Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Kekesalan Ahyar..


__ADS_3

Davin langsung berlari begitu mobil yang di bawa Izam berhenti di parkiran. Ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Ibu nya. Izam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Bulek dan Pak lek di minta Izam untuk pulang ke rumah nya agar bisa istirahat. Mereka berdua langsung setuju karena sejujurnya mereka memang butuh mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka.


Davin menemui Aulia yang duduk di kursi tunggu bersama Annisa.


"Sayang, dimana Ibu? " tanya Davin begitu sampai di depan calon istrinya.


"Di dalam Mas sama Pakde! " jawab Aulia seraya menunjuk ke dalam ruangan.


"Mas masuk dulu ya.. ! Kamu jangan pulang dulu! Tunggu Mas di sini! " ucap Davin pada Aulia.


"Iya Mas... ! " jawab Aulia mengangguk patuh.


Davin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan IGD untuk menemui Ibu nya. Tampak Pakde Soleh sedang menyuapi Ibu nya makan.


"Ibu... " panggil Davin dengan pelan.


"Davin... " ucap Ibu Tinah menoleh dan matanya langsung berkaca-kaca.


Melihat Davin ia teringat akan perempuan jahat yang membuatnya terbaring di rumah sakit ini. Ia menangis tanpa bisa di tahan melihat wajah Davin yang di pisahkan dari kedua orang tuanya oleh perempuan jahat itu.


"Ibu jangan nangis?? Davin senang Ibu sudah sadar dan gak papa! Apa adik bayi nya baik-baik aja?? " ucap Davin sambil bertanya dan menggenggam tangan Ibu nya.


"Hiks.... Hiks... Hiks... Ibu baik-baik aja! Adikmu juga alhamdulillah baik-baik aja! Ibu menemukan perempuan jahat itu Nak! Ibu menemukan nya! Perempuan jahat yang membayar Suster 30 tahun lalu di tempat sampah! Ibu menemukan perempuan itu Davin! Ibu menemukannya! " ucap Ibu Tinah dengan berlinang air mata.


Dadanya sesak jika teringat akan nasib malang anak yang ia rawat dan ia asuh malam itu. Davin yang mendengar tangisan dan kata-kata Ibu nya ikutan menangis sambil mencium tangan Ibu nya.


Bahu nya naik turun dan mereka berdua saling menggenggam tangan dengan sama-sama menangis dengan terisak-isak.


Pakde Soleh juga ikut menangis melihat kesedihan pada keponakan sekaligus anak tirinya itu. Ia memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan dan memberikan rasa aman pada sang istri.


Setelah hampir 15 menit lama nya menangis, Davin menegakkan tubuh nya dan menghapus air matanya. Ia berusaha agar tetap tegar meskipun hatinya sakit dan begitu terluka.


"Sudah Bu, jangan menangis lagi! Kasihan adik bayi nya kalau Ibu menangis terus! InsyaAllah Davin kuat. Davin akan membuat perempuan itu membayar apa yang ia lakukan pada Ibu! Meskipun sangat mustahil menuntut nya untuk kejahatan nya di masa lalu, tapi untuk kejahatan nya yang sekarang Davin tidak akan mundur. Davin akan menuntut keadilan untuk Ibu, masalah kejahatan perempuan itu di masa lalu biarlah menjadi urusan nya sama Allah di akhirat nanti! Ibu harus sehat, Ibu harus kuat seperti dulu agar kita bisa membuat perempuan itu mendekam di dalam penjara untuk waktu yang lama! Ibu mau kan??? " ucap Davin sambil bertanya pada Ibu nya.


"Ibu mau Nak, Ibu mau! Ibu tidak akan membiarkan perempuan itu bebas! Iya akan di hukum sesuai apa yang ia lakukan pada Ibu! " jawab Ibu Tinah dengan menganggukkan kepala nya.


"Alhamdulillah... Kalau begitu Ibu sekarang banyak-banyak istirahat ya..?? Ibu harus tetap sehat dan aku gak mau Ibu sakit saat pernikahan ku nanti! " ucap Davin seraya menghapus air mata di pipinya Ibu nya.


Dokter kandungan yang memantau Ibu Tinah dan janin nya datang untuk visit keadaan nya. Beliau memeriksa Ibu Tinah dengan di bantu para perawat nya.


"Gimana keadaan Ibu saya sekarang Dok?? Katakan yang sejujur nya agar kami bisa menjaganya dengan baik! " tanya Davin pada Dokter kandungan itu.


"Iya Dokter, betul yang di katakan kakak saya! Kami tidak mau ketidaktahuan informasi membuat kami lalai dalam menjaga Ibu kami! " sahut Annisa ikut bicara.


"Wah, jauh sekali ya jarak calon adik dengan kakak-kakak nya! Pasti kalian begitu menginginkan seorang adik ya selama ini? Kalian berdua tenang saja! Calon adik kalian baik-baik saja dan ia sehat! Meskipun kandungan Ibu Tinah lemah, tapi janin nya baik. Hanya saja saya saran kan untuk kalian berdua agar tidak membiarkan Ibu kalian lelah dan bekerja berat karena ia harus benar-benar menjaga kandungan nya! Hamil di usia segini memang sangat beresiko, tapi bukan berarti tidak bisa. Asalkan kita menjaga pola makan dan istirahat yang cukup semua nya aman dan baik-baik saja! Kalian berdua paham?? " ucap Dokter kandungan yang bernama Melisa itu dengan ramah.


"Iya, Dokter! Aku dari dulu memang menginginkan seorang adik, tapi baru sekarang mendapatkan nya! Makanya aku sangat takut jika ia kenapa-napa! Aku sudah menunggu nya selama ini, jadi aku akan menjaganya dengan baik! " sahut Annisa dengan mata berbinar bahagia.


"Aduh, senang nya punya kakak yang penyayang seperti ini! Oh ya Ibu Tinah, karena belum 2x24 jam maka Ibu masih kami pantau hingga esok pagi. Jika kondisi Ibu sampai besok makin baik, maka Ibu akan kami pindahkan ke ruang perawatan. " ucap Dokter Melisa memberitahu Ibu Tinah.


"Jadi saya belum boleh pulang Dok?? " tanya Ibu Tinah dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Belum Ibu, Ibu masih di rawat hingga Ibu benar-benar kuat dan janin nya lebih sehat lagi. Karena tekanan darah Ibu masih rendah, Kami tidak ingin mengambil resiko memulangkan Ibu di saat kondisi Ibu masih belum pulih total. " jawab Dokter Melisa dengan jujur.


Melihat wajah sendu istrinya, Pakde Soleh merangkul tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sabar ya Dek! Kita tunggu sampai kamu benar-benar pulih total! Ini demi calon anak kita yang sangat kita inginkan! Mas gak mau kamu kenapa-napa! " ucap Pakde Soleh dengan lembut.


"Iya Mas... Hanya saja aku gak betah lama-lama di rumah sakit! Pengen di ruang aja! " jawab Ibu Tinah dengan jujur.


"Ibu gak usah khawatir. Jika dalam satu minggu ini Ibu banyak istirahat dan menuruti saran Dokter, InsyaAllah Ibu akan pulang setelah satu minggu di sini! Atau bisa lebih cepat lagi jika Ibu benar-benar patuh akan saran Dokter selama di rawat. " ucap Dokter Melisa lagi.


"Benar begitu Dok?? " tanya Ibu Tinah dengan mata berbinar.


"Benar Ibu...! Kalau begitu saya permisi dulu, Mau visit di ruangan lain! Obat dan vitamin nya jangan lupa di makan ya Bu?? Biar cepat pulih! " jawab Dokter Melisa sembari pamit undur diri.


"Terimakasih Dokter.. ! " ucap Mereka semuanya pada Dokter tersebut.


Dokter Melisa hanya mengangguk dan tersenyum ramah sambil berjalan keluar dari ruang IGD.


"Tuh kan, Ibu di suruh istirahat dulu di sini! Tekanan darah Ibu rendah, dan harus banyak makan makanan yang bergizi! Nanti Davin beli susu hamil untuk Ibu. Sekalian latihan beli susu hamil jika Aulia hamil nanti! " ucap Davin tanpa beban.


Ucapan frontal Davin membuat wajah Aulia bersemu merah karena malu. Nikah aja belum udah ngomongin hamil.


"Kang Davin bikin Kak Aulia jadi malu! Lihat mukanya sampai memerah kayak tomat matang begitu! Nikah aja dulu, baru ngomongin hamil! " sahut Annisa dengan menunjuk muka Aulia.


"Lah, napa mesti malu! Kan nanti ujung-ujungnya hamil juga! Kan lumayan latihan beli susu hamil, biar pas hamil gak bingung lagi mau beli susu yang seperti apa! " jawab Davin santai.


"Kamu itu! Pintar banget kalau ngeles! Ada aja jawaban nya! " ucap Ibu Tinah dengan geleng-geleng kepala.


"Gak ah, aku di sini aja temani Abah jagain Ibu! " tolak Annisa secara halus.


"Kamu pulang ke rumah aja! Lumayan bantu Amay jagain si kembar, daripada di sini gak bisa ngapa-ngapain juga! Biarkan aja Pakde di sini, kamu bisa menjenguknya di siang hari sembari mengantar makanan untuk Pakde! " titah Izam baru saja masuk sembari berjalan mendekat dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantong mantel nya.


"Betul itu! Abah setuju! Kamu datang aja kesini pas waktu makan. Daripada di sini juga cuma duduk aja, mending di rumah kakak kamu jagain si kembar! " sahut Pakde Soleh langsung setuju.


"Ya udah deh kalau gitu! Mau gimana lagi kalau di suruh pulang! " jawab Annisa juga setuju.


"Kalau gitu, ayo kita belanja dulu ke supermarket! Nanti kemalaman lagi kalau kelamaan di tunda! " ajak Aulia sembari menarik tangan Annisa.


"Iya, aku setuju! " jawab Davin cepat.


Mereka berempat pun pamit untuk belanja sebentar di supermarket yang terdekat dari rumah sakit ini.


"Kemana aja lo kok baru nongol di ruang IGD? " tanya Davin saat mereka berjalan menuju parkiran.


"Gak kemana-mana! Gue nunggu di luar sambil video call sama Amay! Ruang IGD kan gak boleh banyak orang yang masuk! Kecuali ruang perawatan, baru bisa masuk rame-rame! " jawab Izam masuk di akal.


"Iya ya, dah lah! Yuk berangkat sekarang! " sahut Davin sembari membuka pintu mobil untuk Aulia.


Davin duduk di depan di sebelah Izam yang menyetir, sedangkan Aulia dan Annisa duduk di bangku belakang.


Hanya 15 menit perjalanan ke supermarket, Izam menunggu di parkiran karena ia malas berjalan masuk ke dalam. Alhasil hanya mereka bertiga saja yang masuk untuk membeli semua yang di butuhkan Ibu Tinah.


🌿🌿🌿

__ADS_1


Sementara itu, Bude Maryam mengamuk saat dirinya tetap ditahan di polres xxx dan di masukkan ke dalam sel tahanan wanita bersama tahanan wanita lainnya.


"Aku gak mau di penjara! Aku mau keluar! Aku gak bersalah! Keluarkan aku dari sini ! Keluarkan aku, sialan! " teriak Bude Maryam sambil memegang besi sel nya.


"Hei tua bangka! Bisa diam gak lo! Sakit kuping gue dengar ocehan elo! Dimana orang masuk penjara itu udah pasti dia salah! Pakai teriak-teriak lagi! Kalau elo masih teriak-teriak juga, gue cekik elo sampai mampus! " bentak salah satu tahanan yang berambut pendek kayak laki-laki.


Nyali Bude Maryam langsung menciut saat mendapat bentakan dari perempuan tersebut. Ia jongkok di sudut sendirian sembari memeluk kedua lutut nya dengan menangis tanpa suara.


Keluarga Haji Amir kembali pulang ke rumah mereka dengan wajah yang lesu dan tidak bergairah kecuali Ahyar. Ia masih kesal pada adik nya atas kejadian tadi siang. Awalnya ia ingin kembali ke kantor, tapi Abi nya melarang karena ia ingin Ahyar tetap di kantor polisi bersama mereka.


Alhasil Ahyar tidak jadi kembali ke kantor nya dan menunggui keluarga nya di kantor polisi sampai selesai.


"Yar, apa gak bisa kamu meminta bekas kasihan pada Pak Davin itu?? Bukankah kalian lagi kerja sama?? Siapa tahu dengan posisi kalian sebagai rekan bisnis bisa menjadi pertimbangan mereka untuk membebaskan Bude kamu dari sana? " pinta Umi nya saat mereka sudah sampai di rumah.


"Iya Kak, atau kalau gak kakak datang ke rumah Pak Davin sambil bawa apa kek biar dia makin luluh dengan kegigihan kita. Siapa tahu dengan kita bertemu secara pribadi bisa membuka hatinya untuk membebaskan Bude dari sana! " sahut Anita menambahkan lagi kata-kata Umi nya.


Haji Amir hanya diam saja dan tidak mau berkomentar lebih jauh lagi. Apalagi ia sudah tahu kejadian yang sebenarnya dari Pak polisi. Ia yang belum tahu kejadian yang sebenarnya merasa malu saat meminta Izam meringankan dan membebaskan kakak ipar nya itu.


"Umi dan kamu Anita! Sebenarnya kalian berdua itu punya otak gak sih! " sentak Ahyar dengan kata-kata kasar.


"Ahyar... ! Jaga mulut kamu ! Tidak sepantasnya kamu berbicara kasar pada Ibu mu sendiri! Ingat Ahyar! Dia Ibu kamu, orang yang melahirkan kamu ke dunia ini, bukan orang lain! " hardik Haji Amir dengan menatap tajam anak laki-laki nya.


"Justru karena aku anak nya lah maka aku berani mengingatkan Umi, Abi! Apa pantas seorang perempuan seperti Umi dan Anita berbicara seperti itu pada keluarga korban?? Dimana akal pikiran kalian itu, dimana??? Seseorang hampir saja kehilangan nyawa dan bayi dalam kandungan nya berada dalam bahaya karena ulah Kakak Umi itu! Apa kalian pikir sebagai keluarga dan anak, Pak Davin mau memaafkan orang jahat seperti Bude Maryam?? Nggak Bi, Nggak! Karena jika aku di posisi Pak Davin, maka aku juga akan melakukan hal yang sama dengan memenjarakan orang yang sudah membuat Ibu aku hampir mati! " ucap Ahyar tegas yang menohok hati Haji Amir.


"Tapi Bude kamu itu gak sengaja Ahyar! Umi kasihan dengan Bude kamu yang sudah tua mendekam dalam dingin nya lantai penjara! Walaupun bagaimana pun juga Umi tidak tega! Hanya kita satu-satunya keluarga yang Bude mu punya! Hanya kita Ahyar! " jawab Hajjah Marlena keukeh ingin kakak nya bebas.


"Kalau memang Bude gak sengaja, kenapa gak minta maaf? Dan bagaimana bisa Bude datang ke sana dengan membawa polisi gadungan?? Itu yang Umi bilang gak sengaja?? Iya?? Ahyar benar-benar gak habis pikir dengan pikiran Umi! Membela orang yang salah dan terlebih lagi semua saksi memberatkan Bude Maryam! " ucap Ahyar sembari memijit kening nya yang tiba-tiba pusing.


"Dan Abi juga! Seharusnya Abi cari tahu dulu kebenarannya dari semua pihak, dan jangan asal membela jika masih punya rasa malu! Apa kalian semua gak mikir jika bisa saja Pak Davin meminta Pak Idzam untuk membatalkan kerja sama kita karena masalah ini?? Apa kalian gak bisa berpikir ke arah situ?? " ucap nya lagi dengan nada kecewa pada Haji Amir.


"Jadi Pak Idzam berniat untuk membatalkan kerja sama kita dengan perusahaan mereka?? " tanya Haji Amir dengan wajah terkejut.


"Ya bisa aja! Karena ulah anak perempuan Abi tadi siang yang membuat nya marah. Cinta boleh, tapi gunakan otak dan akal! Percuma sekolah tinggi-tinggi tapi isi kepala gak di pakai! Ahyar tidak akan mau bantu jika gara-gara kebodohan anak perempuan Abi mereka membatalkan kerja sama kita! " jawab Ahyar dengan kasar menghina adiknya sendiri.


"Ka-kakak tega berkata seperti itu pada adik kakak sendiri?? Kemana kakak yang selalu membela dan mendukung aku?? Kakak benar-benar berubah dan jahat! " ucap Anita dengan hati sakit mendengar kata-kata kasar kakaknya.


"Kakak hanya akan membela orang yang benar dan tidak akan membela yang salah, meskipun itu keluarga sendiri! Pokoknya jika kalian semua masih membela kesalahan Bude Maryam, aku tidak akan ikut campur, aku lepas tangan! Silahkan kalian berbuat semau nya karena aku tidak akan membantu jika terjadi sesuatu yang berimbas pada perusahaan! " jawab Ahyar dengan nada tegas dan langsung pergi meninggalkan mereka semua di lantai bawah.


Anita masih menangis dan Hajjah Marlena masih merenung karena ia bingung mau bagaimana untuk membebaskan kakaknya dari penjara.


"Abi mau kemana?? " tanya Hajjah Marlena saat melihat suaminya bangkit dari sofa.


"Mau ke kamar! Mau mandi dan mau sholat! Seharian di kantor polisi membuat badan Abi gerah! Pergilah ke kamar kamu Anita! Bersihkan diri mu dan jangan lupa sholat! " jawab Haji Amir seraya berpesan sebelum melangkah jauh ke kamar nya.


Bersambung..


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya🤗🤗🤗


Akhirnya ada juga yang waras dari keluarga Haji Amir 🤭🤭🤭, udah tau salah masih aja dibela🤬🤬🤬


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍


Selamat weekend bersama keluarga tercinta😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2