Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Alasan yang sebenarnya part 1


__ADS_3

Amay melepaskan si Bungsu dari dada nya dengan penuh drama karena si bungsu menangis kejer saat mulutnya terlepas dari sumber makanannya.


"Sepertinya si cantik tidak mau berpisah dengan Mama nya! " celutuk perawat yang menggendong nya dengan terkekeh pelan.


"Iya Sus, padahal udah setengah jam yang lalu gak di hisap nya, cuma mulutnya aja yang menempel! Masih bayi udah pintar mengatur siasat agar gak di pisahkan kayak Kakak-kakaknya! " jawab Amay ikutan terkekeh.


"Udah kelihatan manja nya ini.. ! " sahut Izam juga ikut berkomentar.


"Iya ya Bang.. ! Hehehehe... ! " jawab Amay terkekeh lagi.


"Oh iya Bu, jika Asi nya sudah terasa penuh sekali, Ibu bisa memompa nya lagi dan di masukkan ke dalam botol susu. Nanti setelah penuh bisa berikan kepada kami dan kami yang akan memberikan nya kepada si kembar. Ibu akan kembali menyusui mereka nanti malam, karena Ibu akan capek bolak-balik ke sini setiap dua jam sekali. " ucap perawat tersebut setelah meletakkan si cantik di kotak inkubator nya.


"Baik Sus, Terimakasih informasinya! Kami permisi dulu Sus kembali ke kamar! " jawab Amay mengangguk paham.


"Iya Bu, silakan.. ! " ucapnya ramah.


Amay dan Izam keluar dari ruang bayi kembali menuju ruang perawatan Amay. Begitu sampai di sana mereka kaget karena ruangan tersebut sudah kosong dan hanya seorang perawat yang sedang merapikan tempat tidur dengan mengganti seprei nya.


"Loh Sus, kenapa ruangan istri saya kosong? Kemana keluarga saya yang lainnya? " tanya Izam dengan wajah heran.


"Oh itu Pak! Ruangan istri anda sudah di pindahkan ke lantai empat ruangan Anggrek no 03. Keluarga Bapak sudah membawa semua barang-barangnya ke sana! " jawab perawat tersebut dengan menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Kok pindah Abang? Agak jauh dong dari ruangan si kembar! " tanya Amay heran.


"Sepertinya Papa udah mendapatkan ruangan yang ia inginkan, sayang! Ruangan yang nyaman dan mungkin besar untuk anak-anak kita nanti jika mereka sudah tidak di kotak inkubator lagi! Ayo kita ke sana! Kamu harus istirahat lagi! "jawab Izam dengan dugaannya.


"Oh.. Gitu! Ayo Bang, Amay udah lapar lagi ini! " sahut Amay paham.


"Ayo, kamu harus banyak makan sayang biar anak-anak kita cukup Asi nya! " ajak Izam sembari menggandeng kembali lengan istrinya menuju lift.


Mereka pun masuk ke dalam lift menuju satu lantai lagi ke ruangan presiden suite yang di inginkan Papa Rahman dari awal.

__ADS_1


"Nah, ini dia ruangan nya! " ucap Izam begitu mereka sudah berdiri di depan pintu Anggrek no 03.


"Assalamualaikum... ! " ucap mereka berdua barengan sembari memutar Handel pintu tersebut.


"Waalaikumsalam... " jawab mereka semua barengan.


"Bulek, Pak lek! " ucap Amay dengan mata berbinar bahagia.


"Ya Allah, kesayangan Bulek! Ya Allah, selamat ya Nduk! Selamat sudah menjadi seorang Ibu, Bulek benar-benar bahagia! " teriak Bulek Saroh agak pelan dengan langsung mendekati Amay dan memeluknya dengan erat.


Ia menciumi muka Amay berulang kali dengan wajah bahagia. Amay langsung menyalami tangan Pak lek yang ikutan tersenyum bahagia sembari mengusap puncak kepala Amay dengan kata-kata menyejukkan hati.


"Semoga bahagia Nduk, dunia akhirat dengan anak-anak dan keluargamu! Abah dan Umi mu pasti bahagia karena kamu sudah memberikan mereka empat cucu sekaligus! Pak lek dan Bulek tidak henti-hentinya bersyukur atas anugerah yang di berikan Allah kepada kamu dan suamimu! " ucap Pak lek dengan tulus membuat Amay tidak bisa menahan laju air mata nya.


"Terimakasih Pak lek, Bulek! Sampai kapan pun Amay tidak bisa membalas kasih sayang Pak lek dan Bulek berikan untuk Amay sedari Amay kecil selain Abah dan Umi! " ucap Amay dengan menyeka air matanya.


"Ayo duduk, Bulek bawain rendang daging kesukaan kamu, Nduk! Ini gak pedas dan aman untuk Ibu menyusui seperti mu! " ucap Bulek Saroh dengan penuh antusias.


"Benarkah?? Ayo-ayo kita makan semua, saya sengaja masak banyak! " sahut Bulek Saroh dengan wajah sumringah.


"Iya, Ayo kita makan! Saya tadi juga sengaja bawa makan banyak kok Jeng! Ayo Besan kita makan bareng-bareng mumpung lagi kumpul kita! " ucap Mama Lia juga dengan semangat sembari menawari Papa Rahman.


"Papa datang sendiri? " tanya Amay saat ikut duduk lesehan.


"Nduk, jangan duduk seperti itu! Kamu itu baru lahiran, duduknya harus selonjoran dulu! Emangnya gak di jahit, jangan sampai apa yang dulu Bulek alami kamu juga mengalami nya! " larang Bulek Saroh begitu melihat Amay ikut duduk lesehan di bawah.


Ia lalu dengan cepat membantu Amay untuk berdiri kembali dan membawanya naik ke atas ranjangnya.


"Nah, duduk di sini selonjoran! Nanti biar Bulek ambil kan nasinya! Ingat kakinya jangan di tekuk! " ucap Bulek Saroh mewanti-wanti Amay.


"Iya Bulek... ! " jawab Amay patuh.

__ADS_1


"Emang kenapa Jeng? Salah ya kalau langsung duduk kayak gitu? " tanya Mama Lia kepo.


"Dulu waktu melahirkan Haura saya kira itu mitos Jeng. Tapi saat merasakannya sendiri saya jadi tahu kalau itu bukan sekedar mitos. Mungkin bagi sebagian orang tidak masuk akal, tapi saya yang mengalami nya jadi mengerti mengapa kita di larang duduk sembarangan sehabis melahirkan. Waktu itu almarhumah Ibu saya melarang saya duduk sembarangan alias duduknya harus selonjoran. Karena menganggap itu mitos, ya saya langgar. Saya duduk sesuka hati saya, hingga tanpa saya sadari jahitan saya terlepas dan mengeluarkan darah meskipun tidak banyak. Tapi rasa sakit nya itu yang membuat saya kapok membantah petuah orang tua. Saya di omelin Ibu saya habis-habisan, dan semenjak itu saya selalu duduk selonjoran sampai dua minggu lamanya. Makanya saya larang Amay duduk sembarangan sampai dua minggu ke depan. Saya takut jahitannya terlepas seperti saya dulu meskipun itu tidak terjadi, ya tidak ada salahnya jika kita berjaga-jaga! " jawab Bulek Saroh panjang lebar.


"Betul itu Jeng! Dengar ya sayang, jangan sembarang kalau duduk! Kita harus berjaga-jaga sebelum semua nya terjadi! " sahut Mama Lia ikut memperingati Amay.


"Iya Ma... ! " jawab Amay mengangguk patuh.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan! Udah hampir siang juga ini! " ucap Papa Idris mengajak semua nya dengan duduk bersila di karpet.


Amay memakan dengan lahap rendang buatan Bulek Saroh dan tidak lupa pepes ikan buatan Mama mertuanya. Ia makan sampai tambah dua kali saking laparnya.


"Ya Allah, lapar banget anak Papa! Kalau kamu kepengen makan apa, bilang sama Papa ya Nak! Biar Papa belikan makanan yang kamu suka asalkan aman untuk cucu-cucu Papa! " ucap Papa Rahman seraya mendekati Amay dan mengusap pucuk kepala Amay yang tertutup hijab.


"Gimana gak lapar Pa, orang makannya untuk lima orang! " sahut Izam yang menjawab.


"Eh iya, ngomong-ngomong gimana keadaan cucu-cucu Bulek, Nduk! Bulek kepengen ketemu mereka! " tanya Bulek Saroh dengan sangat berharap.


"Kami aja belum ketemu Jeng, soalnya si kembar di masukkan ke kotak inkubator. Kata dokter meskipun mereka sehat mereka harus di taruh di sana karena lahir prematur, sekalian untuk berjaga-jaga takutnya ada sesuatu yang tidak kita ketahui nanti. Jika di kotak inkubator itu kan di awasi langsung oleh dokter anak nya, jadi jika ada sesuatu hal mereka cepat mengetahuinya. "jawab Mama Lia dengan menghela napasnya.


"Lalu kapan kita bisa melihat cucu-cucu kita Mbak! " tanya Pak lek Rohim.


"Belum tahu Pak Kyai.. ! Kata dokter si kembar akan keluar dari kotak inkubator jika berat badan mereka bertambah seperti anak-anak baru lahir pada umumnya! Pastinya itu kami juga tidak tahu! " jawab Mama Lia lagi.


"Iya Pak lek, Bulek! Doakan aja ya si kembar berat badan nya cepat naik, biar bisa kita bawa pulang dan berkumpul bersama kita semua di rumah! " sahut Izam meminta doa Pak lek nya.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader semuanyaa...


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...

__ADS_1


__ADS_2