
Aulia dan Davin memasuki lift menuju lantai di bawah nya yang terdapat kantin dan mushola. Begitu mereka masuk dengan jalan beriringan, tampak para karyawan bisik-bisik melihat kedatangan mereka berdua.
Mata Aulia melihat di sekelilingnya yang sudah tampak ramai karena sudah jam makan siang.
"Kamu nyari siapa?? " tanya Davin begitu mereka sudah duduk di kursi yang kosong.
"Nyari Beti Mas! Kemana ya dia? " jawab Aulia dengan mata masih memindai orang yang ada di kantin tersebut.
Davin mengangguk paham. Ia pun memanggil pelayan kantin untuk mendekat.
"Iya Pak, mau pesan apa? " tanya pelayan kantin itu ketika sudah berada di hadapan mereka berdua.
"Kamu mau makan apa Lia.. ? " tanya Davin pada Aulia.
"Apa aja Mas, yang penting mengenyangkan dan gak terlalu pedas! " jawab Aulia tanpa melihat ke arah Davin.
"Oke lah.. pesan nasi bakar komplit dua, air mineral dua! Itu aja! Ada tambahan lagi gak Ya? " ucap Davin pada pelayan tersebut sambil menoleh dan bertanya pada Aulia.
"Gak Mas, cukup itu aja! " jawab Aulia dengan memberikan jempol nya.
"Ya udah Mbak, itu saja pesanan nya! " ucap Davin lagi kepada pelayan kantin.
"Baik Pak, Bu... Pesanan nya akan di siapkan! Mohon di tunggu sebentar! " sahut pelayan kantin tersebut dengan menunduk ramah.
Davin hanya mengangguk dan Aulia seperti biasa memberikan senyuman manis nya.
Bisik-bisik para karyawan perusahaan di belakang mereka membuat Aulia merasa agak tidak enakan dan canggung. Meskipun Davin tidak peduli dan tampak cuek-cuek saja. Lima menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Davin langsung memakan nya karena perut nya sudah benar-benar lapar.
Aulia hanya bengong menatap paket nasi bakar lengkap dengan sayuran lalap, ikan nila bakar serta tempe tahu goreng yang ada di hadapan nya.
Davin yang melihat Aulia masih belum menyentuh makanan nya, menghentikan suapan tangan nya untuk yang kesekian kali nya.
"Makanan nya gak bakalan masuk ke dalam perut kalau cuma di liatin kayak gitu?? Apa mau Mas suapin?? " ucap Davin yang membuat Aulia sedikit kaget.
"Ng-nggak Mas! Ni juga mau di makan! " jawab Aulia dengan wajah gugup dan dada berdebar kencang.
"Nah, gitu dong! Masa makan siang cuman di liatin doang! Ayo makan, ntar keburu habis waktu istirahat nya! Lagian kita juga belum sholat dzuhur! " ucap Davin lagi membuat Aulia tersadar dari lamunannya.
"Iya Mas, maaf... ! " sahut Aulia dengan wajah menunduk malu.
Ia pun memulai memakan makanan nya agar cepat selesai dan segera keluar dari kantin tersebut.
"Alhamdulillah... " ucap Davin begitu selesai makan.
Tidak lama berselang, Aulia pun juga sudah selesai makan dan mengucapkan hamdalah.
Mereka berdua diam sejenak setelah makan agar nasi nya turun dan perut tidak begah.
Davin memanggil pelayan kantin dan langsung membayar makanan mereka dengan uang selembar warna biru alias gocap.
"Ini Pak kembalian nya! " ucap pelayan kantin dengan memberikan pecahan lima ribu sebagai kembalian uang Davin tadi.
"Jiah.... Masih ada kembaliannya ! Lumayan untuk ngisi kotak amal! " jawab nya menerima uang tersebut dan memasukkan nya ke dalam kantong celana.
Aulia tersenyum kecil mendengar ucapan Davin tadi.
__ADS_1
"Dah yuk, kita ke mushola sholat dzuhur dulu! " ajak Davin sambil berdiri dari tempat mereka duduk.
"Iya Mas ayo! " sambut Aulia juga langsung berdiri dan berjalan di belakang Davin.
Mereka berjalan menuju mushola dan langsung berpisah karena tempat wudhu pria dan wanita sengaja di pisah karena untuk menghormati karyawan wanita yang berhijab agar tidak risih saat mengambil air wudhu dan terlihat aurat nya.
Selesai mengambil air wudhu, Aulia memasang kembali jilbab nya dan memasuki mushola untuk sholat dzuhur. Begitu selesai sholat dzuhur, ternyata Davin sudah menunggu di luar sambil berdiri.
"Ayo.... " ajak Davin begitu Aulia sudah keluar dari mushola.
Aulia mengangguk dan berjalan di belakang Davin menuju lift untuk kembali ke lantai atas ke ruangan Izam.
"Eung... Mas! Boleh gak aku ngerjain berkas-berkas nya di luar aja bareng Kak Elya sekretaris nya Mas Izam! " ucap Aulia seraya menggigit pelan bibirnya saat mereka di dalam lift.
"Loh, kenapa emang nya? Kamu risih cuma kita berdua di dalam sana? Kan kita gak ngapa-ngapain ? Cuma kerja aja! " tanya Davin balik.
"Iya sih Mas, cuma aku gak enak dan gak nyaman aja kalau cuma berdua aja di ruangan itu! Meskipun kita cuma murni bekerja, tapi gak etis aja pria dan wanita dalam satu ruangan yang sama yang bukan mahram! Kan kalau ada pria dan wanita satu ruangan berdua yang ketiga nya setan! Jadi, boleh gak Mas! Maaf kalau Mas Davin tersinggung! " jawab Aulia agak hati-hati.
"Astaghfirullah... Maaf ya Ya... Mas gak kepikir sama sekali tentang semua itu! Kamu tenang aja, Kamu tetap di ruangan saja, biar Elya nanti yang ikut bekerja di dalam. Jadi kamu gak akan merasa gak nyaman lagi! " ucap Davin benar-benar tidak sadar.
"Iya Mas, sama-sama! Terimakasih atas pengertian nya! " jawab Aulia dengan tersenyum manis.
Begitu sampai di lantai khusus presdir, Davin langsung memanggil Elya agar pindah bekerja sementara di dalam sambil menemani Aulia yang juga sedang bekerja di meja nya Davin.
"Baik Pak! Saya mau beresin barang-barang di atas meja saya dulu! Sekalian ambil laptopnya juga! " jawab Elya mengangguk patuh.
Elya pun pindah dengan membawa laptopnya ke dalam ruangan Izam dan meletakkan laptopnya di meja kerja Davin persis di sebelah Aulia sesuai perintah Davin.
"Maaf ya Kak ngerepotin kakak pindah ke sini! " ucap Aulia sungkan pada Elya.
"Gak papa kok Bu Aulia, saya senang kok sekalian menemani Ibu di sini! " jawab Elya dengan ramah.
"Hehehehe, iya deh Aulia! " jawab Elya dengan terkekeh.
Tiba-tiba Davin mendapat panggilan di ponsel nya, ia menjawab nya dengan wajah serius. Tak lama panggilan tersebut berakhir dan Davin berjalan mendekati mereka berdua.
"Aulia, Elya! Saya mau pergi ke perusahaan Barzakh dulu, mau mengurus yang ada di sana! Kalian tetap di sini, kerjakan apa yang saya pinta tadi dan berikan ini pada calon Aspri yang di luar itu agar bisa mereka kerjakan ! Jika ada panggilan dari pihak klien atau yang lainnya, langsung hubungi saja saya! Saya pergi dulu! " ucap Davin dengan wajah datar.
"Baik Pak/baik Mas! " jawab mereka berdua serempak.
Davin langsung keluar dari ruangan tersebut dan langsung memasuki lift.
"Aulia, Mbak mau keluar dulu ya memberikan ini dulu sama mereka! " ucap Elya dengan memegang berkas yang tadi di pesan kan Davin untuk tugas calon Aspri nya Izam.
"Iya Mbak, silakan ! " jawab Aulia dengan tangan masih menari di keyboard komputer.
Waktu terus berlalu hingga tidak terasa sudah seminggu Aulia bekerja membantu Davin di perusahaan Izam. Hanya dua hari ia bertanya pada Davin jika ia mengalami kendala dalam mengerjakan apa yang Davin perintahkan. Selebihnya ia melakukan nya sendiri karena ia sudah mengerti dan paham apa yang akan ia kerjakan.
Davin tersenyum puas karena Aulia cepat menangkap apa yang ia sampaikan dan hasil kerjanya juga bagus sehingga ia sering meninggalkan Aulia di perusahaan Izam tatkala ia sedang mengurus perusahaan Barzakh Corporation.
Saat ini Aulia sedang duduk santai bersama Elya dan Beti di Rooftop yang memang di sediakan tempat untuk bersantai. Mereka menghabiskan makan siang sembari duduk-duduk di sana karena Aulia di antar kan makanan dari rumah oleh sopir keluarga Barzakh.
Karena mereka ketiga nya tidak sholat alias palang merah bersama, mereka memutuskan untuk makan di Rooftop saja.
"Gimana rasanya Li, tinggal bareng orang kaya? " tanya Beti pada temannya itu.
__ADS_1
"Gak gimana-gimana sih Bet! Hanya saja kalau biasanya makan perlu mikir dulu mau beli apa, mau makan apa, duitnya ada apa kagak, sekarang jadi gak perlu mikirin semua itu. Makan tinggal makan, tidur tinggal tidur dan gak perlu ngapa-ngapain lagi karena semua nya sudah tersedia dan semua pekerjaan sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan nya! " jawab Aulia dengan wajah biasa saja.
"Aku masih gak percaya dengar cerita kamu kalau Amay ternyata anak orang kaya! Punya suami kaya raya juga! Harganya kalau di gabung gak akan habis sepuluh turunan, sepuluh tanjakan dan sepuluh tikungan, meskipun tikungannya tajam sekali pun! " ucap Beti dengan begitu dramatis nya.
"Lah, kok sepuluh turunan? Bukan tujuh turunan? " tanya Elya bingung.
"Kalau tujuh turunan itu sudah biasa Mbak! Lah, ini saking banyak nya harta jadi sepuluh turunan lah, itu juga gak bakalan habis! " jawab Beti asal.
"Hahahaha.... " mereka tertawa mendengar jawaban nyeleneh Beti.
"Lah, betulkan yang aku omongin? " ucap Beti meminta pembenaran pada mereka berdua.
"Iya, benar-benar! " jawab Aulia dengan mengangguk mengiyakan.
"Oh ya, ngomong-ngomong Mbak Elya udah berapa lama kerja di sini? " tanya Aulia seraya meminum minumannya.
"Belum lama sih! Baru dua tahunan ini! " jawab Elya.
"Wah lumayan lama sih Mbak dari aku! Aku baru setahun setengah kerja di sini! " sahut Beti berkomentar.
"Lama lagi di tempat aku yang dulu, 7 tahun aku kerja di sana. Lima tahun jadi staf HRD dan 2 tahun jadi sekretaris seperti ini! " ucap Elya sedikit bercerita.
"Lah, bagus dong Mbak kerja udah lama di sana? Kenapa Mbak keluar? Mbak di pecat ya? " tanya Aulia penasaran.
"Awalnya sih bagus, tapi semenjak pusat kepemimpinan beralih kepada anak nya aku jadi gak nyaman dan gak aman kerja di sana! " jawab Elya agak ambigu.
"Maksud nya Mbak kayak gimana? Kok aku makin bingung gak ngerti? " ucap Aulia lagi dengan wajah bingung.
"Iya sama, aku juga bingung maksud Mbak Elya apa! " sahut Beti membenarkan ucapan Aulia.
"Maksud aku itu, waktu yang mimpin perusahaan itu bapaknya aku suka dan nyaman kerja di sana sebagai staf HRD. Waktu bekerja di sana aku belum memakai hijab kayak gini tapi aku selalu berpakaian sopan dan memakai celana panjang kulot setiap bekerja. Setelah lima tahun dan di angkat jadi sekretaris aku masih merasa nyaman dan aman juga karena Bos nya baik dan gak neko-neko. Tapi saat ia pensiun dan di gantikan anaknya, aku jadi sangat was-was, gak aman dan terlebih lagi gak nyaman. Anaknya menggantikan ayahnya saat aku menjadi sekretaris setahun setengah. Hanya 6 bulan aku sanggup bertahan kerja sebagai sekretaris di perusahan itu sebelum aku memutuskan untuk resign. " jawab Elya dengan mata menerawang menatap langit biru.
"Emang nya kalau boleh tahu apa alasan Mbak Elya gak nyaman dan was-was kerja sama anak nya! " tanya Aulia agak hati-hati.
"Anaknya itu setiap saya kerja selalu menatap aku dengan pandangan yang melecehkan, seakan-akan matanya itu akan memakan aku ! Menatap aku seperti melihat ikan yang harus di santap! Sampai akhirnya saat kami menemui klien di hotel, ia melecehkan saya dan hampir memperkosa saya! Untung saja ada orang yang lewat di depan kamar itu dan kamar nya juga gak tertutup setengah, jadi saya terselamatkan! Padahal saya selalu berpakaian sopan dan gak pernah pakai rok pendek kayak sekretaris-sekretaris yang di Film-film itu! Kalau mungkin orang yang menyelamatkan saya gak lewat dan pintu gak terbuka, mungkin saat ini saya gak kerja di sini! " jawab Elya dengan mengusap air mata yang mengalir bebas di pipinya.
"Astaghfirullah hal adzim... " ucap Aulia dan Beti berbarengan sambil mengusap dada masing-masing.
"Allah masih menjaga marwah Mbak Elya sebagai seorang perempuan hingga mengirimkan penyelamat untuk Mbak Elya. Terus gimana caranya Mbak kerja di sini? " ucap Aulia lagi sambil bertanya.
Elya menghapus air matanya sebelum menjawab pertanyaan Aulia.
"Semenjak saat itu, aku sempat terpuruk beberapa minggu setelah keesokan harinya mengirimkan surat resign secara online. Dua minggu aku terpuruk dan gak sengaja lihat pengumuman perusahaan ini yang mencari sekretaris yang berhijab dan berpengalaman. Aku nekad melamar di sini, mengirim CV ku melalui email setelah mendapatkan surat pengalaman kerja dari perusahaan aku yang lama! Untung saja pimpinan HRD di perusahaan aku yang lama mau memberikan surat pengalaman kerja untuk aku dan akhirnya setelah melalui serangkaian tes aku di terima kerja di sini! Apa lagi Pak Izam dan Pak Davin orang nya baik meskipun selalu bersikap datar dan dingin pada setiap wanita. Tapi saya suka suasana yang seperti itu. Karena dengan tabiat mereka berdua seperti itu saya jadi aman dan nyaman bekerja di sini! Terlebih lagi Pak Izam tidak pernah membiarkan saya menemui klien pria, tapi jika klien nya perempuan Pak Izam dan Pak Davin pasti membawa saya ikut menemui klien tersebut. " jawab Elya dengan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah... Akhirnya Mbak Elya dapat pekerjaan yang perusahaan dan pemimpin nya menghargai hak perempuan! " ucap Aulia ikut tersenyum.
"Iya Mbak, saya bahagia sekali! Apalagi saya juga ketemu jodoh saya di perusahaan ini juga! " sahut Elya dengan wajah malu-malu.
"Subhanallah, benar-benar rezeki ya Mbak kerja di sini! " ucap Beti memuji keberuntungan Elya.
"Iya Mbak, alhamdulillah.. ! " jawab Elya dengan tersenyum.
"Eh sudah hampir selesai waktu istirahat kita! Balik lagi yuk ke ruangan kita! " ucap Aulia dengan melihat arloji nya.
"Iya ya... Yuk balik! " sahut Beti ikut berdiri dan membantu Aulia mengemasi kotak bekal nya.
__ADS_1
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya..