
Hari ini adalah saat yang paling di tunggu-tunggu dan paling di nantikan Rahman Atmanegara. Pasalnya hari ini adalah hari janjian pertemuan dengan Besannya Tuan Idris Murat Barzakh.
"Hardi, jam berapa pertemuan nya! " tanya Rahman sembari mengetuk-ketuk meja dengan jemarinya.
"Pas makan siang Tuan! " jawab Hardi yang masih fokus berkutat dengan laporan nya.
"Masih tiga jam lagi ternyata! " gumam Rahman pelan.
Saat ini mereka berdua berada di ruangan Presdir mengerjakan beberapa proposal yang masuk meminta kerja sama. Karena hari ini hari yang begitu penting bagi Rahman, ia merasa tidak sabaran lagi untuk mengatakan jika ia adalah besan mereka.
"Kenapa rasanya seperti menunggu berbulan-bulan waktu tiga jam ini! " keluh Rahman seperti seorang remaja yang sudah lama tidak bertemu kekasihnya.
Hardi tersenyum geli melihat kebosanan pria tua yang di layani nya itu.
"Tuan, dari pada Tuan gelisah seperti itu, lebih baik Tuan membantu saya mengecek proposal ini! Karena saya merasa jika proposal kerjasama ini sangat aneh dan tidak masuk akal! Saya seperti merasa ada seseorang yang berusaha ingin menjebak kita dengan kerjasama ini! " tegur Hardi dengan memegang sebuah berkas di tangannya.
"Benarkah? Sini aku lihat! Tidak akan aku biarkan sekecil apapun kesalahannya, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah bermain-main dengan seorang Rahman Atmanegara! " sahut Rahman dengan geram.
Ia pun mengambil berkas yang ada di tangan Hardi dan duduk di hadapan Hardi dengan memasang kacamata bacanya. Dengan teliti Rahman membaca baris demi baris yang tertera di dalam proposal tersebut berulang kali hingga ia membanting berkas tersebut ke atas meja dengan wajah marah.
"Brak.... "
"Ada yang mencoba bermain-main dengan ku rupanya! Tidak ada perusahaan yang menjanjikan keuntungan lebih dari 80% dalam sebuah kerja sama! Mereka pikir aku bodoh hingga tidak bisa meneliti poin tersebut! Kita lihat saja, seberapa besar niat mereka ingin menjatuhkan aku! " ucap Rahman dengan menyeringai.
"Apa nama perusahaan tersebut Tuan? " tanya Hardi penasaran.
"PT. Anugerah Sakti... " jawab Rahman singkat.
"PT. Anugerah Sakti... Hemm, rasanya saya pernah mendengar perusahaan tersebut! " gumam Hardi dengan bertopang dagu.
"Benarkah?? Jadi kau tahu siapa pemilik perusahaan ini? " tanya Rahman dengan mimik serius.
"Kalau pemiliknya saya tidak tau Tuan, hanya saja saya pernah mendengar perusahaan tersebut! Oh iya, saya ingat! Kalau gak salah itu perusahaan yang terkena penggelapan pajak dan pencucian uang dua tahun lalu! Setahu saya waktu itu pemilik nya terkena serangan jantung karena ulah anaknya perusahaan nya jadi hampir kolaps, tapi tiba-tiba berdiri kembali dengan tegak seperti ada seseorang yang membantu perusahaan tersebut agar berdiri lagi! " jawab Hardi dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, kau suruh orang-orang mu untuk menyelidiki lagi dengan benar perusahaan tersebut! Aku masih curiga jika mereka ingin menggangguku dan membuat aku hancur! Cari kelemahan perusahaan itu meskipun hanya sebesar semut! " perintah Rahman dengan tegas.
"Siap Tuan! " jawab Hardi patuh.
Hardi pun langsung bergerak cepat dengan menghubungi orang-orang nya dan melakukan semua yang di perintahkan Rahman.
"Tuan, sudah hampir jam makan siang! Lebih baik kita berangkat sekarang agar tidak terlambat! " ucap Hardi ketika ia selesai melakukan perintah Rahman.
__ADS_1
"Hah, Secepat ini? " ucap Rahman dengan rasa tidak percaya.
"Benar Tuan, sekarang lah waktu nya! " ucap Hardi membenarkan nya.
"Kenapa saat tidak melakukan apapun terasa waktu berjalan lambat sekali? Rasanya baru beberapa menit aku melihat proposal yang kau berikan tadi, tapi ternyata sudah dua jam lebih berlalu! " gumam Rahman pelan.
Ia lalu berdiri dan mengambil jas yang tergantung di kapstok lalu memakainya. Hardi membukakan pintu ruangan sambil menunggu majikannya lewat. Setelah Rahman keluar, Hardi kemudian mengunci pintu dengan menekan beberapa sandi rahasia.
Mereka lalu turun melalui lift khusus Presdir dan di depan pintu besar gedung sudah standby mobil bersama sopir berdiri tegak menunggu sang Bos.
Begitu melihat Bos besar dari jauh, sang sopir sudah duluan membukakan pintu mobil. Rahman langsung masuk ke dalam mobil dan sopir menutup pintu mobil sembari berjalan memutar ke pintu depan. Hardi masuk dan duduk di samping Pak sopir.
Hardi mengatakan tujuan mereka dan mobil pun perlahan meninggalkan halaman gedung menuju tempat yang di sebutkan Hardi.
πΏπΏπΏ
"Ma, sudah siap belum? Nanti kita telat loh? Kan malu kalau mereka kelamaan menunggu kita! " panggil Papa Idris dari luar kamar.
"Sebentar lagi Pa! "jawab Mama Lia dari dalam kamarnya.
Amay yang waktu itu hendak turun ke bawah mengurungkan niatnya dan menghampiri Papa mertuanya yang sedang duduk di sofa dekat kamar nya sambil melihat jam tangan dengan raut muka gelisah.
"Muka Papa kok gelisah gitu? " tanya Amay yang langsung duduk di samping Papa mertuanya.
"Ha.... Ha.... Ha.... Asal Papa tahu aja, perempuan kalau dandan itu gak bisa sebentar! Pasti lama, omongan nya aja yang bentar! Karena ada aja yang gak sesuai di pandang mata ketika sudah merasa yakin! Pasti ganti lagi! " ucap Amay dengan tertawa cekikikan.
"Hayo.... Pasti ngomongin Mama! Dasar Papa tukang ngadu! " ucap Mama Lia ketika ia keluar dari kamarnya.
"Habis nya Mama sih! Papa sampai bete nungguin di sini kayak ikan kering! " sungut Papa Idris.
"Enak dong ikan kering, jadi tinggal di goreng! Makan sama sambal terasi dan sayur asem! Uenak tenan! " jawab Mama Lia santai.
Amay tertawa geli mendengar jawaban absurd Mama mertuanya. Mereka bertiga turun ke bawah dengan Amay di gandeng Mama Lia ketika menuruni tangga.
"Bu Besan.... Titip Amay ya? Jangan biarin naik turun tangga sendiri! Kami mau pergi dulu! " pamit Mama Lia kepada Bulek Saroh yang menyongsong Amay yang baru turun dari lantai dua.
"Beres Besan! InsyaAllah Amay akan saya jagain! " jawab Bulek Saroh dengan memberikan jempolnya.
Syahnaz dan Syakir sepulang sekolah bermain bersama Haikal dan Haura. Mereka berdua senang banget mendapatkan teman bermain di rumah ini.
Mama Lia dan Papa Idris pergi ke cafe tempat pertemuan mereka dengan Presdir S.C.A group. Karena sudah memasuki jam makan siang, mereka terjebak macet. Untung saja tidak lama, jadi mereka tiba di tempat pertemuan dengan tepat waktu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kita gak terlambat! Untung saja macetnya gak lama, coba kalau lama macetnya, bisa-bisa kita telat dan malu dengan mereka! " ucap Papa Idris dengan wajah lega.
"Alah Papa, ya telat dikit aja kan gak masalah! Semua orang pasti maklum, namanya juga Jakarta! Bukan Jakarta kalau gak kejebak macet! " timpal Mama Lia cuek bebek.
"Ya gak enak dong Ma, masa baru ketemu aja sudah ngaret! Siapa tahu nanti kita bisa menjalin kerja sama! Ayok kita ke tempat reservasi! " ucap Papa Idris dengan mengamit tangan Mama Lia.
Mereka berdua segera menuju ruangan privat tertutup yang sudah di pesan sebelumnya. Ketika mereka berjalan mendekati pintu, seorang karyawan langsung mendekat dan memberitahu jika tamu Papa Idris sudah datang dan menunggu di dalam.
"Apa?? Jadi mereka sudah datang? " ucap Papa Idris kaget.
"Iya Pak! "jawab karyawan tersebut dengan menganggukkan kepalanya.
"Tuh kan Ma, apa Papa bilang! " ucap Papa Idris pada Mama Lia.
"Udah, ayo masuk aja! Malah ngobrol depan pintu! " jawab Mama Lia santai.
Papa Idris pun masuk dengan mengucapkan salam dan membuka pintu mempersilahkan Mama Lia masuk dengan diikuti Papa Idris di belakang.
"Assalamualaikum... Maaf kami terlambat! " ucap Papa Idris dengan ramah.
"Waalaikumsalam... Anda tidak terlambat Tuan, kami lah yang sengaja datang duluan! " jawab Rahman juga dengan ramah.
Mereka saling berjabat tangan kecuali Mama Lia, yang memberikan senyumnya dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Barzakh! " ucap Rahman mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Terimakasih Tuan.... "
"Rahman.... Panggil saja saya Rahman! " ucap Rahman menyambung ucapan Papa Idris yang terputus.
"Ah iya, terimakasih Tuan Rahman! " jawab Papa Idris lagi.
"Saya lah yang seharusnya berterimakasih dengan Tuan Barzakh yang sudah mau mengabulkan permintaan saya untuk bertemu! " ucap Rahman dengan sungguh-sungguh.
"Ngomong-ngomong ada perlu apa Tuan Rahman ingin bertemu saya secara pribadi? " tanya Papa Idris tanpa basa basi.
"Karena ini jam makan siang, bagaimana jika kita makan siang saja dulu! Setelah makan dan perut kenyang kita akan bicara panjang lebar nanti! " Rahman menawarkan Papa Idris sebelum menjawab pertanyaan Papa Idris.
"Tentu saja! Bukankah itu memang tujuan kita, agar makan siang dulu, abis itu baru bicara banyak! " jawab Papa Idris setuju.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...