
Setelah acara kumpul-kumpul barbeque selesai, Bulek Saroh memutuskan untuk langsung ke kamarnya bersama Pak lek Rohim dengan alasan tidak enak badan. Sedangkan yang lainnya masih duduk-duduk berkumpul di ruang keluarga. Amay juga masih di sana sambil bergelondotan di pelukan Papa nya karena gak mau di suruh istirahat sama Izam.
"Sayang, ayo dong istirahat! Sudah malam ini... Ibu hamil harus banyak istirahat.. Gak boleh tidur kemalaman sayang.. Udah jam 10 malam ini.. " bujuk Izam susah payah kepada istrinya.
"Apa yang di katakan suamimu benar, Nak! Kau harus banyak istirahat dan tidak boleh tidur kemalaman.. Itu tidak bagus untuk kesehatan mu dan janin mu... " ucap Rahman membenarkan kata-kata menantunya sambil membelai kepala Amay yang tertutup hijab.
"Tapi Amay belum ngantuk Papa? Amay masih mau di peluk Papa! " rengek Amay dengan manja.
"Mau Papa nyanyikan lagu supaya kamu tidur? " tanya Rahman dengan lembut kepada anaknya.
"Mau Pa, mau! " jawab Amay menganggukkan kepala nya.
Rahman pun menyanyikan lagu little star lagu yang selalu ia dendangkan ketika Maggie mengandung Amay dulu. Ia dengan pedenya bernyanyi di depan kedua besannya, Izam dan Davin serta Hardi. Salim sudah masuk duluan ke dalam kamar membantu Ara menidurkan kedua anak mereka. Pakde Soleh juga sudah duluan istirahat ke kamar bersama Haikal dan sama hal nya dengan Annisa dan Haura yang juga sudah pamit istirahat di kamar.
Mama Lia senyum-senyum sendiri melihat betapa manjanya Amay saat ini kepada Papa nya. Tidak lama kemudian Amay tampak menguap yang menandakan ia sudah mulai mengantuk. 30 menit kemudian Amay pun tertidur di pelukan Papa nya dengan napas teratur.
Izam mengambil alih Amay di pelukan Papa mertuanya dengan menggendongnya dan membawanya naik ke lantai atas kamar mereka. Setelah Amay di bawa Izam ke kamar, giliran Rahman dan Hardi yang pamit pulang. Davin juga ikut pulang karena besok ia dan Izam ada meeting penting pagi-pagi sekali.
Di dalam kamar, Bulek Saroh masih belum juga memejamkan matanya. Ia bergerak ke kanan ke kiri dengan gelisah sehingga membuat tidur suaminya terganggu.
"Kenapa? Mengapa belum tidur juga? Apa ada yang mengganggu pikiran mu? " tanya Pak lek Rohim kepada istrinya.
"Aku gak bisa tidur Mas.. Aku masih kepikiran sama anak muda tadi.. Apa jangan-jangan dia anak Kang Sulaeman yang kita tidak tahu ya Mas? " tanya Bulek Saroh menduga-duga.
"Hush ngawur kamu Dek! Ya gak mungkinlah Kang Eman menduakan Mbak ku diam-diam! " jawab Pak lek Rohim menepis dugaan istrinya itu.
"Bukan itu maksud aku Mas, Maksud aku itu bagaimana jika anaknya Mbak Aisyah dan Kang Eman itu kembar dan yang satunya gak ketahuan sama mereka berdua karena di bohongi sama pihak rumah sakit? Kita kan gak tahu karena waktu itu mereka berdua saja yang di rumah sakit! " jawab Bulek Saroh yang juga masuk akal.
"Ah, masak gitu sih Dek! Tega benar mereka jika benar prasangka mu itu! Tapi Mas masih sanksi Dek, takut kita salah duga! " ucap Pak lek Rohim agak ragu-ragu.
"Kalau gitu, kita tes DNA aja Mas! Tes darah kamu sama anak muda tadi! Secara kan kamu adik kandung Mbak Aisyah otomatis pasti ada darah kalian yang sama karena Kang Eman kan gak punya saudara kandung dan Kang Soleh kan hanya saudara sepupu aja! Entah kenapa aku yakin sekali Mas kalau anak muda tadi anak kandung Mbak Aisyah dan Kang Eman. Apalagi wajah anak muda itu sama persis dengan wajah Kang Eman waktu ia masih muda dulu! Apalagi melihat matanya senyumnya persis seperti senyum teduh Mbak Aisyah! A-aku yakin sekali Mas jika anak muda tadi itu keponakan kandung kamu! Anak Mbak Aisyah dan Kang Sulaeman! Hu... Hu... Hu... " ucap Bulek Saroh dengan begitu yakin dan langsung menangis sedih.
"Aku sedih Mas! Kalau memang terbukti itu keponakan kandung kamu, tega benar orang yang memisahkan Mbak Aisyah dan Kang Eman dari anak kandung mereka! Jahat sekali mereka melakukan itu kepada Kang Eman dan Mbak Aisyah! Hu... Hu... Hu... " sahutnya nya lagi sambil tetap menangis.
"Udah Dek, Udah! Nanti kedengaran semua orang suara tangisan mu itu? Udah nangis nya! " ucap Pak lek Rohim dengan membawa Bulek Saroh kedalam pelukannya.
Bulek Saroh menghentikan tangisannya meskipun masih terdengar isakan dari bibirnya.
"Besok pagi Mas akan bicara tentang ini pada Izam, Mudah-mudahan ia punya solusi yang lebih bagus tentang usul kamu untuk tes DNA tadi! Jika dugaan kamu benar, kita akan membuat orang yang sudah mempermainkan hidup kakakku dan suaminya mendapatkan ganjarannya di dunia! Kita akan melaporkannya ke polisi karena sudah membuat laporan palsu dan menculik anak orang lain! " ucap nya lagi yang mana membuat Bulek Saroh tersenyum lega.
"Iya Mas, mudah-mudahan Izam mau membantu kita! " sahut Bulek Saroh sambil menghapus air matanya.
"Ya sudah, ayo tidur lagi! Biar besok bangun pagi matanya gak bengkak! Besok pagi semuanya akan sibuk sekali mempersiapkan semuanya.. " ucap Pak lek Rohim dengan mencium lembut kening istrinya.
Bulek Saroh pun ikut membaringkan diri di samping suaminya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua hingga sebatas pinggang.
Pagi-pagi sekali semua penghuni kediaman keluarga Barzakh sudah pada bangun. Karena hari ini kediaman ini akan menggelar pengajian di rumah ini untuk mendoakan agar acara resepsi Amay dan Izam berjalan lancar dia hari lagi.
Amay sudah bangun dari subuh dan masih berbaring di atas tempat tidur karena ia kecapean sebelum sholat subuh mereka adu gulat dulu karena Izam merengek ingin menjenguk ketiga anak mereka.
"Capek ya sayang? Sini Abang pijitin! " ucap Izam dengan merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Ya jelaslah capek Abang?? " jawab Amay dengan ketus.
__ADS_1
"Emangnya ada adu gulat dua ronde yang gak capek! Katanya hanya se ronde aja biar dedeknya gak bosan di jenguk terus, eh malah nambah minta seronde lagi! Apa gak tepar akunya! " omel Amay dengan muka cemberut.
"Ha.... Ha.... Ha... Gemesin benget sih istrinya Abang ini! " jawab Izam tertawa terbahak-bahak sambil menjawil gemes hidung mancung istrinya.
"Tapi kamu suka kan??? " goda Izam dengan memainkan alisnya naik turun.
"Suka banget! Tapi badan aku remuk rasanya kayak kelindas truk! " remgek Amay manja dengan senyum malu-malu.
"Ih, gemesin banget sih! " ucap Izam geram dengan menghujam wajah Amay dengan ciuman nya sehingga membuat Amay cekikikan geli.
"Ya udah, istirahat aja dulu yank! Untung aja acara nya jam dua habis Dzuhur, jadi kamu bisa istirahat biar badannya fit lagi! " ucap Izam lagi dengan lembut memeluk Amay sambil berbaring.
Amay masuk ke dalam pelukan suaminya dan menghirup dalam-dalam aroma suaminya yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Ia begitu suka dengan aroma tubuh suami yang selalu membuatnya tenang dan nyaman.
"Oh, jadi gini nih kelakuan penganten baru rasa lama?? Kelonan sepanjang hari di dalam kamar tanpa keluar menyambut kedatangan kakaknya ini... Begitu rupanya! " teriak dua orang perempuan yang membuka kamar Amay dan Izam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Amay dan Izam kaget dan langsung terduduk untuk melihat siapa yang membuka pintu kamar mereka seenaknya. Dan ternyata kedua kakak perempuan Izam Ana dan Aini yang baru sampai ke rumah pagi itu.
"Kakak!!! Udah sampai! " ucap Izam basa basi tanpa melepaskan pelukannya pada Amay.
Amay tersenyum kikuk dan malu karena kepergok berpelukan sambil tidur-tiduran di dalam kamar oleh kakak iparnya yang belum pernah ia temui.
"Awas minggir! " ucap Ana dengan ketus menarik tangan Izam hingga pelukan nya pada Amay terlepas dan ia tersingkir ke bawah tempat tidur.
"Aduh kakak! Bar-bar banget sih sama adiknya sendiri! " sungut Izam sebel dan langsung berdiri.
Mereka berdua langsung memeluk Amay yang masih duduk di kasur dengan penuh antusias sambil mengelus perut Amay yang mulai membuncit jika di raba.
"Selamat ya Dek, kamu udah ngasih keluarga kita cucu kembar! Tiga lagi! Ara dan Ana aja sampai cemburu karena mereka yang kembar aja belum di kasih hamil anak kembar! " ucap Aini dengan lembut sambil membelai rambut coklat Amay.
"Gak usah di ungkit juga kenapa sih Kak? Bikin aku kumat lagi cemburunya... " rengek Ana dengan wajah di tekuk.
"Ha... Ha... Ha... Tuh kan kamu lihat! Udah tua juga, masih aja ngambekan! " jawab Aini semakin menertawakan adiknya Ana.
"Walaupun aku yang lahirin, triple akan jadi anak kakak juga kok! Kan kakak onty kandung mereka, yang punya darah yang sama sama mereka bertiga! " ucap Amay menghibur Ana.
"Yeay... Asyik.. Tuh dengar kan sayangnya onty... Nanti ketika kalian lahir, onty akan jagain kalian bersama kakak Faris dan kakak Farid...Kita akan pergi jalan-jalan bersama! " ucap Ana lagi kegirangan sambil berbicara di perut Amay.
"Eeehh... Enak aja! Kakak kan udah punya Faris dan Farid! Triple kan anak aku, jadi cuma aku nanti yang akan bersama mereka! Enak aja main embat! Emangnya di kira anak kucing main ambil dan bawa seenaknya aja! " ucap Izam protes dengan keras.
"Oh ya, berani kamu kakak?? Iya... " pekik Ana langsung berdiri dan berkacak pinggang di depan Izam.
"Eung... Nggak sih! " jawab Izam menciut.
"Ya udah, pergi keluar sana! Bantuin Mama beres-beres! Kakak mau ngerumpi dulu sama Amay di sini! Keluar sana! " ucap Ana dengan mendorong Izam keluar dari kamarnya.
Ia langsung mengunci pintu kamar begitu Izam terdorong keluar. Di luar kamar Izam berteriak sambil menggedor pintu kamar karena kesal di usir keluar sama kakaknya.
Dengan lunglai Izam berjalan menuju tangga dan turun ke lantai bawah yang sudah banyak orang yang mendekorasi rumahnya untuk acara pengajian nanti siang.
Baru saja menginjakkan kaki di lantai bawah terdengar teriakan kedua keponakannya yang baru datang lagi ini berlarian ke arahnya.
"Ongkel.... Ayo kita ke mall beli mobil!! " ucap Farid langsung meloncat ke arah Izam.
__ADS_1
"Astaghfirullah ini anak... Bukannya salim dan nanya kabar, malah malak ongkelnya minta beliin mainan! " ucap Izam gemes sambil menggelitik perut Farid sehingga yang di gelitik berteriak-teriak kegelian.
"Aku mau beli pesawat ongkel... " ucap Faris yang memeluk kaki Izam.
Izam jongkok sedikit dan membawa Faris juga ke dalam gendongannya. Alhasil mereka berdua di gendong kiri kanan oleh Izam sambil berjalan ke ruang santai di samping bergabung bersama kedua iparnya yang juga sedang duduk di sana ngobrol bersama Pakde Soleh dan Pak lek Rohim.
"Assalamualaikum Bang, apa kabar? " ucap Izam sopan dengan menyalami kedua kakak iparnya Bang Farel dan Bang Amran setelah ia menurunkan kedua keponakan nya di atas sofa.
"Wa'alaikumussalam Liq... Selamat nya atas pernikahan kamu dan kehadiran si triple... Semoga triple dan ibunya sehat sampai nanti waktunya lahir... " ucap Amran dengan tulus.
"Aamiin... Terimakasih Bang! " jawab Izam tersenyum kecil.
"Iya, selamat ya Liq... Pas terima kabar dari Mama waktu itu, kakak kamu langsung merengek sama Abang minta anak kembar juga! Sampai-sampai selama seminggu itu aja yang ia pinta setiap saat sama Abang! Lah, dikiranya punya anak kembar itu kayak bikin tempe, sekali adon langsung jadi! Ha... Ha... Ha... " ucap Farel dengan tertawa geli mengingat kelakuan istrinya.
Mereka semua pun tertawa mendengar cerita Farel tentang kekonyolan istrinya yang cemburu adik iparnya hamil anak kembar.
Faris dan Farid berteriak kegirangan ketika melihat sepupunya Nanaz dan Syakir yang baru saja datang bersama Haura dan Haikal dari ikut berbelanja ke pasar bersama Oma mereka.
"Nak Izam, bisa gak kita bicara sebentar? Ada yang ingin Pak lek omongin dengan Nak Izam! Tapi jangan di tempat ramai begini? " ucap Pak lek Rohim pelan ketika anak-anak sudah pergi bermain.
"Mau bicara apa Pak lek? " tanya Izam heran.
"Ini soal pribadi Nak Izam, hanya saja Pak lek gak bisa membicarakan nya di tempat ramai begini! " jawab Pak lek Rohim agak sedikit risih.
"Bawa ke ruang kerja Papa aja lah Liq, biar enak kalian ngobrol nya! " usul Amran kepada Izam.
"Iya, aku setuju sama Bang Amran! Di sana kan suasananya tenang, gak hiruk pikuk kayak di sini! " ucap Farel membenarkan usulan Amran.
"Ya udah, ayo Pak lek, Pakde! " ucap Izam berdiri dan mengajak Pak lek Rohim dan Pakde Soleh ke ruang kerja Papa nya.
"Ayo Nak Amran, Nak Farel! Pak lek juga butuh pendapat kalian berdua! " ajak Pak lek Rohim kepada Farel dan Amran.
"Kita berdua ikut juga Pak lek? " tanya Farel menunjuk diri nya sendiri dan Amran.
"Iya Nak! Ayo! " jawab Pak lek Rohim membenarkan.
Mereka berdua pun ikut bangkit dari duduk mereka dan menyusul Izam yang sudah duluan pergi ke ruang kerja Papa Idris.
Begitu ada di ruangan kerja Papa Idris, pak lek Rohim pun mengutarakan maksud nya berbicara dengan Izam.
"Begini Nak Izam, ketika malam kita berkumpul makan-makan, Bulek mu pingsan karena kaget melihat sahabat Nak Izam yang datang bernama Davin itu. Wajah dan postur tubuhnya mirip sekali dengan almarhum kakak ipar saya yang tidak lain Abah nya Amay ketika masih muda dulu! Apakah Nak Izam tidak keberatan menceritakan tentang sahabat Nak Izam si Davin itu? Karena Bulek mu yakin sekali jika Davin itu anak kandung kakak dan kakak ipar Pak lek yang sengaja di ambil waktu ia lahir? " ucap Pak lek Rohim dengan jujur kepada mereka semua yang ada di dalam ruangan itu.
"Apaaaaa??? " pekik Amran, Izam dan Farel berbarengan dengan wajah terkejut.
Bersambung...
Alhamdulillah bisa up juga setelah fakum selama seminggu karena kesibukan di dunia nyata yang selalu menguras waktu dan tenaga...
Semoga bisa mengobati kerinduan reader's semuanya sama Amay dan Izam..
Selamat membaca reader's semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
__ADS_1