
Davin dan rombongan nya memasuki hotel dengan diapit Pak lek Bulek nya di sisi kanan, Ibu dan Pakde di sisi kiri. Di belakang nya seluruh keluarga besar Barzakh beserta anak menantu dan cucu-cucu nya.
Kedatangan mereka di sambut para keluarga Aulia termasuk oleh Pak Mardi sendiri. Davin di tuntun menuju meja akad oleh Pak lek nya, sedangkan keluarga yang lain menempati kursi-kursi yang sudah di sedia kan.
Aulia menunggu di ruang terpisah bersama Mama nya dan sepupunya Zahra. Ia tampak begitu cantik dengan make up minimalis dengan memakai gaun berenda berwarna putih dengan hijab panjang nya. Ia berulang kali menarik napasnya untuk menutupi kegugupan nya.
Aulia takut Davin mengulang-ulang ijab qabul karena grogi atau semacam nya.
Davin duduk di kursi akad nikah dengan muka tegang dan hal itu di lihat oleh Izam.
"Jangan tegang! Ntar hapalan nya malah ilang lagi, bisa-bisa Aulia ngamuk karena salah ucap ijab qabul! " ledek Izam menggoda Davin.
"******... " ucap Davin dari gerakan bibirnya.
Izam tergelak keras dan langsung menutup mulutnya karena para tamu sudah mulai memenuhi Aula hotelnya.
Karena tidak ada yang akan di tunggu lagi, MC membuka acara akad nikah antara Aulia dengan Davin.
"Sudah siap saudara Davin?? " tanya Pak penghulu seraya menatap Davin.
Davin memejamkan matanya sejenak kemudian membuka nya dengan mengangguk pelan.
"Silakan jabat tangan mertua Anda, karena ijab qabul akan segera di mulai! " pinta Pak penghulu pada mereka.
Davin memegang jabatan tangan calon mertuanya dengan erat dan mendengarkan apa yang di lafadz kan ayah kandung Aulia.
"Saudara Davin Pratama, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan anak perempuan ku Aulia Maharani dengan maskawin satu buah rumah dan uang senilai 500juta di bayar tunai! "
"Saya terima nikah dan kawinnya Aulia Maharani dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai! "
"Bagaimana saksi?? Apakah sah?? " tanya Pak penghulu kepada Papa Idris dan Paman Mitra sebagai saksi pernikahan ini.
"Sah... ! Sah... ! Sah... ! "teriak mereka tiga kali.
"Alhamdulillah.. ! " ucap semua orang dengan penuh rasa syukur.
Davin tersenyum lega karena saat ini ia dan Aulia sudah sah secara agama sebagai pasangan suami istri.
Pak penghulu kemudian membacakan doa-doa untuk Davin dan Aulia dengan di amin kan semua orang. Ia juga meminta Davin membacakan taklik pernikahan yang ada di dalam buku nikah nya. Davin membacakan semuanya dengan lantang dan kembali Pak penghulu memberikan nasihat-nasihat pernikahan untuk Davin.
"Tolong panggil kan mempelai wanitanya! " ucap Pak penghulu pada semua yang ada di sana.
Salah satu kerabatnya pergi menjemput Aulia di ruangan lain untuk menemui suaminya di aula. Aulia datang dengan di gandeng Mama nya dengan wajah tak henti-hentinya tersenyum bahagia karena status nya sudah berubah menjadi seorang istri dari laki-laki yang ia cintai.
Davin terpana melihat wajah cantik dan senyuman manis yang tak pernah lepas dari istrinya.
"Ekhem... Nanti aja pandang memandang nya Mas Davin! Sekarang tanda tangani ini dulu! " tegur Pak penghulu yang membuat Davin menunduk malu.
Aulia sudah duduk di sebelah suaminya, mereka berdua secara bergantian menandatangani berkas-berkas dan menandatangani buku nikah mereka.
"Sekarang cium tangan suamimu dan cium juga kening istrimu! " ucap Pak penghulu lagi kepada mereka berdua.
Aulia gemetaran mengangkat tangannya untuk meraih tangan Davin dan mengecup punggung tangan tersebut. Tidak hanya Aulia, jantung Davin berdegup kencang seakan mau lompat dari tubuh nya saat sentuhan bibir Aulia pada punggung tangan nya. Terasa hangat dalam hati Davin mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya.
Dengan lembut, Davin mencium lama kening Aulia dan hati Aulia merasa sejuk saat benda kenyal mendarat mulus di jidatnya. Ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perut nya saat merasakan sentuhan pertama kali pada lawan jenis, dan pelakunya adalah suaminya sendiri.
"Jangan lama-lama ya Mas, cium nya! Kalau mau lama nanti saja! " kelakar Pak penghulu menggoda Davin.
Terdengar gelak tawa dari para tamu dan Davin melepaskan kecupan nya pada jidat Aulia karena malu.
"Ini buku nikah kalian, dan sekarang kalian berdua sah sebagai suami istri dalam agama dan hukum negara! " ucap Pak penghulu dengan menyerahkan dua buku nikah pada Davin dan Aulia.
Karena ijab qabul nya sudah selesai, mereka berdua di minta memperlihatkan buku nikah mereka karena akan di abadikan oleh fotografer untuk kenang-kenangan.
Setelah foto-foto selesai, mereka berdua sungkem kepada kedua orang tua. Berbagai petuah yang di sampaikan Pak lek dan Bulek selaku wakil orang tua nya Davin kepada pasangan pengantin tersebut. Begitu juga dengan orang tua nya Aulia yang juga memberikan petuah dan nasihat mereka dalam menjalani biduk rumah tangga.
"Selamat ya Aul.. Udah sah jadi istrinya Mas Davin! Oh ya, nanti kado nya di pakai ya waktu bulan madu! Awas kalau nggak! " ucap Amay sambil setengah mengancam.
"Makasih ya May... Btw emang kado nya apaan sih harus di pakai segala! " sahut Aulia kepo.
"Kamu lihat aja nanti! " jawab Amay dengan mengedipkan matanya.
Mereka berdua sibuk melayani ucapan selamat dari keluarga masing-masing dan tak ketinggalan teman kerja mereka.
"Ya Allah Aulia... Senang akhirnya liat kamu jadi pengantin juga! Selamat ya.. Semoga Samawa hingga jannah! " ucap Beti mendoakan dengan tulus.
"Selamat ya Aulia.. Semoga Samawa dan cepat-cepat di kasih momongan! " ucap Elya dengan tersenyum lebar.
"Selamat ya Aulia... Do'ain gue biar bisa nyusul elo! Btw gue pesan ponakan kembar kayak Pak Izam! " ucap Ali dengan sengaja.
"Terimakasih ya Beti, Mbak Elya dan Ali atas kedatangan nya! Aamiin kalau di kasih kembar, tapi kalau gak juga gak papa! " sahut Aulia dengan tulus sambil tersenyum bahagia.
Karena acara langsung dengan resepsi, Aulia dan Davin di giring menuju kamar untuk berganti pakaian. Para orang tua mempersilahkan para tamu untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia.
Sambil menunggu pengantin berganti pakaian, para tamu undangan di hibur oleh hiburan artis Ibu kota yang sengaja di undang untuk memeriahkan acara pernikahan Davin dan Aulia.
"Ya Allah... Cantik banget bidadari surga gue.. ! " ucap Ali saat matanya tidak sengaja melihat ke arah Annisa.
"Siapa?? " tanya Elya kepo.
"Tuh.. Yang pakai gaun navy! " tunjuk Ali pada Elya.
"Di sini banyak yang pakai warna navy dodol?? " ucap Elya gemes.
"Hehehehe... Iya ya! Tuh yang dekat perempuan bercadar! " tunjuk Ali lagi dengan cengengesan.
__ADS_1
"Oh, yang lagi gendong anaknya Pak Izam itu?? " tanya Elya lagi.
"Iya lah Mbak! Gak mungkin gue tunjuk istrinya Pak Izam yang bercadar itu! Ngadi-ngadi loe.. " jawab Ali dengan senyum-senyum sendiri.
"Emangnya siapa dia? Familiar banget aku tengok! " tanya Elya kepo.
"Kayak nya keluarga Pak Davin Mbak, soalnya waktu lamaran Pak Davin waktu itu ia juga ada! Apalagi ia manggil Pak Davin itu Kakang! Berarti dia masih keluarga Pak Davin! " jawab Ali sepanjang yang ia tahu.
"Butuh perjuangan ekstra itu Li.. ! Mbak lihat gebetan kamu tipe perempuan yang gak mudah luluh hanya karena gombalan receh kamu! " ucap Elya dengan pengamatan nya.
"Yah, gimana dong Mbak biar gue bisa dapatkan hati nya itu cewek! Syukur-syukur mau di ajak ke pelaminan nyusul Pak Davin! " sahut Ali minta pendapat Elya.
"Usaha sendiri lah! Kamu kan cowok, pasti punya 1001 cara menggaet hati perempuan! Usaha Bro, usaha! " jawab Elya dengan menepuk pelan bahu Ali.
Ali menghela napas kasar mendengar jawaban Elya, sedangkan Elya tertawa cekikikan saat melihat wajah frustasinya Ali.
Kembali ke pengantin.
Aulia dan Davin sudah selesai berganti pakaian dengan memakai adat Yogyakarta karena mereka ingin saja memakai pakaian tersebut di acara resepsi mereka.
"Cantik banget istri aku pakai baju adat ini! Meskipun pakai hijab, cocok banget di lihat ! " puji Davin saat Aulia sedang di rapikan kembali hijab dan make up nya.
Aulia tersipu malu mendengar pujian suaminya, mereka hanya bisa berpandangan karena di ruangan ini mereka tidak sendiri, ada MUA dan beberapa orang asisten nya yang melakukan tugas mereka.
"Nah, sudah siap Mbak Aulia! Mbak cantik banget! " puji Mbak perias dengan tatapan kagum.
"Ya iyalah Mbak cantik! Makanya saya nikahin sebelum di embat orang lain! " celutuk Davin yang membuat Aulia makin tersipu malu.
"Hahahaha.. Si Mas nya bisa aja! Kalau gitu ayo kita keluar sekarang! " ucap Mbak MUA nya dengan terkekeh.
Aulia menggandeng lengan Davin saat mereka berjalan menuju aula tempat berlangsung nya acara mereka. Senyuman lebar tidak pernah luntur dari wajah keduanya saat berjalan memasuki aula.
MC mengumumkan kedatangan mereka berdua yang di sambut dengan iringan lagi Shane Filan - Beautiful in white.
Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang memasuki aula menuju kursi pelaminan. Senyum bahagia terpancar di wajah keduanya saat mereka melewati para tamu undangan.
Di bawah sana Papa Idris sibuk memamerkan cucu perempuan nya yang 100% persis Bule di tambah memakai hijab membuat bayi mungil itu menjadi sasaran cubitan gemes para teman-teman sejawat dan rekan bisnis nya.
"Beneran Bule ini Tuan Barzakh? Masih kecil aja kelihatan cantiknya, apalagi sudah besar? " tanya istri teman sejawat nya sembari mengusap pipi gembul Maggie.
"Bule asli Nyonya Dina! Almarhumah besan saya asli Bule, makanya cucu saya persis Bule asli! Secara menantu saya kan setengah Bule! " jawab Papa Idris dengan bangga.
"Seandainya aja cucu saya laki-laki, udah pasti akan saya jodohkan dengan cucu Tuan Barzakh! Tapi sayang, cucu saya dua-dua nya perempuan! " ucap Suami Nyonya Dina dengan wajah kecewa.
"Iya ya Pi... Sayang banget! " sahut Istrinya ikutan kecewa.
Papa Idris tersenyum geli dan ia menyapa kolega nya yang lain sambil memamerkan cucu cantiknya.
"Emang dasar itu Aki-aki! Emang di kiranya anak aku itu piala apa, pakai di pamerin pada semua orang! Si Maggie lagi, bukannya nangis di pamerin Opanya, eh malah betah di pamerin kayak gitu! " gerutu Izam kesal sembari matanya menatap terus ke arah sang Papa.
"Abang, gak boleh gitu sama Papa! Nanti kalau Abang udah tua dan punya cucu, pasti Abang akan kayak Papa memamerkan cucu nya dengan bangga pada semua orang! " tegur Amay lembut di balik cadar nya.
"Abang ih sok tau! Kayak cenayang aja bisa tau isi otak orang lain! " jawab Amay tidak percaya.
"Kamu aja yang gak percaya! Cih, gak akan semudah itu kalian bisa menjodohkan anak-anak kalian atau cucu kalian pada princess keluarga Barzakh! Kalian akan menghadapi aku dulu kalau mau mendekati bahkan sampai melamar princess ku! " ucap Izam dengan wajah sinis.
"Abang, abang! Anaknya masih kecil aja posesif nya minta ampun! Gimana nanti kalau udah gede, bisa-bisa selalu ngekor kemanapun anaknya pergi! " sahut Amay geleng-geleng kepala.
Sementara itu, hal yang tidak jauh berbeda juga dilakukan Mama Lia. Ia juga memamerkan cucu-cucu tampan nya pada teman-teman sosialita nya yang notabene nenek-nenek yang rata-rata udah pada punya cucu.
"Aduh Jeng Lili... Saya jadi kepengen juga punya cucu kembar yang tampan kayak cucu nya Jeng Lili! " ucap teman Mama Lia dengan wajah mupeng.
Mama Lia memang di panggil Lili oleh kalangan teman-teman nya karena nama nya kan Liliana. Lia adalah panggilan keluarga nya saat ia masih kecil dan hanya keluarga saja yang memanggilnya Lia.
"Ya, nggap bisa sama loh Jeng! Beda pabrik soalnya! " jawab Mama Lia setengah bergurau.
"Betul itu Jeng Sofi! Kecuali Jeng Sofi juga punya mantu Bule kayak Jeng Lili, baru bisa sedikit menyamakan ketampanan mereka! " jawab temannya yang lain ikut komen.
"Yah, mau gimana lagi mantuku bukan Bule! Tapi gak papa, ntar kalau udah gede mau aku jodohin aja cucu ku sama cucu Jeng Lili! Lumayan lah perbaikan keturunan! " ucap nya tidak patah semangat.
"Hahahaha... Gak yakin juga sih Jeng cucu saya mau apa nggak! " jawab Mama Lia tertawa kecil.
"Ish.. Jangan lah gitu! Doakan saja kalau mereka jodoh! Dan kita akan bertambah klop saat cucu-cucu kita bersatu! " ucapnya dengan wajah meng hiba.
"Jiah... Jeng Sofi maksa jadiin cucu Jang Lili jadi cucu mantu! " celutuk temanya yang di balas pelototan Ibu Sofi pada nya.
Khalid merengek dalam gendongan Mama Lia karena mengantuk.
"Sebentar ya Jeng! Sepertinya cucu saya udah ngantuk! Saya mau kasih pengasuh nya dulu! " ucap Mama Lia pamit sebentar untuk memberikan Khalid susu sambil menidurkan nya.
"Sini Nyonya! Biar tuan muda sama saya saja! " pinta pengasuh nya pada Mama Lia.
"Kamu sudah makan belum? Kalau belum, makan aja dulu sana! " tanya Mama Lia masih menggendong Khalid.
"Alhamdulillah sudah Nyonya! Biar saya saja yang memberikan susu nya! " jawab pengasuhnya dengan jujur.
Ia memang sudah makan beberapa menit yang lalu. Ia sengaja makan duluan takut nanti gak bisa makan karena mengasuh bayi.
"Ya udah! Nih, langsung taruh di stroller nya jika sudah tidur! " ucap Mama Lia mengingatkan pengasuh cucu nya.
"Iya Nyonya! " jawab nya patuh seraya mengambil Khalid yang masih menyusu.
Mama Lia kembali kepada teman-teman nya sambil bercerita apa saja yang terkadang terdengar canda tawa mereka sambil menikmati hidangan.
Amay mencari keberadaan suaminya karena dada nya terasa penuh. Ia menginterupsi obrolan suaminya dengan beberapa orang yang mungkin adalah teman bisnis nya.
__ADS_1
"Permisi Tuan-tuan! Saya mau ambil suami saya dulu! Ada perlu sebentar! " ucap Amay tegas saat memotong pembicaraan mereka.
"Silahkan Nyonya! " jawab mereka mengerti.
Amay mengangguk pelan dan menarik tangan suaminya agar menjauh sedikit dari keramaian.
"Ada apa sayang?? " tanya Izam saat mereka sudah di tempat agak sepi.
"Ayo kita ke kamar Bang! Dadaku mulai sakit! Harus di pompa dulu! " jawab Amay lembut sembari menahan nyeri di dadanya.
"Allahu Akbar! Ayo buruan! Peralatan nya di mana?? "ucap Izam agak panik.
"Di sana Abang! Aku taruh di bawah stroller nya Maggie! " tunjuk Amay ke arah timur.
"Oke... Tunggu di pintu keluar! Abang ambil dulu! " ucap Izam memberikan instruksi nya.
Amay mengangguk paham dan berjalan menuju pintu keluar berbaur dengan para tamu undangan yang baru datang. Izam berjalan cepat menuju stroller nya Maggie untuk mengambil tas berisi perlengkapan pumping Asi.
"Mbak, kalau Nyonya tanya Amay! Bilang lagi pumping Asi di kamar ! " ucap Izam memberikan pesan pada salah satu pengasuh anak-anak nya.
"Iya Tuan! " jawab pengasuh tersebut paham.
Izam langsung meraih tas berisi peralatan pumping Asi dan melampirkan tali tas ke bahu nya. Ia lalu berjalan di tengah kerumunan menuju pintu keluar tempat istrinya menunggu.
"Ayo sayang! " ajak nya sembari menggenggam erat tangan istrinya.
Amay mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar khusus pada petugas hotel. Petugas hotel yang mengenali Izam langsung memberikan kartu tanpa bertanya apa-apa karena itu adalah kamar khusus bagi pemilik hotel.
Mereka memasuki Lift yang akan membawa nya ke kamar khusus di lantai 15. Lantai 15 adalah lantai berisi kamar khusus untuk keluarga Barzakh saat mereka menginap di hotel ini.
Ting!
Bunyi dentingan pintu lift membuat mereka keluar dari kotak besi tersebut menuju kamar yang nomornya ada pada kartu yang Izam pegang.
"Ayo sayang kita masuk! " ajak Izam dengan membuka pintu pakai kartu tadi.
Kamar yang dulu mereka gunakan saat malam pesta resepsi pernikahan mereka. Mengingat semua itu membuat Amay tersenyum malu dan menepis bayangan tersebut saat mereka memadu kasih malam itu.
"Kenapa senyum-senyum begitu hhmmm?? Ada yang lucu? " tanya Izam lembut sambil membuka cadar sang istri.
Ia langsung melu mat lembut bibir istrinya saat cadar Amay terlepas.
"Hanya mengingat kenangan saat kita pesta resepsi kala itu! " jawab Amay tersenyum kecil.
"Kita bisa kok sayang mengulang malam indah itu lagi di sini! " ucap Izam dengan seringai nya.
"Jangan ngadi-ngadi deh Bang! Kita ke sini mau pumping Asi, bukan mau indehoy siang-siang gini! Lagian, yang manten nya siapa, yang indehoy nya siapa! " sahut Amay menatap tajam suami nya yang tampak manyun karena gagal mengajak istrinya jab jib jub.
"Pelit banget! " gerutu Izam pura-pura kesal.
"Lagian, setiap malam minta jatah masih aja kurang! Heran aku! " ucap Amay sembari membuka hijab dan gamis nya.
Dengan hanya memakai tank top dan legging, Amay memulai aksinya memeras Asi yang botol-botolnya sudah di susun Izam di atas meja.
Izam meneguk kasar ludah nya saat gundukan favorit nya keluar dari cangkang nya karena mau di peras. Amay menempelkan alat tersebut pada aset nya dan mulai mengeluarkan Asi nya.
Tiba-tiba Izam menyeringai licik saat satu pikiran melintasi otaknya yang sangat mesum itu. Ia berjalan mendekati sofa tempat istrinya duduk. Izam duduk di lengan sofa dengan memegang dagu Amay agar melihat ke arah nya.
"Ada ap..... "
Ucapan Amay terpotong dengan luma tan tiba-tiba dari suami nya. Izam mencium bibir Amay atas bawah secara bergantian dengan begitu lembut dan manis. Ia sengaja melakukan ciuman lembut nan memikat agar istrinya rilek dan produksi Asinya banyak yang keluar.
Tit... Tit...
Bunyi alat pumping yang menandakan jika Asinya penuh.
"Cepat banget penuhnya?? " ucap Amay heran saat Izam melepaskan tautan bibir mereka.
"Tentu saja cepat karena Abang membuat kamu melayang dengan ciuman mesra! Hormon yang mengeluarkan Asi bekerja cepat saat kamu mulai menikmati setuhan Abang! " sahut Izam dengan pede nya.
"Dih, sok tau Abang! " Jawab Amay tidak percaya sambil menuangkan Asinya di botol yang sudah disiap kan atas meja.
"Gak percaya! Ayo coba lagi! " ucap Izam dengan semangat 45.
"Alah, palingan itu modus nya Abang lagi! " jawab Amay makin tidak percaya.
Ia kembali memasang alat peras Asi di dadanya dan Izam menarik tubuh Amay hingga duduk di pangkuan suaminya.
"Abang... !! Selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan! " pekik Amay kecil saat ia terduduk di pangkuan sang suami.
Izam hanya terkekeh dan ia kembali melu mat bibir ranum istrinya sambil memeluk erat pinggang sang istri. Ciuman yang lembut di bibir berpindah ke leher putih mulus Amay hingga membuat Amay mengeluarkan desa han pertamanya.
"Abaaaang.. !!! Pintar banget memanfaatkan keadaan! " ucap Amay sambil men desah.
Ia bahkan memberikan tanda merah kebiruan di leher sang istri dan kembali alat pumping Asi Amay berbunyi tanda sudah penuh.
"Tuh kan benar! Gak percaya sih! " ucap Izam dengan rasa bangga.
"Iya iya percaya! Walaupun gak 100% sih! " jawab Amay mengalah.
Ia kkembali berdiri dan menuangkan Asi nya pada botol-botol hingga sudah penuh ukuran sedang tiga botol. Amay kembali memasang alat itu lagi pada payu dara nya untuk satu botol Asip lagi.
"Ayo sayang, buruan duduk sini! Kita bikin Asinya keluar lebih banyak lagi! " panggil Izam dengan penuh semangat.
"Haish... Kayak nya ini bagian dari manipulatif Abang! Semangat banget ! " ucap Amay jengah dengan kelakuan suaminya.
__ADS_1
Meskipun jengah ia tetap menurut dan duduk di pangkuan Izam dengan bagian dadanya menghadap muka Izam. Tanpa menunggu lama, Izam kembali melu mat bibir Amay dengan tangan nya meremas bokong Amay yang tertutup legging.
Bersambung..