
Setelah selesai sholat, Izam pun menghampiri istrinya dan mengajaknya pulang ke rumah mereka.
"Bang, kita di antar lagi ya pakai mobil yang tadi? " tanya Amay begitu mereka keluar dari restoran tersebut.
"Iya sayang? Emang nya kenapa? Kamu gak suka naik mobil nya, atau kita ganti naik yang lain gimana? " jawab Izam sambil bertanya kembali.
"Ish... Bukan begitu abang! Amay gak enak aja sama teman Abang, masa udah di jemput dari kampung eh sampai di sini di antar lagi sampai ke rumah! Kan gak enak rasanya ngerepotin teman nya Abang! " ucap Amay dengan polosnya.
"MasyaAllah... Lugu banget sih istriku ini! Teman Abang itu gak bakalan protes atau perhitungan dengan Abang karena ini semua dia yang menawarkan ketika kita masih di pesantren tadi! Jadi kamu gak usah merasa gak enakan gitu! Oke!! " sahut Izam dengan tersenyum kecil.
"Oh gitu... Oke Abang! " jawab Amay dengan tersenyum lega.
"Aku pecat jadi sahabat dan dari perusahaan kalau Davin berani-beraninya perhitungan sama aku! Tapi kasihan juga dengan istri ku ini, gimana ya reaksinya jika ia tahu kalau Davin itu hanya tangan kanan ku dan bukan pemilik perusahaan. Mudah-mudahan dia gak kecewa jika tahu kalau suami nya ini tidak jujur mengatakan jika suaminya ini sebenarnya seorang pengusaha dan pemilik sebuah perusahaan yang ia rintis sendiri. " gumam Izam dalam hatinya.
Mereka berdua pun kembali masuk kedalam mobil yang berhenti di depan mereka. Mereka ke rumah kontrakan Izam dengan menempuh waktu selama 20 menit karena jalanan lumayan macet.
"Alhamdulillah... Akhirnya kita sampai juga di rumah kita! " ucap Izam ketika mobil berhenti di sebuah rumah yang agak kecil tapi mempunyai pekarangan yang luas dan banyak pepohonan yang tumbuh sehingga rumah tersebut tampak begitu asri.
"Jadi, ini rumah kita tinggal Bang? " tanya Amay sebelum mereka turun.
"Iya sayang, kenapa? Kamu kurang suka? " tanya Izam hati-hati.
"Siapa yang bilang gak suka, malahan Amay suka banget yang punya halaman luas kayak gini! Nanti boleh gak Amay tanami bunga-bunga Bang? " jawab Amay dengan mata berbinar.
"Ya boleh dong! Nanti kita ke toko bunga, kita cari bunga yang kamu mau! Kamu bisa menanam bunga apa saja nanti. " ucap Izam dengan tersenyum senang.
"Asyik.... " sahut Amay dengan wajah bahagia.
"Yuk kita turun! " ajak Izam dengan membukakan pintu mobil.
Amay segera turun setelah suaminya membukakan pintu mobil, sopir mobil membantu mengeluarkan barang-barang mereka dan membawanya hingga sampai ke teras rumah.
Izam berjalan memasuki halaman rumah dengan menggenggam tangan istrinya. Mereka berjalan dengan tersenyum bahagia. Belum sampai ke depan pintu, seseorang memanggil Izam dari arah luar pagar.
"Assalamualaikum nak Izam.... " ucap seseorang dari luar pagar.
"Waalaikumsalam... Eh Bunda, ayo masuk Bunda! " jawab Izam dengan melihat ke belakang dengan tersenyum ramah.
Orang yang di panggil Bunda itu pun masuk ke dalam pekarangan rumah Izam dan berjalan mendekati mereka berdua yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ini pasti istrinya nak Izam! " tebak Bunda Yasmine dengan ramah.
"Benar Bunda, ini istri Izam, Amay! " jawab Izam dengan menyalami punggung tangan Bunda Yasmine di ikuti juga oleh Amay.
"Subhanallah cantik sekali! Bunda senang banget sekarang nak Izam sudah ada yang menemaninya di rumah ini, tidak sendiri lagi. Mudah-mudahan rumah tangga kalian selalu di rahmati Allah SWT jauh dari segala macam hal-hal yang buruk dan kalian selalu rukun hingga ajal menjemput.. " ucap Bunda Yasmine mendoakan mereka berdua.
__ADS_1
"Aamiin ya Rabbal alamiin, Terimakasih atas doanya, Bunda! " jawab Izam dengan haru mengamini doa Bunda Yasmine barengan dengan istrinya.
"Ayo Bunda kita masuk! " ajak Izam ketika selesai membuka pintu.
"Kalian saja yang masuk, pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Bunda mampir hanya ingin menyapa dan berkenalan saja, karena Bunda lagi ada keperluan lain lagi. Lain kali Bunda akan mampir lagi ke sini! " jawab Bunda Yasmine menolak ajakan Izam dengan ramah.
"Ya sudah kalau begitu! Rumah ini selalu terbuka dengan lebar kapanpun Bunda datang berkunjung! " ucap Izam dengan ramah pula.
"Kalau begitu Bunda pamit dulu ya, nak Izam, nak Amay! " pamit Bunda Yasmine dengan melambaikan tangannya.
"Iya Bunda! " jawab Izam dan Amay berbarengan.
Mereka melihat Bunda Yasmine sampai menghilang dari pandangan, barulah setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah sambil membawa barang-barang mereka.
🌿🌿🌿
Di kota yang berbeda...
Mama Lia duduk termenung di bangku halaman belakang rumah putrinya. Ia tidak fokus melihat cucunya bermain berlarian ke sana kemari dengan aktifnya. Papa Idris yang melihat istrinya seperti itu pun berjalan mendekati tempat istrinya duduk dalam diam.
"Kenapa sih Ma, wajahnya murung begitu! Nanti malah di kira Mama gak suka lagi berada di sini! " tegur Papa Idris ketika mendudukkan diri di samping Mama Lia.
"Kok Papa ngomong nya gitu? Gak mungkin lah Mama gak suka di rumah anak sendiri! Mama itu lagi kepikiran Maliq Pa? Perempuan seperti apa yang ia nikahi? Apakah perempuan itu baik?Tidak berpura-pura mencintai putra kita? Apakah nanti Mama cocok ketika bertemu nanti? " jawab Mama Lia dengan pandangan menatap langit di atas nya.
"Ya Allah... Gak boleh berfikiran negatif seperti itu! Belum tentu apa yang Mama khawatir kan itu terjadi. Ingat Ma, ucapan itu adalah doa. Jadi lebih baik Mama ucapkan yang baik-baik tentang menantu kita. Bagaimana pun juga sekarang ini status perempuan itu sudah menjadi istrinya Maliq, anak kita. Jadi Mama berdoalah semoga apa yang Mama khawatir kan itu tidak terjadi, dan kita mendapatkan menantu idaman kita selama ini. " nasihat Papa Idris dengan bijak.
"Kenapa Mama sama Papa gak datang aja ke rumahnya Maliq berkenalan dengan menantu baru! " tanya Ara yang tiba-tiba ikutan nimbrung duduk di depan Mama Papa nya.
"Kamu udah pulang? Gimana dengan terapinya Salim? " tanya Mama Lia tanpa menjawab pertanyaan Ara.
"Ara udah pulang dari tadi Ma, bahkan mendengar jelas saat Papa mengeluarkan suaranya! Bang Salim alhamdulillah perkembangannya semakin baik, dan tadi terapi berjalan pelan-pelan meski agak sedikit kesakitan di awalnya. Mama sama Papa belum jawab pertanyaan Ara loh? " jawab Ara dengan sedikit protes.
"Kalau Mama dan Papa pulang, gimana dengan Shahnaz dan Syakir? Nanti kamu repot mengurus mereka berdua. Nanti malah Salim terabaikan karena kamu keasyikan mengurus mereka berdua. " jawab Mama Lia agak keberatan.
"InsyaAllah Salim gak papa Ma! " jawab Salim dengan suara keras berdiri di depan pintu dengan kedua kruk di sisi kanan dan kirinya.
"Ya Allah Papi... " teriak Ara sambil bangkit mendekati suaminya.
"Santuy aja sayang! Aku gak papa berjalan sendiri ke sini, itung-itung latihan berjalan agak jauh. " jawab Salim mencoba menenangkan istrinya.
"Itulah yang bikin Mama agak berat meninggalkan kalian dengan keadaan seperti ini, tapi di sisi lain Mama juga kepikiran dengan keadaan adik kalian Maliq. " ucap Mama Lia dengan sedikit bingung.
"Atau gini aja, gimana kalau kalian juga ikut Mama dan Papa pulang ke Jakarta. Kamu bisa meng-handle pekerjaan kamu dari jauh kan Ara? " usul Papa Idris ikut bicara.
"Kalau Ara sih terserah Bang Salim aja, karena selama ini kan Ara ikut pindah karena ikut kemana Bang Salim kerja. Gimana Bang? " jawab Ara sambil bertanya kepada suaminya.
__ADS_1
"Boleh juga, karena dengan keadaan aku yang masih seperti ini, seperti nya aku akan resign dan berencana memulai usaha saja setelah sembuh nanti. " jawab Salim tidak keberatan.
"Alhamdulillah.... " ucap semuanya.
"Abang serius mau resign? " tanya Ara sekali lagi.
"Serius banget. Karena Abang sebenarnya sudah memikirkan ini sejak awal kecelakaan, hanya saja Abang sungkan untuk memberitahukan mu karena Abang lihat kamu begitu nyaman banget kerja di rumah sakit xxx itu. " jawab Salim dengan yakin.
"Subhanallah Abang... Kenapa gak Abang omongin dengan Ara. Kalau pun Abang minta Ara resign pun Ara mau, apalagi kalau cuma pindah. Kalau gitu besok Ara akan ngajuin pindah aja ke rumah sakit, kalau pun tidak di perbolehkan Ara gak masalah kalau di berhentikan oleh rumah sakit. " ucap Ara dengan penuh hari dan bersemangat.
"Ya sudah kalau begitu, berarti kita deal pindah ke Jakarta. Soal kerjaan itu soal gampang, kamu kan bisa kerja di rumah sakit kita. Kalau perlu kamu yang pimpin rumah sakit itu menggantikan Pak Haris yang selalu merengek minta pensiun. " ucap Papa Idris dengan santainya.
"Iya, Mama setuju! " sahut Mama Lia juga ikutan.
Ara dan Salim pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama kedua orang tuan Ara. Mereka mempersiapkan semuanya dengan matang selama hampir dua minggu. Dan waktu yang di tunggu untuk pulang ke Jakarta akhirnya tiba, kedua anak Ara bersemangat sekali ikut orang tuanya pindah. Sedangkan Mama Lia sedang harap-harap cemas karena akan mengunjungi rumah kontrakan Izam dan bertemu dengan menantu barunya untuk pertama kali.
🌿🌿🌿
Pagi-pagi sekali...
Izam yang sedang bersantai di ruang keluarga menonton televisi di kejutkan dengan ketukan pintu yang sangat kuat.
"Bang, ada tamu tuh! Amay lagi masak nih Bang, tanggung mau di tinggalin. Nanti masakannya gosong! " ucap Amay dari dapur.
"Ia sayang! " jawab Izam dengan suara rendah.
"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi gini? Gak lihat apa orang lagi santai gini! " gerutu Izam sambil berjalan ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang.
Ketukan pintu semakin terus terdengar, bahkan semakin keras dan kencang.
"Ya ampun... Tidak sabaran banget sih! Iya, sebentar! " teriak Izam dari dalam rumah.
"Cklek..... " pintu terbuka.
"Mama..... Papa..... " pekik Izam kencang dengan wajah kaget.
Bersambung...
Maaf baru bisa update setelah sekian lama...
Maaf telah mengecewakan para reader's semua karena jarang update karena kesibukan di dunia nyata yang selalu menguras waktu dan tenaga...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader's semuanya...
Selamat berlibur dan berakhir pekan...
__ADS_1
Selamat tahun baru Hijriah 1 Muharram 1444 H...