
"Apa???? " Izam dan kedua kakak iparnya memekik kaget mendengar ucapan Pak lek Rohim.
"Apa Pak lek serius dengan yang Pak lek katakan?? " tanya Izam lagi dengan wajah serius.
Pak lek Rohim mengangguk kan kepala nya dan Izam tampak berpikir sebelum bicara.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa ayahnya Davin, karena selama aku mengenal nya dari masa putih biru, aku tidak pernah bertemu dengan ayahnya dan bahkan Davin pun juga tidak pernah membicarakan tentang ayahnya. Hanya ibunya yang selalu ia bicara kan dan aku sering bertemu dengan ibunya Davin. Kami dulu bahkan sering menginap di rumahnya Davin ketika ingin mengerjakan tugas kelompok. Aku dan Fahri tidak pernah bertanya tentang dimana dan bagaimana rupa ayahnya Davin karena ia pernah berkata jika ia tidak mengenal ayah nya pada saat guru kami bertanya waktu itu. Aku dan Fahri sepakat untuk tidak bertanya lagi hal yang demikian itu yang membuat Davin enggan untuk membahas nya. " ucap Izam menerawang masa saat bersekolah dulu.
"Apa ketika kalian ke rumah Davin, kalian tidak melihat potret dan foto Davin bersama kedua orang tuanya? " tanya Pakde Soleh kepada Izam.
"Tidak Pakde! Bahkan di rumahnya Davin hanya ada foto masa kecilnya Davin dan foto ia bersama ibunya. " jawab Izam jujur.
"Atau jangan-jangan memang Davin tidak punya ayah sama sekali??? " ucap Bang Farel menduga-duga.
"Bisa jadi itu, atau kemungkinan nya ibunya Davin tidak pernah menikah sama sekali. Ia merawat dan membesarkan Davin seorang diri tanpa ada suami! Tapi, kalau memang Davin bukan anak kandungnya, siapa orang tua kandung Davin dan kenapa Davin bisa bersama ibunya yang sekarang ini?? " sahut Bang Amran ikut berspekulasi.
"Apa yang dikatakan nak Amran masuk akal juga, apakah wanita merawat Davin mengenal kakak dan kakak ipar ? Atau apakah ia sakit hati kepada kakak dan kakak ipar?? Sehingga ia nekat mengambil Davin dan memisahkannya dari orang tua kandungnya! " ujar Pak lek Rohim dengan asumsinya.
"Bisa iya bisa tidak juga Pak lek! Kita tidak tahu cerita yang sesungguhnya dan aku akan bantu Pak lek untuk tes DNA antara Pak lek dengan Davin. Jika hasil tes mengatakan Davin mempunyai hubungan darah dengan Pak lek, maka otomatis Davin memang anak kandungnya Abah nya Amay yaitu keponakan kandung Pak lek sendiri. Dan kita akan bertanya langsung kepada ibunya Davin mengapa ia bisa merawat Davin dan tidak memberikannya kepada orang tua kandung Davin. " sahut Izam dengan sangat serius.
"Pakde setuju dengan yang di katakan Izam! " ucap Pakde Soleh menyahuti.
"Masuk akal juga... " komentar Farel.
"Aku akan mengambil sampel rambut Davin dan Pak lek berikan sampel rambut Pak lek pada ku nanti siang karena aku akan memberikan sampel rambut kalian ke Fahri agar kita cepat tahu hasil tes DNA tersebut! " sahut Izam lagi dengan di jawab anggukan kepala Pak lek Rohim.
"Kira-kira berapa lama hasil tes tersebut keluar nak Izam? " tanya Pak lek Rohim lagi.
"Setau Izam sih dua minggu Pak lek! Jika hasilnya sudah keluar aku akan menghubungi Pak lek agar Pak lek bisa ke kota untuk membuka hasil tes tersebut. " jawab Izam.
"Lumayan lama juga.. " gumam Pak lek Rohim dengan pelan.
Di kamar yang lain, saat ini Amay sedang di pakaikan henna oleh orang suruhannya Ara dengan Ana dan Aini yang juga ikutan memakai henna di tangan mereka. Haura dan anak-anak pun ikutan memakai henna tidak terkecuali anak laki-laki.
"Abang kemana ya Kak? Kok dari tadi gak kelihatan batang hidung nya? " tanya Amay dengan pelan kepada Ara yang kebetulan datang membawa beberapa makanan kecil ke dalam kamar untuk penghias henna.
"Entahlah, kakak juga gak lihat dari tadi! Di luar hanya ada Mas Salim sama Papa kamu dan Pak Hardi aja lagi ngobrol di ruang keluarga! " jawab Ara jujur.
"Nanaz lihat kok Ma! Uncle masuk ruang kerja Opa sama eyang kakung dan Baba sama Papi juga ikut kok sama uncle! " jawab Nanaz dengan wajah polosnya.
"Lah, emangnya Baba ikutan juga ya kak masuk ke ruang kerja Opa? " tanya Ana dengan heran.
__ADS_1
Anak-anak Ara memang di pinta untuk tetap memanggil Ana dan Farel Baba dan Bubu seperti anak mereka Faris dan Farid. Begitu juga anak sulung Aini yang juga memanggil Ana dan Farel seperti adik sepupu nya. Begitu pula sebaliknya, Faris dan Farid juga memanggil Ara dan Salim dengan Papa Mama dan Aini dan Amran Papi Mami. Aini hanya punya satu anak laki-laki yaitu Azzam yang saat ini sedang bermain bersama Haikal di lantai atas di kamar bermain khusus cucu-cucu keluarga barzakh.
"Iya Bu, Papi juga ikut tuh! " jawab Nanaz lagi tanpa di tanya Aini.
"Mungkin mereka sedang berbincang tentang kerjaan kali May, Na! " jawab Aini tanpa menoleh dan membuka matanya.
"Iya kali ya Kak... " ujar Amay ikut membenarkan ucapan Aini.
"Ah, gak mungkin itu! Emang apa yang mau mereka bahas? Masa mau bahas tentang ayam, kucing, anjing, ular? Kan gak mungkin, secara Mas Amran kan dokter hewan! Gak mungkin juga mau bahas tentang mengajar mahasiswa secara Mas Farel itukan dosen.. Mana ngerti lah Maliq yang seorang pengusaha! Apalagi di tambah Mas Salim yang arsitek yang selalu berurusan dengan gambar menggambar! Pasti ada sesuatu hal yang mereka runding kan! " bantah Ana menduga-duga.
"Iya ya.... Benar juga yang di katakan Ana tadi! Kakak sampai lupa dengan profesi suami sendiri! " sahut Aini seraya menepuk pelan jidatnya.
Amay terkikik geli melihat reaksi kakak iparnya yang menurutnya lucu itu.
"Gak usah su'udzon.... Kan ada Pak lek dan Pakde juga! Masa iya mereka berunding hal yang di luar nalar di depan Pak lek dan Pakde! Siapa tahu mereka memang ngobrol santai aja karena di luar kan rame banget orang kerja, jadi lebih leluasa dan gak keganggu kalau mereka ngobrol di ruang kerja Papa! " ucap Ara dengan bijak.
"Iya kak, mungkin aja mereka hanya ngobrol biasa! Soalnya kan Papa sama Om Hardi kan baru datang sebelum kita pasang henna ini! " sahut Amay ikut membenarkan ucapan Ara.
"Semoga aja iya! Awas aja kalau Mas Farel merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan aku, bakalan aku jadiin perkedel ia selama seminggu! " ucap Ana dengan penuh semangat.
"Galak bener! Dosa tauk jadiin suami perkedel kayak gitu! " omel Aini sambil menoyor pelan kepala Ana.
"Apa???? " teriak Aini dan Amay dengan mata melotot.
Para penghias henna tampak mengulum senyuman mereka mendengar ucapan absurb Ara yang membuat naluri jomblo mereka meronta-ronta.
"Yang benar kamu Ra, Na? Coba jelaskan sama kakak apa maksud nya? Kakak masih belum ngerti! " pinta Aini dengan wajah penasaran.
"Mbak, kalian berempat sudah menikah apa masih jomblo? " tanya Ara kepada ke empat penghias henna.
"Saya jomblo Kak! "
"Saya sudah menikah! "
"Saya jomblo Kak! "
"Saya single Kak, alias janda! "
"Gak papa lah untuk yang belum menikah, anggap aja ini pelajaran ketika nanti akan menikah! Dan untuk yang janda juga gak papa, anggap juga pelajaran. Siapa tahu ketemu jodoh dan menikah bisa di jadikan pelajaran untuk menaklukkan suami nanti eaaa.. " ucap Ana dengan tertawa mesum.
"Sotoy! " ujar Aini menoyor kepala adiknya dengan pelan.
__ADS_1
Ana hanya terkekeh melihat kekesalan kakaknya. Ia pun mengambil ancang-ancang untuk berorasi tentang membuat suami menjadi perkedel di ranjang. Dan untung aja anak-anak dan Haura sudah selesai di hias tangan mereka sehingga mereka sudah keluar dari ruangan itu tanpa harus mendengar kan omongan absurb emak-emak yang udah punya laki.
"Begini yah para pemirsa! Sebagai seorang istri kita pasti punya feeling yang kuat pada suami kita. Kita bisa tau apakah suami kita berbohong ataupun tidak hanya karena melihat gerak gerik tingkahnya di hadapan kita. Agar suami kita bercerita tanpa kita minta, kita harus bisa membuatnya terlena dan tanpa ia sadari ia akan menceritakan semua yang ia lakukan kapanpun itu dengan santainya seolah-olah dia berbicara kepada temannya.
Tapi, untuk membuat suami kita mau membuka mulutnya itu... Kita harus bisa membuatnya terlena dengan servis terbaik kita di atas ranjang! " ucap Ana dengan sengaja menjeda ucapannya karena Aini dan Amay langsung batuk-batuk.
"Uhuk.... Uhuk... Uhuk... "Amay dan Aini auto batuk barengan mendengar ucapan terakhir Ana tadi.
"Ya elah Kak.... Santai aja kali... Udah emak-emak juga masih juga malu! Hal lumrah itu... " sahut Ana dengan santainya.
Ara dan keempat penghias henna hanya tersenyum kecil melihat wajah Amay dan Aini yang memerah malu.
"Nah, selanjutnya... Sebelum kita mengeksekusi suami kita di ranjang, kita harus mempersiapkan diri kita dengan baik agar selalu tetap fit dan bugar agar gak cepat K.O nanti ketika kita adu gulat. Kita olahraga untuk memanjakan suami kita minimal seminggu sebelum hari H, mandi yang bersih, ganti sprei kasur dengan yang baru. Buat suasana kamar kita senyaman mungkin dan seindah dari biasanya agar suami kita semakin kelepek-klepek karena sudah membuatnya semakin di inginkan. Gak usah malu kalau kita minta duluan sama suami kita karena itu semakin membuat suami kita semakin merasa bahagia dan tersanjung karena kita yang meminta duluan.
Tapi pastikan dulu jika yang sudah punya anak kalau anak-anak sudah tidur sebelum eksekusi di mulai. Kan gak lucu lagi asyik-asyiknya pemanasan tiba-tiba ada yang manggil dari luar dan jangan lupa pintu kamar selalu di kunci karena kita tidak tahu kalau tamu tak di undang bisa masuk kamar kita kapan saja alias anak-anak yang tiba-tiba bangun dan langsung masuk ke kamar kita tanpa pemberitahuan. " ucap Ana lagi dengan berhenti sebentar.
"Masuk ke intinya ya pemirsa... Setelah semuanya aman, anak-anak sudah tidur, pintu sudah terkunci, kita langsung ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri. Buat diri kita seharum mungkin, sikat gigi, dan jangan lupa pakai baju perang kita yang dapat membuat mata suami kita melotot keluar. " tambah Ana dengan mengedipkan matanya.
Aini melengos ke samping dengan wajah malu, begitu juga dengan Amay yang wajahnya juga memerah karena malu. Sedangkan Ara cekikikan melihat kegenitan kembarannya begitu juga keempat penghias henna yang juga ikut tersenyum simpul sambil tangan mereka terus bekerja.
"Setelah itu kita keluar dari kamar mandi dengan gaya slow motion dan otomatis membuat suami yang mungkin sedang bermain HP di atas kasur langsung meletakkan HP nya seketika itu juga dan mulai menatap kita dengan pandangan yang tidak berkedip. Kali ini kita sebagai perempuan yang akan bertindak agresif duluan dengan menyerang suami kita. Kita buat dia terbuai dan terlena dengan cumbuan kita sehingga membuatnya semakin menginginkan kita. Kalau perlu kita buat suami kita puas duluan dengan melakukan oral **** yang pasti membuat mereka semakin kuat ingin menyerang kita balik. Jika bosan dengan oral **** yang biasa-biasa saja, coba dengan cara ini yaitu mengulum es batu sambil kita memanjakan senjata suami dengan mulut kita. Di jamin dengan sensasi dingin dari mulut kita membuat suami kita makin mendelik nikmat dan semakin membuat nya merasa di atas awan. Nah, dari situ kita mulai perang karena pastinya dengan sensasi yang berbeda tadi membuat suami kita akan langsung menyerang kita membabi buta tanpa ampun di atas ranjang dan usahakan jangan menjadi pemain yang pasif karena laki-laki sangat menyukai pasangannya yang sama-sama aktif karena merasa kalau kita sama-sama menginginkan satu sama lain. Nah, setelah selesai bertempur jangan langsung pergi bersih-bersih ke kamar mandi. Pelukan aja dulu sama suami di atas tempat tidur sambil berbicara pelan tentang kegiatannya sehari-hari dan otomatis suami kita akan berbicara semuanya apa yang ia lakukan dengan penuh semangat seolah-olah berbicara kepada sahabatnya tanpa ada yang ditutupi. Tapi jika kita merasa ada yang belum ia omongin, kita pancing dia dengan kata-kata yang tidak mendesak atau menuduhnya secara langsung, in Shaa Allah pasti mengalir dengan lancar dari mulut nya apa yang tadi kita rasa belum ia ceritakan kepada kita. Nah, sampai disini apakah ada pertanyaan???? " ucap Ana dengan berlagak seperti seorang guru yang bertanya kepada murid-murid nya.
"Gak usah malu-malu! Tanya aja apa yang ada di pikiran kalian semua?? " sahut Ana lagi sambil menatap semua yang ada di dalam kamar itu.
"Anu Mbak, gimana kalau suami kita jika habis gulat langsung tidur? Kan gak bisa kita tanya macam-macam? " tanya salah satu penghias dengan wajah malu-malu.
"Pertanyaan yang bagus! Makanya ketika selesai pelepasan, jangan langsung di lepas. Kita biarkan suami kita ambruk di samping tubuh kita dan pastinya ia masih dalam posisi memeluk kita. Itulah yang aku katakan tadi untuk jangan buru-buru ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dengan suasana yang masih agak tepar karena pelepasan hormon, kita langsung ajak ngobrol sambil melakukan aksi kecil seperti mengusap dadanya atau mengecup kecil rahang nya atau pun pipinya sambil terus mengobrol dan pastinya suami kita tidak akan tertidur dan kita akan saling bercerita tentang apa saja! " jawab Ana dengan serius.
"Sudah, sudah.... Bikin suasana makin panas aja ini! Gerah! " sahut Aini dengan mengibaskan tangannya ke wajahnya.
"Dih kakak, beneran gerah apa udah gak sabar lagi mau praktek sama Bang Amran?? " ledek Ara dengan menaikturunkan alisnya menggoda kakak sulungnya.
"Sotoy! Dasar adik minim akhlak! " ucap Aini kesal sambil menoyor kepala adiknya dengan di jawab gelak tawa semua yang ada di kamar ini.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Selamat weekend bersama keluarga tercinta...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍....
__ADS_1