiknya dengan marah dan air mata tetap terjun bebas di pipinya.
"Siapa bilang Papa bohong, sayang? Papa lagi pergi sebentar karena ada urusan di perusahaan nya. Nanti setelah urusannya selesai Papa balik lagi kok kesini! Udah nangis nya ya? Nanti kasihan bayi-bayi kita juga ikutan sedih kayak Mama nya! Lagi pula kan Amay gak sendirian, ada Abang juga disini temani Amay! " ucap Izam dengan lembut dan penuh kesabaran.
"Amay mau Papa Bang! Amay mau Papa tetap di sini! Amay gak mau Papa pergi lagi ninggalin Amay! " sahut Amay lagi dengan keras.
Mendengar suara tangisan yang cukup keras serta teriakan Amay membuat Bulek Saroh bergegas naik ke atas menuju kamar Amay dengan di ikuti Mama Lia di belakangnya.
"Kenapa koe Nduk? Kencang banget teriakannya Bulek dengar dari bawah sana? " ucap Bulek Saroh begitu ia membuka pintu kamar Amay.
"Hu... Hu.... Hu.... Bulek! Papa ninggalin Amay lagi? Amay benci Papa, Bulek! Papa gak sayang Amay! Hu... Hu... Hu... ! " Amay mengadu kepada Bulek Saroh dengan berurai air mata.
Bulek Saroh langsung mendekat dan Amay langsung memeluk pinggang Bulek nya dengan menangis tersedu-sedu. Bulek Saroh membiarkan Amay meluapkan emosinya karena hormon kehamilan nya yang begitu sensitif sehingga mudah sekali sedih sambil membelai lembut kepala Amay yang tertutup dengan hijab nya.
"Kamu gak bujuk istri kamu! " ucap Mama Lia sewot sambil menyenggol lengan anaknya yang berdiri di samping tempat tidur.
"Udah Mama! Enak aja bilang gak bujuk Amay! Amay itu lagi sensitif banget! Jadi butuh kesabaran ekstra agar mood nya kembali baik! Udah dari tadi Maliq membujuknya, tapi ya gitu deh tetap aja gak mempan! " balas Izam membantah tuduhan Mama nya.
"Ternyata emang benar kata Jeng Besan! Manja nya Amay keluar setelah ketemu Papa nya! Kasihan sekali istri kamu itu! Selama ini ia berusaha kuat dan tegar dengan hidup nya tanpa bisa bermanja-manja dengan orang yang ia sayangi tanpa harus menjaga image di hadapan semua orang! " gumam Mama Lia dengan pelan menatap menantu kesayangannya dengan pandangan kasihan.
Ia lalu berjalan mendekati besannya dan ikut membelai lembut kepala sang menantu yang masih menangis di pinggang besannya.
"Amay sayangnya Mama! Udah ya nangis nya! Sekarang udah sore, Amay udah sholat ashar belum? Udah mandi belum, Nak? " ucap Mama Lia dengan lembut.
Amay seketika menghentikan tangisannya begitu mendengar ucapan Mama mertuanya. Ia langsung menoleh ke arah suaminya dengan menatap tajam Izam.
"Abang jahat! Kenapa Abang gak ingatin Amay kalau Amay belum sholat ashar dan belum mandi? Abang suka ya kalau Amay jadi bau dan jelek karena gak mandi ? " cerca Amay dengan mata melotot menatap suaminya.
__ADS_1
"Lah, kok Abang yang di marahin? " ucap Izam bingung dan kaget.
Mama Lia dan Bulek Saroh memberi kode agar Izam jangan membantah lewat kode mata, namun Izam tidak merespon kode dari mereka berdua.
"Mama sama Bulek kenapa kedip-kedip mata gitu? Kelilipan ya? Kok bisa barengan kelilipan nya? " tanya Izam dengan muka heran.
Mama Lia dan Bulek Saroh sontak menepuk pelan kepala mereka melihat kelakuan Izam yang tidak mengerti kode dari mereka.
"Abaaaaaang????? Kenapa Abang mengalihkan pembicaraan?? " pekik Amay dengan nada tinggi.
"Ya ampun besan-besan! Tuh menantu mu itu bodoh banget jadi orang! Gak ngerti apa di kasih kode dari tadi untuk tidak membantah omongan perempuan hamil! Ampun ampun! " sahut Mama Lia dengan geleng-geleng kepala.
"Eh iya sayang! Kok kamu marahin Abang sih? Abang jadi sedih nih di marahin sama kamu! " ucap Izam kaget dengan membuat wajahnya terlihat sedih.
Amay yang memang sangat sensitif langsung berubah mukanya dan langsung menangis begitu melihat wajah sedih suaminya ketika ia marahin.
"Huwaaaa..... Maafin Amay Abang??? Maafin Amay yang udah bentak-bentak Abang? Huwaaaa.... Amay istri yang jahat! Huwaaaa... " teriak Amay sambil menangis histeris.
Mama Lia langsung menimpuk kepala Izam dengan bantal yang udah membuat menantu kesayangan nya kembali menangis. Izam hanya menggaruk kepala nya dengan bingung melihat istrinya kembali menangis karena ia pura-pura sedih karena di marahin istrinya.
"Dasar suami gak peka! Istri udah gak nangis lagi malah di bikin nangis lagi! " ucap Mama Lia kesal dengan kelakuan anaknya itu.
"Maliq kan hanya pura-pura sedih Mama! Maliq kan gak tau kalau reaksi menantu Mama kayak gini! " bisik Izam dengan wajah tidak bersalah.
"Mama sama Abang lagi ngomongin Amay ya? " ucap Amay keras dengan menatap suami dan Mama mertua nya dengan tatapan intimidasi.
"Eh... Bukan sayang? Mama lagi marahin suami kamu ini yang gak peka dengan istrinya yang lagi hamil? Bukan ngomongin Amay! " jawab Mama Lia tersenyum manis kepada menantunya.
"Beneran??? " tanya Amay masih tidak percaya.
"Beneran sayang! " sahut Mama Lia lagi dengan mata melotot tajam kepada Izam.
"I-iya sayang! Beneran itu yang di bilang Mama! Aku abis di marahin Mama! " jawab Izam lagi dengan ekspresi wajahnya di buat kesal.
"Nduk, gak boleh gitu sama suaminya! Ayo sekarang mandi, habis itu sholat ashar! Nanti waktu ashar nya keburu habis! " ucap Bulek Saroh dengan lembut kepada Amay.
"Iya Bulek! Maafin Amay ya Bang? Amay mau mandi dulu! " sahut Amay dengan wajah polos nya.
"Iya sayang! Kamu gak salah apa-apa kok sama Abang! " jawab Izam dengan mengusap pipi istrinya.
Izam langsung membantu Amay berdiri dan mengambilkan Amay handuk di dalam walk in closed.
"Bang! Papa kapan datang nya? Amay mau Papa, Bang! " rengek Amay yang berhenti di depan pintu kamar mandi dan berbalik badan menghadap suaminya.
"Sebentar lagi sayang! Kamu mandi aja dulu, mudah-mudahan setelah kamu selesai sholat Papa udah pulang! " jawab Izam dengan pelan.
__ADS_1
"Beneran Bang! Awas aja kalau Abang bohongin Amay! " ucap Amay dengan menatap tajam suaminya.
Setelah mengatakan itu, ia kembali berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga itu istri! Serem amat tatapan matanya! Ibu-ibu hamil memang gak pernah salah dan tidak akan salah! Untung sayang! Benar gak Ma? " sahut Izam dengan mengusap dadanya.
"Lah, kemana Mama? " ucap Izam ketika berbalik badan dan ternyata Mama nya dan Bulek Saroh sudah tidak ada lagi di dalam kamar.
"Cepat banget itu orang tua ngilang nya! Mana gak pakai suara lagi keluarnya! " gerutu Izam sambil berjalan keluar kamar.
Ia langsung keluar mencari keberadaan Papa nya untuk meminta nomor telepon Papa mertua nya.
πΏπΏπΏ
Rahman yang selesai meeting langsung kembali ke ruangan nya di lantai paling atas bersama Hardi.
"Hardi, saya minta kamu carikan bodyguard wanita yang terbaik untuk menjaga Amay 24 jam ketika ia pergi! Pertemukan dengan saya dan saya yang akan memilihnya langsung! Dan juga kerahkan orang-orang kamu untuk menjaga keamanan pada saat resepsi pernikahan anak saya nanti! " ucap Rahman begitu mereka sudah di ruangan nya.
"Baik Tuan Besar! " jawab Hardi patuh.
Tiba-tiba saja ponsel nya berdering dengan nyaring dan Rahman mengangkat panggilan tersebut dengan ekspresi muka panik.
"Hardi! Ayo kita pulang sekarang ke kediaman besan saya! " teriak Rahman dengan terburu-buru setelah mematikan sambungan telepon tadi.
"Apa yang terjadi Tuan Besar? Kenapa Tuan panik begitu? " tanya Hardi dengan muka heran.
"Ayo Hardi! Jangan banyak tanya! Kita pulang sekarang! " jawab Rahman dengan memakai jas nya tergesa-gesa.
Ia langsung berlari keluar ruangannya dengan Hardi yang juga ikutan berlari mengejar majikannya yang sudah berlari duluan menuju lift.
"Amay marah dan merajuk karena ia mengira saya berbohong dan meninggalkan nya lagi! " cerita Rahman ketika mereka sudah di dalam lift.
"Oh begitu, wajar Tuan besar! Nona muda sedang hamil, jadi perasaan nya sangat sensitif sekali! Lagi pula wajar jika Nona ingin bermanja-manja dengan Tuan Besar! " jawab Hardi dengan tersenyum kecil.
"Iya, kamu benar Hardi! Aku akan melimpah kan nya dengan kasih sayang yang banyak untuk menggantikan waktu kami yang terpisah selama 26 tahun ini dengan cinta dan perhatian yang hanya aku berikan untuk Putri ku seorang! " jawab Rahman juga ikut tersenyum bahagia.
"Oh ya, nanti begitu keluar dari sini, kita ke toko bunga dulu! " ucap Rahman kepada Hardi.
"Beres Tuan! " jawab Hardi dengan memberikan jempol nya.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...
__ADS_1