
"Ya Allah, Nduk... Bulek kangen? " Bulek Saroh ikutan berteriak dan berlari ke arah Amay.
Amay yang sudah di peringatkan untuk tidak lari-lari hanya diam berdiri menunggu Bulek Saroh datang mendekati nya.
Bulek Saroh langsung memeluk Amay dengan erat dan menciumi seluruh wajah Amay hingga tidak ada yang terlewatkan.
"Udah dong Umi, lihat muka Kak Amay penuh dengan jigong Umi! " celutuk Haikal tanpa merasa takut Umi nya tersinggung.
"Plak... Sembarangan kalau ngomong! " jawab Bulek Saroh yang langsung memukul bahu Haikal begitu ia melepaskan pelukannya pada Amay.
Haikal hanya meringis kesakitan, dan langsung menyalami Amay sebelum Umi nya kembali mengambil alih Amay.
"Loh, besan sudah sampai toh! Ayo-ayo semuanya masuk! Jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri! " ucap Mama Lia dengan ramah.
"Gak nyangka ya Pak Kyai, kalau kita jadi besan! " sahut Mama Lia ketika mereka semuanya sudah duduk di ruang tamu.
"Iya, Bu! Saya gak nyangka sama sekali jika nak Izam itu anak Bapak dan Ibu! " jawab Pak lek Rohim dengan tersenyum kecil.
Mama Lia langsung memanggil Papa Idris begitu ia mempersilahkan keluarga Amay masuk ke dalam rumah.
"Saya lebih gak nyangka lagi Bu besan kalau Bu besan lah yang nolongin Amay kabur ke kota! Kalau gak ada Bu besan, saya gak tau gimana nasib Amay waktu itu! " ucap Bulek Saroh dengan tersenyum lega.
"Ah, Bu besan terlalu memuji! Justru Amay lah yang sudah duluan menolong saya tanpa tahu jika yang dia tolong itu adalah saya! Dia sudah menyelamatkan nyawa saya yang jasanya tidak bisa saya tebus dengan apapun. Meskipun semua harta saya di berikan untuk Amay itu masih belum cukup dengan darah nya yang mengalir di tubuh saya! " jawab Mama Lia yang begitu memuji Amay.
"Amay ikhlas kok Ma dunia akhirat menolong Mama atau siapapun yang membutuhkan pertolongan tanpa meminta imbalan. " ucap Amay dengan tulus.
"Iya sayang, Mama tahu! Namun tetap saja budi baik itu tidak pernah bisa di lupakan! " sahut Mama Lia dengan penuh sayang mengusap pipi Amay.
Bulek Saroh dan Pak lek Rohim tersenyum bahagia melihat bagaimana Mama Lia memperlakukan Amay.
"Oh ya ngomong-ngomong di mana nak Izam? " tanya Pak lek Rohim kepada Papa Idris.
"Lagi kerja Pak Kyai! Sudah saat nya ia menggantikan posisi saya sebagai pemimpin perusahaan! " jawab Papa Idris apa adanya.
"Alhamdulillah... Sudah keharusan itu Pak besan, karena itulah tugas seorang laki-laki yang memikul tanggungjawab yang besar bagi semua keluarga nya! " ucap Pak lek Rohim lagi.
"Tuan, Nyonya, kamar nya sudah selesai! " kata si Mbok yang datang menghampiri mereka.
"Oh ya sudah, tolong antar tamu-tamu saya ke kamarnya ya Mbok? Supaya mereka bisa beristirahat sebelum kita makan siang! " sahut Mama Lia dengan lembut.
"Baik Nyonya! " jawab si Mbok dengan membungkukkan badannya.
"Mari Pak kyai, Bu besan, silahkan istirahat dulu! Si Mbok akan mengantar kalian ke kamar! Pasti capek banget setelah melakukan perjalanan jauh! " ucap Mama Lia mempersilahkan keluarga Amay untuk istirahat.
"Iya Bulek, Pak lek, Pak de, Mama Lia benar! Ayo kalian istirahat dulu! Haikal, Haura! Ayo ajak Bulek ikut si Mbok! " sahut Amay ikut menyuruh mereka kekamar.
"Terimakasih banyak Bu Besan! " jawab Bulek Saroh agak sungkan.
"Ayo semuannya, ayo! Jangan malu-malu! Nanti akan di panggil lagi ketika akan makan siang! " sahut Mama Lia kepada para anak-anak.
Pak lek Rohim dan rombongan nya pun pergi mengikuti si Mbok ke lantai atas menuju kamar yang sudah si persiapkan Mama Lia untuk semua keluarga Amay.
"Ya Allah Umi.... Gede banget kamarnya? Kasurnya empuk banget! Terus ada TV nya juga! " pekik Haura dengan girang sambil duduk di kasur dengan bahagia.
__ADS_1
"Iya Ra, gede banget kamarnya! Wah, kamar mandinya juga gede! Segede kamar kamu di kampung! Ya ampun... Kamar tidur aja punya kamar mandi segede gini? Ckckckck.... " ucap Bulek Saroh sambil berjalan-jalan mengelilingi kamar.
"Berarti kita bertiga tidur di kamar ini ya Bulek? " tanya Annisa anaknya Pakde Soleh.
"Kayaknya iya! Soalnya kita dikasih kamar yang gede kayak gini! " jawab Bulek Saroh mengangguk.
"Beruntung banget ya Amay punya suami yang kaya raya! Udah gitu mertuanya juga baik banget! " ucap Annisa memuji Amay.
"Iya Sa, Bulek senang akhirnya Amay mendapatkan keluarga yang baik seperti mereka! Jika Kang Sulaeman dan Mbak Izah masih hidup, mereka pasti bahagia seperti Bulek saat ini! " jawab Bulek Saroh dengan wajah sendu.
"Udah ah ngomongin yang sedih-sedih! Haura mau mandi dulu, mau nyobain gimana rasanya mandi di kamar mandi yang gede kayak gitu! " ucap Haura membuyarkan pembicaraan yang melow tersebut.
"Tok, tok, tok.... Bulek, Bulek.... " panggil Amay dari luar dengan mengetuk pintu kamar mereka.
"Kak Amay Umi... " sahut Haura dengan keras.
"Iya tau Umi.. " jawab Bulek dengan berjalan membukakan pintu kamar.
"Ayo masuk Nduk! Kamu naik sendiri ke atas? Gak papa mertua kamu? " ucap Bulek Saroh sambil celingak celinguk melihat luar kamar.
"Mama tadi yang ngantar Amay ke atas Bulek! Amay mau ngasih tahu kalau di kamar mandi itu ada dua putaran kran air! Yang merah itu air panas, dan yang biru air dingin! Amay takut nanti Bulek dan yang lainnya salah putar, bisa gawat kalau langsung kena ke badan jika ke putar air panas! " jawab Amay sambil duduk di sofa kamar.
"Alhamdulillah... Untung kakak kesini, soalnya Haura mau mandi ini! Ternyata Allah masih melindungi Haura agar tidak sembrono di kamar mandi ! Ya udah, kalau gitu Haura mau mandi dulu! " sahut Haura dengan wajah lega.
Sepeninggalan Haura ke kamar mandi, mereka bertiga mengobrol sambil tidur-tiduran di atas tempat tidur.
πΎπΎπΎ
"Tuan sudah siap? " Tanya Hardi yang berdiri tegak di depan pintu kamar Tuan Besar Atmanegara.
"Aku selalu siap kapanpun, Hardi! " jawab Tuan Besar Atmanegara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ayo Tuan, kita berangkat! Semua dewan direksi dan pemegang saham sudah berkumpul di ruangan meeting! " ucap Hardi dengan hormat.
Tuan Besar Atmanegara pun berjalan keluar kamar dan tak lupa menutup pintunya sebelum turun ke lantai bawah bersama Hardi yang berjalan di belakang nya.
"Bukankah sudah aku katakan jika kau harus berjalan sejajar dengan ku Hardi? Apakah perkataan ku waktu itu kurang keras? " ucap Tuan Besar Atmanegara dengan suara dingin.
"Maafkan saya Tuan Besar! " sahut Hardi membungkuk meminta maaf.
"Kali ini aku maafkan! Jika kau masih melakukan kesalahan yang sama, aku akan menghukum mu dengan tangan ku sendiri! " ucap Tuan Besar Atmanegara dingin.
"Baik Tuan! " jawab Hardi dengan hormat.
Ia pun kembali berjalan di samping Tuan Besar Atmanegara, karena ia tidak mau ambil resiko di hukum Majikannya dengan hukuman yang mengerikan.
Hardi mempersilahkan Tuan Besar Atmanegara masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di halaman rumah megah tersebut. Setelah Tuan Besar masuk, Hardi langsung menutup pintu mobil dan segera masuk di bangku depan bersama sopir.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah menuju perusahan besar yang sampai saat ini para karyawan, dewan direksi dan pemegang saham tidak tahu siapa pemiliknya.
S.C.A Group adalah perusahaan yang ia rintis sendiri ketika ia masih muda dulu. Tidak ada seorangpun yang tahu jika perusahaan itu ialah pemiliknya karena waktu itu perusahaan tersebut hanyalah perusahaan kecil. Ketika kecelakaan itu terjadi, Hardi lah yang mengambil alih tampuk kepemimpinan dari balik layar dengan menggunakan nama inisial R.A.
Nama S.C.A sudah ia sematkan jauh sebelum Amay lahir ke dunia ini. Ketika mengetahui jika anak yang di kandung istrinya perempuan, Rahman langsung memberikan nama tersebut dan menyematkan nama tersebut pada perusahaan yang ia bangun sendiri.
__ADS_1
Hardi mempunyai peranan yang sangat penting bagi perusahaan ini, karena berkat tangan beliau lah perusahaan ini bisa berkembang menjadi besar dan maju seperti saat ini. Karena itu Rahman paling tidak suka jika Hardi masih merendah ketika bersamanya. Jika bukan karena Hardi, mungkin ia juga tidak akan selamat dan hidup sampai saat ini.
Rahman menghela nafas pelan ketika mengingat semua yang terjadi pada nya dan pada keluarga nya.
"Tuan, kita sudah sampai! Kita akan masuk lewat jalan rahasia seperti keinginan Tuan! " ucap Hardi membuyarkan lamunan Rahman.
"Hhhhmmmmm " jawab Rahman dengan hanya berdehem.
Rahman melihat di sekelilingnya, yang ternyata mobil berhenti di basement lantai bawah perusahaan.
Hardi membukakan pintu mobil agar Rahman keluar dengan mudah.
"Mari Tuan ikuti saya! " ucap Hardi sambil berjalan di depan.
Di ruang meeting..
Semua dewan direksi dan para pemegang saham berbisik-bisik menanyakan kebenaran desas desus jika pemilik perusahaan yang sebenarnya akan datang menemui mereka hari ini.
"Pak Bambang, apakah anda tahu siapa pemilik perusahaan ini? Secara anda kan sudah lama bekerja sama dengan perusahaan ini dan mempunyai saham yang tinggi di antara kami semua yaitu 12 %? " tanya salah seorang dewan direksi kepada pria paruh baya yang bertubuh tambun yang sedang memelintir kumisnya tersebut.
"Selama aku bekerjasama dengan perusahaan ini, aku tidak pernah bertemu langsung dengan pemilik nya. Hanya tangan kanan nya lah yang sering aku temui, kalau saja aku tahu siapa orang nya aku tidak akan disini bersama kalian! " jawab pria yang bernama Bambang itu.
"Iya juga ya Pak! Saya jadi penasaran sekali siapa sesungguhnya Bos kita itu! " ucap Salah seorang direktur eksekutif perencanaan yang bernama Pak Imran.
"Kita tunggu saja lah dia datang! Dari pada kita menebak-nebak tidak jelas gitu! " sahut salah seorang pemegang saham yang berkepala plontos.
Mereka tidak menyadari jika orang yang mereka bicarakan sedang melihat mereka dengan jelas melalui layar CCTV yang ada di ruangannya.
"Apakah Tuan yakin ingin menemui mereka langsung? " tanya Hardi dengan pelan.
"Tentu saja! Mulai sekarang mereka harus tahu siapa Bos mereka, dan kita lihat apakah nanti ada yang berkhianat atau tidak! " jawab Rahman dengan tersenyum miring.
"Ayo kita temui mereka! " ucap Rahman lagi sambil berjalan duluan keluar ruangan nya.
Ruangan khusus Presdir terletak di lantai tertinggi yang hanya bisa di masuki oleh orang-orang tertentu saja, karena untuk masuk ke sana hanya bisa menggunakan kartu khusus yang hanya di miliki oleh Rahman sang Presdir, dan Hardi sang tangan kanannya.
Lift yang di gunakan untuk ke lantai itu juga lift khusus yang hanya bisa di gunakan oleh Rahman dan Hardi saja. Jika ada yang ingin menemuinya harus melalui lift karyawan biasa seperti yang lainnya.
Tap... Tap... Tap... Terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan meeting yang membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut terdiam.
Krek.. Suara pintu ruangan terbuka dan Hardi masuk duluan ke dalam ruangan.
"Selamat Pagi semuanya! Mungkin sebagian dari kalian ada yang kenal dengan saya, dan ada yang tidak. Karena saya jarang sekali menampakkan diri di hadapan kalian semua. Perkenalkan saya Hardi Winata, tangan kanan Presdir yang selama ini mengelola perusahaan ini dari belakang. Sekarang, mari kita sambut Presdir kita yang sesungguhnya... Tuan, silahkan masuk! " ucap Hardi dengan suara lantang.
Rahman Farid Atmanegara memasuki ruang meeting yang membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut bukan kepalang.
"Hallo semuanya... Apa kabar?? "
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..
__ADS_1