Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir

Bidadari Surga Untuk Penjual Kebab Yang Tajir
Seleksi


__ADS_3

Keesokan harinya, Izam langsung menyuruh sekretaris nya untuk membuat pengumuman pencarian asisten pribadinya baik secara online maupun secara manual. Ia juga sudah menghubungi Davin pada malam sebelum nya untuk di mintai pendapatnya tentang usul Amay untuk mencari asisten tambahan selain Davin.


Davin menyambut baik usulan Amay karena ia juga masih belum tahu kapan akan kembali ke Jakarta. Ia juga menyampaikan poin-poin yang menjadi syarat untuk menjadi asisten tersebut kepada Izam agar tidak tertipu dengan CV setiap pelamar.


Ia juga akan membantu jika Izam memerlukan bantuan untuk menyelidiki kebenaran setiap pelamar yang lolos tahap seleksi.


"Wah... Jadi semangat aku untuk mencari asisten nya suamimu! Kira-kira kau mau asistennya laki-laki apa perempuan May?? " ucap Aulia setengah menggoda perasaan Amay.


"Ya laki-laki lah.. ! Enak aja perempuan! Zaman sekarang masih kuat iman aja banyak pelakor berkeliaran! Apalagi kalau di kasih celah menjadi asistennya Abang, wuih... Bisa-bisa aku selalu ikut setiap Abang kerja! Gak tenang biarin si Abang kerja bersama perempuan yang bukan muhrimnya! " jawab Amay cepat.


"Ha... Ha... Ha... Takut juga rupanya! Kirain cuek bebek aja sama suaminya.. ! " sahut Aulia dengan terkekeh.


"Dasar jahil... Bukan nya aku takut, tapi lebih ke jaga-jaga aja! " jawab Amay sebel.


"Sama aja keles.. Ha.. Ha... Ha... ! " ucap Aulia lagi dengan tertawa kecil.


Hanya dalam dua hari saja sudah masuk lamaran sebanyak 50 berkas lamaran untuk menjadi asisten pribadi Izam selain Davin.


Hal itu membuat Izam langsung memerintahkan karyawannya untuk mengantar kan semua lamaran itu ke rumah mertuanya.


"Astaga naga... ! Baru dua hari sudah sebanyak ini??? " ucap Aulia dengan mata melongo saat karyawan Izam mengantarkan berkas lamaran tersebut.


"Iya ya Aul... Gimana kalau sampai satu minggu! Bisa-bisa segunung tingginya saling banyak nya yang melamar! Padahal yang diterima kan cuma satu! " sahut Amay dari atas kursi rodanya.


"Ckckck... Bisa seharian ini memeriksa setiap CV mereka! " ucap Aulia dengan geleng-geleng kepala.


"Mang... Mamang... ! Tolong bawa berkas-berkas ini ke ruang santai di samping ya Mang... ! " panggil Amay lembut pada salah satu pekerja di rumah papa nya.


"Baik Nona Muda... ! Ada lagi yang bisa mamang bantu Nona Muda.. ! " jawab si Mamang patuh.


"Tolong bilangin sama Bibik aja ya Mang, buatin Amay sama Aul minuman dan cemilan untuk teman memeriksa berkas ini! Tapi, bilangin cemilan untuk Amay yang khusus ya Mang.. ! " ucap Amay lagi menambahkan.


"Oke Nona Muda.. ! " jawab si Mamang dengan memberikan jempolnya.


"Iya Mamang, terimakasih! " sahut Amay begitu si Mamang langsung garcep melakukan perintah anak majikan nya.


Aulia mendorong kursi roda Amay menuju ruang santai di samping rumah yang lengkap dengan sofa untuk berbaring dan beberapa ayunan single dengan alas yang lembut.


Rahman yang pulang untuk mengambil berkas yang ketinggalan agak kaget saat melewati ruang santai terbuka di samping penuh dengan tumpukan amplop coklat. Ia datang menghampiri mereka yang baru saja sampai.


"Sini biar Papa yang bantu! " ucap Rahman saat Aulia hendak membantu Amay berdiri dari kursi roda nya.


Rahman menggendong putrinya dengan sekali angkat dan meletakkan nya di atas sofa.

__ADS_1


"Papa gak encok angkat Amay yang berat banget kayak gini! Amay aja berat nya 55 kg, tambah di triple masing-masing mungkin 2kg..Ntar abis ini Papa malah kumat nyeri sendi dan encok nya gara-gara gendong Amay! " ucap Amay agak khawatir.


"Enak aja bilang Papa encok! Papa masih kuat tahu, masih bisa gendong Amay keliling rumah! Lagian Papa kan rutin olahraga biar nanti bisa di ajak main bola sama si triple! " sahut Rahman dengan pedenya.


"Iya deh iya yang masih kuat dan bugar! Oh ya, kok Papa udah pulang?? Kan baru jam 10?? " jawab Amay mengiyakan sambil bertanya pada Papa nya.


"Ada berkas Papa yang ketinggalan! Mau minta Om Hardi yang ambil, dia gak tau di mana berkas tersebut Papa simpan. Ya, jadinya Papa yang pulang sebentar mau ambil nya! Terus kalian ngapain ada tumpukan amplop di sini?? " sahut Rahman juga sambil bertanya kepada mereka berdua.


"Ini berkas pelamar yang melamar untuk jadi asisten nya Abang Iz, Pa.. ! " jawab Aulia.


"Asisten nya Izam??? " ucap Rahman dengan kening berkerut bingung.


"Bukannya asistennya Izam itu Davin?? Kenapa cari asisten lagi? Emangnya Davin gak kerja lagi sama Izam?? " tambah ia lagi dengan heran.


"Bukan gitu Papa ku sayang... ! Abang kecapean banget memegang dan menghandle dua perusahaan sekaligus! Apalagi sekarang ini Amay lagi mendekati saat melahirkan, si Abang gak mau ketinggalan ingin menyaksikan kelahiran si kembar nanti jika semua nya ia yang urus! Lagian kasihan Abang Pa... Capek banget dia dengan segudang pekerjaan ini jika sendirian! Nah, berhubung Mas Davin cuti gak tahu kapan selesainya, mendingan Abang cari asisten baru yang akan membantunya dan jika Mas Davin kembali ia masih tetap di pakai karena lumayan meringankan tugas Mas Davin juga nantinya! " jawab Amay menjelaskannya panjang lebar.


"Oh.... Jadi gitu! Memang benar sih memegang dua perusahaan sekaligus rasanya capek banget! Papa aja sudah di bantu Om Hardi aja masih terasa capeknya dan banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan saja! Apa lagi Izam yang sedang menantikan kelahiran si triple.. ! Pastinya ia gak mau kehilangan momen si triple lahir karena ini sekali seumur hidup. Jangan sampai Izam seperti Papa yang gak melihat sewaktu Mama kamu bertaruh nyawa melahirkan kamu, sayang! Izam harus melihat kelahiran si triple dan mendampingi mu nanti! " sahut Rahman dengan wajah sendu.


"InsyaAllah Abang akan selalu mendampingi Amay nanti lahiran Papa! Papa juga harus mendampingi Amay sebagai pengganti Mama yang gak bisa di sisi Amay nantinya! Amay sangat membutuhkan kalian berdua, pria-pria kesayangan Amay! " ucap Amay dengan merentang kan tangan nya minta di peluk.


Rahman memeluk putrinya dengan tersenyum bahagia dan mengecup puncak kepala Amay berulang kali. Aulia tersenyum bahagia melihat pemandangan anak dan ayah di depan matanya.


"Ya udah, Papa mau ke ruang kerja dulu! Kalian lanjut aja periksa lamaran nya! " ucap Rahman seraya melepas pelukan nya pada Amay.


Rahman memang meminta Aulia untuk memanggilnya Papa seperti Amay. Apalagi ia juga mendengar jika orang tua Aulia juga menyayangi Amay seperti hal nya anak mereka sendiri. Untuk itulah Rahman juga ingin memperlakukan Aulia seperti itu dengan meminta Aulia juga memanggil nya Papa.


Sepeninggalan Rahman ke ruang kerjanya, Amay dan Aulia mulai memeriksa CV lamaran para pelamar satu per satu agar tidak ada yang terlewati.


Tidak berapa lama, Bibik membawakan pesanan Amay pada mamang nya.


"Makasih ya Bik... " ucap Amay begitu Bibik meletakkan pesanannya di atas meja.


"Iya Nona Muda, Sama-sama! Silahkan di minum, Bibik mau lanjut kerja dulu! " jawab Si Bibik dengan tersenyum ramah.


"Iya Bik, silakan! " sahut Amay ramah.


"Aul... Minum dulu gih.. ! Serius amat itu muka! Gak usah buru-buru periksa nya.. ! " panggil Amay pada Aulia.


"Iya bentar lagi.. ! Nanggung nih.. ! " jawab Aulia tanpa mengalihkan perhatian pada CV yang ditangannya.


"Dasar Aul, kalau di suruh kerja semangat banget! Ayo sayangnya Mama, kita makan dulu! Biarin aja Aunty Aul sibuk sendiri! " ucap Amay dengan mengajak si triple bicara.


Ia pun memakan camilan khusus untuk nya itu semangkok buah-buahan yang sudah di potong kecil-kecil dan segelas susu dan kurma yang di blender hingga tercampur rata.

__ADS_1


"Papa pergi dulu ya anak-anak.. ! " ucap Rahman melewati mereka berdua.


"Ya Papa, Hati-hati... ! " jawab mereka kompak.


"Hah... Gak ada yang sreg... ! Udah sepuluh lamaran, tapi masih belum sesuai seperti syarat Mas Davin! " ucap Aulia agak kesal dengan meletakkan CV yang terakhir ia pegang ke sisi kanannya.


"Sabar aja lagi... Nih, masih banyak yang belum di lihat! Santai aja lagi cuy..santai sambil ngemil kita! " sahut Amay dengan meminum susu kurma nya sedikit-sedikit.


Aulia juga mengambil gelas berisi jus Mangga kesukaannya dan memakan cake coklat dengan pelan-pelan sambil melihat langit yang tampak agak sedikit mendung.


🌾🌾🌾


Di tempat yang berbeda, Damian sedang bersembunyi dari pihak yang berwajib yang sedang gencar mencarinya karena mereka mengetahui jika pabrik yang terbakar waktu itu adalah usaha Damian yang tidak memiliki izin usaha alias ilegal.


Polisi menggeledah rumah kediaman Damian di jalan xxx namun yang bersangkutan sudah melarikan diri di bantu tangan kanannya Alek. Ia bersembunyi untuk sementara waktu karena ia sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa harta yang ia miliki untuk melarikan diri ke luar negeri.


Damian bersembunyi di sebuah rumah kecil yang ternyata berhadap-hadapan dengan kontrakan milik kakaknya Merpati atau biasanya di panggil Damian Kinanti.


"Ya Tuhan, ternyata Tuhan mempertemukan kita di saat aku bersembunyi seperti ini! Kau sudah aku klaim sebagai milikku Kinanti, dari dulu hingga sekarang kau adalah milikku! " gumam Damian dengan wajah sumringah saat melihat Merpati alias Kinanti sedang menjemur pakaian.


Ia langsung keluar rumah dan menghampiri Kinanti atau Merpati. Tanpa tahu malu ia langsung memeluk Merpati dari belakang dengan sangat erat seperti seorang kekasih yang merindukan kekasihnya.


Merpati yang kaget langsung berontak meronta-ronta melepaskan diri dari pelukan Damian.


"Siapa Anda.. ! Lepaskan saya, lepaskan! " teriak Merpati dengan wajah terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Damian pada tubuhnya.


Damian memejamkan matanya menghirup aroma tubuh Merpati dengan mengencangkan pelukan nya pada perut Merpati.


"Pelan kan suara mu, sayang.. ! Apa kau mau semua orang keluar dan memergoki kita seperti ini?? Aku merindukan mu Kinanti, sangat merindukan mu! " bisik Damian dengan menciumi leher Merpati.


"Jangan kurang ajar anda Tuan! Lepaskan saya! Sudah berapa kali saya katakan kalau saya bukan Kinanti, tapi saya Merpati! Lepaskan.. ! " teriak Merpati dengan geram karena Damian sudah lancang mencium bagian tubuhnya yang agak sensitif itu.


Damian tidak menghiraukan teriakan Merpati dan pukulan Merpati pada tangan nya. Karena posisi nya dari belakang membuat Merpati sulit untuk membebaskan diri dari dekapan Damian.


Merpati akhirnya menyerah dan berhenti berontak, ia diam saja dan membiarkan Damian mencumbui lehernya dan pipinya dari belakang. Namun saat Damian senang karena mengira Merpati pasrah dan menerima perlakuannya, tiba-tiba saja saat pelukan Damian mengendur karena ia sedang bergairah hebat menggerayangi tubuh Merpati dari belakang, sebuah siku Merpati menyodok perut nya hingga ia terhuyung mundur dan akhirnya pelukan Damian terlepas.


Merpati membalikkan diri menghadap Damian dengan wajah berkilat amarah.


"Dasar tua bangka! Aku pikir aku perempuan murahan yang mau-maunya saja menyerahkan diriku pada mu! Aku bukan Kinanti mu! Kau dengar itu, aku bukan Kinanti mu! Bukan! Bukan! Bugh.. Bugh.. ! " teriak Merpati dengan marah dan memberikan dua tendangan di betis keringnya Damian hingga ia terduduk di rerumputan dengan meringis kesakitan.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader's ku semuanya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2