Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Menginap di rumah Papa...


__ADS_3

Damian pulang ke rumah nya dengan perasaan campur aduk. Gelisah, takut bercampur menjadi satu. Ia mengamati sekeliling rumah ini dengan pandangan yang sangat membingungkan.


"Bagaimana bisa senyum perempuan itu sama persis saat istrinya Rahman tersenyum?? " gumam Damian bertanya-tanya.


"Aku yakin sekali jika Margaretha sudah benar-benar meninggal bersama anaknya! Tidak mungkin perempuan itu anaknya Rahman dan Margaretha! Mereka berdua sudah mati! Aku sendiri yang memastikan mayat mereka waktu itu! " ucap nya lagi dengan wajah agak frustasi.


Ia lalu melepaskan jas nya sembarangan, berjalan menuju ke sebuah lemari dan mengeluarkan sebotol minuman beralkohol dari dalam laci lemari tersebut. Lalu ia meneguk nya dengan santai sambil berdiri dengan mata yang menerawang seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Aaarrrrggghhhh.... Bikin kepala ku pusing! Kinanti saja belum ketemu titik terang nya, sekarang datang lagi perempuan yang mempunyai senyum seperti istrinya Rahman! Mengapa semua dari masa lalu ku datang secara bersamaan begini??? " teriak nya dengan melemparkan botol minuman keras itu ke dinding hingga pecah dan isinya berhamburan semua di lantai.


Ia lalu dengan kasar meraih jas nya yang tergeletak sembarangan di lantai berlari menuju lantai atas kamarnya untuk mandi. Agar membuat kepala nya menjadi dingin karena guyuran air dingin tersebut.


🌾🌾🌾


Pagi harinya...


Amay dan Izam semalam menginap di hotel tempat mereka mengadakan resepsi. Pagi ini mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, dan berniat untuk tinggal di rumah Papa Rahman sementara waktu.


"Ayo sayang... Semuanya sudah beres! Kita turun ke bawah sekarang! " ucap Izam dengan menarik koper kecil tempat pakaian ganti mereka semalam.


Mereka pun berjalan keluar dari kamar tersebut dengan bergandengan tangan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


Sesampainya di lobby, ternyata sopir sudah menunggu di luar dengan membukakan pintu untuk mereka agar segera masuk ke dalam mobil.


Hanya dalam waktu 20 menit, mobil mereka memasuki pekarangan kediaman Barzakh. Izam turun dan membukakan pintu sebelah untuk istrinya. Saat mereka memasuki rumah, seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang santai saling bercengkrama satu sama lain.


"Assalamualaikum..... " ucap Amay dan Izam serempak.


Mereka semua juga kompak menjawab salam Amay dan Izam dengan kencang.


"Kalian sudah pulang?? Mama kira kalian bakalan menginap dulu beberapa hari di sana! " ucap Mama Lia sesaat setelah Amay dan Izam mengucapkan salam.


"Iya Ma.... Kita mau siap-siap juga ini! Rencana nya kami berdua mau menginap di rumah Papa Rahman sementara waktu... Amay ingin merasakan tinggal bersama Papa nya! Boleh gak Ma?? " jawab Izam sambil bertanya pada Mama nya.

__ADS_1


"Ya Allah.... Ya boleh lah... Masa iya di larang! Di sini rumah kamu, dan di sana juga rumah kamu! Kalian mau tinggal di mana sesuka hati kalian ya gak papa, asal jangan tinggal di rumah sendiri! " jawab Mama Lia dengan membawa Amay duduk di sampingnya.


"Ya elah Mama.... Tadi katanya boleh sesuka hati mau tinggal di mana, giliran mau bikin rumah sendiri gak di bolehin! Gimana sih... ! Sama aja gak boleh itu namanya! " ucap Izam menggerutu pada Mama nya.


"Bodo amat.... Kalau bukan kalian yang tinggal di rumah kami siapa lagi! Tetangga sebelah gitu?? " jawab Mama Lia gak mau kalah.


"Serah Mama dah.... Serah! Susah emang ngomong sama Mama yang gak mau kalah sama anaknya! " sahut Izam lagi mengalah.


"Alah.... Kayak kamu mau ngalah aja! " Cibir Ara mendorong bahu adiknya.


"Iya.... Sok-sokan bilangin Mama kayak gitu! Dia sendiri paling gak mau kalah kalau berdebat! Mau menang mulu! " sahut Ana ikutan nimbrung.


"Eits..... Itu lain lagi persoalannya! Di mana-mana itu, orang tua yang harus ngalah sama anak! Gitu loh.... " jawab Izam ngeles.


"Eh pea.... ! Yang ada anak yang harus ngalah sama orang tua! Masa iya orang sudah tua di ajak debat! " ucap Ana dengan menoyor pelan kepala Izam.


"Kamu ngatain Mama tua??? " tukas Mama Lia dengan mata melotot pada Kak Ana.


"Gak Ma.... Piis damai! Itu cuma perumpamaan aja Mama ku sayang, yang cantik jelita, yang gak mau di katakan tua tapi kenyataan emang benar! " jawab Ana sambil nyengir dengan memberikan dua jari tanda damai ✌.


"Kamu serius Sayang mau tinggal sama Papa?? " tanya Rahman pada Amay lagi dengan wajah tidak percaya.


"Benar Papa !!! Amay pengen tinggal sama Papa!! Boleh gak!! " jawab Amay membenarkan sambil meminta izin.


"Alhamdulillah ya Allah... Boleh sayang! Boleh banget! Kamu gak perlu minta izin segal! Itu rumah kamu, Nak! " jawab Rahman dengan raut wajah bahagia tidak terkira.


"Terimakasih Papa! Ya udah... Amay ke atas dulu mau beres-beres! " ucap Amay dengan wajah berseri-seri.


"Eits..... Nehi... Nehi.... Nehi.... ! Biarkan Maliq saja yang ke atas beres-beres! " cegah Mama Lia saat Amay hendak berdiri.


"Maliq... ! Pergi ke atas ke kamar kalian! Beresin pakaian kalian yang akan kalian bawa ke rumah mertua kamu! Pergi sana! " perintah Mama Lia dengan menunjuk Izam.


"Apa???? Kok cuma Izam sendiri sih Ma?? Izam kan gak tau harus mau bawa yang mana? " jawab Izam agak berat untuk melakukannya.

__ADS_1


"Gak usah berlagak bodoh deh kamu! Cepetan sana! Gak pakai lama! Kamu kan tau pakaian apa saja yang di sukai istrimu! Jangan coba-coba bohongin Mama! " ucap Mama Lia dengan tegas pada Izam.


Izam menatap pada istrinya dengan tatapan memohon dan semua itu tak luput dari pandangan mata elang Mama Lia.


"Gak usah bikin muka sok teraniaya gitu! Buruan sana! " sahut Mama Lia lagi yang tidak bisa di tawar-tawar lagi.


Dengan langkah lesu ia bangkit dan berjalan menuju tangga ke kamarnya untuk berkemas.


Semua yang ada di sana hanya tersenyum kecil melihat wajah keberatannya Izam di suruh beberes.


"Oh ya, Nduk! Bulek sama Pak lek mau pulang ke kampung besok pagi-pagi! " ucap Bulek Saroh memberitahu Amay.


"Kok cepat banget sih Bulek? Kenapa gak di sini aja sehari atau dua hari lagi! Kita belum ajak Bulek dan semuanya menginap di rumah Papa! " sahut Amay dengan wajah sedih.


"Bukan apa-apa Nduk! Pak lek dan Bulek sudah hampir satu minggu di Jakarta ini, Dan pondok kita hanya Pak lek titip pada Ustadz dan Ustadzah yang mengajar di sana! Kasihan jika di tinggal terlalu lama, kapan-kapan lagi kami datang ke Jakarta dan menginap di rumah Papa mu! Kamu juga bisa pulang ke kampung, karena bagaimanapun juga kamu tetap pemilik pondok pesantren kita dan tetap anak Abah dan Umi mu! " Pak lek Rohim yang menjawab.


"Iya, Nduk! Bulek sih senang-senang saja di sini, tapi bagaimana dengan anak-anak di pondok, para khadam dan khadamah yang menjaga rumah kita dan rumah Abah mu! Bagaimana pun juga itu semua warisan Abah mu untuk kita semua agar tetap beroperasi mengajarkan ilmu agama untuk para generasi muda! " tambah Bulek Saroh lagi dengan memeluk Amay dari samping.


"Kamu gak usah sedih sayang... Kapan-kapan jika kamu kepengen ke kampung, kamu ngomong sama Papa dan kita akan ke sana sama-sama! " ucap Papa Rahman ikut menghibur Putri nya.


"Ya udah... Kalau gitu kita besok aja ya Pa nginap di rumah Papa nya! Kita ke rumah Papa setelah Bulek dan Pak lek pulang saja! Amay kira Bulek dan Pak lek masih lama di sini, makanya hari ini Amay mau ke rumah Papa! " ucap Amay sambil bertanya pada Papa nya.


"Terserah kamu saja sayang! Yang penting kamu senang! " jawab Papa nya dengan lembut.


"Terimakasih Papa! " ucap Amay dengan wajah bahagia.


"Oh ya Ma, Amay mau kasih tau Abang dulu kalau beberes nya besok aja! Karena ke rumah Papa nya kan besok, bukan hari ini! " ucapnya lagi sambil berdiri.


"Udah.... Gak usah! Biarkan saja, toh besok tinggal berangkat aja! Gak perlu repot-repot lagi mau beberes! " cegah Mama Lia dengan menarik pelan tangan Amay agar duduk kembali.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2