
Hari demi hari, kesehatan Ibu Tinah sudah semakin baik semenjak di rawat selama satu minggu di rumah sakit milik keluarga Barzakh.
Hari minggu ini Ibu Tinah akan pulang ke rumah kediaman Barzakh. Awalnya Davin meminta Ibu nya tinggal di apartemen nya, karena rumah lama mereka sudah di sewa orang.
Tapi semua itu di tentang keras Mama Lia. Ia menyuruh Ibu Tinah tinggal di rumah nya karena masih tetap kontrol setiap dua minggu sekali selama satu bulan. Berhubung pernikahan Davin tinggal beberapa minggu lagi, Ibu Tinah di minta untuk stay di Jakarta saja. Tidak usah ikut Pakde Soleh pulang ke kampung.
Pakde Soleh tidak bisa membiarkan usaha kebun nya di tinggal lama-lama, apalagi seminggu lagi ia akan panen jagung dan singkong. Untuk itu ia setuju-setuju saja saat istrinya di minta untuk tinggal di rumah keluarga Barzakh.
"Kalau Jeng Tinah di sini, Jeng gak akan kesepian. Dan kami semua bisa jagain Jeng jika ada apa-apa! Lagian apartemen kamu kan sempit! Terus kamu juga sibuk kerja, masa Ibu kamu di biarkan aja sendiri di sana! Pokoknya Jeng Tinah di rumah saya saja. Titik gak pakai koma atau tanda tanya! " ucap Mama Lia tegas tanpa bisa di tawar.
"Iya Mbak, aku juga gak tenang biarin Mbak Tinah di apartemen nya Davin sendiri siang-siang! Mendingan di sini main sama cucu! Tuh lihat, mereka gemoy banget pengen tak gigit saking gemes nya! " sahut Bulek Saroh ikut mendukung sambil menunjuk si kembar yang berbaring di karpet lembut bermain-main bersama pengasuh nya.
"Iya Dek, Mas jadi tenang ninggalin kamu kalau di sini! Dua minggu lagi Mas datang sekalian bawa kamu kontrol ke rumah sakit! Lagian juga pernikahan Davin kan tinggal tiga minggu lagi! Kamu di sini saja yah! " ucap Pakde Soleh juga dengan lembut.
"Iya Mas.. ! Tapi aku gak enak karena ngerepotin semua orang yang di sini! " jawab Ibu Tinah agak sungkan.
"Siapa yang di repotin?? Justru nanti Jeng Tinah yang di repotin karena bantuin jagain si kembar kalau mereka bangun kayak sekarang! " ucap Mama Lia sambil terkekeh.
"Duh... Gemes nya cucu nya Eyang! Badan gembul kayak gini susah mau tengkurap! Sekali tengkurap gak bisa balik, jadi nya nangis! " ucap Bulek Saroh gemes sambil menggendong Maggie.
"Iya Bulek! Khalid dan Imran yang udah pintar tengkurap, kalau Zaid kayak nya malas banget! Tuh lihat, cuma telentang aja sambil mainin kaki nya! " sahut Amay menunjuk anak keduanya itu.
Ibu Tinah tersenyum bahagia melihat anak-anaknya Amay yang lagi lucu-lucu nya. Ia meraba perut nya karena tidak lama lagi ia juga akan mempunyai anak, buah cinta nya dengan suami yang sekarang.
"Yang kayak gini nih yang bikin Eyang malas pulang ke kampung! Kalau gak mikirin dan kasihan ama Eyang Kakung, Eyang Uti gak mau pergi ninggalin kalian semua! " ucap Bulek Saroh gemes dengan menciumi pipi gembul Maggie.
"Nisa jadi gak sabar saat Ibu lahiran nanti! Rasanya seneng banget punya adik dengan jarak usia yang jauh kayak gini! " ucapnya sambil memainkan jari nya Zaid.
"Kamu itu juga sudah pantas yo, Nduk menikah! Punya anak sendiri juga sudah pantas! " sahut Bulek Saroh pada Annisa.
"Moh Nisa Bulek! Nisa masih pengen sama Abah dan Ibu dulu! Masih betah sama mereka. Kalau Nisa nikah otomatis Nisa bakalan ikut suami kan?? Nisa gak mau cepat-cepat nikah! Nisa masih mau main sama adik nya Nisa! Nisa kan udah lama kepengen punya adik, tapi Abah gak mau nikah-nikah. Baru sekarang nikah nya, jadi baru sekarang juga punya adiknya! Jadi Nisa mau senang-senang sama adik dulu lah! " jawab Annisa malas nikah cepat.
"Bulek kan gak nyuruh kamu! Cuma bilang udah pantas aja! Lagi pula kamu kan juga masih muda, jadi masih panjang masa depan mu! Atau kalau gak kamu lanjut sekolah aja Nduk! Sayang sama otak mu yang encer itu! " ucap Bulek Saroh memberikan usul.
"Udah sering Kakang bilangin Saroh! Tapi ya ponakan kamu itu katanya malas mikir lagi! Padahal Kakang juga pengen dia sarjana kayak kakaknya Amay! Jadi Sarjana kan bukan mesti untuk kerja, tapi sebagai ilmu pengetahuan yang bisa kita ajarkan pada anak-anak kita nanti! Karena Ibu itu madrasah pertama bagi anak-anak nya! " sahut Pakde Soleh panjang lebar.
"Nanti Nisa pikirin lagi Abah!!!! " ucap Annisa santai.
"Iya Nis... Kakak setuju dengan kata Pakde! Menjadi sarjana gak mesti wajib kerja untuk perempuan, tapi kalau bisa keterima kerja itu alhamdulillah dan jika tidak jangan berkecil hati. Jangan berpikir setelah menjadi sarjana dan tidak bekerja di kantor itu hal yang sia-sia. Tidak ada yang sia-sia bagi seorang perempuan, karena ilmu yang ia dapat kan dengan pendidikan nya akan ia terapkan untuk anak-anak nya nanti. Seperti kata Abah mu tadi, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak nya. Jika madrasah nya bagus, InsyaAllah akan bagus pula anak-anak nya nanti. Jadi, tidak ada yang sia-sia. Lagi pula mendidik dan mengajarkan ilmu ketauhidan pada anak-anak kita pahalanya besar, apalagi sampai menghasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah! Subhanallah, nikmat nya! Jadi, kalau kamu mau untuk lanjut kuliah, kakak bisa bilang sama Abang atau sama Mas Davin! " ucap Amay panjang lebar.
"Nisa mau kakak! Nisa juga mau menjadi Ibu yang hebat dan pintar untuk anak-anak Nisa nanti! Nisa juga mau menjadikan anak-anak Nisa menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah! Nisa mau lanjut kuliah lagi untuk pengetahuan Nisa sendiri dan kelak untuk anak-anak Nisa nanti! " seru Nisa tiba-tiba bersemangat mendengar ucapan Amay tadi.
"Alhamdulillah... Beneran kamu Nduk? Ya Allah, Abah senang sekali! " ucap Pakde Soleh penuh syukur.
__ADS_1
"Alhamdulilah... Bulek juga senang dengar nya! Jaman Bulek dan Ibu mu beda dengan jaman kalian yang sekarang. Jaman kami dulu meskipun hanya tamatan SD tapi pengetahuan kami seperti pengetahuan anak SMA sekarang. Jadi, semua nya baik pendidikan maupun yang lainnya harus di sesuaikan dengan perkembangan zaman! Lihat orang-orang hebat jaman sekarang, itu semau berkat didikan orang-orang tua mereka pada zaman dulu! Seperti Pak lek dan Abah mu, atau mertua kakak mu, atau orang tua kakak mu! Mereka sukses berkat didikan orang tua pada jaman dulu! Jaman kalian yang sekarang, belum tentu bisa seperti itu juga. Untuk itu sangat perlu perempuan jaman sekarang mempunyai pendidikan tinggi agar bisa mencetak generasi muda penerus bangsa yang tidak hanya bagus karir nya, tetapi juga bagus akhlak dan agamanya! " tambah Bulek Saroh lagi dengan bijak.
"Iya Nak! Selagi ada kesempatan jangan di sia-sia kan! " sahut Ibu Tinah ikut mendukung.
"Iya Bu, Bulek! Nisa bersemangat akan kuliah lagi! Lagian kan sekarang udah ada Ibu yang akan menemani Abah kalau Nisa tinggal ke Kota! Di tambah lagi nanti juga ada dedek kecil yang bikin rumah gak sepi! " ucap Annisa dengan tersenyum ceria.
"Alhamdulillah... Saya juga senang dengar nya Jeng! Saya suka dengan anak muda yang semangat mengejar pendidikan! Atau jangan-jangan dulu nya kamu gak mau kuliah karena kasihan ninggalin Abah kamu ya?? " tuduh Mama Lia tepat sasaran.
"Hehehehe... Sebenarnya 100% iya Ma.. ! " jawab Annisa cengengesan.
"Ya sudah, kalau gitu mendingan kamu siap-siap sekarang Nduk! Kita akan pulang habis Asar nanti, sekalian kamu Abah antar ke Pondok! Kamu belajar di sana untuk mempersiapkan tes masuk perguruan tinggi nanti sambil mengajar santri juga! " perintah Pakde Soleh pada Annisa.
"Iya Bah.. ! " jawab Annisa patuh dan beranjak ke kamarnya untuk berkemas.
Mereka semua duduk lesehan di karpet khusus yang bahan lembut dan nyaman untuk si kembar bermain-main di atas nya.
🌾🌾🌾
Sementara itu di kantor, Davin terlihat semakin sibuk dengan pekerjaan nya menjelang beberapa minggu pernikahan.
Ia mengejar deadline agar bisa mengajukan cuti bulan madu selama 10 hari ke Jepang sesuai impian Aulia yang pengen lihat gunung Fuji di Honshu, Jepang.
Saat sedang sibuk-sibuknya berkencan dengan berkas-berkas yang bikin sakit mata, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk oleh Elya.
Pintu terbuka dan Elya masuk dengan wajah yang sembab karena menangis.
"Ada apa?? Kenapa kamu menangis?? " tanya Davin sembari menghentikan pekerjaan nya.
"Maaf Pak Davin! Saya baru di beri tahu jika Ibu saya masuk rumah sakit karena jatuh di kamar mandi! Saya mau minta izin untuk pulang ke Bandung selama tiga hari! " jawab Elya dengan terisak-isak.
"Innalillahi... Ya sudah! Suruh Ali buat surat izin nya, biar saya tanda tangan! Semoga Ibu kamu cepat sembuh! " ucap Davin turut prihatin dengan musibah Elya.
"Terimakasih Pak Davin! Saya permisi dulu! Assalamualaikum! " sahut Elya dengan menunduk hormat.
Davin mengangguk pelan. Sepeninggalan Elya keluar dari ruangan nya, Davin memijit kepala nya yang pusing karena pekerjaan nya bertambah banyak dengan izin nya Elya meski hanya tiga hari.
"Semangat Davin! Semangat! Demi cuti bulan madu selama 10 hari! " ucap nya menyemangati dirinya sendiri.
Karena Izam juga sedang sibuk di perusahaan utama Barzakh, maka untuk perusahaan pribadi Izam, Davin lah yang meng-handle nya karena ia satu-satunya yang di beri wewenang langsung oleh Izam selaku pemilik perusahaan.
Untung ada Ali yang membantunya, karena kalau tidak bisa-bisa ia gagal mendapatkan cuti bulan madu selama 10 hari. Atau lebih parah lagi ia akan langsung ambruk karena mengatasinya sendiri jika tidak di bantu Ali.
Elya datang kembali dengan menyerahkan surat izin cuti selama tiga hari dan ia langsung pergi setelah Davin menandatangani nya.
__ADS_1
Davin kembali sibuk dengan pekerjaan nya dan hanya bisa berhenti saat sholat dan makan siang.
Sama hal nya dengan Davin, Izam juga sedang berkutat dengan berkas yang tinggi nya mengalahkan Gunung Himalaya.
"Ya Allah... Gini amat cari duit! Enakan saat aku bikin program kayak dulu dari pada ngurus sebuah perusahaan! Jadi kangen sama anak-anak dan emaknya nya! Mereka lagi ngapain yah?? " gumam Izam sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi goyang.
Ia memejamkan matanya sejenak karena lelah yang melanda fisiknya karena setengah harian duduk di kursi dengan memeriksa berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Pantat nya bahkan terasa panas karena kelamaan duduk di kursi. Bahunya pegal-pegal dan lehernya sampai kaku karena menunduk, membaca semua berkas agar tidak ada yang terlewat kan hingga menimbulkan kerugian pada perusahaan keluarga nya.
"Nanti pulang butuh pijatan ini! Syukur-syukur dapat pijat plus-plus dari emaknya si kembar! Kan lumayan sebagai obat capek dan lelah! " gumamnya dengan wajah mesum.
Karena mengingat hal-hal yang berbau adegan ranjang, Izam semakin bersemangat menyelesaikan pekerjaan nya agar bisa cepat pulang untuk meminta di pijat yang pastinya nanti ujung-ujungnya olahraga sore juga.
🌾🌾🌾
Di penjara, Bude Maryam mengamuk saat di kunjungi adiknya Marlena. Ia memarahi dan mengungkit-ungkit jasanya pada sang adik saat mereka masih kecil dulu.
"Percuma punya adik orang kaya kalau tidak bisa membebaskan kakak nya dari sini! Lebih baik tidak usah lagi kau datang menjenguk aku di sini Lena! Aku tidak butuh belas kasihan mu! " ucap nya dengan ketus.
"Ya Allah Mbak! Aku tulus menjenguk Mbak! Aku harus bagaimana lagi mau bantu Mbak! Aku sudah meminta Anita untuk bicara pada Izam agar membebaskan Mbak! Tapi mereka menolak Mbak! Mereka keukeh tidak akan damai! " sahut Merlena dengan hati sedih atas sikap kakak nya.
"Cih, kau minta bantuan pada laki-laki miskin itu! Ingat Lena, kau dulu menolak nya karena dia hanya penjual kebab. Kenapa sekarang kau minta bantuan pada laki-laki miskin itu? Bisa apa dia?? " ucap Bude Maryam angkuh dengan menghina Izam.
"Izam itu memang miskin Mbak! Bahkan saking miskin nya ia bisa beli perusahaan Mas Amir 100x lipat! Mbak tau kenapa? Karena Izam itu orang paling kaya di Indonesia ini! Dan laki-laki bernama Davin itu adalah temannya. Ia terang-terangan berkata akan membuat Mbak untuk tetap di penjara ini! " jawab Hajjah Marlena dengan begitu frustasi.
"Apa kamu bilang?? Kalau dia orang kaya, suruh aja Anita memohon sama laki-laki itu agar membebaskan aku! Bukannya Anita dan laki-laki itu cinta mati?? " ucap Bude Maryam dengan enteng nya.
"Mbak itu bodoh apa pikun sih! Mau di taruh dimana muka aku kalau Anita aku suruh memohon sama laki-laki yang sudah di hina sedemikian rupa oleh Ibu nya! " jawab Hajjah Marlena dengan nada tinggi.
"Berani kamu bilang aku bodoh Lena! Dasar adik kurang ajar kamu! Pergi kamu dari sini ! Pergi ! " teriak Bude Maryam emosi.
"Kamu memang adik gak tau di untung! Aku yang merawat kamu waktu kecil, aku yang mengasuh kamu saat orang tua kita sibuk, aku sampai kehilangan masa bermain aku hanya untuk menjaga kamu, Marlena! Sekarang kamu tidak mau menolong kakak mu yang di dzolimi ini?? " teriak ia lagi dengan kencang hingga membuat petugas polisi menegur mereka dan membawa Bude Maryam kembali ke sel nya.
Hajjah Marlena hanya bisa menghela napas dalam-dalam melihat kakak nya yang marah-marah sambil mengungkit jasanya waktu mereka kecil dulu.
Dengan langkah gontai dan lesu, ia keluar dari kantor polisi menuju parkiran tempat mobilnya parkir.
"Aku harus gimana lagi biar bisa bebaskan Mbak Maryam dari sana?? Aku takut salah langkah dan bisa membahayakan perusahaan! Bagaimana pun juga, banyak orang yang bergantung hidup di perusahaan kami, meskipun bukan perusahaan besar! " keluh nya sembari memijit kepala nya yang terasa berdenyut-denyut.
Hajjah Marlena masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir nya untuk pulang ke rumah. Selama perjalanan ia masih memikirkan bagaimana cara agar kakak nya bisa bebas dari penjara.
Bude Maryam yang baru kembali dari ruang besuk langsung duduk di pojokan seorang diri. Seminggu lebih ia di sel ini, dan seminggu itu pula ia selalu menjadi bulan-bulanan tahanan lain dengan di suruh pijat lah, jatah makanan nya di ambil lah. Hal itu yang membuatnya kalap dengan memarahi sang adik saat mendengar adik nya belum bisa mengeluarkan nya dari sini.
Bersambung..
__ADS_1