Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Amay pingsan...


__ADS_3

Pesta resepsi pernikahan Izam dan Amay tinggal seminggu lagi, dan semua persiapan sudah hampir 100 persen. Hanya tinggal beberapa persiapan lagi yang sedikit lagi selesai yaitu baju seragam untuk semua keluarga.


Keluarga Mama Lia dan keluarga Papa Idris yang di luar negeri akan tiba dua hari sebelum hari H. Kakak-kakak Izam yang lainnya akan datang besok pagi bersama keluarga mereka.


Papa Idris sudah mengatakan semuanya tentang Papa kandung Amay kepada Izam dan Pak lek Rohim. Dan rencananya mereka akan mengatakan dengan jujur kepada Amay malam ini secara perlahan-lahan.


Mereka ingin Amay mengetahuinya langsung dari mulut mereka dan bukan dari mulut orang asing yang tidak ia kenal. Mereka juga ingin Amay tahu kebenaran akan jati dirinya yang sebenarnya.


"Gimana? Apa kamu sudah siap mental memberitahu semuanya kepada Amay? " tanya Pak lek Rohim dengan menepuk pundak Izam.


"InsyaAllah siap Pak lek! Hanya saja Izam agak cemas takut Amay mengeluarkan reaksi yang berlebihan! " jawab Izam agak sedikit khawatir.


"Jangan terlalu khawatir! InsyaAllah Amay gak akan kenapa-napa! Banyak-banyak berdoa saja, mudah-mudahan Amay akan mengerti tanpa melibatkan emosi! " ucap Pak lek Rohim menenangkan hati Izam.


"Mudah-mudahan saja Pak lek! " sahut Izam pasrah.


Tibalah saat nya makan siang, semua keluarga berkumpul di ruang makan yang sudah di sulap menjadi lesehan karena meja makan tidak cukup untuk semua orang. Kakak Izam Ara juga ada bersama suaminya Salim dan dua anak mereka, serta keluarga Pak lek Rohim dan Pakde Soleh sepupu nya Abah Amay. Mereka semuanya duduk di karpet lantai menunggu para asisten rumah tangga menyajikan makan siang untuk mereka.


"Enak ya kalau makan nya ramai-ramai kayak gini! " komen Salim sambil menerima piring berisi nasi dan lauk pauk nya dari tangan sang istri.


"Iya enak, cuma yang seperti ini hanya bisa di lakukan ketika kita berkumpul bersama saja! Palingan dalam setahun cuma sekali karena selama ini kita tinggal berjauhan! " jawab Mama Lia membenarkan.


Mereka pun makan siang bersama dengan begitu nikmat karena bersama-sama itu memang lebih enak, terlebih lagi pintu samping terbuka dengan lebar sehingga angin sepoi-sepoi berhembus dengan angin yang tidak terlalu kencang sehingga membuat suasana tambah sejuk dan nyaman.


"Gini nih penyakit sehabis makan! Duduk selonjoran dengan angin sepoi-sepoi membuat mata menjadi mengantuk! " celutuk Izam sehabis makan dan duduk di dekat pintu.


"Nah, betul itu! Tapi itu yang tidak diperbolehkan jika habis makan langsung tidur, selain tidak bagus untuk kesehatan juga tidak bagus dalam agama kita, dan Nabi tidak menganjurkan langsung tidur setelah makan! " tambah Pak lek Rohim sambil duduk di dekat Izam.


"Kalau gitu, tidurnya sambil duduk saja! Kan katanya duduk dulu jika habis makan, gak boleh baring! " sahut Haikal ikut nimbrung.


"Itu sih kakak yang kayak gitu! " cibir Haura juga ikut bicara.


"He.... He... He.... Nah, itu tau! " jawab Haikal tertawa nyengir.


"Oh ya Pak lek, Izam mau bicara dengan Amay dulu tentang masalah semalam! " pamit Izam sambil berdiri dan mencari Amay yang ikut membantu membereskan piring-piring kotor habis makan.


"Sayang, ayo ikut Abang ke ruang kerja! Ada yang mau Abang bicara kan denganmu! " ajak Izam ketika melihat Amay menaruh gelas kotor ke dalam wastafel.


"Iya Bang! " jawab Amay dengan patuh dan berjalan dengan menggandeng lengan suaminya.

__ADS_1


Ketika sampai di depan pintu ruang kerja suaminya, Amay kaget ketika pintu terbuka dan kedua mertuanya sudah duduk manis di sofa ruang kerja.


"Loh, Papa sama Mama ada di sini juga? " tanya Amay dengan wajah terkejut.


"Iya sayang, karena tidak hanya Maliq yang ingin membicarakan sesuatu padamu, tetapi Papa Mama juga ingin bicara juga sama kamu. " jawab Mama Lia tersenyum lembut.


"Ayo duduk di sini dekat Mama! " ajak Mama Lia sambil meraih tangan Amay dan mendudukkan nya di sebelahnya.


Izam tiba-tiba berjongkok di hadapan istrinya dengan menggenggam erat jemari Amay. Amay melihat suaminya, kedua mertuanya dengan raut wajah bingung karena wajah-wajah mereka semua terlihat begitu serius. Sekilas Amay merasa takut jika ada sesuatu yang membuat dada nya tiba-tiba nyeri, ia takut akan sesuatu hal yang tidak ia ketahui itu apa.


"Kenapa wajah kalian semua serius begini? Amay jadi takut! " cicit Amay dengan dada berdebar kencang.


"Amay, Mama harap kamu dengar kan dulu apa yang suami kamu katakan! Dan Mama juga berharap kamu jangan bertindak gegabah, dan pahami lah semua ini dengan hati yang dingin dan berpikirlah dengan luas! Apa pun keputusan kamu, Mama Papa akan mendukung kamu, Nak! " ucap Mama Lia dengan mengusap lembut pipi Amay.


"Kenapa Mama ngomong kayak gitu? Amay jadi semakin takut, Ma! " jawab Amay dengan bibir bergetar.


"Sayang, lihat Abang! Yakinlah jika kami semua sangat menyayangi mu, sayang! Jadi jangan berpikiran negatif dulu karena ini menyangkut tentang jati diri kamu yang sebenarnya sayang! " ucap Izam dengan menggenggam tangan istrinya lebih erat.


"Maksud Abang jati diri yang bagaimana? Amay gak ngerti! " jawab Amay semakin bingung.


"Bismillahirrahmanirrahim... Sebenarnya Mama, Papa dan Abang sudah tahu siapa orang tua kandung kamu sayang! Mama Papa memberitahu Abang beberapa hari yang lalu. Abang bingung bagaimana memberitahu mu tentang semua ini, karena Abang tidak mau kamu kepikiran dan shock. Abang menuruti saran Pak lek untuk memberitahu mu saat ini karena tidak bagus menunda-nunda informasi ini. Karena bagaimana pun juga kamu harus tahu siapa orang tua kandung mu! " ucap Izam dengan hati-hati.


"Iya sayang, Abang tahu Amay anak siapa? Tapi Abang belum pernah ketemu dengan orang tua mu secara langsung! Mama dan Papa lah yang pernah bertemu dengan orang tua mu, sayang! " jawab Izam sambil melirik orang tua nya.


"Amay sayang, Mama akan menceritakan semuanya pada mu tanpa di potong-potong! Kamu dengarkan baik-baik dan jangan memotong cerita Mama sebelum cerita nya selesai! Amay paham?? " sahut Mama Lia dengan tersenyum teduh.


"Iya Mama, Amay paham! " jawab Amay mengangguk pelan.


Mama Lia menarik panjang napasnya sebelum menceritakan kembali seperti cerita Besannya dan orang kepercayaan nya kala itu. Mama Lia bercerita tentang siapa Amay, bagaimana dengan orang tuanya dan kenapa ia bisa di pesantren, tentang Ibu nya yang meninggal dunia ketika selesai melahirkannya ke dunia ini. Tentang Papa nya yang koma selama 25 tahun dan baru sadar beberapa bulan yang lalu sebelum Amay menikah dengan Izam. Mama Lia juga menceritakan musuh-musuh Papa nya yang saat ini mengira jika ia dan Papa nya sudah meninggal.


Izam bangkit dari jongkok nya ke sisi Amay yang sedang menangis tersedu-sedu. Ia membawa Amay ke dalam pelukannya dengan mengusap lembut punggung istrinya agar istrinya nyaman dan merasa di lindungi oleh nya.


Mama Lia juga menceritakan niat awal Papa nya ingin mengumumkan kepada dunia jika ia dan Amay masih hidup, tapi semua itu tidak jadi dilakukan karena Papa Idris memberitahu jika Amay saat ini mengandung cucu mereka. Papa Amay membatalkan niatnya itu karena tidak mau jika terjadi sesuatu dengan kandungan Amay dan keselamatan Amay beserta cucu-cucu nya.


Amay semakin menangis di dalam pelukan suaminya hingga air matanya membasahi baju yang Izam pakai.


"Jadi, itulah yang sebenarnya terjadi pada orang tuamu sayang! Mereka berdua sangat mencintaimu jauh ketika kamu masih dalam kandungan Mama kamu! " ucap Mama Lia mengakhiri ceritanya.


"Hu... Hu... Hu.. Jadi Mama Amay udah meninggal Abang? Amay gak bisa lagi ketemu dengan Mama Bang? Amay gak bisa lagi merasakan kasih sayang Mama Bang? Maafkan Amay Mama... Maafkan jika dulu Amay mengira Mama gak sayang sama Amay? Maafkan Amay Ma... Maaf... " ucap Amay dengan terisak-isak sebelum akhirnya ia pingsan dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Sayang... Sayang... Bangun sayang! Bangun!.. " ucap Izam panik dengan menepuk pelan pipi istrinya.


"Ya Allah Amay! Bangun Nak! Amay... Amay... " sahut Mama Lia juga ikutan panik dan cemas.


"Maliq, cepat bawa istrimu ke atas! Papa akan panggil kakak mu dulu! Mama temani Maliq dan Amay! " perintah Papa Idris dengan hati khawatir tapi dengan wajah biasa saja.


Izam bergegas keluar dari ruang kerja sambil menggendong Amay dengan wajah cemas dan khawatir.


"Loh, Izam, Besan! Apa yang terjadi dengan Amay? " tanya Bulek Saroh dengan berlari mendekati Mama Lia dan ikut mengekor di belakang Mama Lia naik ke lantai atas.


"Amay pingsan Besan, abis nangis-nangis mendengar kisah orang tuanya! Saya takut Amay kenapa-napa dan juga takut kandungan nya juga kenapa-napa! " jawab Mama Lia dengan wajah pucat sambil meremas tangannya sendiri.


"innalillah... Mudah-mudahan Amay dan calon cucu kita gak kenapa-napa Besan! Ayo kita ikut masuk, kasihan nak Izam pasti ia sangat khawatir! " jawab Bulek Saroh dengan mencoba untuk tetap tenang.


Mama Lia segera berjalan duluan untuk membukakan pintu kamar Izam. Izam meletakkan Amay di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh istrinya itu hingga ke batas perut. Papa Idris datang bersama Ara dengan wajah yang juga terlihat khawatir.


"Semuanya keluar dulu ya? Biar Ara periksa Amay nya dulu! Kamu bantu kakak Maliq ambil minyak kayu putih dan tetap di sini! " ucap Ara dengan meletakkan tas medis nya di samping tempat tidur.


Semuanya pun keluar dari kamar tersebut dan menunggu di luar. Pak lek Rohim datang bersama Salim, Pakde Soleh dan Annisa. Sedangkan Haikal dan Haura menjaga anak-anak Salim di bawah.


"Aduh Pa, Mama takut Amay dan cucu-cucu kita kenapa-napa? Gimana dong Pa, jangan diam aja! " rengek Mama Lia dengan mondar-mandir kayak setrikaan.


"Kalau Mama kayak gitu Papa juga ikutan pusing ini! Sekarang ini Amay perlu doa kita sebagai orang tua! Mudah-mudahan mereka semua baik-baik aja! " jawab Papa Idris dengan wajah sedih.


"Benar yang dikatakan Pak Besan, Amay butuh doa kita semua! Jangan lah berburuk sangka dengan Allah, InsyaAllah Amay dan cucu-cucu kita tidak apa-apa! " ucap Pak lek Rohim ikut menambahkan.


Mendengar ucapan suami dan Besan nya Mama sedikit tenang dan duduk di samping Bulek Saroh yang menggenggam tangan Annisa.


Tidak lama kemudian Ara keluar dengan wajah lega, dan semua nya langsung mengelilingi Ara menanyakan keadaan Amay.


"Gimana Ra dengan Amay dan cucu-cucu Mama? Mereka semua baik-baik aja kan? Mama pengen lihat Amay dulu, Ra! " tanya Mama Lia dengan tidak sabaran.


"Semua nya tenang dulu! Saat ini Amay sedang istirahat, alhamdulillah Amay gak kenapa-napa kok! Ia pingsan karena shock aja! Kandungan nya juga gak kenapa-napa, tapi lebih baik nya kita panggil dokter kandungannya saja biar kita sedikit tenang dan gak mikir yang macam-macam! Biarkan Amay istirahat dulu, nanti juga ia bangun sendiri! Biarkan Maliq yang menemani Amay di dalam! " jawab Ara panjang lebar.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...


Mudah-mudahan review nya gak lama jadi bisa di terbit malam ini juga.

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..


__ADS_2