
Hardi dan Tuan besar Atmanegara keluar dari pesawat yang membawa mereka dari Singapura ke bandara internasional Soekarno-Hatta. Tuan besar Atmanegara memejamkan matanya sambil menghirup udara kota Jakarta setelah sekian lama.
Mereka berjalan menuju sebuah mobil mewah yang sudah menunggu mereka di parkiran bandara.
"Selamat datang kembali ke Indonesia, Tuan besar! " ucap sopir yang menunggu mereka dengan membungkuk hormat.
"Terimakasih, siapa nama mu? Bagaimana kabar Mahesa sekarang? " jawab Tuan besar dengan ramah sambil bertanya dan masuk ke dalam mobil.
"Nama saya Rama, Tuan besar! Alhamdulillah ayah sehat-sehat, Tuan besar! Sekarang ayah tinggal di Bandung mengurus kebunnya! " jawab sopir yang bernama Rama dengan wajah sumringah.
"Dasar Mahesa! Enak sekali dia sekarang, menjalani hidup nya sesuka hati! Bilang sama ayahmu kalau kapan-kapan saya akan datang ke sana untuk menemuinya mengenang masa lalu! " ucap Tuan besar Atmanegara sambil mengerutu kesal.
"Baik Tuan besar! " jawab Rama dengan tersenyum ramah.
Ia pun menjalankan mobil keluar dari area bandara menuju rumah utama yang baru saja di beli Rahman Atmanegara dua minggu yang lalu.
"Selamat datang kembali Rahman! Sekarang saat nya kau ambil kembali apa yang sudah mereka ambil dari mu ! Dan buat mereka mengemis meminta ampun dan menangis darah karena sudah membuat kau kehilangan Maggie untuk selamanya! Semuanya harus hancur berkeping-keping seperti anakmu yang hancur karena hidup tanpa belaian dan kasih sayang kedua orang tuanya! Buat hidup mereka bagai berada di dalam neraka! " batin Rahman kepada dirinya sendiri.
"Mari Tuan besar kita masuk! " ucap Hardi mempersilahkan Tuan besar Atmanegara untuk masuk duluan ke dalam rumah.
Tuan besar Atmanegara duduk di sofa empuk di ruang tamu yang sangat luas. Beberapa orang pelayan memasukkan barang-barang mereka ke dalam kamar yang sudah di tunjuk Hardi. Sesuai dengan perintah Tuan besar Atmanegara, barang-barang nya hanya di taruh di depan pintunya saja, karena ia paling tidak suka jika kamar pribadi nya di masuki banyak orang.
"Hardi, buat janji pertemuan ku dengan Tuan Barzakh ! " ucap Tuan besar Atmanegara sambil menyadarkan punggungnya ke sofa.
"Apa Tuan besar akan memberitahukan Nona muda tentang siapa Tuan?? " tanya Hardi menduga.
"Benar sekali Hardi! Sudah saat nya Putri ku tahu siapa dia sebenarnya! Siapa ayah dan ibunya? Kenapa kami bisa terpisah selama ini? Dia harus mengetahui nya! " jawab Tuan besar Atmanegara dengan sangat yakin.
"Baiklah jika Tuan besar benar-benar yakin! Saya akan membuat janji dengan Taun Barzakh! " ucap Hardi menganggukkan kepala.
"Bagus! Sekarang aku mau istirahat dulu! Kau juga harus istirahat juga ! " sahut Tuan besar Atmanegara sambil bangkit dari duduknya menepuk pelan bahu Hardi.
Ia pun pergi ke lantai atas yang hanya ada dua kamar yang sama besarnya dengan kamar pribadi nya. Ia sengaja membuatkan satu kamar lagi yang tidak jauh dari kamarnya untuk Putri tunggalnya Sumayyah atau Amay jika nanti Amay menginap di rumah ini.
Setelah Tuan besar Atmanegara hilang dari pandangan nya, Hardi pergi keluar rumah utama menuju belakang rumah tersebut yang terdapat Paviliun yang di khususkan untuk dirinya. Sedangkan untuk para pelayan yang bekerja di rumah tersebut menempati kamar-kamar yang bertingkat, yang letaknya tepat di belakang paviliun yang di huni Hardi dan keluarga nya.
πΎπΎπΎ
Seorang perempuan cantik duduk di sebuah bangku depan Minimarket 24 sambil memijat kakinya yang tiba-tiba pegal. Dari jauh ia melihat seorang laki-laki paruh baya keluar dari sebuah gedung berlantai tinggi hendak memasuki sebuah mobil yang sudah terparkir di depan pintu gedung tersebut.
Perempuan cantik tersebut buru-buru berdiri tegak dan langsung berjalan ke arah mobil tersebut yang hendak keluar dari lingkungan gedung tinggi itu.
"Target terlihat, Merpati akan beraksi! " ucap perempuan cantik tersebut sambil menekan sesuatu di telinganya.
Perempuan itu pun dengan santai berjalan di sisi yang bersebrangan dan dengan sengaja menabrakkan dirinya ke samping mobil tersebut sehingga mobil itu langsung mengerem.
__ADS_1
"Ckiiiit.... "
"Aduhh..... " pekik perempuan itu dengan kencang.
"Ada apa ini?? " ucap laki-laki paruh baya tersebut dari dalam mobil.
"Maaf kan saya Tuan! Saya tidak sengaja, saya kira perempuan itu mau kearah sana! " jawab sopirnya dengan agak ketakutan.
"Ya sudah, kau tangani perempuan itu! " jawab nya dengan nada malas.
Sopir itu pun keluar dari dalam mobil, ia menghampiri perempuan yang ia kira tertabrak mobil yang ia kendarai.
"Maaf Mbak, mari saya bantu! " ucap sopir dengan ramah kepada perempuan itu.
"Aduh sakit! " perempuan itu merintih kesakitan ketika sopir tersebut membantu nya berdiri.
Karena bosan menunggu, pria paruh baya tadi keluar dari dalam mobil dengan wajah kesal.
"Kenapa lama banget sih! Kamu kasih aja uang ganti rugi agar ia bisa berobat sendiri ke rumah sakit! " teriak pria itu dengan nada kesal.
Sopir itu hanya menundukkan kepala nya karena takut. Sedangkan perempuan yang tertabrak meringis sambil berusaha berdiri dengan menenteng sepatunya di tangan kanan.
"Terimakasih Pak, sudah mau membantu saya berdiri! " ucap perempuan itu dengan nada datar dan sedikit meringis karena berdiri dengan agak tertatih-tatih.
"Ki-kinanti.... " gumam pria paruh baya tersebut dengan wajah terkejut dan shock.
Ia meraup wajahnya dengan kasar dan berlari mengejar perempuan itu, namun karena kendaraan ramai ia kehilangan jejak perempuan tadi.
"Itu tidak mungkin Kinanti! Kinanti sudah mati 20 tahun yang lalu! Yah, aku pasti sedang berhalusinasi! Ayo Demian, kau harus yakin jika kau hanya berhalusinasi saja! " gumamnya dengan lirih.
"Ayo Pak, kita lanjutkan perjalanan kita! " ucapnya kepada sang sopir dan masuk kembali ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan wajah perempuan tadi selalu terbayang-bayang di ingatannya sehingga ia merasa antara yakin dan tidak perempuan itu adalah perempuan dari masa lalunya.
"Kinanti, apa itu benar kau? Tapi Papa bilang kau sudah meninggal waktu itu? Kenapa setelah sekian lama kau datang kembali, Kinanti? Kau tahu, betapa hancur nya hatiku ketika kau pergi dari hidupku! Sekarang kau datang lagi kehadapan ku setelah 20 tahun berlalu! Tetapi kenapa kau seperti tidak mengenali ku Kinanti?? " batin Damian dengan mata terpejam.
"Pokoknya aku harus mencari tahu siapa perempuan tadi! Apakah ia benar Kinanti atau bukan! " gumamnya pelan sambil mengambil ponselnya di saku celana.
Ia dengan cepat menghubungi orang-orang nya untuk mencari perempuan yang sangat mirip dengan perempuan masa lalu nya Kinanti.
Masih di tempat yang sama ketika ia mengawasi pria paruh baya tadi, perempuan itu melepas wig nya dan berbicara melalui handset dengan seseorang.
"Target sudah mulai masuk jebakan! "
"Lakukan rencana selanjutnya! Berhati-hatilah jangan meremehkan pria tua itu! "
__ADS_1
"Baik, Bos! "
Perempuan tersebut menyudahi laporannya dan kemudian menghapus make up yang ia kenakan dan kembali berpenampilan seperti biasanya.
πΎπΎπΎ
Di sebuah rumah besar dan megah, Rahman duduk di ruang kerjanya dengan menatap sebuah figura pria dan wanita Bule yang sedang hamil besar dengan tersenyum lebar.
Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya sambil mencium figura tersebut dengan penuh cinta.
"Maafkan aku sayang! Karena sampai saat ini aku belum bisa membawa putri kita menemui mu! Aku janji akan membawa putri kita bertemu dengan mu secepatnya! Aku harap kau tidak kecewa dengan ku yang baru bisa melakukannya setelah sekian lama! Aku merindukanmu Maggie, sangat merindukanmu! " ucap Rahman Atmanegara dengan menangis penuh kerinduan.
Ia meletakkan kembali figura tersebut di atas meja kerjanya dan kembali duduk di kursi kebesaran nya dengan raut muka yang datar.
"Tok.... Tok.... Tok.... "
"Masuk ! " ucap Rahman dari dalam ruangan.
"Permisi Tuan besar! Merpati sudah menjalankan tugasnya, sekarang ia akan melanjutkan rencana yang berikutnya! " lapor Hardi ketika memasuki ruang kerja Rahman.
"Bagus! Pastikan anak itu di awasi karena aku sangat yakin jika saat ini Damian pasti sedang mencari tahu siapa dia! Utamakan keselamatan nya, Hardi! " ucap Rahman dengan tegas.
"Baik Tuan besar! " jawab Hardi juga dengan singkat.
"Oh ya, bagaimana dengan permintaan ku kepada Tuan Barzakh besan ku itu? " tanya Rahman sembari membalik badannya menghadap Hardi.
"Sudah saya sampaikan kepada sekretaris nya Tuan, mereka bilang akan mengasih kabar jika Tuan Barzakh menerima permintaan Tuan besar! " jawab Hardi dengan jujur.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggunya! " ucap Rahman dengan menganggukkan kepala.
"Saya permisi dulu, Tuan! " pamit Hardi dengan membungkukkan badan nya.
"Ya silahkan! " Rahman mempersilahkan Hardi keluar dari ruang kerja nya.
"Damian natanegara ! Aku kembali, adik ku sayang! Aku akan mengambil kembali milikku yang sudah kau rampas dulu! Bersiap-siaplah, Damian! " batin Rahman dengan seringai menakutkan.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas kembali readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...
Happy datang kembali hari senin, hari yang sibuk untuk beraktivitas kembali setelah berakhir pekan kemarin..
Saatnya bekerja kembali dengan rutinitas setiap hari mengantar anak kesekolah... Semangat semuanya πͺπͺ...
__ADS_1