
Semalaman Amay menghibur Aulia, menguatkan nya agar selalu berpikiran positif dan tidak memikirkan yang bukan-bukan.
Izam yang berada di dalam kamar, tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Davin yang mengatakan jika ada klien penting dari luar negeri yang ingin berjumpa dengan nya membicarakan tentang perpanjangan kontrak kerja sama perusahaan mereka.
Izam segera keluar untuk memanggil Amay guna membicarakan masalah itu.
"Sayang, bisa kemari sebentar? Abang mau bicara! " panggil Izam dengan santainya di hadapan Aulia.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut tersenyum kecil menggoda Amay yang di panggil sayang oleh Izam.
Ternyata di ruang tamu tidak hanya ada Aulia dan Amay, tetapi ada Haura dan Haikal juga yang bersama mereka. Haikal dengan terang-terangan menggoda Amay dengan memanggilnya sayang.
"Aul, aku temuin Abang dulu ya? Ntar balik lagi ke sini! " ucap Amay kepada Aulia.
"Ish Abang ! Masa panggil sayang nya di depan mereka? Amay kan malu Bang? " rengek Amay ketika sudah di hadapan Izam.
Izam terkekeh pelan mendengar omelan istrinya dengan wajah bersemu merah karena malu.
"Emang apa yang salah! Orang kita udah halal, lagian kan Abang panggil nya bukan di depan orang tua. Masa panggil nama sama istri sendiri! " jawab Izam dengan santai.
"Au ah Abang! Suka hati Abang lah kalau gak bisa di bilangin! " ujar Amay dengan wajah cemberut.
"Nah, gitu dong sayang! Terserah Abang aja! " jawab Izam lagi dengan memberikan jempolnya.
Amay semakin mencebik bibirnya mendengar jawaban suaminya. Ia lalu di tarik Izam ke dalam kamar mereka.
"Ada apa Bang tadi manggil Amay? " tanya Amay ketika mereka sudah di dalam kamar.
"Duduk dulu di sini! " jawab Izam sambil menepuk kasur yang di sebelah ia duduk.
Amay mengikuti perintah suaminya, ia duduk di sebelah suaminya di atas tempat tidur mereka. Izam pun dengan pelan menceritakan tentang panggilan Davin, tetapi ia tidak menceritakan secara detailnya, hanya garis besarnya saja. Ia belum mau menceritakan siapa dia sesungguhnya kepada Amay.
"Jadi kita mau tidak mau harus kembali ke kota ya Bang? " tanya Amay lebih jelas lagi.
"Iya sayang! Mumpung teman Abang nawarin kerjaan, Abang mau ambil! Gimana menurut kamu? " jawab Izam sambil kembali bertanya.
"Kalau Amay sih terserah Abang aja! Kemana Abang pergi Amay akan selalu ikut Abang! Asal jangan bawa Amay masuk jurang aja! Itu mah Amay ogah ikut! " ucap Amay dengan setengah bercanda.
"Abang juga gak mau dong sayang masuk ke jurang, Abang kan belum ngerasain gimana indahnya surga dunia, rugi bandar Abang kalau ngajak khumairah Abang masuk jurang! " jawab Izam sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Dih, Abang gak jelas! " ucap Amay dengan membuang mukanya karena malu.
Amay walaupun baru menikah, namun ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti dengan istilah surga dunia yang di katakan suaminya itu. Dan Izam terkekeh pelan melihat istrinya membuang muka karena malu dengan omongan nya. Ia dengan gemas mencubit pelan pipi gembul istrinya itu.
"Aaaaa.... Sakit Abang! Ntar abis lagi pipi Amay kalau di cubitin terus! " ucap Amay dengan berteriak pelan.
"Duh duh duh... Ya udah gak bakalan Abang cubit lagi! Abang giniin aja mulai sekarang! Muach... Muach.. " jawab Izam sambil mencium pipi kiri dan kanan Amay bergantian.
"Dih, itu mah maunya Abang! " cibir Amay dengan bibir manyun.
"Ha.... Ha.... Ha... " Izam tergelak karena berhasil menjahili istrinya.
Setelah yakin dengan keputusan istrinya, Izam pun menghubungi Davin untuk mengabarkan jika mereka akan kembali ke Jakarta hari ini juga.
"Sayang, teman Abang mengirimkan kendaraan untuk kita dan insyaallah sampai nanti ke sini sebelum dzuhur. Jadi kita akan pulang setelah dzuhur kira-kira jam 2 siang kita dari sini. Kalau temanmu mau, dia bisa ke Jakarta bersama kita! " ucap Izam kepada Amay sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Boleh ya Bang? " tanya Amay dengan wajah sumringah.
Izam menganggukkan kepala nya dan Amay bersorak kegirangan dan langsung keluar kamar untuk memberitahukan kabar ini kepada Aulia.
Aulia memeluk Amay karena bahagia ia bisa ke Jakarta menjenguk kakak sepupunya yang mengalami musibah. Haikal dan Haura langsung murung begitu mendengar kabar kalau Amay akan pergi ke kota bersama suaminya.
"Astaghfirullah hal adzim..... " Amay menepuk pelan jidatnya karena lupa jika mereka tidak hanya berdua, tetapi ada Haikal dan Haura juga.
Karena ingin memberikan kabar gembira untuk Aulia, membuat Amay lupa jika ia juga akan pergi ke kota yang mana langsung membuat Haura menangis karena sedih di tinggal lagi. Amay langsung bergegas menyusul Haura dan Aulia juga pergi ke asrama untuk mengepak pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta.
"Assalamualaikum Bulek, Pak lek? " ucap Amay ketika memasuki rumah Pak lek dan Bulek nya.
"Waalaikumsalam, Nduk? Ayo masuk! " jawab Bulek Saroh dengan wajah yang selalu tersenyum.
"Nduk, beneran ya yang di katakan Haura? Kenapa mendadak begini? " tanya Bulek Saroh dengan wajah sendu.
"Benaran Bulek! " jawab Amay membenarkan nya.
Ia pun menceritakan kembali seperti yang di ceritakan tadi oleh suaminya Izam tanpa di kurangi atau di tambah. Ia juga menceritakan jika Aulia akan ikut barengan ia dan Izam pergi ke kota.
"Ya Allah, Bulek sebenarnya berat banget melepaskan mu pergi ke kota, tapi Bulek tidak bisa berbuat apa-apa karena sekarang ini kau sudah menjadi tanggung jawab Izam suami mu, Nduk! Hanya satu pesan Bulek, jadilah istri yang patuh dengan perintah suami, jaga marwah suamimu di hadapan orang lain, karena seorang istri itu laksana pakaian suami, jika kau mengumbar aib suami mu berarti kau menelanjangi suami mu di hadapan orang lain. Jangan pernah menceritakan tentang ranjang mu kepada orang lain, termasuk kepada saudara sendiri karena itu adalah aib mu dan suamimu! Jika ada sesuatu yang mengganjal, jangan kau simpan sendiri. Bicarakan baik-baik dengan suami mu agar tidak terjadi salah paham antara suami istri. " nasihat Bulek Saroh panjang lebar.
Amay langsung memeluk Bulek Saroh dan menangis di pelukannya. Ia juga berat sebenarnya meninggalkan orang yang selalu menjaganya dan melindunginya selama ini. Namun karena sekarang ia tidak sendiri lagi, ia harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
__ADS_1
Setelah mengatakan semuanya kepada Bulek Saroh, Amay pun undur diri karena akan mempersiapkan semuanya sebelum mobil yang akan menjemput mereka sampai di Pesantren.
Izam menghubungi Bunda Yasmine untuk mencarikan orang yang mau membersihkan rumahnya sekaligus mengatakan jika ia akan pulang dengan membawa istrinya. Amay masuk ke rumah setelah ia selesai menghubungi Bunda Yasmine.
Amay langsung mengemasi pakaian nya dan Izam ke dalam koper yang ia ambil dalam lemari.
"Gak usah banyak-banyak sayang pakaian kita! Nanti sampai di sana kita beli saja. Jadi jika kita pulang kesini kita gak perlu bawa banyak pakaian karena pakaian kita sebagian masih ada di rumah ini! " tegur Izam dengan lembut.
"Astaghfirullah... Amay lupa Bang kalau kita pasti akan kembali ke sini lagi! Ya udah deh kalau gitu, Amay bawa yang seperlunya aja! " jawab Amay dengan menepuk pelan dahinya.
"Oya iya sayang, Abang mau bertemu Pak lek dulu, mau membicarakan tentang kepulangan kita ke kota! " ucap Izam pamit sembari keluar dari kamar mereka.
"Iya Bang! Amay tadi juga udah ngomong sama Bulek Saroh doang! " jawab Amay dengan setengah berteriak dari dalam kamar.
Karena tidak mendengar jawaban dari suaminya, Amay pun kembali membereskan kira-kira apa yang akan ia bawa ke kota.
Tepat jam 11.30 waktu setempat, mobil yang menjemput mereka sampai di pesantren dengan selamat. Sopir yang di kirim Davin meminta ijin untuk istirahat sejenak sebelum mereka berangkat lagi ke Jakarta.
Haura dari tadi selalu membuntuti kemanapun Amay pergi, bahkan ia terkadang tidak mau melepaskan lengan Amay sehingga membuat Amay tidak bisa bergerak bebas melayani suaminya makan.
Izam terkekeh geli melihat istrinya kewalahan menangani Haura yang tidak mau pergi barang sedetikpun dari nya.
"Ya ampun Haura! Kakak itu pergi bukan untuk selama-lamanya?? Kakak pasti kembali ke rumah ini, karena ini rumah kakak. Lagian kan jika liburan kamu bisa ke kota bersama Haikal ke rumah kakak. Kita akan pergi liburan bersama-sama kemanapun kamu suka. " ucap Amay dengan lembut memberikan pengertian dengan Haura.
"Janji ya jika liburan nanti kita akan pergi ke kebun binatang?? " sahut Haura dengan menautkan kelingkingnya ke kelingking Amay.
"InsyaAllah kakak janji! " jawab Amay membalas nya.
Tepat jam dua siang, Bulek Saroh dan keluarganya serta tidak ketinggalan para santri dan ustadz ustadzah melepas kepergian Amay dan Izam dengan iringan isak tangis haru. Amay juga tidak kuasa menahan tangisannya ketika melihat semua orang yang ia kasihi melepasnya dengan penuh haru. Ia bahkan mendapat wejangan dan nasihat dari para Ustazah yang usianya di atas nya. Aulia sudah duluan masuk ke dalam mobil ketika Amay dan Izam mengalami semua orang satu persatu sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
Setelah selesai berpamitan, Amay dan Izam masuk ke dalam mobil dan mobil pun bergerak meninggalkan area pesantren dengan kecepatan pelan. Amay lambaikan tangan nya kepada semua orang sampai mereka hilang dari pandangan nya.
"Bismillahirrahmanirrahim... Mudah-mudahan ini adalah awal kehidupan kita yang insyaallah akan penuh dengan kebahagiaan dan kesejahteraan... " ucap Izam dengan menggenggam tangan Amay.
"Aamiin ya Rabbal alamiin.... " jawab Amay mengaminkan doa suaminya.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...
__ADS_1